Teman Muda Aktif mengunjungi SD Negeri Cadas Ngampar di Kelurahan Argasunya, Harjamukti, Kota Cirebon, Sabtu (14/2/2026). Komunitas pelajar SMA itu berbagi wawasan sekaligus menggugah kesadaran budaya murid setempat.
Ketua pelaksana kegiatan, Feyruz Chalisa menjelaskan, pihaknya bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) ingin menguatkan kembali peran sektor kebudayaan dan pariwisata dalam keseharian masyarakat. “Termasuk kepada pelajar belia. Kami infokan potensi budaya dan wisata di daerah mereka,” kata Chalisa yang akrab disapa Lili.
Dia menyebutkan kawasan selatan Kota Cirebon lokasi SDN Cadas Ngampar berada, memiliki kekhasan budaya dan wisata. Penduduk Argasunya dikenal agamis, karena pengaruh Pesantren Benda Kerep yang eksis sejak 1826. Tak heran jika pelajar SDN Cadas Ngampar mayoritas warga lokal yang menjunjung tradisi dan syariat Islam kuat.
“Kami ingin membangun kesadaran adik-adik, bahwa wisata religi dan keunikan kultur daerah mereka, adalah magnet turisme yang bisa terus dikembangkan” ujarnya.

Permainan dan Edukasi
Pagi itu dibuka dengan senam bersama. Murid kelas 1–6 SDN Cadas Ngampar berjumlah 200 orang, tampak riang menggerakkan tubuh, mengikuti panduan instruktur Teman Muda Aktif. “Rentangkan tangan, lompat yang semangat…,” serunya.
Selain dalam kelas, lanjut Lili, acara School Volunteering yang mereka gagas juga bermain di luar ruang. Bertujuan mengasah kekompakan murid dalam format kompetisi antartim. Sebab, menurutnya prestasi akademik dan nonakademik sama-sama menunjang tumbuh kembang peserta didik.
“Hari ini biasanya jadwal ekstrakurikuler mereka. Kami isi interaksi dengan kakak-kakak dari luar. Agar para murid terbuka dan tak canggung menerima kunjungan pihak lain,” terangnya.
Selepas menikmati kehangatan mentari di lapangan, siswa dan siswi kembali ke kelas. Menerima materi edukasi kebudayaan dan pariwisata. Tidak ketinggalan soal cara belajar yang menyenangkan dan efektif ketika di dalam ruangan. “Kami tekankan agar mereka aktif bertanya kepada guru. Jangan malu atau takut. Karena proses belajar itu dari ketidaktahuan menjadi ingin tahu,” papar Lili yang duduk di kelas 10.
Terkait wawasan kebudayaan, tim Teman Muda Aktif berjumlah 33 orang menyebar ke tiap ruang kelas. Mereka bertanya-jawab dengan para murid, seputar tradisi dan tempat wisata di wilayah Cirebon.
“Siapa yang tahu makanan tradisional Cirebon?” tanya salah satu mentor.
Murid kelas 6 adu cepat mengacungkan tangan. “Nasi jamblang,” sahut seorang di antaranya.
“Tahu gejrot!”
“Docang!”
“Nasi lengko…” sebut siswa berpeci lantang.
“Bagus! Betul semua. Kalau tempat wisata di Cirebon, ada yang tahu?”
Sejenak hening. Seorang siswi berkerudung berucap pelan, “Keraton Kasepuhan.” Memancing antusias teman lainnya. “Pantai Kejawanan!”, “Alun-alun Kejaksan…”, “Keraton Kanoman!”, “Goa Sunyaragi…”
“Pintar semuanya,” sahut mentor sambil bertepuk tangan. Kelas pun riuh.
Mengapresiasi para murid yang sudah berani menjawab, panitia memberi hadiah buku dan alat tulis. Tenang, semua kebagian. Para murid maju ke depan sambil berkenalan dengan panitia. Saling mengingat nama, supaya terkenang dalam ingatan.

Aksi Jurnalis Smanda
Kegiatan Teman Muda Aktif selalu didukung tim media Jurnalistik Smanda. Sebagian besar anggota komunitas merupakan pelajar SMAN 2, tapi tak menutup pintu bagi pelajar lain.
“Halo, liputan apa saja?” tanya saya.
“Tentang sekolahnya, muridnya, dan keseruan School Volunteering 2026. Kami biasa posting di IG dan Tiktok,” cerocos Rivan diiyakan Azka dan Jihan. Mereka begitu ceriwis menceritakan pengalaman sebagai jurnalis pelajar.
Azka menilai pembentukan duta budaya dan wisata sangat tepat dilakukan sejak dini. Pelajar sekolah dasar bisa mengabarkan kepada keluarga dan teman main, perihal potensi budaya dan wisata di daerahnya.
“Jangan sampai mereka asing dengan acara budaya dan tempat wisata di Cirebon,” ucapnya.

Kisah Tempo Dulu
Sudah 34 tahun, Nining S.Pd. mengabdi di SDN Cadas Ngampar. Pertama kali datang dari Losari—perbatasan Cirebon dan Brebes—tahun 1992. Belum ada listrik dan transportasi sulit menuju ke sekolah dekat Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Kopi Luhur itu.
“Bahkan saya pernah numpang truk pasir,” katanya mengenang masa perjuangan dulu. Kawasan Argasunya sampai sekarang dikenal sebagai lokasi tambang pasir warga lokal.
Nining masih ingat respons penduduk, ketika ada pengajar perempuan datang ke sana. “Ada ibu guru, mereka senyum-senyum. Saya merasa paling cantik, karena lainnya guru lelaki,” kenangnya lantas tertawa.
“Dulu kami door to door mencari murid. Warga masih belum paham pentingnya sekolah,” cerita dia.
Lambat laun, masyarakat mulai berkenan menerima program wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan pemerintah pusat. Tapi tetap saja, jumlah murid sedikit. Terbalik dengan sekarang, diperlukan penambahan ruang kelas guna menampung lonjakan murid.

Harapan Kepala Sekolah
Nining mengapresiasi upaya Teman Muda Aktif yang datang ke sekolahnya. Menurutnya, wawasan murid akan bertambah lewat interaksi dengan kakak-kakak yang mayoritas sekolah dan tinggal di pusat kota.
Tujuannya menghindari kesenjangan informasi, terutama soal perkembangan budaya dan wisata. “Saya terbuka dengan kolaborasi semacam ini. Kita bisa saling melengkapi,” tutur pendidik yang akan pensiun Februari 2027.
Usai kunjungan tersebut, Nining berharap kepercayaan diri muridnya meningkat. Pihak sekolah menghargai sekali kontribusi Teman Muda Aktif, dalam upaya memperkaya cakrawala berpikir murid di sana.
“Jaringan terbentuk. Kita bakal saling ingat dan kenal. Akhirnya kompak, satu tujuan memajukan kota tercinta,” ucapnya.
Senada diungkapkan perwakilan Disbudpar Kota Cirebon, Venggar Tri Laksono, yang mendukung terobosan Teman Muda aktif dalam membangun kesadaran budaya dan wisata pelajar sejak belia. “Kegiatan ini selaras dengan tugas kami, menggaungkan potensi budaya dan wisata sekitar dengan melibatkan partisipasi warga,” ujarnya.
Venggar menegaskan para pelajar sekolah dasar, jangan dilihat sekarang mereka masih kecil, namun ke depan mereka akan tumbuh dewasa menjadi pelaku budaya dan wisata itu sendiri. “Yuk, terus majukan budaya dan wisata sekitar kita,” ajaknya.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.





