TRAVELOG

Menelusuri Plang Jalur Evakuasi di Kota Cirebon

Curah hujan tinggi dan perusakan hutan berakibat bencana banjir. Paling parah di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Wilayah lainnya, termasuk Kota Cirebon, diterjang banjir pula. 

Jika bencana datang, ke mana warga mencari lokasi aman? Ini yang coba saya telusuri. Plang jalur evakuasi tersebar di beberapa titik, seperti seputaran Perumnas Kota Cirebon yang biasa saya lalui. Di kawasan padat penduduk ini, plang yang dipasang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memandu warga menuju titik kumpul.  

Kehadiran plang penunjuk arah tempat evakuasi bencana semacam ini, ada di seluruh Indonesia, di bawah otoritas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pembaca bisa mulai memperhatikannya di daerah masing-masing. Kecamatan Harjamukti—tempat saya tinggal—merupakan wilayah terluas di Kota Cirebon. Total ada lima kecamatan dengan 22 kelurahan. Potensi bencana banjir paling besar di Harjamukti, karena dilintasi banyak sungai dan kali.

Perangkat tempur BPBD (Mochamad Rona Anggie)
Contoh plang jalur evakuasi di gang Jalan Parkit Raya, Kota Cirebon, dekat jalan Pantura penghubung Jawa Barat-Jawa Tengah. Warga diimbau mengikuti arah jalur evakuasi ke titik aman jika terjadi banjir/Mochamad Rona Anggie

Memulai Penelusuran

Plang jalur evakuasi pertama yang coba saya ikuti ada di perempatan Jalan Rajawali Raya belok Jalan Elang Raya. Melewati Puskesmas Perumnas Utara yang berhadapan dengan SMPN 6. Tak jauh, ada plang lainnya di kompleks Jalan Bondol Raya. 

Saya lanjut ke Jalan Parkit Raya, hingga menemukan sebuah plang lagi di pinggir jalan nasional menuju Jawa Tengah. Herannya, jalur evakuasi mengarah ke kedatangan saya. Bingung. Di mana lokasi aman titik kumpul warga? 

Saya kemudian menyeberangi jalan lintas provinsi yang dilalui banyak kendaraan plat nomor luar kota. Maklum, momen liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), banyak pemudik dan pelancong. Di pertigaan jalan, saya dapati lagi plang jalur evakuasi. Kali ini mengarah ke jalan menanjak menuju kompleks Perumnas Gunung. Sebelumnya saya menyusuri kawasan Perumnas Burung.

  • Perangkat tempur BPBD (Mochamad Rona Anggie)
  • Perangkat tempur BPBD (Mochamad Rona Anggie)

Ini sepertinya menuju ke titik kumpul (assembly point), terka saya. Si Vario pun melaju. Tiba depan kantor Kelurahan Larangan—berjarak 50 meter dari plang jalur evakuasi di pertigaan tadi—saya masuk dan mengitari halamannya: mencari plang “titik kumpul”. Nihil. 

Seorang penjaga mendekat, menanyakan keperluan. Saya sampaikan sedang melacak keberadaan plang titik kumpul yang terhubung dengan plang jalur evakuasi. “Di sini tidak ada. Baru sadar juga, di mana kita kumpul kalau ada bencana, ya?” kata Safrudin (53) mendukung penelusuran saya.

“Biasa, kalau sengaja dikejar sulit. Tapi kalau enggak [dicari], nongol sendiri,” seloroh lelaki bertato itu menghibur saya, lantas menyarankan berjalan terus hingga menemukan ruang publik lainnya. “Barangkali di Baperkam Bromo ada.”

Saya lanjut memacu motor. Mampir sejenak memotret Sungai Cikalong yang rawan banjir bila hujan deras. Keterangan Safrudin, jalan depan kantor Kelurahan Larangan posisinya lebih rendah dari jembatan Sungai Cikalong, akibatnya kerap tergenang banjir. Pengendara dijamin kesulitan jika coba menerabas.

Perangkat tempur BPBD (Mochamad Rona Anggie)
Sungai Cikalong rentan meluap ketika hujan deras/Mochamad Rona Anggie

Balai Pertemuan Kampung (Baperkam) kompleks Gunung Bromo saya lewati, lalu belok ke perumahan di belakangnya. Saya selidiki, tak ada plang titik kumpul. Ah, di mana sih?!

Saya emoh menyerah. Berusaha akan mencari keterangan ke kantor BPBD Kota Cirebon. Sebelum ke sana, saya menuju jalan protokol, ingin ke Balai Kota Cirebon. Saya pikir di tempat penting semacam itu—kantor wali kota dan wakilnya—pasti ada petunjuk titik kumpul andai bencana datang. 

Di tengah perjalanan, lapangan bola depan kantor Kelurahan Drajat yang bersebelahan dengan SDN Kesambi Dalam, mengusik rasa penasaran. Asumsi saya pasti bisa untuk lokasi kumpul warga.

Saya keliling lapangan, dan senang bukan main saat menemukan plang hijau bertuliskan: Lokasi Evakuasi. Ada di sebelah timur lapangan, belakang warung pedagang kaki lima (PKL) yang resmi berniaga di pinggiran luarnya. 

Tapi, di mana plang “titik kumpul”? Saya masih belum puas. Petualangan melacaknya saya teruskan di bawah langit teduh. Musim hujan belum beranjak dari wilayah Cirebon. Cuaca panas yang biasa menggila, sirna sementara.

Saya gas motor perlahan. Tengok kanan-kiri, sambil membayangkan aktivitas pekerja jalanan ojek online (ojol), kurir paket, atau pedagang keliling, yang saban hari mencari titik pesanan. Sementara saya memburu plang “titik kumpul” untuk sesekali waktu, berharap informasi yang didapat bermanfaat bagi masyarakat.

Sabtu pagi (3/1/2026), Jalan Siliwangi tampak lengang. Warga kota dan wisatawan mungkin masih leyeh-leyeh. Saya menembus gerbang balai kota, langsung ke lapangan upacara. Mengitarinya dengan mata menyelidik tiap sudut. Sebuah plang hijau terlihat di belakang Museum Topeng. Tapi ini: plang Lokasi Evakuasi. Saya pun bertekad terus mengejar plang titik kumpul.

  • Perangkat tempur BPBD (Mochamad Rona Anggie)
  • Perangkat tempur BPBD (Mochamad Rona Anggie)
  • Perangkat tempur BPBD (Mochamad Rona Anggie)

Nah, sebelum masuk halaman balai kota, pandangan saya sempat merekam keberadaan plang titik kumpul di depan sebuah hotel. Saya bergegas ke sana. Ada! Sungguh gembira, sehingga saya lekas menjepret. Dua orang tamu hotel sedang santai terkejut, saya senyumi.

Plang titik kumpul di hotel yang bertetangga dengan balai kota itu, bukan semata untuk antisipasi bencana banjir, melainkan juga gempa bumi atau keadaan darurat lain. Tempat pemasangannya mudah terlihat pengguna jalan seperti saya. 

Penelusuran berlanjut. Saya meluncur ke kantor BPBD Kota Cirebon di Jalan Pemuda. Sambil terus mengamati di mana saja plang titik kumpul lainnya. Saya teringat Stasiun Kejaksan, dan memutuskan mampir. Pasti ada rambu kebencanaan di area objek vital.

Saya parkir motor depan stasiun, lalu melenggang ke parkiran mobil. Pandangan berkeliaran, dan sempat bertanya pada seorang porter barang. “Enggak ada plang kaya gitu,” katanya. Saya kian penasaran.   

Selangkah demi selangkah mendekati bangunan utama stasiun, di satu pinggiran saya menemukan apa yang dicari. Posisi plang titik kumpul itu di sisi barat parkiran mobil, beririsan dengan tembok batas hias khas keraton yang memagari Stasiun Kejaksan. Senangnya! Ini plang titik kumpul kedua yang saya peroleh.    

Baru sebentar meninggalkan stasiun, ketika melewati klinik kesehatan PT KAI, saya terkejut dan riang bukan main melihat plang titik kumpul ada di situ. Saya putar balik lalu masuk parkiran klinik. Saya cepat memotretnya.

Lokasi aman di halaman Stasiun Kejaksan dan depan klinik PT KAI/Mochamad Rona Anggie

Mengunjungi Markas BPBD

Tujuan akhir masih beberapa menit lagi. Saya melintasi rel ganda di Jalan Kartini. Terus menjauh sampai di perempatan Bank BRI belok ke Jalan Cipto Mangunkusumo. Hingga tiba di perempatan lampu merah Jalan Pemuda, saya menikung ke barat. Seratus meter berikutnya ada gang sebelah SMPN 4, saya masuk sejauh 50 meter dan disambut kibaran panji BPBD.

Warna oranye mendominasi kendaraan di halaman kantor BPBD. Ada motor trail, mobil kabin ganda berpenggerak empat roda (4WD), mobil pikap, dan perahu penyelamat. 

Personel BPBD yang sedang piket, Ali, mengaku tak tahu persis titik-titik pemasangan plang jalur evakuasi dan titik kumpul yang saya tanyakan. Saya lantas menggali aktivitasnya selama menangani banjir di wilayah Kota Cirebon.

Perangkat tempur BPBD (Mochamad Rona Anggie)

“Kalau hujan deras sampai satu jam, kami langsung turun ke lapangan,” ucapnya.

Tim menuju titik rawan banjir, terutama perkampungan dekat sungai. Pengalaman Ali, jika hujan besar mengguyur lebih dari sejam, sungai di wilayah kerjanya akan meluap. 

Dia menjelaskan dalam sebuah proses evakuasi, empat personel membawa satu perahu karet. Tak lupa pakai rompi pelampung. Mereka dibekali pula pelampung bulat (ring buoy) untuk menolong warga yang terjebak banjir.

BPBD Kota Cirebon memiliki empat perahu penyelamat: dua berbahan karet, dua lainnya fiber. Bisa digerakkan dengan dayung atau mesin tempel (outboard motor), guna mempercepat pertolongan. “Perkiraannya sampai Februari kami siaga bencana banjir,” tegas Ali.

Menelusuri Plang Jalur Evakuasi di Kota Cirebon
Petugas pasang plang lokasi evakuasi/BPBD Kota Cirebon

Pencarian Terakhir

Saya kemudian menghubungi Kepala BPBD Kota Cirebon, Andi Wibowo. Beberapa hari lalu, dia dan tim berjibaku di tengah banjir yang mengepung perkampungan di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti.

Andi mengungkapkan sudah menyebar 28 plang titik kumpul warga, sebagai lokasi evakuasi. Titik tersebut dipilih berdasarkan hasil survei dan simulasi penanganan bencana oleh personel BPBD. 

Saya lantas menanyakan letak plang titik kumpul untuk warga Perumnas Burung andai banjir datang. Sebab, sudah mengikuti arah plang jalur evakuasi, tetapi tak jua menemukan penanda titik kumpul. 

“Warga Perumnas Rajawali, Elang Raya, dan Parkit, kumpul di halaman SMPN 6,” sebutnya. Saya tertegun, karena pagi tadi sudah lewat situ, tapi tak menoleh ke sekolahan. 

  • Menelusuri Plang Jalur Evakuasi di Kota Cirebon
  • Menelusuri Plang Jalur Evakuasi di Kota Cirebon

Sementara arah plang jalur evakuasi di pertigaan sisi jalan lintas provinsi yang menuju Perumnas Gunung—melewati kantor Kelurahan Larangan—berakhir di lapangan Masjid Nurul Amal. “Di sana titik kumpul untuk penduduk Perumnas Gunung,” kata Andi. 

Tak mau membuang waktu, saya ngacir ke sasaran. Ketemu! Plang titik kumpul ada di area dalam SMPN 6. Saya memotretnya. Termasuk plang titik kumpul di lapangan Masjid Nurul Amal.

Penelusuran penanda jalur evakuasi, titik kumpul, dan lokasi evakuasi di sebagian Kota Cirebon pun beres. Jika suatu saat banjir datang, ikuti petunjuk plang-plang itu. Perhatikan keselamatan diri, keluarga, dan tetangga terdekat, sebelum bantuan tiba.  


Foto sampul: Plang jalur evakuasi menuju lapangan Masjid Nurul Amal di pertigaan Jalan Ciremai Raya, Harjamukti, Kota Cirebon/Mochamad Rona Anggie


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menolak Tua di Kota Tua Cirebon