TRAVELOG

Atap Jawa Tengah dalam Kenangan

Saya seumuran Syafiq Ridhan Ali Razan (18), ketika pertama kali menjamah Gunung Slamet tahun 2003. Masih kelas 3 SMA, dan naik berdua pula dengan seorang kawan.

Ali berangkat bareng Himawan Haidar Bahran dari Magelang ke Base Camp (BC) Dipajaya, Kabupaten Pemalang, pakai motor. Saya bareng Rafdiansyah dari Cirebon naik bus umum ke BC Bambangan, Kabupaten Purbalingga. 

Bedanya, saya dan Rafdi membawa carrier penuh perbekalan dan tenda, sedangkan Ali dan Himawan hanya menyandang hydrobag. Mereka mendaki tektok, tanpa bermalam. Bekal makanan keduanya snack saja. Tak lupa trekking pole. Saya dan Rafdi tak kenal tongkat begituan.

Era 2000-an dulu, saya tidak pernah melihat pendaki sekali jalan pulang-pergi. Semua petualang yang hendak ke puncak gunung, pasti bawa perlengkapan kemah. Bahkan, saya dan Rafdi menghabiskan dua malam di Gunung Slamet. Camp pertama saat naik di Pos 3 Pondok Cemara (sebelum Samaranthu). Kedua di Pos 9 Plawangan—buka tenda dalam bangunan shelter—usai muncak

Rafdiansyah (17) di puncak Slamet jalur Bambangan tahun 2003. Tampak Segoro Wedi atau lautan pasir di area puncak/Mochamad Rona Anggie

Alhamdulillah, saya dan Rafdi bisa kembali ke rumah dengan selamat. Sementara Himawan mesti merelakan sahabatnya, Ali, berpulang dalam pelukan kabut Slamet. Ali sempat hilang selama 17 hari, sejak dimulainya pencarian oleh tim SAR (29/12/2025), lantas ditemukan wafat di jalur arah Gunung Malang, Rabu (14/1/2026).

Tentu sedih tiap mendengar berita gugurnya pendaki di gunung. Para pendaki pasti berangkat dengan gembira, dan ingin pulang penuh sukacita. Tapi tidak ada yang tahu kehendak Tuhan. Alam tak bisa ditaklukkan, hanya dapat diziarahi. Semoga Allah azza wa jalla mengampuni dan merahmati mendiang Ali.

Hingga sekarang, Saya dan Rafdi masih berhubungan baik. Saya aktif mendaki mendampingi buah hati, pun Rafdi yang tergabung dalam BRI Pencinta Alam (Bripala) acap camping bersama keluarganya. Bagi kami, petualangan menggapai atap Jawa Tengah 23 tahun lalu, merupakan kisah persahabatan yang tak lekang waktu.

Himawan, kenanglah Ali sebagai seorang yang tangguh, pemberani, dan berusaha mencari bantuan untuk sahabatnya, sampai napas penghabisan. 

Suvenir kenang-kenangan berupa stiker BC Bambangan tahun 2003 yang sempat saya scan (kiri), bersanding dengan gantungan kunci BC Permadi Guci tahun 2023/Mochamad Rona Anggie

Mendaki Slamet Lagi

Tanpa pernah tahu rahasia waktu, 20 tahun kemudian selepas pendakian perdana bareng Rafdi, saya kembali mendaki Gunung Slamet bersama tiga anak lanang: Rean Carstensz Langie (12), Evan Hrazeel Langie (12), dan Muhammad Kaldera (8). 

Kami menjajal rute Permadi Guci, Kabupaten Tegal, karena jarak lebih dekat dari Kota Cirebon. Kalau lewat Baturraden (Purwokerto) atau Bambangan (Purbalingga), khawatir anak-anak bosan, kelamaan dalam bus.

Bus jurusan Purwokerto mengantar kami sampai pertigaan Yomani, jalur menuju objek wisata Guci. Kami lanjut naik ojek ke BC Permadi. Sudah azan Zuhur ketika urusan registrasi beres. Agar tak kesorean, kami manfaatkan ojek gunung untuk sampai Pos 1 Blakbak (1.695 mdpl).

Perjalanan mencapai pos demi pos, kami lakoni selepas santap siang. Kami tiba di Pos 4 Amreta pukul 16.30 WIB dan segera membuka tenda. Keadaan saya dan anak-anak baik. 

Atap Jawa Tengah dalam Kenangan
Pos registrasi BC Permadi Guci. Difoto saat rehat usai turun dari puncak/Mochamad Rona Anggie

Menapaki Puncak

Angin kencang menyambut kami. Asap belerang dari dasar kawah menari-nari. Tertiup ke arah timur. Syukurlah. Menjauh dari titik kedatangan pendaki di ketinggian 3.428 mdpl, seperti terlihat di foto sampul.  

Cuaca di puncak Gunung Slamet pagi itu, Ahad (8/1/2023), cukup cerah. Langit biru memesona. Lautan awan begitu indah. Puncak Ciremai di barat laut tampak jelas. Puncak Cikuray di barat daya lancip memikat.

Para pendaki memulai summit sejak pukul 03.00 WIB. Bergerak dari Pos 4 di ketinggian 2.448 mdpl, menuju Pos 5 Watu Ireng di titik 2.930 mdpl. Pos 5 merupakan batas vegetasi. Langkah selanjutnya adalah trek pasir berbatu nan luas.

Alhamdulillah, Rean, Evan, dan Muhammad, punya bekal memadai sebelum ke Slamet. Sebelumnya 16 Agustus 2022, berhasil mencapai puncak Ciremai via Palutungan. Lalu, 6 November 2022 menjejaki lagi puncak Ciremai via Trisakti Sadarehe.

  • Atap Jawa Tengah dalam Kenangan
  • Atap Jawa Tengah dalam Kenangan
  • Atap Jawa Tengah dalam Kenangan

Perbedaan mencolok Gunung Ciremai dan Slamet adalah saat tiba di batas vegetasi (area terbuka jelang puncak). Di Ciremai, dari semua lima jalur pendakian, kita akan tetap menemui tanaman semisal cantigi dan edelweis, sampai ke puncak. Sedangkan di Gunung Slamet, selepas batas vegetasi adalah medan pasir berbatu mahaluas. Mirip trek menuju Mahameru setelah Arcopodo dan Cemoro Tunggal. Tersisa satu-dua edelweis mungil saja. Seluas mata memandang lautan pasir dan batu. Hasil semburan dari tungku magma di kawah.

Ya, Semeru dan Slamet adalah gunung dengan aktivitas vulkanik aktif. Bahkan Semeru, dari Desember 2022 sampai sekarang beberapa kali meletus. Membuat kegiatan pendakian kerap disetop. Sementara kawah puncak Slamet juga tak henti mengeluarkan asap solfatara. Menunjukkan status gunung berapi keduanya yang tidak main-main.

Kalau puncak Ciremai, memiliki kawah ganda (barat dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter. Memang, dalam sekali itu kawah. Ngeri melihatnya. Kalau kawah Slamet, tidak terlalu dalam. Segoro wedi alias lautan pasirnya bisa dituruni selama cuaca bagus. Tidak tertutup kabut. Hanya saja, mesti kuat nahan bau belerang dari kawahnya yang terus mengepul.

Oleh karena itu, ada batas toleransi untuk tiba di puncak Slamet dan Semeru. Puncak Slamet maksimal pukul 12.00 WIB, Mahameru 09.00 WIB. Tidak lain untuk mengantisipasi andai cuaca buruk (angin kencang plus kabut tebal), yang bisa menyebabkan disorientasi medan pendakian kala turun dari puncak. Risiko salah jalur alias nyasar rentan terjadi.

Safety-nya di bawah waktu yang ditentukan, kondisi cuaca diharapkan masih cerah. Dan memang biasanya cuaca di puncak gunung, mendekati pukul dua siang berangsur sore, kabut akan datang. Terlebih musim penghujan, langit lebih sering mendung selepas tengah hari. Hal ini disampaikan pula oleh petugas di base camp Permadi. “Baru hari ini puncaknya kelihatan jelas (dari bawah),” kata lelaki gondrong itu. “Tiga hari ke belakang kabut tebal, mendung, dan turun hujan.”

Kami dan pendaki lainnya merasakan guyuran hujan ketika di Pos 4. Itu pun sudah dalam tenda masing-masing. Aman. Hujan membasahi area camp Pos 4 mulai pukul lima sore sampai malam.

Atap Jawa Tengah dalam Kenangan
Ada musala dan air melimpah di Pos 4. Di sini pendaki berkemah, sebelum meneruskan pendakian ke puncak dengan durasi lima jam melangkah/Mochamad Rona Anggie

Paginya, cuaca mendukung untuk summit. Saya dan anak-anak salat Subuh di musala Jabalussalam Pos 4. Pukul 04.30 WIB, baru mulai mengayun langkah. Ternyata banyak juga yang naik jam segitu. Artinya, kami enggak telat-telat banget.

Bahkan dari Pos 5 menuju area pasir berbatu, saya dan anak-anak bisa mendahului tim lain. Nyalip. Sehingga begitu tiba di puncak pukul 09.22 WIB, dari ketinggian masih terlihat barisan pendaki yang tengah berjuang. Sekuat tenaga menapaki jalur pasir berbatu, berpegangan pada tali sepanjang 200 meter.

Akhirnya, atap Jawa Tengah berhasil kami gapai. Puncak Slamet adalah yang tertinggi kedua di pulau Jawa setelah Mahameru (3.676 mdpl). Pemandangan langit biru. Kawah terus-menerus mengeluarkan asap solfatara. Sebuah pengalaman mengesankan.  La hawla wala quwwata illa billah…

Atap Jawa Tengah dalam Kenangan
Jalur terjal menjelang puncak. Pendaki berpegangan tali supaya tidak terperosok/Mochamad Rona Anggie

Pulang

Kami bergerak turun kembali menuju Pos 5, lanjut ke Pos 4. Siang menuju sore itu, hampir semua pendaki yang muncak langsung bergerak ke BC Permadi. Saya dan anak-anak, sesuai rencana bermalam kembali di Pos 4. Total dua hari dua malam kami di gunung. Sama ketika dua dekade lalu, saya dan Rafdi mendaki ke sana. 

Senin pagi (9/1/2023), kami turun gunung. Melewati lagi Pos 3, 2, dan 1. Sampai di base camp pukul 11.00 WIB. Semua dalam kondisi sehat. Siang itu juga kami pulang. Naik ojek ke pertigaan Yomani, lanjut menumpang bus menuju Cirebon.

Beberapa pekan kemudian, Ahad (26/2/2023), berita duka sampai kepada kami. Pendaki dari Unit Pandu Lingkungan (UPL) Unsoed, Sadewa Natha Radya (19), terjebak badai di jalur pasir berbatu selepas Pos 5 Watu Ireng. 

Sadewa tak tertolong, sementara enam rekannya selamat dari serangan hipotermia. Kejadian ini memunculkan kesedihan mendalam bagi saya. Rasanya baru kemarin berjibaku di medan terjal itu, eh, ada pendaki yang gugur di sana.

Semoga persiapan yang baik sebelum pendakian, dapat meminimalisasi risiko berkegiatan di alam terbuka. Kita tidak mencari mati di gunung. Para pendaki adalah orang-orang yang menghargai kehidupan. Salam lestari!  


Foto sampul: Puncak Gunung Slamet secara administratif berada di wilayah lima kabupaten (Brebes, Tegal, Banyumas, Pemalang, dan Purbalingga). Saya dan anak-anak menziarahinya pada 8 Januari 2023 (Mochamad Rona Anggie)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Damai di Puncak Ciremai