TRAVELOG

Mengenal Riau melalui Museum Sang Nila Utama di Pekanbaru

Pada Juni 2023 lalu, aku berkesempatan mengunjungi Pekanbaru. Kota ini merupakan ibu kota Provinsi Riau. Beberapa hari menghabiskan waktu di Pekanbaru, kota ini memanglah ramai. 

Setelah puas menghampiri pusat perbelanjaan dan mal, aku mulai bingung. Objek apa lagi yang perlu kusinggahi di Pekanbaru. Aku menelusuri laman internet dan menemukan Museum Sang Nila Utama. Museum? Hmm, sounds good. 

Mengenal Riau melalui Museum Sang Nila Utama di Pekanbaru
Gedung Museum Sang Nila Utama di Pekanbaru (Johar Dwiaji Putra)

Menjadi Satu-satunya Pengunjung Museum

Dengan mengendarai ojek online, aku sampai di Museum Sang Nila Utama. Museum ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 194, yang ternyata berseberangan dengan kantor DPRD Provinsi Riau. Impresi pertama yang kudapatkan, gedung Museum Sang Nila Utama cukup megah. Bangunannya khas seperti rumah adat suku Melayu. Temboknya bercat kuning, warna khas Riau yang memiliki julukan “Bumi Lancang Kuning”.

Sepi. Itu adalah kesan berikutnya yang kudapatkan. Aku melewati pintu pagar dan pos petugas keamanan. Kosong. Pos itu tidak dijaga oleh siapa pun. Baiklah. Aku lanjut menelusuri halaman dan menuju pintu masuk museum. Benar-benar sepi. Cuma aku yang ada di halaman museum.

Akses masuk Museum Sang Nila Utama berupa tangga. Kunaiki tangga ini dan kutemukan sebuah prasasti tepat di sebelah pintu masuk museum. Kubaca prasasti ini, museum yang sedang kupijak ternyata diresmikan pada 9 Juli 1994. Ada tanda tangan Prof. Dr. Edi Sedyawati selaku Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) kala itu.

Saat aku sudah memasuki ruangan museum, barulah aku menemukan petugas museum. Untuk memasuki museum dikenai tiket seharga lima ribu rupiah. Dan terbukti, aku adalah satu-satunya pengunjung yang hadir di jam itu. 

Mengenal Riau melalui Museum Sang Nila Utama di Pekanbaru
Beberapa jenis minyak mentah dan pipa pertambangan/Johar Dwiaji Putra

Aku mulai mengamati benda-benda yang terdapat di Museum Sang Nila Utama. Bagian pertama yang menarik perhatianku adalah, terdapat corner yang membahas soal Chevron. Chevron? Ya, perusahaan minyak itu.

Aku baca-baca informasi yang tersaji di corner ini. Patut diakui, Riau adalah sebuah provinsi yang kaya akan minyak. Corner ini menampilkan serba-serbi eksplorasi minyak yang pernah dilakukan oleh Chevron. Bahkan ada sejumlah botol yang berisi jenis-jenis minyak mentah yang berasal dari perut bumi Riau.

Dari corner Chevron aku bergerak ke lantai bawah. Di ujung tangga, aku menemukan miniatur situs Candi Muara Takus (seperti tergambar pada foto sampul). Dari keterangan yang ada di miniatur ini, Muara Takus terletak sekitar 118 kilometer di sebelah barat Pekanbaru. Candi ini terbuat dari batu bata. Menurut penelitian beberapa ahli arkeologi dan sejarah, Muara Takus diperkirakan berasal dari abad ke-12 hingga 13 Masehi.

Candi Muara Takus membuktikan cerita para leluhur, bahwa pernah ada pengaruh ajaran Buddha di wilayah Riau yang datang dari India. Beberapa ahli mengatakan, Candi Muara Takus merupakan bukti dari Kerajaan Sriwijaya telah sampai ke wilayah Riau.

Mengabadikan Kebudayaan Suku Melayu

Aku terus menelusuri bagian lantai bawah Museum Sang Nila Utama. Aku disuguhi banyak rak kaca. Rak-rak ini menyimpan sejumlah barang, yang berusaha mendokumentasikan adat budaya yang dimiliki suku Melayu di Riau. Aku sungguh kagum dengan aneka baju adat yang terpampang di sini. Kuamati detail, baju-baju adat ini merepresentasikan setiap kabupaten dan kota yang terdapat di Riau. Bahkan juga masih ada baju adat dari daerah Kepulauan Riau, yang saat ini telah berdiri sebagai provinsi tersendiri.

Wah, sungguh kaya suku Melayu. Aku benar-benar terpukau dengan aneka baju adat, yang mana setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing. Di tengah lantai bawah museum, terdapat wahana yang memamerkan panggung pelaminan suku Melayu. Menarik.

Mataku kemudian dimanjakan beberapa replika rumah adat yang ada di wilayah Riau. Sama seperti baju adatnya, rumahnya pun mempunyai ciri khas yang berbeda di setiap daerah atau kabupaten.

Aku terkesima dengan berbagai koleksi alat atau perkakas yang tersaji di Museum Sang Nila Utama. Perkakas ini adalah alat-alat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu. Ada alat memasak, alat makan, alat musik, dan  alat permainan. Kain-kain yang menjadi ciri khas suku Melayu juga terpajang sempurna.

Aku tertarik dengan koleksi yang menunjukkan replika kegiatan “pacu jalur”. Pacu jalur adalah tradisi budaya masyarakat Rantau Kuantan. Merupakan perlombaan perahu dayung tradisional di Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi. Dari informasi yang kubaca, menurut masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Kuantan, pacu jalur merupakan tradisi yang diselenggarakan setiap tahun.

Konon, pacu jalur sudah ada sekitar tahun 1900. Pada masa lalu, pacu jalur diadakan di kampung-kampung sepanjang Sungai Kuantan, yang bertujuan untuk merayakan berbagai hari besar Islam. Perahu kayu yang disebut sebagai “jalur” ini sehari-hari digunakan untuk mengangkut hasil ladang. Semenjak Indonesia merdeka, Pacu Jalur diselenggarakan untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah menelusuri lantai bawah, aku kembali naik ke lantai atas. Di lantai atas bagian belakang, berjajar rak-rak kaca yang juga menyimpan aneka perkakas. Salah satu yang menonjol adalah piring dari Dinasti Ming, Cina. Hal ini menunjukkan adanya relasi antara kekaisaran di Cina daratan dengan kerajaan di wilayah Riau pada masa lalu.

Mengenal Riau melalui Museum Sang Nila Utama di Pekanbaru
Replika pompa angguk di halaman Museum Sang Nila Utama/Johar Dwiaji Putra

Mengetahui Sejarah Singkat Riau

Mendekati akses keluar museum, terdapat sejumlah media yang memaparkan sejarah perjalanan Riau. Aku membacanya dengan cermat. Secara etimologi, kata Riau berasal dari Bahasa Portugis “rio” yang berarti sungai. Di Pulau Bintan terdapat sebuah sungai yang bernama Rio. Dalam perkembangannya kata ini berubah menjadi Riau. Sedangkan Belanda menulis kata Riau dengan riouw.

Sementara “Sang Nila Utama” yang diabadikan sebagai nama museum diambil dari nama seorang raja yang berkuasa sekitar abad ke-13 Masehi di Pulau Bintan. Ya, sebelum ada pemekaran, Bintan merupakan salah satu pulau dalam wilayah Provinsi Riau.

Dari papan nama yang terpajang di pagar, museum ini juga merupakan lokasi Dinas Kebudayaan Provinsi Riau. Di halaman museum juga terdapat replika pompa angguk yang merepresentasikan eksplorasi minyak di bumi Riau.

Alhamdulillah, aku puas mengunjungi Museum Sang Nila Utama. Aku jadi lebih tahu soal suku Melayu dan Provinsi Riau. Aku tak menyesal memasukkan museum ini sebagai salah satu objek yang akhirnya kukunjungi selama berada di Pekanbaru.

Sepulang dari museum, aku merenung. Kenapa orang kebanyakan tidak tertarik untuk mengunjungi museum? Yang kupahami,. setiap orang berbeda dan mempunyai preferensinya masing-masing. Kalau aku pribadi, aku cukup tertarik dengan keberadaan sebuah museum. Dari museum, aku bisa mengetahui sejarah akan sesuatu. Sejarah dan perjalanan dari sebuah objek, peristiwa, maupun tempat tertentu.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Johar Dwiaji Putra

PNS yang suka bertualang.

Johar Dwiaji Putra

PNS yang suka bertualang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *