TRAVELOG

Melacak Jawawut di Bumi Massenrempulu

Makanan tidak hanya soal ‘urusan perut semata’ atau ‘jenis makanannya apa’, tapi melampaui itu, makanan menjadi bagian integral dari identitas personal hingga komunal. Ia mampu menghadirkan rasa dan emosi. Dalam makanan terekam ingatan, keakraban, tatanan pengetahuan, siasat hidup, bahkan konflik yang pernah terjadi di suatu tempat. Semuanya menjelma komponen pengetahuan yang bertautan dalam meramu dan mempertebal budaya warga tempatan.

Renungan tersebut lahir setelah dua pekan saya mengalami petualangan Pesiar Rasa. Perjalanan ini menelusuri potensi pangan lokal karbohidrat nonberas di Sulawesi Selatan bersama tim Antropos Indonesia.

Pesiar Rasa merupakan metode kerja penelusuran budaya pangan berbasis tempatan yang memadukan mobilitas, rasa, dan ingatan sebagai kesatuan metodologis dengan menempatkan tubuh sebagai pendekatan pembacaan budaya. Gagasannya memosisikan tubuh sebagai kendaraan untuk merekam emosi dan gerak dengan makanan sebagai pintu masuk memahami kehidupan masyarakat. Prinsipnya, percaya pada warga melekat arsip dan pengetahuan budaya menubuh.

Pesiar Rasa berusaha mengembalikan pengetahuan ke tubuh, rasa, dan suara warga yang menceritakan dirinya sendiri. Dalam antropologi, metode seperti ini dikenal sebagai gerak menuju “epistemologi dari bawah”,  membangun ilmu sejak dari perjalanan, halaman, pasar, hingga dapur. Halaman serupa tubuh, pasar serupa jantung, dan dapur menjelma denyut nadi untuk mengetahui nasib budaya pangan masih hidup atau hanya sekadar cerita.

Melacak Jawawut di Bumi Massenrempulu
Sepasang petani yang masih menanam ba’tan di daerah Kotu, Enrekang/Abdul Masli

Pesiar Rasa di Bumi Massenrempulu

Di Enrekang, kami bertemu Maraisa (66) dan Laman Sapadia Tani (67), sepasang petani ba’tan di Kotu, kaki Gunung Bambapuang. Pada usia senjanya, tangan mereka masih telaten memuliakan tanah yang menumbuhkan ba’tan (jawawut). Dari mereka informasi tentang peluang menemukan lebih banyak lagi petani ba’tan kami dengar. Sebuah kabar penting di tengah pencarian yang hampir putus harapan untuk menemukan jejaknya dan merasakannya langsung.

“Di Leon itu kemungkinan masih banyak yang tanam ba’tan. Di sana masih ada pabriknya. Bibit yang kami tanam juga berasal dari Leon,” ungkap Laman. 

Mendengar Laman, rasa penasaran menguat. Ada harapan untuk membuktikan bahwa pangan ini tidak sekadar tuturan, tapi ia masih eksis, lestari, dan budaya yang berkelindan di dalamnya juga pasti masih hidup.

Sehari menjelang Ramadan 1446 H, bersama Syamsul, saya menempuh perjalanan 275 kilometer dari Makassar menuju Banti. Kami berangkat setelah salat Jumat dan tiba di Dusun Dara, Banti menjelang pergantian hari. Suasana kampung tenang dan sepi, juga dingin. Neon warna-warni menghias masjid-masjid kampung menyambut datangnya bulan Ramadan. Satu-dua orang duduk santai di teras rumah berbalut sarung dan jaket pada tubuhnya. Aroma bawang dan pestisida tercium kuat.

Garis bukit dengan kemilau cahaya lampu berwarna kuning, ungu, dan putih tampak terang menerangi kebun-kebun bawang di lereng-lereng bukit untuk mengatasi serangga penggerek daun. Lampu-lampu itu umumnya mulai dinyalakan saat masuk waktu magrib hingga pagi datang.

Beberapa tempat di Indonesia orang-orang sengaja mendaki bukit atau puncak untuk menikmati kemilau lampu kota. Berbeda dengan Banti, orang-orang tak perlu melakukan pendakian ke bukit. Cukup duduk santai di teras rumah, mata sudah bisa mendapati ramainya lampu dari kebun-kebun bawang merah milik warga. “Kayak pasar malam,” ucap Syamsul menggambarkan ramainya lampu kebun.

Melacak Jawawut di Bumi Massenrempulu
Suasana malam kebun bawang merah milik seorang penduduk di Banti, Enrekang/Abdul Masli

Belakangan saya tahu jika lampu-lampu kebun bawang menjadi penanda bahwa kita telah memasuki wilayah Duri, sentra produksi bawang merah di Bumi Massenrempulu—julukan Kabupaten Enrekang yang mayoritas dihuni orang Massenrempulu.

Alimuddin, orang tua Syamsul, menyebut sematan Bumi Massenrempulu sejatinya menunjukkan kondisi fisik lanskap Enrekang yang banyak dibubuhi deretan gunung atau bukit. Hal serupa dijelaskan oleh Antropolog Universitas Hasanuddin, Munsi Lampe, bahwa secara geografis nama Massenrempulu disebut berasal dari bahasa Bugis, yaitu massere-bulu, yang berarti menyisir atau meminggir lereng gunung.1 Pemaknaan ini merujuk pada wilayahnya yang memiliki topografi bergunung-gunung bersama lereng-lerengnya. Orang-orang yang melewati rute perjalanan dari Duri ke tanah datar Sidenreng dan Sawitto/Pinrang, atau sebaliknya, lantas menceritakan daerah yang dilalui ini sebagai massenrempulu atau massere-bulu.

Munsi Lampe juga menerangkan, secara filosofis Massenrempulu mengandung makna berkehidupan bersama manusia (collectivism). Pemaknaan kehidupan kolektif ini berangkat dari temuan penelitian terhadap perpaduan sebuah permainan tradisional orang Massenrempulu bernama massenden dan sumber penghidupan mereka, beras ketan (pulu’) di Duri. Sudah menjadi pengetahuan umum di Sulawesi Selatan, bahwa Enrekang (khususnya di Salukanan) menjadi salah satu penghasil beras ketan khas dengan aroma wangi bernama pulu’ mandoti. Beras ketan jenis ini tumbuh di atas tanah yang warganya sebut sebagai tanah pusaka, dikelola secara komunal dan bergilir berdasarkan keturunan.

Melacak Jawawut di Bumi Massenrempulu
Kondisi akses jalan menuju Leon/Abdul Masli

Laku Hidup Ekologis dan Kolektif Kaum Tani

Banti berada pada ketinggian 700 hingga 800-an mdpl2, tepat di sebelah barat Gunung Latimojong, atap tertinggi Sulawesi. Di sana tak perlu waktu lama untuk merasakan udara dingin menembus seluruh lapisan kain yang membalut tubuh. Warganya mayoritas petani dengan komoditas sayur-sayuran, seperti bawang merah, cabai, dan tomat.

“Dulu di Banti, padi, jagung, dan ba’tan menjadi tanaman andalan. Tapi, sisa jagung yang masih bertahan. Yang lain sudah digeser tanaman palawija yang lebih bernilai ekonomi, seperti bawang merah, cabai, tomat, wortel, dan kol,” kata Alimuddin.

Mendengar tuturan Alimuddin membawa imajinasi saya pada bagaimana babak keberagaman pangan lokal yang pernah tumbuh di halaman warga meredup oleh tekanan tanaman pendatang bernilai ekonomi pasar. Kondisi ini terlihat seperti proses yang alami. Namun, di dalamnya kita bisa lihat kebutuhan dasar sudah sangat bergantung pada ‘pasar’, sehingga menjadi sulit belajar hidup dengan kata ‘cukup’ untuk setiap yang diperoleh. Efeknya, kondisi ekologis dan keberagaman kita juga perlahan digerus, dan tanpa sadar tenggelam dalam kondisi yang diseragamkan. Kita akhirnya sepenuhnya bergantung pada apa yang datang dan cita-cita kemandirian pun terasa makin jauh dari panggang.

Hari berikutnya, di bawah sinar terik matahari dan kondisi tubuh berpuasa, perjalanan melacak jejak ba’tan kami lanjutkan ke perkampungan sekitar Buntu Kabobong, sebutan lokal untuk Bukit Nona. Berangkat dari Banti, perjalanan kami tempuh kurang lebih satu jam untuk sampai di Leon. Tulisan selamat datang di gerbang bambu menjadi penanda kami memasuki Leon usai melewati jalan naik turun dengan panorama alam perbukitan khas Bumi Massenrempulu, melipir lereng Gunung Bambapuang, melintasi jembatan gantung yang membentang di atas Sungai Mataallo, hingga mendaki jalur perbukitan berkelok di sisi kiri Buntu Kabobong.

Melacak Jawawut di Bumi Massenrempulu
Gerbang kampung Leon, Enrekang/Abdul Masli

Leon berada di ketinggian 600–700 mdpl dengan mayoritas penduduk petani bawang merah mengikuti musim. Saat masa panen bawang merah selesai, mereka akan beralih pada tanaman yang minim air untuk ditanam, seperti jagung dan ba’tan. Sumarni (50), seorang petani yang masih menanam ba’tan, menyebut di Leon masih ada sekitar lima keluarga petani yang masih aktif menanam ba’tan. Bagi mereka menanam ba’tan sebagai praktik mengistirahatkan tanah dari gemburan pestisida karena bawang merah. Perawatannya dinilai tidak terlalu rumit.

Masyarakat tani amat lekat dengan aktivitas kolektif: hidup bersama saling jaga yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dijumpai dari kebiasaan warga di Leon ketika menanam ba’tan yang tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Penanamannya mesti bersamaan dengan pemilik kebun yang lain agar aman dari serangan dongi (burung pipit) saat ba’tan sudah berbuah.

Marawia, petani dan pemilik penggilingan ba’tan di Leon, menyampaikan, “Malaski tanam ba’tan kalau sendiri karena terkumpul itu dongi. Bagus kalau bersamaan semua, supaya itu dongi, hamanya ba’tan, tidak berkumpul saja di kebun kita sendiri.” 

Marawia menyentil pikiran saya untuk memosisikan warga sebagai subjek yang berdaya. Mereka tidak perlu diajari dengan ragam teori-teori rumit. Kita yang mestinya lebih sering belajar: datang, melihat, mendengar, dan mengalami langsung kehidupan mereka. Sikap ini penting untuk sadar bahwa budaya warga berbasis tempatan, terhubung dengan keadaan geografisnya, sehingga tidak cukup hanya ditatap dari menara gading atau ditemui dalam tumpukan kertas.

Melacak Jawawut di Bumi Massenrempulu
Pendokumentasian mesin penggilingan jewawut milik Marawia di Leon/Syamsumarlin

Sejak tahun 2006, Marawia mengoperasikan mesin penggilingan ba’tan, satu-satunya di Leon. Para petani di Leon seberes panen akan mengeringkan gabahnya selama 2–3 hari, lalu membawanya ke Marawia untuk digiling. Marawia akan menerima upah sebanyak 1 liter per 5 liter biji ba’tan bersih dan keuntungan dari penjualan dedak yang bisa dibuat pupuk.

Sebelum meninggalkan Leon, Marawia memberi kami kabar baik, mengingat nasib jawawut sebagai tanaman yang sudah sulit dijumpai. Pun jika ada, biasanya hanya menjadi pakan burung. Kata Marawia, bukan hanya di Leon ada petani yang membudidayakan ba’tan, melainkan juga daerah Dadeko. Jumlah petaninya masih ada puluhan orang. Tidak hanya menanam, mereka juga mengomsumsinya. Biasanya dibuat baje’ atau sokko yang dicampur bersama beras ketan sebagai bahan utama. 

Kami pulang dari Leon dengan melewati Dadeko dan menjumpai pabrik penggilingan ba’tan di sana. Penggilingannya serupa dengan milik Marawia. Sayangnya, kami tidak bisa bertemu para petani karena sedang di kebun. Kami hanya sempat bertemu sapa dengan pemilik penggilingan ba’tan yang juga sedang buru-buru berangkat ke kebun. Meski begitu, temuan hari itu sudah cukup menggembirakan. Memberi pikiran tenang menyusuri jalanan pulang menuju Banti.

Rasa penasaran saya perihal nasib ba’tan sebagai sumber pangan karbohidrat kini menumbuhkan harapan akan lestari. Saya terus memupuk harapan, semoga suatu masa bisa kembali untuk mendengar dan mencatat lebih banyak cerita soal pangan ini beserta kelindan budayanya, juga belajar bagaimana cara membudidayakannya. Keberadaan pangan lokal sejatinya tanda bahwa budaya warga juga masih hidup.


  1. Munsi Lampe, Suku-Bangsa Massenrempulu: Sebuah Kajian Etnografi (Makassar: Antropos Indonesia, 2023). ↩︎
  2. meter di atas permukaan laut. ↩︎

Foto sampul: Ba’tan atau jawawut memiliki nama ilmiah “Setaria italica” (Dokumentasi Halisa Salsabila T.)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Abdul Masli

Abdul Masli, kadang hidup nomaden. Menyenangi perjalanan dengan sepeda, jalan kaki, atau menggunakan transportasi warga. Suka memakai sandal jepit.

Abdul Masli, kadang hidup nomaden. Menyenangi perjalanan dengan sepeda, jalan kaki, atau menggunakan transportasi warga. Suka memakai sandal jepit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melihat “Passandeq” Menjadi Guru di Pesisir Selat Makassar