TRAVELOG

Mengunjungi Tugu Khatulistiwa di Pontianak

Pada Tahun Baru Imlek 2024, aku berkesempatan liburan ke Kalimantan Barat. Aku memulai petualanganku dari Pontianak, ibu kota provinsi ini. Sejak belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah dasar, guruku menerangkan keistimewaan Pontianak sebagai kota yang dilalui garis khatulistiwa, sehingga dikenal sebagai Kota Khatulistiwa. Hal inilah yang membuatku penasaran dengan Pontianak. 

Untuk memenuhi rasa penasaranku, objek pertama yang kutuju begitu memijak Pontianak adalah Tugu Khatulistiwa. Pada Selasa, 13 Februari 2024, aku memesan ojek daring untuk mengantarku ke Tugu Khatulistiwa. Dari yang kulihat di peta, letak Tugu Khatulistiwa berada di area utara Kota Pontianak. Tugu Khatulistiwa berada di Jalan Khatulistiwa, Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara.

Berburu Tugu Khatulistiwa di Pontianak
Bangunan kubah Tugu Khatulistiwa, Pontianak/Johar Dwiaji Putra

Dikelola Pemerintah Daerah

Menjelang zuhur, aku sudah sampai di kompleks Tugu Khatulistiwa. Cuaca kala itu sungguh panas. Meski begitu, matahari tak sepenuhnya bersinar. Ada gumpalan-gumpalan awan yang siap menurunkan hujan. Saat itu Tugu Khatulistiwa cukup lengang. Maklum, aku berkunjung di hari kerja.

Di depan mataku, kudapati sebuah bangunan menyerupai kubah. Di atasnya, terdapat sekelompok balok berwarna hitam menjulang. Di puncak balok-balok itu terdapat ornamen melingkar dan busur panah. Wah, tugu yang selama ini cuma bisa kulihat melalui atlas dan buku pelajaran saat SD dahulu, sekarang sudah ada di hadapanku.

Aku langsung mengambil beberapa foto untuk mengabadikan bangunan ini. Hasil jepretan kameraku terlihat agak gelap. Tak apa, yang penting aku sudah sampai di Tugu Khatulistiwa. Aku mendekat ke bangunan berbentuk kubah tersebut. Ada seorang petugas yang menjaga sebuah meja di pintu masuk bangunan. Aku membaca sekilas roll banner yang ada di sebelah meja itu. Berisi informasi seputar tiket masuk ke area Tugu Khatulistiwa. Untuk wisatawan lokal, orang dewasa dikenakan tarif Rp10.000, sedangkan pelajar, mahasiswa, dan anak-anak hingga usia 13 tahun lima ribu rupiah. Tiket masuk untuk wisatawan mancanegara seharga dua kali harga tiket lokal.

Setelah membayar tiket, petugas itu memberiku brosur. Dari brosur ini, kuketahui bahwa Tugu Khatulistiwa dikelola oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Pontianak. Begitu memasuki bangunan, aku melihat sekelompok balok berwarna hitam, persis seperti objek yang tadi kulihat di puncak bangunan ini. Setelah dijelaskan petugas akhirnya aku paham, objek yang berada di dalam bangunan inilah yang merupakan Tugu Khatulistiwa yang asli, sedangkan balok-balok yang berada di puncak bangunan adalah replika dari Tugu Khatulistiwa.

Aku sungguh takjub. Alhamdulillah, aku berhasil menuruti rasa penasaranku atas tugu yang menunjukkan kekhasan Pontianak tersebut. Aku mengapresiasi Disporapar Pontianak, karena terdapat petugas yang berjaga di dalam area bangunan, dan memberiku sejumlah informasi terkait sejarah tugu ini.

  • Berburu Tugu Khatulistiwa di Pontianak
  • Berburu Tugu Khatulistiwa di Pontianak

Penanda Garis Ekuator di Pontianak

Seperti yang sudah disampaikan petugas kepadaku, Tugu Khatulistiwa yang asli adalah tugu yang berada di dalam bangunan kubah. Kompleks Tugu Khatulistiwa berada di pinggir jalan raya yang menghubungkan Pontianak dengan Singkawang. Replika Tugu Khatulistiwa sengaja dibuat sedemikian besar. Tentu bertujuan supaya orang-orang yang berkendara segera mafhum, bahwa di dalam bangunan yang sedang mereka lewati itu terdapat Tugu Khatulistiwa.

Aku mulai mengamati detail Tugu Khatulistiwa ini. Sambil mendengarkan petugas yang setia memberikan penjelasan kepadaku, kubaca brosur yang berisi sejarah pendirian Tugu Khatulistiwa di Pontianak. Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941, terdapat sebuah ekspedisi antarnegara yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda. Tim ini datang ke Pontianak pada 1928, untuk menentukan titik pasti garis ekuator atau khatulistiwa.

Selanjutnya pada tahun yang sama, sebuah tugu dibangun sebagai penanda bahwa Pontianak dilewati garis khatulistiwa. Garis khatulistiwa atau ekuator adalah sebuah garis khayal yang membagi bumi tepat menjadi dua belahan. Bagian utara dan selatan. Garis ini dikenal sebagai garis lintang nol derajat. Bagian utara bumi kemudian menggunakan garis koordinat lintang utara, sedangkan bagian selatan menggunakan lintang selatan.

Tugu Khatulistiwa pertama yang dibangun pada 1928, berbentuk tonggak dengan tanda panah. Pada 1930, tugu ini disempurnakan dengan menambahkan ornamen lingkaran di puncaknya. Tugu Khatulistiwa dibangun kembali pada 1938 oleh Opsiter/Architech Silaban. Bentuknya menjadi empat buah tonggak berbahan kayu belian. Diameter masing-masing tonggak 0,3 meter. Dua tonggak bagian depan setinggi 3,05 meter, sedangkan dua tonggak bagian belakang setinggi 4,40 meter. 

Dua tonggak bagian belakang ini menjadi tempat dipasangnya ornamen lingkaran dan anak panah. Pada ornamen lingkaran di puncak tugu, terdapat keterangan yang menunjukkan letak Tugu Khatulistiwa yang berada di koordinat 109’20 Bujur Timur. Inilah bentuk Tugu Khatulistiwa yang masih bertahan hingga sekarang.

Bergeser ke tahun 1990, pemerintah merenovasi Tugu Khatulistiwa untuk melindunginya dari terpaan cuaca. Dibuatlah bangunan berbentuk kubah untuk melingkupi Tugu Khatulistiwa tersebut. Di puncak bangunan kubah, dibuat replika Tugu Khatulistiwa dengan ukuran lima kali lebih besar dari ukuran aslinya. Peresmian kubah dan replika Tugu Khatulistiwa dilaksanakan pada 21 September 1991 oleh Gubernur Kalimantan Barat saat itu, Pardjoko Suryokusumo.

Berburu Tugu Khatulistiwa di Pontianak
Penanda garis khatulistiwa di dalam bangunan Tugu Khatulistiwa/Johar Dwiaji Putra

Wisata Edukasi Tugu Khatulistiwa

Buatku, mengunjungi Tugu Khatulistiwa bukan sekadar berwisata. Lebih dari itu, di sini aku bisa mengingat kembali rangkaian informasi yang pernah kudapatkan kala duduk di bangku sekolah dulu. Salah satunya adalah fenomena hari tanpa bayangan. Fenomena ini bisa terjadi di tengah hari, saat matahari terletak persis di atas garis khatulistiwa. Tatkala matahari tepat di atas kepala, benda-benda tegak yang berada di sekitar garis khatulistiwa tidak akan memiliki bayangan. Fenomena ini terjadi pada 21–23 Maret dan 21–23 September setiap tahunnya.

Puas rasanya telah mengunjungi Tugu Khatulistiwa. Apalagi, letak Tugu Khatulistiwa cukup strategis, yakni di sekitar muara Sungai Kapuas. Tak jauh dari bangunan Tugu Khatulistiwa, terdapat sebuah taman yang langsung mengarah ke bibir muara sungai. Di taman ini, berdiri sebuah bangunan menyerupai globe. Para pengunjung bisa berfoto di objek ini.

Selain taman, Tugu Khatulistiwa juga dilengkapi sejumlah lapak yang menjual makanan dan suvenir khas Kalimantan Barat. Para pengunjung juga bisa menikmati hilir mudik kapal-kapal yang menjejali muara Sungai Kapuas. Sungguh, garis khatulistiwa dan Sungai Kapuas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Pontianak.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Johar Dwiaji Putra

PNS yang suka bertualang.

Johar Dwiaji Putra

PNS yang suka bertualang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Mengenang Dahsyatnya Tsunami di Museum Tsunami Aceh