TRAVELOG

Menyusuri Gang, Menjaga Rasa: Asinan Betawi di Pisangan Baru

Libur dua hari sering kali dibayangkan sebagai waktu untuk beristirahat total. Hari pertama biasanya dihabiskan dengan berdiam diri, memulihkan tubuh dari ritme kerja yang menuntut. Namun, tubuh manusia rupanya tidak diciptakan untuk diam terlalu lama. Memasuki hari kedua, rasa bosan justru muncul, pertanda bahwa tubuh meminta sesuatu yang lain: bergerak, keluar rumah, berganti suasana.

Dari situlah perjalanan ini bermula. Tanpa rencana matang, hanya dipandu rasa lapar dan keinginan sederhana untuk berjalan-jalan, pikiran tertuju pada satu kuliner khas Jakarta yang selalu berhasil membangkitkan selera, yaitu asinan Betawi.

Asinan bukan sekadar makanan penyegar. Ia adalah pertemuan rasa dan sejarah, antara sayuran, bumbu, dan pengaruh lintas budaya yang telah lama bersemayam dalam khazanah kuliner Betawi. Pencarian singkat melalui mesin pencari pun dilakukan. Nama-nama lama seperti Rawa Belong dan Rawamangun kembali muncul, dua kawasan yang telah lama dikenal sebagai rujukan asinan Betawi. Namun, alih-alih mengikuti jalur populer, perhatian justru tertarik pada satu kawasan yang tampak padat penanda kuliner di peta digital: Pisangan Baru, Jakarta Timur.

Menyusuri Gang, Menjaga Rasa: Asinan Betawi di Pisangan Baru
Penjual asinan di Pasar Jangkrik/Daan Andraan

Asinan Betawi dan Jejak Budaya

Dalam buku Kuliner Betawi: Selaksa Rasa & Cerita terbitan Akademi Kuliner Indonesia, asinan Betawi dijelaskan sebagai hidangan berkuah bumbu kacang dengan karakter rasa asam, pedas, manis, dan gurih yang seimbang. Ini membedakannya dari asinan Bogor yang menggunakan kuah bening kemerahan, meski memiliki spektrum rasa serupa.

Menariknya, buku tersebut juga mencatat bahwa penggunaan ebi dalam bumbu kacang asinan Betawi merupakan hasil pengaruh budaya kuliner Tionghoa. Betawi, sebagai masyarakat yang tumbuh di ruang pertemuan berbagai etnis, menyerap dan mengolah pengaruh tersebut menjadi identitas rasa tersendiri.

Asinan Betawi sendiri digolongkan sebagai asinan sayur. Isinya relatif konsisten: sawi asin, mentimun, selada, tauge, dan kol, dilengkapi potongan tahu Cina. Bumbunya dibuat dari kacang tanah yang diulek bersama cabai, ebi, air asam cuka, dan gula merah. Saat disajikan, hidangan ini tak lengkap tanpa tambahan kerupuk mie kuning, kerupuk merah, dan kacang goreng. Komposisi yang sederhana, tetapi menuntut ketepatan rasa.

Menyusuri Gang, Menjaga Rasa: Asinan Betawi di Pisangan Baru
Antrean pembeli di Asinan Betawi H. Asymuni/Daan Andraan

Pisangan Baru dan Gang-gang Asinan

Perjalanan menuju Pisangan Baru ditempuh dengan transportasi daring, dengan titik turun di sekitar Pasar Jangkrik. Dari luar, kawasan ini tampak seperti permukiman Jakarta pada umumnya padat, riuh, dan penuh aktivitas. Namun, peta digital tidak sepenuhnya jujur. Meski menunjukkan banyak penjual asinan di sekitar pasar, sebagian besar justru bersembunyi di gang-gang sempit pemukiman warga.

Di sinilah pengalaman berburu asinan benar-benar dimulai.

Tujuan pertama adalah Asinan Betawi 78 Haji Asymuni, salah satu nama yang paling sering disebut oleh warga setempat. Lokasinya berada di dalam gang sempit, dengan model penjualan berbasis rumah tinggal. Dari kejauhan, antrean pembeli sudah terlihat mengular. Gang yang sempit memaksa pembeli saling bergantian memberi ruang ketika sepeda motor melintas.

Dengan harga Rp16.000 per porsi, asinan di sini tergolong terjangkau. Menurut keterangan penjual, usaha ini telah berdiri sejak tahun 1978 dan mempekerjakan lebih dari 30 orang. Dalam satu hari, penjualannya dapat mencapai lebih dari 2.000 porsi. Angka itu terasa masuk akal melihat pola pembelian konsumen banyak yang membeli lima hingga dua puluh bungkus sekaligus. Bukan hanya untuk konsumsi pribadi, tetapi juga untuk dibagikan bahkan jasa titip membeli asinan.

Asinan di sini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari rutinitas sosial warga.

Menyusuri Gang, Menjaga Rasa: Asinan Betawi di Pisangan Baru
Rumah penjual Asinan Betawi Eha/Daan Andraan

Banyak Penjual, Banyak Karakter

Pisangan Baru ternyata menyimpan lebih banyak kejutan. Selain Haji Asymuni, terdapat lebih dari sepuluh penjual asinan lain yang tersebar di kawasan ini. Sebagian besar berjualan dari rumah, tanpa papan nama mencolok. Untuk menemukannya, pengunjung harus benar-benar menyusuri gang, bertanya kepada warga, atau mengikuti aroma bumbu kacang yang khas.

Salah satu yang dicoba adalah Asinan Eha, yang menurut penuturan warga telah beroperasi sejak dekade 1970-an. Harganya sama, tetapi karakter rasanya berbeda. Di sinilah keunikan Pisangan Baru terasa. Meski bahan dasarnya serupa, setiap penjual memiliki racikan bumbu yang menjadi identitas masing-masing.

Tradisi lisan dan kebiasaan turun-temurun tampaknya memainkan peran penting dalam mempertahankan perbedaan ini. Tidak ada resep baku yang diseragamkan, yang ada adalah rasa yang dijaga.

Menyusuri Gang, Menjaga Rasa: Asinan Betawi di Pisangan Baru
Sedikit perbedaan Asinan Betawi H. Asymuni dan Asinan Betawi Eha/Daan Andraan

Mencicipi dan Membandingkan

Sesampainya kembali di rumah, ritual paling menentukan pun dimulai: mencicipi. Langkah pertama adalah membuka bungkusan dan mencoba bumbu kacangnya secara terpisah. Dalam asinan Betawi, bumbu adalah pusat segalanya, penentu apakah sebuah asinan layak diingat atau sekadar lewat.

Pada Asinan Haji Asymuni, rasa manis legit dari gula aren langsung terasa, tetapi tidak berlebihan. Keasaman hadir menyusul dengan lembut, diikuti pedas yang terkontrol. Gurih ebi dan aroma kacang tanah yang kuat menyatukan keseluruhan rasa. Ketika dicampur dengan sayuran dan kerupuk, komposisinya terasa seimbang dan utuh, tidak ada rasa yang mendominasi.

Asinan Eha menawarkan pendekatan berbeda. Rasa asam dan pedasnya lebih menonjol sejak awal, memberikan sensasi segar yang lebih tajam. Karakter ini mungkin lebih disukai oleh mereka yang mencari entakan rasa di suapan pertama.

Perbandingan ini menunjukkan satu hal penting. Usia usaha tidak selalu menentukan selera, tetapi pengalaman panjang sering kali membentuk konsistensi rasa.

Menyusuri Gang, Menjaga Rasa: Asinan Betawi di Pisangan Baru
Banyaknya pilihan kuliner asinan Betawi di Pisangan Baru, Jakarta Timur

Potensi Sebuah Kampung Kuliner

Pengalaman menyusuri Pisangan Baru menghadirkan satu gagasan yang sulit diabaikan. Dengan jumlah penjual yang banyak, sejarah usaha yang panjang, serta variasi rasa yang kaya, kawasan ini menyimpan potensi sebagai sentra asinan Betawi. Sebuah kampung asinan di tengah Jakarta.

Gagasan ini mengingatkan pada kawasan Wijilan di Yogyakarta yang dikenal sebagai kampung gudeg. Bedanya, Pisangan Baru tumbuh secara organik, tanpa label wisata resmi. Justru di situlah daya tariknya. Kuliner hidup berdampingan dengan keseharian warga, tidak terpisah sebagai atraksi semata.

Asinan Betawi di Pisangan Baru bukan hanya soal rasa, melainkan juga tentang keberlanjutan tradisi di ruang urban yang terus berubah. Di gang-gang sempit itulah, resep diwariskan, selera dijaga, dan identitas kuliner Betawi tetap bertahan.

Perjalanan ini mungkin berawal dari rasa bosan dan lapar, tetapi berakhir pada kesadaran sederhana: di balik sudut-sudut Jakarta yang luput dari sorotan, ada rasa yang terus hidup, menunggu untuk ditemukan, disusuri, dan dihargai.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Lahir bulan September di Jakarta dan suka baca.

Avatar photo

Lahir bulan September di Jakarta dan suka baca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Di Pecinan Glodok Aku Mencari Kue Bulan dan Menemukan Gus Dur