TRAVELOG

Di Sirkuit Balap Kandi, Saya Menemukan Papua

Saya kembali rajin berolahraga karena hasil tes kesehatan bikin khawatir. Kolesterol saya melesat jauh di atas nilai normal. Pantas saja beberapa bulan ke belakang, bahu, tengkuk, dan kepala saya sering sakit hingga berhari-hari. Memang sudah setahun saya tak rutin olahraga. Malas berkedok sibuk membuat saya meninggalkan olahraga badminton dan joging yang biasanya sudah terjadwal.

Hukum sebab akibat, label “pemuda jompo” melekat karenanya, belum lagi faktor genetik yang tak bisa ditolak. Biar tidak kambuhan, salah satu caranya, ya, dengan berolahraga. Saat ini, sudah banyak pemuda-pemudi jompo seperti saya yang mulai sadar kesehatan, menjaga pola hidup, makan, dan berolahraga. Mulai dari yang trendi seperti padel, hingga olahraga sejuta umat yang sering diperdebatkan macam joging. Menurut saya lucu saja, olahraga harian ada perdebatannya. Entah itu masalah sepatu, baju, sampai alat pendukung seperti jam tangan. Tapi biarlah itu menjadi urusan mereka, urusan saya cuma satu: mencegah agar kolesterol tidak sering naik.

Oleh tenaga kesehatan, saya dianjurkan melakukan olahraga kardio seperti jalan cepat atau joging minimal dua kali seminggu dengan durasi 30 menit. Oleh karena itu, sore ini saya melakukan ritual berlari-lari kecil di sirkuit Balap Kandi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Darah muda yang panas, ditambah jalanan sepi, menjadikan anak muda di sini terjangkit virus balap liar. Jadi, daripada membahayakan, lintasan balap ini dibangun oleh pemerintah sebagai penyaluran bakat—katanya. Lintasan ini adalah sirkuit permanen pertama di Sumbar.

Dilansir akun Facebook resmi Humas Pemkot Sawahlunto, lintasan ini memiliki panjang 1.200 meter dengan karakter menantang, karena masuk kategori sirkuit high speed dengan trek lurus sepanjang 390 meter. Jarak sirkuit ini dari permukiman cukup jauh, sehingga suara knalpot motor yang menggelegar tak akan mengganggu masyarakat. Paling hewan-hewan di sekitar saja yang akan kaget.

Balapan Motor, Manusia, dan Sapi

Belum lama ini, Sirkuit Kandi menggelar balapan untuk ketiga kalinya tahun ini. Di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu, balapan tak hanya sekadar penyaluran bakat, harapannya juga bisa menarik uang dari luar daerah untuk masyarakat sekitar, sehingga roda ekonomi berputar.

Saat tidak ada balapan, lintasan ini dipenuhi oleh manusia yang butuh endorfin. Kadang ada grup lari yang datang dengan pakaian seragam, berlari beriringan dengan derap langkah yang seirama diiringi yel-yel, persis seperti prajurit yang sedang latihan fisik. 

Pernah ada masa lapangan ini tak hanya dipenuhi oleh orang berlari, tapi juga fotografer yang mengabadikan momen dan menjualnya. Tapi masanya sudah lewat, kini hanya tersisa orang yang memang ingin berolahraga saja.

Sirkuit ini berada di tengah-tengah kawasan yang hijau, sehingga udaranya cocok untuk berolahraga. Apalagi menjelang senja, langit memerah di atas pepohonan, dan udara menjadi lebih sejuk, suasananya menenangkan.

Oleh masyarakat lokal, lokasi sirkuit ini lebih dikenal dengan nama kawasan Kandi, ruang terbuka dengan luas kurang lebih empat kilometer persegi—menjadi salah satu kawasan wisata utama di Kota Sawahlunto. Selain sirkuit, di sini ada kebun binatang, kebun buah, dan danau yang terbentuk dari kawasan galian tambang batu bara.

Berlari di lintasan balap Kandi, ada hal unik yang mungkin tak akan kamu temui di tempat lain, apalagi di sirkuit megah seperti Mandalika, Sepang, atau Mugello. Di lintasan semipermanen ini, selain manusia, juga ramai dengan sapi-sapi yang sedang memamah biak. Ada ibu sapi, bapak sapi, dan anak sapi yang tak peduli dengan derap langkah dan napas yang tersengal—mereka hanya peduli rumput.

Meski Pemkot Sawahlunto sudah mengeluarkan larangan melepasliarkan ternak, di berbagai lokasi masih ada hewan yang berkeliaran, salah satunya di kawasan Kandi ini. Tapi karena hampir tiap sore ditemui, orang-orang yang berlari agaknya tak ambil pusing. Bau kotoran sapi yang datang bersama angin tak menghalangi niat untuk membangun tubuh yang sehat dan kuat. Sebenarnya sirkuit ini selalu dibersihkan, tapi, ya, namanya setiap hari ada sapi mau bagaimana lagi. Lagipula bau itu tersamarkan oleh keringat sendiri.

Hal-hal kecil di lintasan sering menjadi perhatian saya untuk mengalihkan fokus agar tak mudah lelah, salah satunya adalah luka-luka pada punggung lintasan yang berasal dari bekas jatuhan pembalap. Kadang mata saya mengikuti jejaknya sampai habis di pinggir lintasan dan bertemu susunan ban yang berhamburan karena tertabrak. Kemudian mereka ulang adegannya di dalam kepala sembari terus berlari.

Sekitar tiga atau empat putaran berlalu, keringat sudah mulai mengucur, apalagi jika outfit-nya seperti saya, yang berlari sambil menggunakan mantel hujan dari karet—keringatnya banjir. Memang itu yang saya cari, biar berat badan tidak terus bertambah tanpa terkendali.

  • Di Sirkuit Balap Kandi, Saya Menemukan Papua
  • Di Sirkuit Balap Kandi, Saya Menemukan Papua

Menemukan Papua di Sirkuit Kandi

Hari demi hari, ilalang di bagian tengah lintasan makin tinggi dan tak luput dari perhatian saya. Yang kemudian saya sadari setelah beberapa lama adalah rumput ini tak berwarna hijau layaknya ilalang biasa, tapi lebih keunguan.

Ia tumbuh rapat, sehingga bagian tengah sirkuit tampak seperti padang ilalang berwarna ungu yang terlihat cantik karena terpaan matahari sore. Selesai berlari, saya biasa melakukan pendinginan dan beristirahat di pinggir lintasan, sembari menyaksikan ilalang bergoyang diterpa angin dan disiram cahaya matahari sore yang semakin memerah.

Melihat ilalang ungu di tengah lapangan, entah kenapa ada rasa yang diam-diam muncul, sebuah rindu pada tempat yang belum pernah saya datangi. Tempat itu bernama Owasi-owasika di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, yang pernah saya baca di sebuah artikel. Waktu itu, saya memang sedang tertarik dengan cerita-cerita tentang keindahan alam Papua.

Owasi-owasika adalah nama lokal untuk hamparan ilalang berwarna ungu yang muncul pada bulan Mei di Lembah Baliem, makanya terkadang juga disebut rumput Mei. Sewaktu membaca tulisan itu saya membayangkan, akan menarik juga jika suatu hari bisa berkunjung ke sana.

Siapa sangka, saya bisa sampai ke lokasi itu hanya dengan berlari sore tiga putaran saja dengan outfit mantel karet. Meski tidak benar-benar sampai di sana, setidaknya ilalang di sini bisa saya mirip-miripkan dengan yang ada di Papua. Ditemani lembayung senja, sapi yang memamah biak, dan embusan angin sepoi-sepoi, ternyata saya telah berlari mengitari hamparan Owasi-owasika

Tunggu dulu… Jika berlari tiga putaran saya tiba di Owasi-owasika, apakah dengan menambah satu putaran lagi saya akan sampai di Raja Ampat?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Adzkia Arif

Seorang penulis honorer yang bercita-cita punya perusahaan media sendiri. Tukang jalan-jalan dan suka bercerita.

Adzkia Arif

Adzkia Arif

Seorang penulis honorer yang bercita-cita punya perusahaan media sendiri. Tukang jalan-jalan dan suka bercerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Lapau, Ruang Demokrasi dengan Cita Rasa Lokal Minangkabau