TRAVELOG

Melacak Kampung Lawas Belanda di Boyolali (1)

Di Kabupaten Boyolali, tepatnya simpang Jalan Pandanaran, Jalan Merapi, dan Jalan Merbabu, saya melanjutkan penjelajahan permukiman yang biasa disebut sesepuh kota sebagai kampung lawas Belanda. Meski tata ruang kampung kini sudah banyak berubah, masih terdapat beberapa peninggalan warga Belanda kala itu yang cukup terawat dan masih berfungsi sebagai penanda eksistensi peradaban warga Belanda kala itu.

Keberadaan Gunung Merapi dan Merbabu di sisi barat kota, mungkin menjadi alasan pemerintah residen Surakarta kala itu merencanakan dan mengembangkan Boyolali menjadi kota peristirahatan yang layak huni bagi warga Belanda dan elite bumiputra. Seiring bertambahnya warga yang menempati Boyolali, dan keindahan alamnya yang memikat turut dibangunlah villa dan hotel swasta dan prasarana kota termasuk pemakaman Belanda.

Tata ruang kampung lawas Belanda di Boyolali dirancang cukup baik dan tertata untuk memberikan kenyamanan dan keamanan antarwarga yang menempati. Tidak bisa dimungkiri pasti banyak terjadi konflik karena berdampingan dengan kampung Tionghoa dan bumiputra.

Melacak Kampung Lawas Belanda di Boyolali (1)
Kondisi benteng saat ini/Ibnu Rustamadji

Sepenggal Masa Lalu Kabupaten Boyolali

Merujuk Staatsblad van Netherlands Indies No. 30 tahun 1847, Kabupaten Boyolali didirikan sebagai kota tanggal 12 Oktober 1840. Sebelumnya merupakan desa di bawah wilayah mancanegara kulon atau luar negara sisi barat Keraton Kasunanan Surakarta. 

Mengacu Peta Wilayah Negara Agung dan Mancanagara Mataram yang dibuat di Bogor tanggal 7 Juli 1830, letak Kabupaten Boyolali ditandai keberadaan benteng Bojolalie. Catatan perjalanan Bupati Kabupaten Demak R.M. Arya Purwalelana tahun 1880 dalam Lampah-lampahipun Raden Mas Arya Purwalelana, Candranagara, menuliskan nama benteng tersebut De Feldwachter atau “Benteng Pengawas”. Catatan ini ditulis selama lawatan R.M. Arya Purwalelana menghadiri undangan jamuan dari Mangkunegara IV, Sunan Pakubuwana III, dan kolega di Pura Mangkunegaran. Dalam catatannya, benteng De Veldwachter dirikan tahun 1815 sebagai pos pengawas pemberhentian sementara pengiriman barang dan jasa dari Kota Semarang menuju vorstenlanden atau tanah kerajaan Kota Surakarta dan Yogyakarta, maupun sebaliknya. Fakta tersebut sesuai dengan masa lalu Kabupaten Boyolali sebagai pos tundhan, penghubung Groote Postweg Anjer–Panaroekan atau Jalan Raya Pos Daendels Anyer–Panarukan sesi Kota Semarang dan wilayah kota Surakarta–Yogyakarta.

Arya Purwalelana menambahkan, De Veldwachter disebut benteng kecil di tepi jalan Boyolali, seperti benteng De Ontmoeting di Ungaran. Penghuninya didominasi prajurit militer Belanda yang baru kembali dari Perang Aceh, yang minta ditempatkan di Boyolali karena ingin beristirahat menikmati hawa sejuk pegunungan dan sudah jenuh dengan ingar-bingar kota dan pertempuran. Para prajurit, tidak selamanya tinggal di dalam benteng. Beberapa dari mereka akhirnya memilih menikahi perempuan bumiputra dan tinggal di Boyolali. 

Perwira dan istri menempati kediaman di seberang benteng, sedangkan prajurit tinggal bersama istri di kediaman masing-masing. Mungkin inilah pemicu meningkatnya kedatangan dan mulai menetapnya warga Belanda di kampung lawas. Tahun 1950-an awal, benteng De Veldwachter dilakukan renovasi dan penggantian nama menjadi benteng Renovatum. Sayang, nasib tragis menimpa De Veldwachter yang lenyap di tahun 1975. Kini hanya menyisakan kediaman perwira, di belakang Societeit Merapi, tepat di seberang bekas lokasi benteng.

Melacak Kampung Lawas Belanda di Boyolali (1)
Kawasan Jalan Pandanaran Boyolali/Ibnu Rustamadji

Masa Lalu Jalan Pandanaran Boyolali

Dari peta tahun 1830 dan serat lelampahan itu, diketahui Jalan Pandanaran awalnya jalan penghubung antara Grootepostweg Anjer–Panaroekan antara Kota Semarang–Vorstenlanden Kota Surakarta dan Yogyakarta. Kondisi jalan raya kala itu, tentu berbeda dengan kondisi sekarang, menyesuaikan kondisi geografis wilayah setempat. Jalan ini menjadi urat nadi perkembangan jantung kota di pedalaman Jawa. Semakin ramai peradaban, pemerintah kolonial diwakili perusahaan kereta api negara dan swasta, tampaknya tidak menyiakan waktu untuk membuka jalur kereta api berdampingan dengan jalan raya tersebut.

Solosche Tramweg Maatschappij atau Perusahaan Tram Solo (Surakarta), lantas membuka jalur kereta trem dari titik keberangkatan di Surakarta menuju titik akhir di Boyolali. Rutenya melalui Stasiun Purwosari, Halte Pabrik Gula Gembongan, Stasiun Kartasura, Halte Pabrik Gula Bangak, Halte Pengging Banyudono, dan berakhir di Stasiun Boyolali (kini Panti Marhaen di Jalan Duren, Kelurahan Siswodipuran). Penamaan Siswodipuran oleh sesepuh kampung, berasal dari penyederhanaan pengucapan kata Spoorlaan atau tanah kereta.

Sayang, jalur trem kini sudah tidak berbekas. Namun, bekas jalurnya masih bisa dijumpai di selatan Panti Marhaen, tepat di timur kampung lawas Belanda. 

Melacak Kampung Lawas Belanda di Boyolali (1)
Stasiun trem Boyolali kini menjadi gedung Panti Marhaen/Ibnu Rustamadji

Kampung Lawas Belanda, Riwayatmu Kini

Titik awal penjelajahan berada di bekas rumah kayu bergaya panggung, gedung Pengadilan Pradhata di utara Panti Marhaen. Gedung inilah titik balik upaya pemerintah residen dan Keraton Surakarta menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat di Boyolali.

Dari luar tampak seperti kediaman biasa, tetapi jika dijelajahi lebih dalam bakal menjumpai keunikan yang selama ini tersembunyi. Selain gaya arsitekturnya, juga di bawahnya berstruktur panggung dengan ruang bawah tanah sedalam 90 sentimeter—sesepuh kampung menduganya ruang penyimpanan air. Cukup aneh, tetapi menarik untuk dijelajahi.

Untuk menuju dasar ruang bawah tanah, harus merangkak dari samping gedung. Sesampainya di sana, hanya bisa jongkok dan membungkukkan badan agar kepala tidak menghantam struktur kayu jati di atas. Pertanyaannya, untuk apa mendirikan rumah bergaya panggung dengan ruang bawah tanah di pusat kota? Jika gedung ini merupakan Pengadilan Pradhata pertama di Kabupaten Boyolali, tampaknya di sinilah tempat mereka yang bermasalah diadili dan ditahan sementara dengan tahanan jongkok, sebelum akhirnya dieksekusi di Surakarta. 

Sebelum sampai di tujuan utama, saya mengabadikan lanskap kampung pecinan dan makam Tionghoa di selatan Pasar Besar Boyolali. Warga setempat menyebut Pecinan Ngebong ini dengan istilah Tachung. Tachung yang dimaksud mungkin mengacu pada kota terbesar ketiga di Republik Tiongkok, yakni Kota Taichung.

  • Melacak Kampung Lawas Belanda di Boyolali (1)
  • Melacak Kampung Lawas Belanda di Boyolali (1)
  • Melacak Kampung Lawas Belanda di Boyolali (1)

Tepat di selatan Pecinan Ngebong, dahulu areal kompleks makam Tionghoa di Boyolali kala itu. Kini, hanya menyisakan satu bongpay yang digunakan sebagai penutup saluran air. Kompleks makam berubah menjadi permukiman dan Pasar Burung Ngebong. Sisi barat daya Tachung dulunya merupakan kawasan staanplaat (terminal bus) pertama di Kabupaten Boyolali. Sebuah hubungan yang menarik antara stasiun tram, kampung pecinan, pasar besar, dan terminal bus yang berada dalam satu kompleks. 

Jalur kereta trem di Stasiun Boyolali berlanjut hingga berhenti tepat di ujung barat daya Pasar Besar, berseberangan dengan pecinan dan terminal bus. Sisi utara terminal bus merupakan kawasan kampung lawas Belanda di Boyolali. Villa Merapi (kini Bank Syariah) yang dulu milik keluarga Rademaker, menjadi tanda keberadaan kampung tersebut. 

Tidak seperti vila yang umumnya dibangun di dataran tinggi, Villa Merapi berada tepat di pusat kota dengan pemandangan Pasar Besar, pecinan, dan pusat kota. Sisi timur laut vila (kini toko parfum), dulu merupakan warung opium atau opiumverkooplaats. Beranjak ke utara, mulai tampak kampung lawas itu ditandai dengan simpang siaga yang dahulu lapangan militer milik benteng De Veldwachter. 

Semakin bertambahnya warga Belanda di Boyolali kala itu, sebagian lapangan dialihfungsikan menjadi losmen hingga akhirnya dijadikan Societeit Merapi oleh Johannes Agustinus Dezentje dan Solosche Landhuurder Vereeniging (Anggota Perkumpulan Pemilik Tanah Surakarta) tahun 1820. Puncaknya di tahun 1910, gedung Societeit Merapi berganti menjadi Europeesche Lagere School. 

Di sisi selatan Societeit Merapi, tampak kantor arsip dan perpustakaan Boyolali, yang sebelumnya diketahui sebagai gedung landraad atau pengadilan negeri pertama di Boyolali. Sementara sisi barat societeit memperlihatkan lima kediaman warga Belanda bergaya indische berjajar. Mereka adalah perwira militer di De Veldwachter. Masing-masing kediaman dibangun berurutan sepanjang 1910–1915. Ada dugaan, sebelum digunakan sebagai rumah perwira, benteng merupakan kediaman keluarga Belanda. 

Penjelajahan berlanjut menyusuri Merapi straat atau Jalan Merapi. Tampak sebuah rumah kecil, dengan beranda depan berhias kuncungan berukiran rumit menghadap jalan. Bagian tengah ukiran menggambarkan globe, berinskripsi angka tahun 1910. Rumah tersebut dulunya kantor kawedanan berdampingan dengan kantor Kepatihan Kabupaten Boyolali (kini Bank Guna Daya).

  • Melacak Kampung Lawas Belanda di Boyolali (1)
  • Melacak Kampung Lawas Belanda di Boyolali (1)
  • Melacak Kampung Lawas Belanda di Boyolali (1)

Rumah-rumah di sudut timur merupakan istaal (kandang kuda dan kereta kencana), serta rumah koetsier (kusir kuda) untuk memfasilitasi keluarga keraton, pejabat pemerintah Kota Surakarta, dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang anjangsana ke Pesanggrahan Pracimoharjo atau Pesanggrahan Selo di Kabupaten Boyolali. Pendamping mengikuti dengan menunggang kuda yang telah disiapkan.

Beranjak ke barat, terdapat sarana pendidikan untuk anak Eropa, Tionghoa, dan bumiputra. Europeesche Lagere School (gedung arsip lama Boyolali) dan Holland Inlandsche School (SMPN 1 Boyolali) diperuntukkan anak keluarga Belanda, Tionghoa, dan priayi bumiputera dengan bahasa pengantar Belanda, Indonesia, dan Jawa. Sekolah Rakjat (SDN 7 Boyolali) diperuntukkan anak pegawai perkebunan dengan bahasa pengantar Indonesia dan Jawa. Semuanya berada di koridor Jalan Merapi.

Jalan Merapi dan Jalan Merbabu di Boyolali, laksana Merapi dan Merbabu yang setia berdampingan. Keduanya memiliki kejutan berbeda. Tidak hanya panorama alamnya, tetapi juga warisan cagar budayanya, salah satunya kampung lawas Belanda.

(Bersambung)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ibnu Rustamaji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Ibnu Rustamadji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Jejak Sejarah Bandar Dagang Langenharjo dan Tragedi 1965 di Tepi Bengawan Solo