TRAVELOG

Anjangsana ke Sumber Sira

Untuk aku yang setiap hari hidup erat dengan aroma gersang maritim, udara di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang menghidangkan tarikan napas segar cita rasa kontinental. Malam berkabut dengan sedikit gerimis menemani perjalananku memasuki gerbang desa. Kali ini kehidupanku beralih secara geografis, dari pemuda pesisir ke manusia terestrial. Malam itu, aku seolah membelah gugusan pohon tebu yang boleh jadi merupakan salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat Putukrejo.

“Berapa tiket masuknya?” ucapku.

“Sudah… kemasi saja barang-barangmu,” seloroh Fery (35) dengan nada meyakinkan.

Saat matahari belum seubun, aku berangkat bersama Fery menuju Sumber Sira. Sejak semalam aku bermalam di rumah kontrakannya. Sebenarnya dia adalah salah satu wali murid. Anaknya yang pertama sekolah di tempat yang aku ajar. Ketika kutanya kenapa anaknya tidak disekolahkan di Malang saja, dia menjawab karena faktor biaya. Biaya pendidikan lebih tinggi di Malang daripada di Madura.

Di Kabupaten Malang banyak sekali kutemui orang-orang Madura. Mereka bermukim dan menetap di sana dengan membawa prinsip jika mau hidup lebih layak (ilmu, finansial bahkan jodoh) maka harus keluar dari tempat dia dilahirkan (Madura). Di sana tempat tinggal mereka (setelah kuamati) memusat pada satu wilayah. Jika pun terpisah maka tidak terlalu jauh jaraknya. Di Desa  Putukrejo, pekerjaan mereka nyaris sama, hanya saja untuk wilayah pembagian kerjanya sudah bagi-bagi secara adil dan merata. Penuh strategi, tertata, dan rapi.

Anjangsana ke Sumber Sira
Pohon beringin di Sumber Sira/Fahrus Refendi

Jalan yang Lengang

Pagi yang damai ditemani suara musik dangdut dari tetangga sebelah. Dari balik jendela kujumpai beberapa ibu muda mengantarkan anak-anaknya untuk sekolah. Sebuah fenomena khas desa tatkala para bapak pergi bekerja, sedangkan istrinya mengurus anak-anaknya guna disiapkan menjadi manusia yang berkualitas di masa depan.

Kukemasi barang-barangku ke tas kecil. Semua dimasukkan mulai dari pakaian ganti, celana dalam, sampo, sabun, hingga parfum. Kami kemudian berkendara memunggungi matahari. Melewati jalan-jalan desa yang lengang—bahkan nyaris sepi. Terlihat di depan mata sebuah gapura bertuliskan “Selamat Datang di Sumber Sira”. Fery tetap mengegas motornya ke arah barat menembus aspal yang masih basah karena diguyur hujan semalam. Setelah beberapa menit, Fery kemudian mulai melirihkan motornya.

Pandanganku kuarahkan ke depan. Terlihat ada dua orang dewasa dengan topi bercokol megah di kepalanya. Kulitnya sawo matang. Fery semakin memelankan sepeda motornya. Mereka saling bertukar pandang. Setelah beberapa saat baru paham kalau mereka adalah petugas jaga parkir. Fery melempar senyum yang kemudian dibalas juga oleh dua orang penjaga parkir itu.

Anjangsana ke Sumber Sira
Jalur khusus pejalan kaki menuju Sumber Sira/Fahrus Refendi

Jalur Orang Dalam

Kami berdua mulai berjalan kaki setelah memarkir motor. Dari pintu masuk ke lokasi parkir tidak jauh, hanya beberapa langkah kaki saja. Penataan untuk lokasi parkir mobil dan motor aku rasa sudah bagus. Minusnya hanya saja bagian bawahnya tidak dicor. Aku menyangka pengelolanya ingin mempertahankan suasana keasriannya. Aku turun dari motor dengan tas yang kugendong di punggung. Fery berjalan pelan di depanku. Di hadapannya terlihat wanita muda yang duduk tenang sambil main gawai. 

Kaḍuwâ yâ, Lè’ (berdua ya, Dek)!” Fery berucap ke wanita muda di hadapannya dalam bahasa Madura.

O … èngghi, Ka’ (oh, iya, Kak).” Wanita yang bertugas sebagai petugas penjaga loket juga membalas dengan bahasa Madura yang kental. 

Tanpa pikir panjang aku segera membuntuti Fery dari belakang. Kami berdua menuruni anak tangga. Entah berapa jumlah anak tangga yang kami lalui. Aku tidak sempat menghitungnya. Yang jelas, untuk sampai pada sumber mata airnya ada dua jalur. Lewat anak tangga dan lewat jalan yang landai. Kami memutuskan melewati jalur anak tangga.

Hal yang paling aku sukai adalah Sumber Sira tidak seramai Sumber Maron. Cocok bagi orang sepertiku yang tidak menyukai keramaian. Sebelum mencemplungkan diri ke sumber mata air, kami memutuskan untuk berkeliling dulu. Mengitari tempat wisata tersebut untuk sekadar mengumpulkan informasi terkait wahana apa saja yang disediakan oleh pengelola.

Anjangsana ke Sumber Sira
Kolam utama Sumber Sira/Fahrus Refendi

Berenang di Sumber Sira

Beberapa menit setelah berkeliling, aku berhasil mengabadikan beberapa momen. Untuk para wisatawan yang mau liburan bersama keluarga, sebaiknya membawa alas sendiri dari rumah. Sebab, setelah aku amati sepertinya diperbolehkan membawa makan dan minuman dari luar. Jadi cocok, liburan tanpa menguras kantong terlalu dalam.

Airnya jernih—dingin pula. Di dasar kolam terdiri dari batu-batu keras dan pasir. Untuk aku yang sedikit punya kemampuan berenang (meski pas-pasan) tidak sulit untuk sampai seberang kolam. Pagi itu, terhitung hanya ada tujuh pengunjung. Dan aku berenang—berbaur bersama mereka. Yang paling aku suka adalah airnya sangat segar dan sejuk. Meski aku tidak pakai kaca mata, mataku tidak terasa perih. Beda halnya ketika kita berenang di kolam buatan yang penuh dengan kaporit, mata kita akan perih kemudian memerah.

Saat kakiku menginjak batu, kedalaman airnya hanya sedada. Tapi, ketika aku berenang agak ke utara maka semakin dalam. Untuk ukuran badanku, kedalaman airnya seleher. Jangan khawatir bagi orang-orang yang ingin berenang, tetapi terkendala postur tubuh pendek. Pihak pengelola wisata telah menyediakan pelampung (ban dalam bekas) untuk disewakan.

Keunggulan lain Sumber Sira yang kurasakan adalah air kolamnya tenang. Arusnya nyaris tidak ada. Jadi, aman untuk berenang. Selain itu, wisata Sumber Sira juga didesain ramah terhadap anak. Selain pemandian untuk orang dewasa, pengelola wisata juga menyediakan kolam untuk anak-anak. Jadi, anak-anak bisa aman bermain air tanpa khawatir tenggelam.

Anjangsana ke Sumber Sira
Area kolam khusus anak di Sumber Sira/Fahrus Refendi

Selayaknya tempat-tempat wisata yang lain, Sumber Sira juga menyediakan toko suvenir dan oleh-oleh. Pagi itu, hanya ada satu toko suvenir yang buka. Sementara toko-toko lain yang menjual aneka makanan terlihat juga sudah buka. Hanya saja, salah satu kekurangannya adalah orang yang menjual aneka camilan, makanan dan minuman terlalu menjorok ke utara. Sehingga, kelihatan kurang strategis. Tentu hal itu perspektifku pribadi. Sumber Sira juga cocok untuk wisatawan yang ingin berekreasi tanpa harus meninggalkan ritus spiritual (Islam). Di tempat itu disediakan musala yang menurutku sudah bisa dikatakan layak. 

Akhirnya, di ujung pelesiran ke Sumber Sira, aku tidak mau melewatkan sedikit pun fenomena-fenomena alam yang tersaji. Aku memutuskan berjalan memutar melewati aneka wahana: kereta sawah, perahu bebek, motor ATV, camping ground, dan flying fox. 

Aku juga melihat ada sumber mata air lain, Sumber Wadon, yang sedang dibangun oleh pihak pengelola. Banyak pekerja yang saling bahu-membahu mengerjakan proyek itu. Mereka tampak bekerja secara ikhlas sambil sesekali melempar senyum ke arahku.

Air yang dingin dan terus mengalir mengajarkan simbol kehidupan, bahwa hidup akan terus bergerak melewati berbagai macam suka dan duka. Manusia sudah selayaknya meniru sifat air yang terus mengalir, guna memberikan penghidupan bagi siapa saja yang dilewatinya. Pelesir kali ini memberikan pelajaran kepada diri sendiri, bahwa hidup adalah sebuah keniscayaan. Sebab, diam dan tidak berbuat apa-apa adalah sebuah dosa masa lalu yang akan selalu datang dan menjelma dalam bentuk penyesalan. Lakukan apa yang kita mau asal tidak merugikan manusia lain.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Fahrus Refendi

Fahrus Refendi merupakan kepala sekolah di SD Islam Mabdaul Falah. Sekarang berkhidmat di Sivitas Kotheka.

Fahrus Refendi

Fahrus Refendi merupakan kepala sekolah di SD Islam Mabdaul Falah. Sekarang berkhidmat di Sivitas Kotheka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Hantulogi Paku Bumi Tanah Jawa di Bedengan (1)