TRAVELOG

Menemukan Hal-Hal Baru di Bakongan, Aceh Selatan

Bunyi klakson, asap kendaraan, serta terburu-buru dalam perjalanan adalah rutinitasku satu bulan yang lalu. Aktivitas di tengah hiruk pikuk kehidupan yang serba cepat—dan terkesan menjadi kewajiban—membuat siapa saja tidak dapat menikmati kehidupan sehari-hari. Tugas demi tugas hanya berfokus pada penyelesaian tanpa menikmati proses.

Mungkin itulah gambaran kegiatan yang aku lakukan sebelum mengenal Bakongan, Aceh Selatan.

Menemukan Hal-Hal Baru di Bakongan, Aceh Selatan
Aktivitas warga di tempat pelelangan ikan/Anggi Kurnia Adha

Keliling Bakongan

Bakongan. Namanya begitu asing untuk aku yang besar di Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Bakongan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Masih hitungan bulan aku mulai menetap di Bakongan. Alasan utama karena ikut suami kerja. Di sinilah berbagai aktivitas baru dan bermacam budaya aku temukan. Seperti anak yang baru lahir, aku belum mengerti bagaimana caranya berinteraksi lebih jauh dengan warga, terlebih tetangga. Akan tetapi, aku ingat satu pesan dari keluarga, untuk tetap memberi senyuman terbaik sebagai perkenalan khas masyarakat Indonesia yang ramah.

Pagi hari, di sekitar permukiman terdapat aktivitas pasar pada umumnya. Yang menarik adalah rumahku tidak jauh dari tempat pelelangan ikan atau pasar ikan. Hanya perlu berjalan kaki sekitar lima menit sampai di pusat pelelangan ikan.

Setiap pukul sembilan atau sepuluh pagi berbagai ikan mendarat di bibir pantai yang dibawa oleh sampan-sampan kecil. Ada satu jenis ikan yang terlihat banyak memenuhi keranjang para nelayan hari itu. Bentuknya panjang dan memiliki mulut lancip, namanya ikan barakuda. Jujur saja aku baru pertama kali melihatnya dan pastinya penasaran dengan cita rasa ikan tersebut. Harganya Rp30.000 per kilogram, cukup untuk jatah makan aku dan suami tiga hari ke depan. 

Menemukan Hal-Hal Baru di Bakongan, Aceh Selatan
Ikan barakuda hasil tangkapan nelayan/Anggi Kurnia Adha

Sore hari menjelang magrib, hanya beberapa kendaraan yang melintasi Tugu Bakongan atau biasa dikenal “Simpang Tugu”, yang merupakan titik pusat strategis di Kecamatan Bakongan. Tugu berbentuk bambu kuning itu seperti memiliki sejarah kelam dan menjadi saksi atas peristiwa yang pernah terjadi beberapa tahun silam.

Tidak banyak aktivitas yang dilakukan warga setempat. Pelataran kota tidak dipenuhi debu kendaraan atau pun nyaringnya klakson. Selain itu, yang paling aku suka tidak adanya pemungutan parkir setiap berhenti di kedai atau toko mana pun. Seperti kedai kopi di persimpangan tugu bernama Titik Konsep yang cukup ramai diminati dari berbagai kalangan. Kopi Aceh yang sudah dikenal enak menjadi minuman eksotis untuk melihat manjanya matahari terbenam hari ini. 

Motor bergerak pelan menikmati perjalanan. Di bagian kanan dan kiri badan jalan terdapat pohon yang baru aku kenal, yaitu nipah. Daunnya mirip dengan daun tanaman palem lainnya (kelapa dan sagu), tetapi memiliki panjang hingga tujuh meter serta daun mencapai satu meter. Beberapa waktu lalu aku sudah mencicipi minuman dari buah nipah yang merupakan salah satu kuliner segar dari Bakongan. Tampilannya berwarna merah jambu mirip seperti es teler. Dan benar saja olahan buah nipah dicampur dengan sirup yang membuat rasanya familiar. 

Menemukan Hal-Hal Baru di Bakongan, Aceh Selatan
Pohon-pohon nipah di tepi jalan/Anggi Kurnia Adha

Pemandangan Mahal di Pantai Bakongan

Setelah kurang lebih sepuluh menit, aku dan suami tiba di bibir pantai. Matahari mulai menunjukkan ketenangannya untuk siap terbenam. Langit merona dengan paduan warna yang sempurna. Kopi gula aren Titik Konsep menjadi paket komplet menikmati pesona Pantai Bakongan.

Aku memilih duduk di bongkahan kayu. Di sini deburan ombak terlihat dan terdengar jelas. Suasana semakin ramai, muda-mudi tampak mengabadikan momen tenggelamnya matahari. Ada yang sekadar duduk menikmati, ada yang asyik beradu foto terbaiknya, dan ada aku anak Sumut yang merasa takjub dengan alam Bakongan. Selain itu, yang tidak kalah menarik perhatian adalah nelayan dengan sampannya sedang menebar jala. Sungguh, pemandangan mahal bagiku yang dulunya tinggal dikelilingi kebun sawit. Cekrek, cekrek. Jariku gatal ingin memotret suasana yang kalau kata Budi Doremi sedang “Melukis Senja”. 

Dari kejauhan, terlihat dua pulau kecil saling beriringan, namanya Pulau Dua. Menurut informasi dari suamiku, hanya satu pulau di antaranya yang dijadikan destinasi wisata. Kapal yang berlayar hanya membawa wisatawan ke satu pulau. Sepertinya karena keterbatasan fasilitas dan akses ke pulau satunya lagi, sehingga masyarakat setempat hanya fokus pada pulau yang sering dikunjungi saja. Selain itu, kedua pulau tersebut tidak memiliki penghuni selain hewan dengan habitatnya, alias tidak ada aktivitas kehidupan manusia kecuali berwisata dari pagi hingga sore hari. 

  • Menemukan Hal-Hal Baru di Bakongan, Aceh Selatan
  • Menemukan Hal-Hal Baru di Bakongan, Aceh Selatan

Menyeberang ke Pulau Dua

Beberapa waktu lalu, aku dan suami membawa keluarga menyeberang ke Pulau Dua. Durasi perjalanan sekitar 30 menit naik perahu dari bibir pantai. Untuk ongkos pulang pergi hanya perlu merogoh kocek Rp50.000 per orang dan bisa minta dijemput jam berapa pun sebelum matahari terbenam.

Pasir di pulau ini putih, airnya perpaduan biru dan hijau jernih. Sunyi, tapi tenang. Di bibir pantai banyak pohon kelapa yang daunnya menari-nari terbawa sepoi-sepoi angin. Aku melepas sandal dan berjalan di putihnya pasir, menyusuri bibir pantai. Tak kusangka, suami menemukan sepasang siput laut—kalau di kampungku dulu namanya “kuluk-kuluk” —sedang bercumbu. Uniknya lagi, di sini tidak terdapat kedai makanan seperti tempat wisata air lainnya. Tidak ada semangkuk mi instan dan aneka sajian seafood lainnya. Sehingga, wisatawan harus membawa bekal sebelum menyeberang ke Pulau Dua. 

Usai mengingat kenangan bersama keluarga di Pulau Dua, matahari kian terbenam lalu menghilang. Waktunya aku dan suami pulang. Akan tetapi, masih ada satu pertunjukan alam yang menjadi penutup perjalanan hari ini. Barisan burung menari-nari membentuk garis abstrak, yang aku sadari mereka juga akan kembali pulang ke rumahnya. Ternyata burung-burung tersebut turun tepat di Pulau Dua yang pernah aku kunjungi. Pantas saja terdengar suara burung berkicau merdu di Pulau Dua. 

Kopi di tangan sudah habis, gorengan juga tinggal bungkusnya. Aku dan suami tidak lupa membawa kembali sampah makanan dan minuman. Meski tempat sampah tidak tersedia, setidaknya nurani kita bersedia menyadari pentingnya menjaga alam dan sekitarnya. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Anggi Kurnia Adha Harahap adalah seorang penulis kelahiran Tanah Batak, Sumatra Utara. Novel pertamanya "Lelaki Berkacamata" telah terbit mewarnai dunia literasi.

Anggi Kurnia Adha Harahap adalah seorang penulis kelahiran Tanah Batak, Sumatra Utara. Novel pertamanya "Lelaki Berkacamata" telah terbit mewarnai dunia literasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menyusuri Pelaruga di Langkat