INTERVAL

Menyusur Budaya dan Sejarah Lampung dalam Penulisan Cerita

Bagaimana budaya dan sejarah suatu daerah dimaknai oleh masyarakatnya? 17 penulis dalam buku Kain Merah di Malam Jamuan (2025) mencoba menjawab pertanyaan itu. 

Budaya dan sejarah memang melekat dalam identitas suatu bangsa, suku, atau daerah tertentu, sekalipun zaman terus bergerak. Sejumlah nilai dipertahankan, sementara nilai lainnya barangkali perlu disesuaikan dengan zaman. Di sinilah ruang dialog dan refleksi yang dilakukan masyarakatnya menemukan signifikansinya.

Menyusur Budaya dan Sejarah Lampung dalam Penulisan Cerita
Sampul buku Kain Merah di Malam Jamuan/Wahid Kurniawan

Budaya dan Sejarah sebagai Pijakan Cerita

Di dalam konteks inilah, 17 penulis menyigi cerita dengan keragaman budaya dan sejarah yang berkembang di Provinsi Lampung, tempat mereka tinggal. Mereka menjadikannya sebagai bahan bakar cerita dalam upaya merefleksi hal-hal yang pernah, sedang, atau akan terjadi. Sudut pandang pun beragam. Selain kekhasan cara bercerita, pembaca juga bisa menyimak kekayaan tradisi dan nilai budaya yang berkembang di Tanah Lada. Para penulis mencoba menuturkan kegelisahan, pemaknaan ulang, atau kritik atas satu fragmen kehidupan yang ada di sekitar mereka.

Kita bisa membagi cerita-cerita di dalam buku dengan tiga tema besar: kritik ekologis, refleksi fragmen sejarah, dan pemaknaan ulang atas nilai sosio-kultural. Urutan cerita tidak ditentukan berdasarkan tema, sehingga pembaca bisa menentukan sendiri hendak membaca cerita mana dulu. Misalnya, memulai dari cerpen yang dijadikan judul buku, “Kain Merah di Malam Jamuan” karya Aisyah Za. Cerita ini bergerak dalam narasi yang mengisahkan momen-momen kekalahan Radin Intan II dalam perlawanannya terhadap Belanda. Pembaca pun akan mendapati kekhasan terkait bagaimana cerita digerakkan, mengingat kita meminjam kacamata anak kecil yang mengisahkan momen-momen terakhir dari pahlawan Lampung tersebut. 

Strategi naratif ini membuat pengalaman menyimak kisah tokoh yang kadung dikesankan heroik menjadi lebih dekat. Memberi alternatif kesan yang berbeda ketimbang menyimaknya dari teks buku sejarah atau artikel di internet. Pun, kita tak perlu khawatir sekiranya terpikir bakal mendapati penceritaan ulang atau romantisme soal “detik-detik terbunuhnya pahlawan nasional” yang tak menawarkan kebaruan. Sebab, cerita ini digerakkan dari sudut pandang yang barangkali tak tercatat dalam buku-buku sejarah. 

Menyusur Budaya dan Sejarah Lampung dalam Penulisan Cerita
Pembuka cerpen “Kain Merah di Malam Jamuan” yang mengenalkan karakter anak-anak/Wahid Kurniawan

Pemfiksian anak kecil, yang pernah hidup di zaman tokoh penting diceritakan, seolah merepresentasikan suara dari sudut terpencil. Format cerita yang dikisahkan dalam bingkai ingatan pun menegaskan betapa sejarah hidup tidak hanya ditopang penulisan buku sejarah semata, tetapi juga diwariskan turun-temurun. Sejarah hidup dalam ingatan masyarakatnya dan melalui bentuk karya-karya sastra, folklor, pantun, gurindam; yang terus dirawat sebagai upaya menolak lupa. Ini sejalan dengan monolog yang dilakukan tokoh cerita:

Dalam satu detik yang terasa seperti seumur hidup, aku melihat Radin Inten II terjatuh. Kain kecil pemberian perempuan itu terlepas dari bajunya dan jatuh ke tanah, tepat di samping darah yang mulai menggenang.

Sejarah mencatat: malam itu tanggal 5 Oktober 1856, seorang pahlawan gugur.

Tetapi tidak ada yang mencatat: seorang anak kecil menyaksikan kematian itu tanpa mampu berbuat apa-apa. Aku tidak ingat bagaimana aku pulang. Hanya ingatan akan bau darah yang terus menempel hingga bertahun-tahun sesudahnya. (hlm. 10).

Kesan pemaknaan sejarah itu, bisa juga kita lihat dalam cerpen lain berjudul “Sumur yang Menyimpan Janji” karya M. Arfa Abiyyi Yafenza. Ia memfiksikan kisah lahirnya objek wisata Sumur Putri di Telukbetung, Bandar Lampung. Romantisme kisah pangeran dan putri dua kerajaan berbeda menjadi latar belakang cerita.

Sang narator menulis hikayat cerita rakyat dengan bahasa agak modern. Namun, kita tak perlu berharap muluk jika ingin mendapati kebaruan perspektif atau pemaknaan mendalam yang ditawarkan penulis, karena akhir cerita bisa ditebak lebih awal. Penulis tampaknya hanya ingin “mengisahkan” kisah yang berkembang di daerah berdirinya Sumur Putri itu, kemudian membumbuinya sedikit dengan alur dan bahasa modern tanpa menyimpan kejutan apa pun. Hanya penyederhanaan dan pengisahan ulang.

Barangkali, anggapan semacam itu masih dimiliki beberapa penulis di dalam buku. Sebab, sebagian di antaranya gagal menjadi cerita pendek yang memberi kesan mendalam di benak pembaca. Namun, cerita lain tampil sukses sesuai topik yang diambil. 

Menyusur Budaya dan Sejarah Lampung dalam Penulisan Cerita
Penggalan cerpen yang menunjukkan keberanian penulis dalam penggunaan bahasa cerita/Wahid Kurniawan

Cerita sebagai Kritik Ekologis

Selain “Kain Merah di Malam Jamuan”, cerpen “Pohon Keluarga” karya Fauzi menampilkan konflik dan realitas membumi. Alam dalam cerita ini merepresentasikan konflik-konflik ekologis yang terjadi di Lampung.

Dikisahkan, karakter Saipul hendak menjual kebun keluarga mereka lantaran terlilit masalah ekonomi yang pelik. Mirna, adiknya, segera menolak usulan tersebut. Bukan saja lantaran Saipul menyampaikan ide itu saat kematian orang tua mereka—tersambar petir belum genap tujuh hari—melainkan kebun tersebut memiliki fungsi penting dalam masyarakat: sebagai teneuh tabu (hutan adat) yang memiliki fungsi Hulu Tulung (sumber mata air yang dihormati dan dijaga).

Kita cerap: “Tidak masalah. Akan aku yakinkan para tetua kalau teneuh tabu tidak akan tersentuh. Abang tidak datang sendiri, aku juga mengajak perusahaan air minum untuk ikut bernegosiasi. Kau tahu Mirna, mereka itu punya banyak uang, tidak ada ruginya buat kita jual tanah ke mereka.” (hlm. 17).

Konflik kakak-beradik itu pun terasa begitu dekat dengan situasi terkini. Betapa budaya masyarakat dalam memandang alam disikapi sedemikian berbeda oleh individu-individu di dalamnya. Mirna merepresentasikan masyarakat yang memandang alam bukan komoditas bebas renggut, melainkan bagian dari kehidupan yang perlu dijaga.

Di sisi lain, kakaknya, justru memandang alam—sekalipun bernilai budaya dan historis—sebagai objek pragmatis yang bebas dibabat demi kepentingan segelintir orang. Cerpen ini menempatkan dirinya dengan baik dalam upaya kritik ekologis yang semakin relevan. Lebih dari itu, pembaca tak perlu khawatir sekiranya takut mendapati deskripsi menggurui seolah pembaca tak bisa berpikir, karena cerpen ini menghadirkan konflik tanpa kesan memandang sesuatu hal hitam dan putih.

Menyusur Budaya dan Sejarah Lampung dalam Penulisan Cerita
Gambaran ketegangan dalam cerpen “Kebun Keluarga”/Wahid Kurniawan

Dialog Tradisi dan Budaya di Masyarakat

Buku ini ditutup oleh cerpen “Nyala Pelita di Ujung Masa Muda” oleh Ratu Ananda Salsabila, yang menjadikan kisahnya sebagai ruang dialog bagi budaya mandjau (pacaran ala Lampung) dan djoedjoer (pemberian dari pihak laki-laki kepada perempuan pada saat menikah).

Cerpen mengambil latar masa kolonial, dan cukup baik memotret gejolak dua pasangan yang cintanya tak mulus lantaran aturan adat. Di dalam cerpen ini, aturan yang mengikat bukan ditampilkan tanpa ruang dialog bagi mereka yang akan menjalaninya. Aturan itu dijunjung sebagai wujud penghormatan bagi pihak yang ingin dipinang, sehingga besar-kecilnya djoedjoer tak sebatas angka atau daya jual bagi seorang perempuan. Konflik berkitar pada pasangan Nuh dan Intan. Nuh, di satu sisi menikmati masa-masa mandjau dan tipikal pemuda yang sedang suka-sukanya main; sementara Intan, adalah perempuan yang tak mau menjadi perawan tua lantaran cintanya digantung. Gejolak pun hadir.

“Belum soal djoedjoer,” tambah ayahnya. “Aku dengar Penyimbang Ratu hendak melelang Intan kepada yang sanggup bayar paling banyak.”

Darah Nur berdesir. “Dia bukan kerbau, Yah.”

“Aku tahu,” sahut ayahnya. “Tapi adat tetap adat. Kau suka Intan, semua kampung tahu. Kapan kau bicara tentang djoedjoer? Kerja rodi datang, ladang kau saja kau abaikan, uang dari mana?” (hlm. 121).

Menyusur Budaya dan Sejarah Lampung dalam Penulisan Cerita
Dialog antartokoh masyarakat di cerpen “Nyala Pelita di Ujung Masa Muda”/Wahid Kurniawan

Pembaca wajar merasa gemas. Tokoh Nuh bisa ditemui di mana saja, yang ingin enaknya saja tanpa berani mengambil risiko atau menunjukkan upaya nyata. Namun, sekalipun adat menampilkan aturan yang mengekang perempuan, cerpen ini berupaya menyuarakan suara sang liyan dalam tokoh Intan. Kita tengok halaman 125, Intan menyarankan bahwa mereka melakukan penculikan (Nuh pura-pura menculik Intan) sehingga angka djoedjoer bisa diakali. Tapi pertentangan muncul di antara keduanya.

“Kalau kita lakukan itu,” ujar Nuh, “hidup kita tak akan lagi seperti sekarang. Tak ada lagi malam-malam mandjau.” 

“Bahkan kalau aku menikah dengan saudagar lada pun, malam-malam itu tetap berakhir,” jawab Intan. “Bedanya, di satu jalan kita memilih, di lain jalan kita dipilihkan. Kau tak bisa meminta masa muda berhenti di sini selamanya, Nuh.” 

Polemik kisah cinta mereka tetap berjalan. Pembaca berhak menutup buku dengan kekesalan, atau mempertanyakan sejumlah budaya yang membebani sembari mengutuk individu-individu yang menebarkan racun ke orang di sekitarnya. Aturan adat memang tak selalu cocok dengan keadaan berbagai zaman, tapi upaya apa yang bisa dilakukan untuk membuatnya adil? Cerpen ini bermain-main dalam dialog tersebut.

Pada akhirnya, setiap cerpen yang terhimpun memang menawarkan ragam kesan di benak pembaca. Beberapa berhasil membuat pembaca melihat ke dalam diri dengan kebaruan perspektif; sementara banyak pula cerpen yang gagal dinikmati. Barangkali kekurangan ini menegaskan satu hal, penulisan cerita-cerita dalam tema ini pun menuntut kerja keberlanjutan yang diperbaiki terus-menerus. 


Judul Buku: Kain Merah di Malam Jamuan
Penulis: Aisya ZA dkk.
Kurator: Udo Z Karzi, Ila Fadilasari, Yulizar Lubay
Penerbit: Pustaka LaBRAK, 2025
Tebal: 262 Halaman
ISBN: 62-8662-8062-598


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Wahid Kurniawan

Wahid Kurniawan, penikmat sastra. Telah menerbitkan buku "Tiga Fragmen Air Mata dan Kisah Lainnya" (Noken Studio Publisher, 2024)

Wahid Kurniawan

Wahid Kurniawan, penikmat sastra. Telah menerbitkan buku "Tiga Fragmen Air Mata dan Kisah Lainnya" (Noken Studio Publisher, 2024)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Perjalanan Melelahkan demi Memahami Akar Identitas dan Konflik Manusia