TRAVELOG

Laut itu Ibu: Kisah Kelenteng Tua di Pontianak

Setiap pagi, pintu gerbang kelenteng perlahan dibuka. Suara lonceng dan beduk terdengar bertalu-talu disertai wangi asap hio yang menyeruak, pertanda akan ada yang datang bersembahyang. Terdapat tiga pintu masuk, masing-masing dengan tulisan berbeda. Pintu sebelah kanan bertuliskan “Dharma”, pintu tengah “Bodhishatva”, dan pintu sebelah kiri “Sangha”. 

Kelenteng ini menyandang nama Vihara Bodhisatva Karaniya Metta. Dan sering disebut sebagai kelenteng tertua di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Bu Mariana, salah satu pengelola kelenteng berkisah bahwa kelenteng ini dibangun pada tahun 1829. Bangunan kelenteng berdiri dengan ugahari di pinggir Sungai Kapuas dan menghadap langsung ke sungai yang mengarah ke Laut Natuna Utara.

kelenteng ini bertahan hampir 200 tahun lamanya, dan menjadi saksi melintasi berbagai musim dan pergantian zaman. Dari tepian, kelenteng menyaksikan hilir mudik orang dan barang di kawasan Pelabuhan Rakyat Pasar Kapuas Besar Pontianak. Di belakangnya terdapat Pasar Kapuas Indah yang dulu pernah menjadi pusat perdagangan. 

Seorang penjaga dermaga di depan kelenteng menuturkan bahwa kawasan pesisir di sekitar kelenteng dan Pasar Kapuas Indah pernah mencapai masa jaya. Pada rentang 1970-an hingga 1995, wilayah ini menjadi salah satu pusat perdagangan tersibuk di Pontianak. Bahkan sebelum tahun 2000, jalur sungai masih ramai. Masyarakat mengandalkan Sungai Kapuas sebagai jalur nadi transportasi.

Beliau melanjutkan, keramaian kota perlahan berpindah ke daratan setelah jalan raya dibangun. Pada usia senjanya, saat bercerita, mata beliau nampak menerawang ke arah Sungai Kapuas. Seolah sungai itu memantulkan kembali masa lalu yang pernah menghidupi keluarganya dan banyak keluarga lainnya.

Laut itu Ibu: Kisah Kelenteng Tua di Pontianak
Halaman Kelenteng Vihara Bodhisatva Karaniya Metta (Agus Yuliono)

Berlayar Membawa Patung Dewi Ma Cau

Ketika duduk di depan kelenteng menghadap ke dermaga, ingatan seperti ditarik ke bayang-bayang sejarah. Ratusan tahun silam, banyak kapal-kapal dari berbagai daerah, pulau, bahkan negeri yang berlabuh di pesisir barat Kalimantan dan masuk menyusuri Sungai Kapuas.

Sebagai pintu masuk, kawasan ini membuat beragam orang terbiasa berjumpa dalam urusan dagang, berbagi pengetahuan, bertukar budaya, hingga saling menyapa dalam ruang sosial. Dari arus perjumpaan itulah, Pontianak tumbuh sebagai kota heterogen. Tempat orang-orang belajar hidup berdampingan, meski datang dari latar yang berbeda.

Di antara arus kedatangan itu, orang Tionghoa turut menjejakkan kaki lalu menata hidup lewat ladang dan kebun. Sebagian memilih bekerja sebagai tukang, sebagian lain menjadi pedagang yang menghimpun hasil hutan, seperti rotan, damar, dan kamper; juga komoditas lain yang kala itu laris diperdagangkan, seperti kulit penyu, sarang burung walet, cengkeh, hingga kayu hitam (eboni).1

Gelombang kedatangan awal pun didominasi laki-laki. Sebagian menetap, menikah, lalu membaur dengan masyarakat Dayak maupun Melayu. Seiring waktu, semakin banyak jung atau perahu orang Tionghoa melabuhkan sauh di dasar Sungai Kapuas.

Pada masa itu, pelayaran jarak jauh dari daratan Tiongkok belum sepenuhnya aman. Banyak yang menempuhnya dengan perahu kecil yang rentan dihantam ombak, sekaligus menghadapi ancaman bajak laut. Di kalangan orang Tionghoa ada keyakinan untuk selalu membawa patung Dewi Ma Cou (Dewi Samudra) ketika melakukan pelayaran. Dewi Ma Cou telah merasuk ke dalam batin tiap orang Tionghoa sebagai pelindung dan penyelamat di lautan. 

Kini, patung Dewi Ma Cou menempati altar tengah kelenteng Vihara Bodhisatva Karaniya Metta. Di sekelilingnya berdiri pula figur-figur lain: Putra Raja Naca, Dewi Kwang Im, Sakyamuni, Hua Kuang Tai Ti, Kam Thian Ti (Tua Pek Kong), dan Tak Nie Tai Sue. Sebelum memakai nama yang dikenal sekarang, kelenteng ini pernah disebut dengan beberapa nama lain: kelenteng Ma Cou, kelenteng Tri Dharma Bhakti, dan kelenteng Thien Hou Keng.

Dari kiri ke kanan: Altar Patung Dewi Ma Cou (Dewi Samudra). Lukisan di atas pintu masuk kelenteng yang berisi pemandangan laut dan perahu-perahu yang sedang berlayar. Pak Lim Phieng (61 Tahun) membunyikan lonceng dan beduk setiap ada yang datang bersembahyang di kelenteng/Agus Yuliono

Kelenteng: Ruang Sarat Makna dan Doa

Dari kejauhan, kelenteng ini mencuri perhatian mata lewat dominasi tiga warna, yaitu merah, kuning emas, dan hijau. Di ruang sembahyang, lilin, hio, dan lampion menyala hampir tanpa putus. Harum lilin dan hio membawa suasana meditatif dan asapnya membumbung menuju ke langit membawa setiap harapan dan doa. 

Di altar persembahan, buah-buahan tersusun rapi seperti jeruk, pir, dan apel. Di sampingnya juga ada mi, bakpao, minyak untuk perapian, dan kertas sembahyang. Pada kayu dan dinding kelenteng banyak terdapat lukisan indah yang menggambarkan kisah Buddha, Dewa-Dewi, hingga pemandangan alam yang mengajarkan damai dan keseimbangan.

Di atas pintu masuk bagian dalam, terlihat jelas lukisan pemandangan laut dengan perahu-perahu yang berlayar melaju tenang. Selain itu juga tampak berbagai lukisan hasil laut dan hasil bumi. Menelusuri satu per satu lukisan di dalam kelenteng seperti menyusun kepingan puzzle yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir. Banyak hal yang bisa digali lebih dalam lagi dari kelenteng ini. Termasuk dinamika kelenteng dari masa ke masa dan relasinya dengan masyarakat sekitarnya.

Saat mengamati ornamen demi ornamen, kelenteng terasa seperti pendidikan tanpa kata. Ruang sakral yang menyimpan banyak kisah, merawat pesan, dan mengalirkan harapan serta doa dari generasi ke generasi.

Laut itu Ibu: Kisah Kelenteng Tua di Pontianak
Di depan kelenteng, sampan penyeberangan hilir mudik mengantar warga ke Kampung Siantan di seberang Sungai Kapuas/Agus Yuliono

Laut itu Ibu

Kehadiran Dewi Ma Cou seperti mengisyaratkan bahwa laut adalah ibu yang senantiasa menghidupi, mengasuh, dan melindungi para nelayan, pelayar dan masyarakat pesisir. Setiap tanggal 23 bulan ketiga dalam kalender Imlek adalah perayaan ulang tahun Dewi Ma Cou. Satu hari penuh kelenteng ramai dikunjungi orang Tionghoa yang datang silih berganti untuk bersembahyang. Mereka bersimpuh dengan kedua lutut menempel di lantai, memejamkan mata, lalu melantunkan doa dengan khusyuk di hadapan Sang Dewi.

Di kolam kecil di depan altar Dewi Ma Cou, beberapa kura-kura berenang tenang. Di halaman kelenteng, burung gereja bebas hinggap di atap dan dahan-dahan pohon, bermain dan bebas beterbangan. Persis di depan gerbang masuk kelenteng, sebelah kiri terdapat Surau Al Fattah yang mengumandangkan suara panggilan salat untuk umat muslim. Kelenteng dan surau berdiri berdampingan mengisi kalbu orang-orang yang lalu-lalang di pasar maupun dermaga. 

Meski sudah tak seramai dulu lagi, masih terlihat perahu-perahu besar bermuatan 60–150 ton yang sedang antre memuat dan menurunkan barang di dermaga sekitar kelenteng. Tiap hari juga terdapat empat speed boat yang siap bergantian mengantar orang-orang dari Pasar Kapuas Indah ke tanah seberang, Kampung Siantan, hanya dengan membayar uang Rp2.000.

Memandang Sungai Kapuas dari depan kelenteng, di dalamnya tersimpan riwayat panjang manusia yang dulu menjadikan sungai sebagai jalan pulang-pergi, tempat menggantungkan hidup, sekaligus ruang perjumpaan. Kala itu, banyak orang berkawan dengan air dan piawai menjelajahi parit, sei, pantai, delta, teluk, tanjung, selat, laut, hingga samudra lepas. Di atas air, mereka belajar satu pelajaran penting: laut dan sungai bukanlah pemisah, melainkan penghubung.

Sin Cun Kiong Hie, selamat menyambut musim semi di tahun baru.


  1. Benny G. Setiono, Tionghoa dalam Pusaran Politik, (Jakarta: Elkasa, 2003), hal. 168-169. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Agus Yuliono

Pengajar di Prodi Antropologi Sosial, FISIP, Universitas Tanjungpura. Masih perlahan belajar mengeja dan menulis tentang alam budaya di tanah Borneo.

Agus Yuliono

Pengajar di Prodi Antropologi Sosial, FISIP, Universitas Tanjungpura. Masih perlahan belajar mengeja dan menulis tentang alam budaya di tanah Borneo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Mengunjungi Tugu Khatulistiwa di Pontianak