TRAVELOG

Eksplorasi Pasar Gede Hardjonagoro di Kampung Balong Surakarta

Ramainya lalu lintas tidak menyurutkan saya mengabadikan setiap momen di Pasar Gede Hardjonagoro, Kampung Balong, Sudiroprajan. Pasar ini terletak di depan Kelenteng Tien Kok Sie, Kota Surakarta.

Sebelum masuk pasar, saya ngopi sejenak di kedai kopi “Podjok” di sudut utara Pasar Gede sekaligus bertemu Heri Priyatmoko. Setelah segelas kopi single origin dan setengah kilogram biji kopi house blend saya terima, Heri pun datang.

Eksplorasi Pasar Gede Hardjonagoro di Kampung Balong Surakarta
Pegawai Toko Kopi Pojok Pasar Gede melayani pembeli/Ibnu Rustamadji

Sepenggal Kisah Kampung Lawas Balong

Menurut Heri, Kampung Balong diketahui sudah eksis jauh sebelum boyong kedhaton, atau pindahnya keraton dari Desa Kartasura (kini Kartasura) ke Desa Sala (kini Surakarta) pada 17 Februari 1745. Warganya didominasi bumiputera dan Tionghoa yang bekerja di sektor perdagangan dengan ekonomi menengah ke bawah.

Wilayah Balong dulunya berupa ruang terbuka kumuh, dengan hunian kayu milik buruh bumiputera dan Tionghoa. Namun, sejatinya ruang terbuka tersebut digunakan untuk pembuangan tulang dari rumah jagal hewan di kampung lawas Jagalan. 

“Belum diketahui secara pasti penamaan Balong, didasarkan plesetan istilah balung (tulang) atau yang lain,” ungkapnya.

Pelan tapi pasti, Balong bertransformasi menjadi pusat perdagangan di Surakarta. Para pedagang berasal dari berbagai wilayah, datang menggunakan transportasi air berupa perahu kecil melalui Sungai Bengawan Solo menuju bandar dagang Beton Semanggi, Kedung Kopi Jebres, Bacem Sukoharjo, dan Kabanaran Laweyan sebagai akses keluar masuk Kota Surakarta. Keraton Kartasura juga menggunakan Kabanaran untuk melakukan perjalanan lawatan kenegaraan. 

Tamu-tamu kenegaraan juga melalui jalur tersebut jika hendak menghadiri jamuan di Keraton Kartasura. Seiring waktu, mereka memilih menetap dan hidup menyebar di seantero Kota Surakarta untuk menghemat waktu dan biaya perjalanan. Salah satu tujuannya, Kampung Balong. 

Lokasi strategis dan dekat bandar Beton Semanggi, Kampung Balong menjadi multietnis seiring kedatangan masyarakat Timur asing yang mengadu nasib di Surakarta. Tampaknya inilah alasan pemindahan ibu kota Keraton Mataram Islam dari Kartasura ke Sala, yakni adanya keramaian perdagangan yang bisa mendatangkan pajak untuk membiayai ibu kota. 

Balong berubah menjadi kampung pecinan dengan dipimpin Kapiteint Titulaire der Chineezen atau Kapitan Be Kwat Koen. Meski berstatus kampung pecinan, masih banyak tanah kosong tak bertuan karena jumlah masyarakat Tionghoa masih sedikit. Salah satu petak di antaranya digunakan sebagai pasar oprokan yang kini menjadi Pasar Gede.

Eksplorasi Pasar Gede Hardjonagoro di Kampung Balong Surakarta
Tampak depan Pasar Gede dari sisi barat/Ibnu Rustamadji

Pasar Oprokan di Tanah Sang Kapitan

Sesuai istilahnya, pedagang bumiputera dan Tionghoa yang datang dari luar wilayah berjualan secara lesehan tanpa peneduh (terbuka) selama berdagang di lapangan. Adapun pedagang asli Kampung Balong berdagang di kediaman sekitar lapangan. Warga Balong berinteraksi harmonis hingga tercipta akulturasi dan perkawinan campur. 

Sebagai wujud syukur, warga Balong setiap tahun menggelar upacara Grebeg Sudiro pada tujuh hari sebelum Tahun Baru Imlek. Mengetahui ramainya pasar oprokan, residen Surakarta saat itu, Schneijder, menjalin kontrak berdurasi 40 tahun dengan Kapitan Be untuk mengelola perdagangan di Balong, Sudiroprajan. 

Kapitan Be menyetujui untuk mengelola pasar dan tanahnya hingga tahun 1924. Setelahnya Pemerintah Karesidenan Surakarta mengambil alih atas perintah Schneijder. Sebagai balas budi, residen Surakarta melalui Nederlandsche Handels Maatschappij (Bank Mandiri Kota Lama Semarang) memberi uang 35.000 gulden kepada Kapitan Be atas selesainya pengambilalihan pasar dan tanah tersebut.

Setelah itu, Pemkot Surakarta mulai menyusun rencana perbaikan pasar. Rencana pertama adalah perbaikan sanitasi dan kebersihan. Rencana kedua, perbaikan tata ruang pasar di persimpangan jalan.

“Jalan Jenderal Urip Sumohardjo ini dulunya membelah tanah milik Kapitan Be. Tanah dan pasar oprokan sekarang Pasar Gede wetan (timur) dan kulon (barat),” jelasnya dalam bahasa Jawa. 

Ia menambahkan, pasar oprokan berada di sepanjang jalan, berjauhan satu sama lain dan berdampingan dengan jalur kereta trem. Satu tantangan yang harus dihadapi para insinyur kala itu adalah mendirikan pasar tanpa merubah lanskap jalur kereta trem dan jalan sebagai penghubung Surakarta dan Mancanegara Timur: Karanganyar, Wonogiri, dan Sragen. 

Rencana proyek pembangunan pasar berlangsung cukup lama sampai akhirnya disetujui Residen Surakarta, Van der Jaght. Melalui desakan Sunan Pakubuwana VII, Van der Jaght lantas memerintahkan asisten residen Surakarta, Berstch, mencari insinyur untuk merancang sekaligus kepala pelaksana proyek pembangunan pasar. 

Berstch menggandeng Thomas Karsten, arsitek sekaligus perencana kota Hindia Belanda sebagai perancang dan pengawas proyek pembangunan pasar. Thomas Karsten menerima tawaran proyek tersebut dan segera merancang desain awal pasar.

Eksplorasi Pasar Gede Hardjonagoro di Kampung Balong Surakarta
Pintu asli los daging di lantai dua yang masih dipertahankan/Ibnu Rustamadji

Megaproyek Pembangunan Pasar Gede

Pelan tapi pasti, rancangan karya Thomas Karsten mendapat pengakuan Pemerintah Karesidenan Surakarta. Thomas Karsten merancang pasar seiring dengan selesainya rancangan jembatan Van Der Jaght yang menghubungkan Gouverneurslaan (kini Balai Kota Surakarta), Kampoong Kebalen (Kampung Kebalen), dan Wijklaan (Kampung Baru).

Dua tahun kemudian, dua rancangan Thomas Karsten tersebut dinilai oleh direktur Rijkswerken Zijlmans dan penasehat insinyur Van der Veen sebelum diserahkan kepada Van der Jaght untuk dikaji kembali. Setahun pascapengesahan rancangan jembatan Van Der Jaght, desain rancangan pasar pun mendapat perhatian. 

Rancangan diterima, tetapi dengan perubahan signifikan. Usut punya usut, proyek tersebut awalnya untuk melakukan penataan dan bukan mendirikan pasar baru. Total dana terkumpul cukup fantastis, sebesar 400.000 gulden. Namun, masih tetap kurang untuk membiayai pembangunan tiga gedung pasar. Sebab, dana tersebut juga digunakan untuk membiayai pasar sementara di alun-alun dan pemeliharaan jalan lingkungan, termasuk Kampung Balong. Sehingga, faktor geografis dan ekonomi pemerintah kurang memadai untuk mendirikan gedung pasar tiga lantai.

Thomas Karsten kemudian segera membuat rancangan terbaru, dua gedung pasar dengan masing-masing dua lantai, setelah selesai riset lapangan dan perhitungan ulang biaya. Van der Jagt diwakili Van Helsding menyetujui rancangan tersebut dan memerintahkan segera memulai proyek. Tanah lapang perlahan mulai tampak terbuka setelah sempat menjadi pasar oprokan. Para pedagang direlokasi ke pasar sementara di alun-alun Keraton Kasunanan. 

Pembangunan pasar menghabiskan biaya sekitar 315.000 gulden. Mengetahui dana pembangunan cukup terbatas, Sunan Pakubuwana VII berinisiatif menyumbang dana sekitar 350.000 gulden. Van Helsding lantas menemui sunan dan Ratu Hemas di Keraton Kasunanan untuk berterima kasih atas sumbangan dana itu.

Selama proyek berlangsung, konflik antara pekerja proyek dan warga Balong tidak terhindarkan. Demi menjaga keamanan, Thomas Karsten memberi amanat Kapitan Be Kwat Koen untuk menahan diri sementara.

Saat proyek kembali berjalan, Thomas Karsten bekerja sama dengan perusahaan N.V. Braat & Co. dan N.V. Hollandsche Betonmaatschappij dari Surabaya sebagai penyedia beton dan rangka baja. Tak ayal, struktur kedua pasar didominasi dinding beton dan rangka baja ketimbang dinding anyaman bambu dan rangka kayu lazimnya pasar tradisional.

  • Eksplorasi Pasar Gede Hardjonagoro di Kampung Balong Surakarta
  • Eksplorasi Pasar Gede Hardjonagoro di Kampung Balong Surakarta
  • Eksplorasi Pasar Gede Hardjonagoro di Kampung Balong Surakarta

“Slametlah Pasar Besar Surakarta Adiningrat!”

Januari 1929 menjadi awal peletakan batu pertama pembangunan pasar oleh Van der Jagt, didampingi kolega dari Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran, Kasultanan Yogyakarta, dan dihadiri ratusan tamu kenegaraan. Proyek berlangsung satu tahun. Upacara peresmian pasar digelar Senin, 13 Januari 1930, oleh Van Helsding atas perintah Van der Jagt.

Jamuan makanan mewah dan minuman menyehatkan, turut menjadi sajian utama dalam peresmian pembukaan pasar. Ratusan tamu undangan dan warga Balong tumpah ruah menyambut detik-detik peresmian pasar karya Thomas Karsten tersebut. Warga Balong diizinkan hadir, tetapi tidak diperbolehkan masuk areal upacara. 

Pembukaan upacara peresmian diawali pidato sambutan Van Helsding—mewakili Van der Jagt. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proyek pembangunan pasar. Setelahnya, dilakukan peresmian simbolis oleh Ratu Hemas mewakili Sunan Pakubuwana VII, yang disambut tepuk tangan para tamu.

Residen Surakarta Van der Jagt datang setelah selesai peresmian simbolis oleh Ratu Hemas. Di sela-sela perayaan dan perjamuan, Van der Jagt memberikan pidato singkat. Ia berharap pasar tersebut menuai sukses bersama warga Kota Surakarta. Usai pidato, Van Helsding lantas mempersilakan tamu menikmati minuman menyehatkan.

Seremoni saat itu dihibur musik dari paduan suara anak-anak sekolah Tionghoa di Kota Surakarta, yang berpakaian ala mevrouw Belanda. Paduan suara tersebut menyanyikan musik Tionghoa dengan iringan gamelan dari grup musik Keraton Kasunanan Surakarta. Grup musik jazz dari Kota Semarang juga ikut datang memeriahkan acara. 

Van Helsding menutup upacara peresmian dengan mengucap, “Slametlah Pasar Besar Surakarta Adiningrat!” disusul tepuk tangan meriah tamu kenegaraan yang hadir. Tanah lapang milik Kapitan Be Kwat Koen pada akhirnya berubah menjadi Pasar Gede Hardjonagoro atau dikenal juga dengan nama Pasar Besar Solo.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ibnu Rustamaji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Ibnu Rustamadji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Jejak Sejarah Bandar Dagang Langenharjo dan Tragedi 1965 di Tepi Bengawan Solo