Saat kumpul keluarga di awal Syawal, ada obrolan bersama salah satu saudara, mempersoalkan asal usul Candi Borobudur. Saya menceletuk, Candi Borobudur terlalu dielu-elukan. Bagi warga lokal, apalagi keluarga besar kami tinggal di Kabupaten Magelang, melihat Candi Borobudur sudah tidak lagi seistimewa itu. Rasanya seperti warga Jakarta yang biasa saja melihat Blok M.
Saudara saya bilang, sebenarnya di wilayah Borobudur dan sekitarnya masih sering ditemukan situs-situs sejarah sampai sekarang. Penasaran, saya kumpulkan data dan membuat rencana perjalanan untuk bertandang.


Melipir Dulu ke Situs Samberan
Saya bersama dua adik saya memutuskan berangkat selepas sarapan. Berbekal alamat dan pengetahuan ala kadarnya, kami pun melaju menggunakan sepeda motor. Pemberhentian pertama adalah Situs Bowongan, Desa Ringinanom, Kecamatan Tempuran. Sekitar empat kilometer arah barat laut dari Candi Borobudur.
Jalan yang kami lewati hanya cukup memuat satu mobil dan satu motor. Suasana masih sepi. Selain masih pagi, warga setempat juga sedang berlebaran. Tidak ada penanda apa pun menuju situs, maka satu-satunya cara adalah bertanya pada warga lokal.
Kami bertemu dengan seorang ibu dan bertanya lokasi Situs Bowongan. Namun, ternyata beliau pun tidak tahu pasti. Tanpa membuang waktu kami memutuskan untuk berkunjung ke Situs Samberan terlebih dahulu.
Lokasinya tidak jauh dari Dusun Bowongan, tidak lebih dari 10 menit ke arah utara. Meski sempat tersasar ke kuburan kampung, kami beruntung sampai di lokasi situs. Di Dusun Samberan, Situs Samberan saya nilai masih lebih mudah disambangi dan terlihat jelas papan alamat di wilayah tersebut. Namun, lokasi Situs Samberan ada di tengah pemukiman, sehingga akses agak sulit bagi pengguna kendaraan roda empat. Hanya pengguna kendaraan roda dua atau pejalan kaki saja yang bisa menuju situs.
Sesampainya di lokasi, kami bertemu dengan Mas Munawir, penjaga sekaligus petugas yang bekerja di Situs Samberan. Kebetulan beliau juga warga lokal Samberan, sehingga cukup mengenal lingkungan sekitar. Dari ceritanya, situs ini awalnya ditemukan ketika perajin setempat sedang menggali tanah untuk bahan baku batu bata. Ketika penggalian justru menemukan tumpukan batu bata yang tersusun layaknya reruntuhan bangunan.
“Lho, kan baru mau buat bata, ini udah ada yang jadi,” candanya. Setelah itu pihak balai konservasi turun tangan untuk melakukan ekskavasi dan penelitian lebih lanjut. Setelah sedikit berbincang mengenai informasi umum Situs Samberan, Mas Munawir mempersilakan kami untuk menengok dan mengamati situs.
Dimensi Situs Samberan lumayan besar, dengan rasio yang hampir berbentuk persegi. Saya memperkirakan luasnya kurang lebih setara dengan lahan parkir yang memuat 15–20 unit mobil. Mas Munawir bercerita, Situs Samberan merupakan salah satu situs yang dikelola Balai Konservasi Borobudur sejak 2022, berbarengan dengan Situs Dipan, Situs Brongsongan, dan Situs Plandi. Dari keempat situs sejarah, yang bercorak agama Buddha adalah Situs Dipan, sisanya bercorak agama Hindu.
Saat kami ingin melanjutkan perjalanan, Mas Munawir sejenak menunjukkan temuan lain dari situs ini. Kami masuk ke permukiman, tidak jauh dari situs terdapat yoni yang ditemukan sejak dulu sebelum ekskavasi Situs Samberan dilakukan. Yoni ini berada di dekat rumah warga lokal. Sebelum pamit, kami juga menyempatkan mengisi buku tamu, kemudian kembali menyusuri Dusun Bowongan.


Pusaka yang Tersembunyi di Sudut Bowongan
Kami berjumpa lagi dengan jalan berbatu yang dikelilingi pohon kelapa dan kebun singkong. Berbekal intuisi dan informasi Google Maps yang ala kadarnya, kami mencoba menyusuri tiap-tiap lorong setapak dari jalan utama dusun menuju lahan pemukiman. Di salah satu jalur, kami bertemu dengan pemuda dengan kaus partai politik yang baru memarkirkan motor bebeknya di dekat kebun. Kami inisiatif bertanya.
“Permisi, Mas, apa betul di sini ada situs sejarah?” tanya saya sambil menunjukkan gambar. “Maaf, Mas. Saya bukan orang sini, jadi nggak tahu, he-he. Saya hanya kerja di sini,” jawabnya. Nasib lagi-lagi kurang untung, kami bertanya pada orang yang kurang tepat. Rasanya hampir menyerah.
Mengingat suasana lebaran masih terasa, umumnya keluarga dan kerabat bersilaturahmi, termasuk di dusun ini. Kami semakin berhati-hati saat bertanya, boleh jadi itu bukan orang lokal, melainkan hanya kerabat jauh yang berlebaran. Sampai akhirnya kami bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya di sekitar jalan utama dusun. Beliau berkaus hitam dengan sandal jepit santai, rambutnya panjang sedikit ikal. Kami bertanya, karena yakin beliau adalah warga setempat.
Saya bertanya sambil menunjukkan gambar. “Oh, ya, ada di sini! Panjenengan ikuti jalan ini, pas pertigaan langsung belok kiri,” jawabnya hangat dengan sigaret kreteknya di tangan kiri. Kami yang hampir putus asa pun kembali antusias.


Mengikuti arahan beliau, kami pun sampai di lokasi. Kendati demikian, kami juga sempat tersesat. Kami menemukan kandang ayam berbentuk rumah panggung. Terdapat tiga bangunan setinggi tujuh sampai delapan meter, masing-masing luasnya hampir dua kali lapangan bulu tangkis. Tidak jauh dari situ, kami akhirnya menemukan Situs Bowongan. Letaknya cukup terpencil, berada di belakang salah satu rumah warga. Aksesnya terbilang cukup sulit, hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua atau berjalan kaki.
Kami parkir di sekitar halaman rumah penduduk setempat. Saat berjalan kami juga harus berhati-hati. Jalur menuju situs sedikit merosot ke bawah dengan semak-semak yang tebal. Tidak orang yang bisa kami tanyakan mengenai cerita di balik penemuan situs tersebut, alhasil kami hanya mengamati.
Situs Bowongan tidak terlalu besar, panjangnya sekitar satu depa lebih sedikit. Lebarnya kurang sepertiga dari panjangnya. Tersusun dari ukiran batu bata, sekilas bercorak seperti akar tumbuhan, dilengkapi dengan bilik-bilik altar. Kondisinya terbilang cukup memprihatinkan untuk ukuran situs bersejarah, permukaannya ditumbuhi tanaman liar dan lumut. Sayangnya, saya pribadi masih belum menemukan sumber bacaan yang tepat mengenai Situs Bowongan ini.
Hari semakin siang, kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju Situs Brongsongan. Lokasinya 3,5 kilometer ke arah timur laut dari Dusun Bowongan, sekitar 10 menit dengan sepeda motor.


Situs Brongsongan dan Situs Lainnya
Dari seluruh perjalanan hari ini, akses menuju Situs Brongsongan adalah yang paling mudah. Setelah makan siang, kami singgah di Situs Brongsongan tanpa drama, tanpa tersesat. Situs ini berada di lokasi yang cukup strategis, kurang dari satu kilometer dari Kampung Seni Borobudur, berada di jalan raya Salaman–Borobudur.
Kawasan Situs Brongsongan tidak lebih luas daripada Situs Samberan, mungkin sekitar seperlimanya. Namun, yang menjadi pembeda dari situs sebelumnya adalah adanya papan keterangan situs selayaknya yang biasa ditemui di museum. Pengunjung bisa langsung membaca cerita di balik situs tersebut.
Kami disambut dengan ramah oleh petugas yang berjaga di Situs Brongsongan, yang kemudian kami sapa dengan sebutan Mas Indra. Beliau menyodorkan buku tamu dan mengajak berkeliling sambil berbincang santai perihal Situs Brongsongan.
Mas Indra bercerita, meski proses akuisisi kawasan situs masih terbilang belum lama, warga setempat sudah mengetahui adanya peninggalan sejarah di wilayah tersebut. Bahkan termasuk kakek buyut dari Mas Indra sendiri, yang menurut pengakuannya dulu merupakan warga yang tinggal di kawasan Situs Brongsongan.
Ditemukan adanya dua buah yoni. Yang paling besar berada di tengah taman. Menurutnya, yoni besar itulah yang menjadi temuan awal situs. Di bagian belakang situs disimpan juga yoni yang kedua, berukuran lebih kecil daripada yang pertama.
Mas Indra melanjutkan, situs ini memiliki potensi penemuan yang lebih luas, lebih dari yang ditampilkan. Ia menunjuk wilayah sekitar situs yang masih berupa tanah tanpa rumput, katanya masih ada kemungkinan penemuan reruntuhan lainnya apabila dilanjutkan ekskavasi. Bagi saya terdengar masuk akal, ditambah lagi saya sendiri juga melihat struktur situs yang terasa terputus, alih-alih terasa utuh seperti yang saya tengok sebelumnya di Situs Samberan. Ada juga kumpulan batu bata dengan warna serupa di tanah yang sama, muncul sedikit di permukaan, tertimbun tanah.
Kata Mas Indra, temuan-temuan situs sejarah di wilayah Candi Borobudur dan sekitarnya sebetulnya masih banyak. Situs-situs yang rasanya terdengar asing di telinga publik, mungkin juga belum disentuh para peneliti, apalagi dilirik pengelola wisata. Banyak warga setempat sebetulnya sudah mengetahui sejak lama, menganggapnya biasa saja. Sebagian warga memilih diam karena mempertahankan lahannya, sebagian yang lain diam karena terbatasnya pengetahuan perihal cagar budaya.
Situs Bowongan yang saya anggap sulit ditemukan justru terdengar seperti situs yang masih “beruntung” bisa ditemukan. Perjalanan menjajaki situs-situs sekitar Borobudur masih belum selesai, dan kami menjadikan kunjungan Situs Brongsongan sebagai hidangan penutup perjalanan hari itu.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Traveler semi-amatir. Keluyuran ala kadarnya, Menulis apa adanya.





