Sejarah Kota Malang hingga kini masih lekat dengan jejak-jejak peninggalan Belanda, mulai dari tata kota hingga arsitektur bangunannya. Pendudukan Belanda di Kota Malang selama lebih dari satu abad lamanya, mengakar kuat di ingatan masyarakat.
Didukung dengan sisa-sisa bangunan peninggalan Belanda yang masih kokoh berdiri, seperti Balai Kota Malang, Alun-alun Tugu, Stasiun Kota, dan rumah-rumah dengan desain yang dirancang langsung oleh arsitek Belanda. Napas peninggalan Belanda juga terasa di sepanjang Jalan Ijen, buah karya Thomas Karsten. Tergambar dari rumah megah dengan halaman yang luas, trotoar dan pohon palemnya, hingga jalan raya dengan boulevard yang menjadikannya sebagai salah satu area tercantik di Kota Malang.
Namun, di balik dominasi kolonialisme Belanda itu, Kota Malang masih menyisakan sedikit jejak peninggalan Jepang. Salah satunya Ching Nan Jinja, atau kuil yang menandakan penguasaan negara bagian selatan oleh Kekaisaran Jepang.
Karena penasaran dengan sisa pendudukan Jepang di Kota Malang, saya memutuskan untuk ikut dalam perjalanan menggali sejarah bersama History Fun Walk Malang. Pemandu sekaligus para founder, yakni Hannu Ayodya Mamola dan Yehezkiel Jefferson Halim turut menceritakan kisah mereka dalam mencari jejak-jejak Jepang yang kemudian dibagikan kepada peserta tur.

Sekilas Awal Pendudukan Jepang di Kota Malang
Kedatangan Jepang ke Kota Malang dimulai pada 8 Maret 1942. Saat itu Minoru Tanaka ditunjuk untuk menjabat sebagai Syutyokan atau Residen Malang, dengan Soewarso Tirtowijogjo sebagai Sityo (wali kota) Malang. Sesuai dengan propaganda yang dibawa, Jepang ingin menunjukkan dominasi Asia terhadap orang-orang Eropa. Hal tersebut ditunjukkan dengan perintah untuk menghapuskan istilah-istilah Belanda ke dalam bahasa Jepang.
Pendataan terhadap bangsa asing seperti Belanda, Tionghoa, dan Arab pun dilakukan. Bahkan Jepang membentuk kamp interniran bagi orang-orang Belanda di beberapa wilayah dengan penjagaan yang cukup ketat.
Peralihan kekuasaan ini juga berdampak pada fungsi-fungsi Gemeenteraad atau Dewan Kota Malang menjadi Malang Syu Sangi Kai. Salah satu tugasnya ialah mengatur heiho, prajurit Indonesia yang membantu tentara Jepang, untuk mendongkrak hasil bumi. Mereka tidak lagi mengurus persoalan tata wilayah yang menyebabkan minimnya perubahan infrastruktur selama Jepang menduduki Kota Malang. Kemungkinan besar, hal tersebut juga menjadi salah satu faktor minimnya peninggalan Jepang di Kota Malang.

Jejak Kuil Ching Nan di Taman Makam Pahlawan
Sejak kedatangan Jepang ke Hindia Belanda, dibangunlah 19 kuil yang salah satunya terletak di Kota Malang. Para ahli sejarah sempat merasa kesulitan mencari letak presisi kuil yang kini tak ada wujudnya itu. Sempat dikira kuil Jepang itu berada di area pacuan kuda sekitar Jalan Simpang Balapan, maupun di Jalan Salak yang kini menjadi Jalan Pahlawan Trip.
Mas Han dan Mas Yehezkiel sempat bercerita bahwa titik terang lokasi keberadaan kuil Shinto Jepang baru muncul pada tahun 2019. Saat itu terdapat dua acuan peta zaman Jepang yang digunakan. Pertama ialah tulisan tangan dari seorang profesor Jepang yang datang ke Malang. Ia membawa coretan peta dari bekas tentara Jepang yang dulu sempat bertugas di Malang. Coretan peta tersebut hanya mengandalkan ingatan yang telah samar. Kedua, peta tanpa akses jalan yang jelas.
Sumber lain yang dijadikan acuan ialah koran Belanda yang dimuat pada sekitar tahun 1947. Koran tersebut hanya menyinggung keberadaan jinja Jepang di sekitar Jalan Ijen dan erat dengan makam pahlawan Indonesia. Dua petunjuk itulah yang menumbuhkan spekulasi kuil Jepang berada di Jalan Salak, terlebih di sana terdapat makam Tentara TRIP.
Keduanya bercerita, ditemukan dokumen lama dari seorang penjual loakan. Terdapat selebaran dokumen dengan judul “Perayaan Ikhtisar Pembukaan Jinja”, yang membahas peresmian jinja dengan cara arak-arakan jalan kaki dari kawasan (yang sekarang) Stadion Gajayana.
Pada arak-arakan tersebut, diisi dengan budaya Jawa, Cina, dan juga Jepang. Saat berhenti di lokasi jinja, dilakukan pertunjukan kesenian. Pada dokumen juga dituliskan bahwa perayaan pertunjukan seni tersebut berada di lapangan jinja Bethek. Perlu diketahui bahwa Taman Makam Pahlawan (TMP) Untung Suropati kini berada di persimpangan antara Jalan Veteran, Jalan Bogor, dan Jalan Mayjen Panjaitan yang akrab disebut Bethek oleh warga Kota Malang. Dari sinkronisasi data yang didapatkan, diperoleh titik terang bahwa letak Ching Nan Jinja berada di TMP Untung Suropati.

Memori Pendirian Jinja di Kota Malang
Lokasi pendirian jinja tak dapat dilakukan secara sembarangan. Diperlukan perhatian terhadap hegemoni alam, elevasi tanah yang lebih tinggi, hingga pemilihan lokasi yang dekat dengan sumber air. Lokasi yang kini dikenal sebagai TMP Untung Suropati, pada saat itu dinilai sesuai dengan persyaratan tersebut.
Apabila dilihat di peta, TMP Untung Suropati memang berada di Jalan Veteran, tetapi pintu utama berada di Jalan Bogor. Hal tersebut menyesuaikan dengan bangunan jinja yang digunakan sebagai tempat pemujaan Dewa Matahari bagi pemeluk Shinto. Lokasi pintu utama di Jalan Bogor, membuat kuil menghadap ke arah timur, letak matahari terbit.
Bentuk tanahnya pun melebar ke depan dan menyempit ke belakang, seperti bentuk trapesium. Kabarnya, sebelum dijadikan sebagai makam pahlawan Indonesia, area tersebut masih berupa hamparan lahan kosong.
Berdasarkan foto dokumentasi yang diberikan oleh History Fun Walk Malang, kuil tersebut berdiri di atas anak tangga dilengkapi dengan torii, gerbang khas sebagai pintu masuk untuk menuju ke ruang pemujaan. Diperkirakan kuil tersebut berdiri di titik yang kini terbangun monumen putih dengan lambang burung Garuda emas di atasnya.

Salah satu ciri khas dari kuil Jepang, biasanya bangunan dikelilingi oleh pohon cemara angin khas Negeri Sakura. Bahkan hingga kini pohon cemara angin tersebut masih tumbuh tinggi di area TMP Untung Suropati. Konon, cemara-cemara tersebut memiliki bunyi yang khas jika diterpa angin.
Sayangnya, kuil tersebut harus dirobohkan oleh tentara Jepang pada masa Perang Dunia II ketika Jepang menyerah kepada sekutu. Mereka tidak menghendaki kuil-kuil yang merupakan representasi dari Sang Kaisar ditaklukkan oleh musuh. Bukan hanya kuil di Kota Malang, melainkan juga setiap kuil yang Jepang bangun di Hindia Belanda. Itulah salah satu penyebab minimnya jejak peninggalan Jepang di Indonesia, khususnya di Kota Malang.
Setelah dirobohkan, wilayah yang semula dijadikan sebagai kuil di masa pendudukan Jepang itu beralih fungsi sebagai makam bagi tentara Indonesia. Hingga saat ini, lokasi tersebut masih aktif dijadikan tempat peristirahatan bagi TNI yang gugur dalam bertugas. Salah satunya ketika insiden kecelakaan dua pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano TNI Angkatan Udara di Pasuruan pada tahun 2023 lalu.
Foto sampul: Pemandu menceritakan keberadaan Ching Nan Jinja kepada peserta tur (Dokumentasi History Fun Walk Malang)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Lutfia Indah, perempuan yang sedang senang.


