Penjelajahan beralih ke koridor Jalan Merbabu di sisi utara. Terdapat lebih dari sepuluh gedung peninggalan Belanda dalam satu ruas jalan, di antaranya kediaman pribadi, tempat ibadah, sarana hiburan, hotel, kantor pemerintahan, dan makam Belanda. Masing-masing memiliki cerita yang saling berhubungan.
Beberapa peninggalan masih terjaga baik sampai sekarang, sisanya beralih fungsi dan wujud mengikuti perkembangan zaman dan kepemilikan. Tidak salah, tetapi setidaknya juga harus mengutamakan keaslian agar identitas sebagai kampung lawas Belanda lawas di Boyolali terjaga. Menjadikan ciri khas Kabupaten Boyolali berbeda dengan kabupaten lain di wilayah bekas Karesidenan Surakarta. Setidaknya, bukan hanya dikenal dengan slogan Kota Susu atau “New Zealand van Java” saja.

Masa Lalu Jalan Merbabu
Keberadaan Pesanggrahan Pracimoharjo di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, dan Pesanggrahan Selo di Kecamatan Selo, diduga menjadi salah satu alasan pembukaan dan terhubungnya ketiga jalan: Merapi, Merbabu, dan Pandanaran. Jalan Merapi merupakan jalan masuk utama, sedangkan Jalan Merbabu merupakan jalur keluar utama dari dan menuju kedua pesanggrahan. Titik tengah jalan adalah gedung Societeit Merapi dan Benteng De Veldwachter. Diduga, eksistensi kedua jalan sudah ada sejak zaman Hindu sebagai akses menuju dua gunung suci, yakni Merapi dan Merbabu, yang akrab disebut Gunung Damalung.
Penamaan kedua jalan menyesuaikan keberadaan kedua gunung. Gunung Merapi di sisi selatan segaris lurus dengan Jalan Merapi, dan Gunung Merbabu di sisi utara segaris lurus dengan Jalan Merbabu. Keduanya menjadi penghubung vital dari Kota Surakarta menuju Karesidenan Kedu tanpa harus melalui Kota Salatiga. Tentu, kondisi saat itu masih sederhana, berbahaya, dan tidak senyaman sekarang.
Menurut cerita turun-temurun para sesepuh, sisi kanan dan kiri sepanjang kedua jalan banyak pohon asem, trembesi, maja, dan cemara di beberapa tempat. Jalan Pandanaran di Banaran merupakan salah satu tempat yang masih bisa melihat rindangnya pepohonan di pinggir jalan utama Kabupaten Boyolali.

Koridor Jalan Merbabu, Riwayatmu Kini
Tujuan pertama adalah sebuah rumah bergaya indis warna putih dengan halaman luas, berhias seekor anjing dan bangau di halaman timur, serta patung singa dan manusia sedang berkelahi di halaman utara. Omah Leo atau rumah Leo, begitu masyarakat menyebutnya. Merujuk inskripsi aksara Jawa di fasad depan dan plakat nama di pagar depan, didapati sebuah nama: R.Ng. Pranasastra.
Menurut Mbah Agus, sesepuh pemilik rumah Leo, diketahui fakta jika Raden Ngabehi (R.Ng.) Pranasastra merupakan anak angkat bupati pertama Kabupaten Boyolali, Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Sutonagoro. Kala itu, Boyolali yang berdiri tahun 1815 masih di bawah pengawasan residen di Kota Surakarta.
Bupati diberi amanat untuk membawahkan wedana, carik, dan lurah untuk membantunya mengatur jalannya pemerintahan Kabupaten Boyolali. R.Ng. Pranasastra bukanlah bupati. Beliau selayaknya priayi bumiputra pada umumnya, tercatat memiliki dua anak perempuan: Ririn dan Nara. Melalui kedua anak inilah, rumah Leo sempat beralih kepemilikan hingga akhirnya dibeli kembali oleh Nara menjadi vila keluarga.
Pascakemerdekaan, rumah Leo kembali lepas kepemilikan akibat kondisi keuangan Nara yang terpuruk. Tidak lama setelahnya, rumah Leo kembali dibeli oleh ahli waris yang hingga kini menetap di Surabaya. Oleh ahli waris, peninggalan leluhur sebelumnya, termasuk foto R.Ng. Pranasastra dan istri tetap diabadikan sebagai memori keluarga di rumah Leo.


Sepanjang Jalan Merbabu, dari depan rumah Leo hingga Simpang Siaga Jalan Pandanaran atau pusat kota Boyolali, berjajar sekitar lebih dari enam bangunan bekas peninggalan Belanda. Sebagian beralih fungsi menjadi hunian bumiputra maupun peranakan Tionghoa. Sebagian terawat, sebagian kosong, hanya ditempati penjaga atau tukang kebun untuk merawat lingkungan sekitar.
Setelah istirahat dan santap siang dengan sepiring batagor dan semangkuk es dawet ketan, perjalanan saya berlanjut. Saat berjalan ke arah timur, mata lensa tidak sengaja mengabadikan sebuah candrasengkala di salah satu bekas kediaman Belanda yang kini beralih menjadi salon kecantikan. Candrasengkala tersebut bertuliskan “Resie Soetjie Saliero Nabij”.
“Resie Soetjie Saliero Nabij” merupakan angka tahun, jika dihitung dalam kalender Masehi menjadi tahun 1918. Artinya, kediaman tersebut dibangun sekitar 1918 sebagai hunian warga Belanda jauh sebelum dimiliki keluarga peranakan Tionghoa di Boyolali bernama Ali, pemilik salon kecantikan Sriwijaya. Sayangnya, tidak ditemukan data warga Belanda yang menempati kediaman ini pertama kali. Menurut Ali, sebelumnya kediaman tersebut sudah beralih kepemilikan beberapa kali.
“Mungkin dulunya, pejabat Belanda atau pejabat keraton yang ditugaskan membantu bupati di sini (Boyolali) kala itu,” jelasnya sembari menunjukan kantor bupati Boyolali di sebelah barat kediamannya.

Ia menambahkan, masyarakat sepanjang Jalan Merbabu dulunya didominasi Belanda dan Tionghoa yang cukup berpengaruh di Boyolali. Masyarakat bumiputra menempati kampung-kampung di gang sekitar. Namun, pascakemerdekaan sampai sekarang, masyarakatnya lebih berbaur sehingga tidak tampak sebagai etnis tertentu.
Berjalan ke timur sekitar 250 meter, tampak sebuah gapura dengan halaman cukup luas menghadap jalan utama. Gereja Katolik Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, begitu namanya. Mengacu batu prasasti di tembok luar, gereja ini diberkati dan diresmikan pada 22 Agustus 1961 oleh Uskup Agung Semarang kala itu, Monsignor (Romo) Albertus Soegijapranata S.J.
Romo Soegijapranata SJ. datang ke Boyolali bukan tanpa sebab. Sebagai Uskup Agung Kota Semarang, selain meresmikan dan pemberkatan, tampaknya ia juga melayani sakramen bekerja sama dengan Romo Beyloss M.S.F di kapel kediaman keluarga Tjondrodipoero. Kapel tersebut kelak menjadi Gereja Katolik Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria. Mereka kemudian menjalin kerja sama dengan Romo van Beek M.S.F tahun 1958, merencanakan pendirian tempat ibadah dan misa dengan menempati sebagian kapel, yang tidak lain menyewa landraad, gedung milik pemerintah Belanda yang kini gedung arsip perpustakaan Kabupaten Boyolali. Proyek pembangunan dimulai tahun 1960 hingga diresmikan tanggal 22 Agustus 1961 oleh Mgr. Soegijapranata S.J., ditandai penyematan nama “Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria”.
Di sudut timur gereja, terdapat bekas gedung rumah tahanan negara (gevangenis) milik pemerintah Belanda, tempat dihukumnya pelaku kriminal di Boyolali. Sisi timur rutan tampak berderet tiga kediaman yang saya duga dulunya milik warga Belanda, tetapi kini beralih kepemilikan warga peranakan Tionghoa. Dua keluarga yang cukup tersohor hingga kini dipanggil Cik Ging dan Nyah Dhele.
Hingga tahun 201, sudut pertigaan Jalan Merbabu dan Jalan Pandanaran merupakan kawasan dan bangunan gedung Schouwburg atau Pertunjukan Tonil Sono Soedoro (kini Bank Jateng cabang Boyolali). Pertunjukan terakhir di gedung tonil yang pernah saya saksikan adalah pertunjukan manusia kurcaci dan Srimulat yang dihadiri Mamiek Prakoso, kakak Didi Kempot.
Penonton yang hadir duduk lesehan beralaskan tikar (disediakan pengelola), menghadap panggung di sisi utara. Tiket kala itu bisa dibeli di tempat atau melalui sumbangan dana sukarela berhadiah (lotre). Pertunjukan film hitam putih atau layar tancap sering juga digelar di gedung ini. Boyolali memiliki sedikitnya dua gedung pertunjukan. Boyolali Theater untuk pemutaran film modern dengan pangsa para elit, sedangkan Schouwburg untuk pertunjukan tonil bagi masyarakat bumiputra.
Sebelum menyeberangi jembatan Kali Gede Kridanggo, tujuan berikutnya menyambangi makam Belanda milik Clara Hortense Juch dan Karel Simon di timur bekas Benteng De Veldwachter (kini stasiun pengisian BBM Kridanggo). Setelah itu, sampailah saya di pinggiran kampung lawas Belanda. Gapura kampung lawas bertuliskan KP. Pambraman di utara tiba-tiba mengusik perhatian. Lain waktu saya akan cerita khusus eksplorasi kampung lawas Pambraman.
Tepat di sisi utara gapura kampung, terdapat Panti Asuhan Pamardi Utomo, yang dulunya Hotel Bojolali milik keluarga Rademaker, pemilik losmen yang kemudian berubah menjadi Societeit Merapi. Secara fisik utuh, tidak banyak perubahan, hanya penambahan ruang sayap kanan dan kiri serta perbaikan pada bagian lantai dan penambahan patung ibu dan anak di bagian depan. Sebagai hotel kedua setelah losmen, keramaian event Kabupaten Boyolali kala itu terpusat di Hotel Bojolali. Meski lebih tepatnya hotel eksekutif yang hanya dihuni tamu-tamu dari Belanda.
Beranjak sekitar 700 meter ke arah utara, tampak sebuah gapura berinskripsi “Mementomori 1939” dan sebuah kediaman berwarna cokelat muda, tepat di depan gapura kampung lawas Recosari Banaran di Jalan Pandanaran. Gapura ini yang tersisa dari kompleks Europeeschegraafplaats atau taman pemakaman Belanda di Boyolali. Kediaman tersebut hingga kini belum ditemukan data pasti siapa pemilik pertamanya.

Romantisme Masa Lalu dan Masa Kini
Tanpa kampung, kota itu bisa mati. Begitu sebaliknya. Namun, apabila kota dan kampung bersinergi, bisa menjadikan keduanya hidup berdampingan. Sama seperti keberadaan kampung lawas Belanda, yang jika dikelola dengan baik dan tertata, tentu bisa memberikan ciri khas dan nilai jual tambah bagi pariwisata Kabupaten Boyolali.
Istilah kampung lawas Belanda sejatinya sebuah doa supaya masyarakat mau mengingat dan menjaga eksistensinya di Boyolali. Termasuk pemakaman Belanda di tengah kota dengan segala kondisinya. Dewasa ini sudah saatnya untuk menghilangkan prasangka buruk mengenai peninggalan Belanda, yang hanya benda mati menunggu untuk dirawat, bukan dimusnahkan dengan berbagai alasan.
Jajaran pohon trembesi dan maja di sepanjang Jalan Pandanaran sebagai penghubung Grooteposweg Anjer–Panaroekan sesi Semarang–Vorstenlanden Surakarta dan Yogyakarta, adalah penggambaran romantisme masa lalu dan masa kini yang senantiasa berdampingan membelah tantangan zaman. Mampu bertahan, jika saling mendukung satu sama lain.
Masa lalu Belanda dan Indonesia memiliki kenangan manis dan pahit. Tidak perlu lagi mencari pembenaran siapa yang salah dan siapa yang benar. Banyak warga negara Belanda yang sangat ingin menyaksikan Indonesia selain di Bali. Tentu alasannya melacak kembali jejak leluhur mereka yang dulunya tinggal di Indonesia. Banyak dari mereka yang masa kecilnya dihabiskan di Indonesia, sehingga tidak tampak lagi seperti warga Belanda.
Banyak hal yang bisa diambil hikmahnya dengan kedatangan mereka, yakni bertukar pengalaman hidup dan menyambung silaturahmi. Kembali lagi kepada masing-masing warganya, mau mempertahankan romantisme tersebut atau menghilangkan dengan paksa. Hanya kita yang bisa menjawab.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.




