TRAVELOG

Menyambangi Tjong A Fie Mansion di Medan

Pada liburan Iduladha 2024, aku berkesempatan mengunjungi Medan. Aku penasaran, objek apa saja yang menonjol di ibu kota Provinsi Sumatra Utara ini. Setelah menelusuri, satu yang menarik perhatianku adalah Tjong A Fie Mansion. Aku pun menyambangi kawasan Kesawan, tempat Tjong A Fie Mansion berada. Di sini, kutemukan berbagai bangunan khas peninggalan masa kolonial.

Hal pertama yang kutandai di area Kesawan adalah trotoarnya yang lebar. Aku mengapresiasi pemerintah kota yang membuat kawasan ini terasa ramah untuk pejalan kaki. Para pelancong sepertiku tentu merasa nyaman untuk mengeksplorasi aneka bangunan ikonik yang banyak di antaranya masih terawat dengan baik di sini.

Gapura pintu masuk Tjong A Fie Mansion (Johar Dwiaji Putra)
Gapura pintu masuk Tjong A Fie Mansion/Johar Dwiaji Putra

Menemukan Tjong A Fie Mansion

Setelah beberapa saat berjalan, aku menemukan objek yang kutuju. Dari bibir trotoar, area Tjong A Fie Mansion diawali sebuah gapura yang bagiku terasa autentik. Mirip seperti yang kerap kulihat di wihara atau kelenteng. Terdapat dua patung singa di sisi kiri dan kanan. Empat buah lampion berwarna merah juga tergantung persis di bagian tengah gapura.

Tak jauh dari gapura, terdapat papan informasi yang menunjukkan bahwa Tjong A Fie Mansion adalah bangunan cagar budaya. Rumah ini beralamat di Jalan Ahmad Yani Nomor 105, Kesawan, Kecamatan Medan Barat. Aku memasuki halaman rumah, yang langsung disambut hamparan taman yang menyegarkan mata. Di sebelah kanan, aku mendapati sebuah prasasti mengenai tempat bersejarah ini. Di prasasti itu juga tertulis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan.

Tjong A Fie Mansion adalah sebuah rumah, yang fasadnya amat bercirikan bangunan peranakan Tionghoa. Atapnya, jendela-jendelanya yang terbuka di lantai dua, termasuk tulisan berhuruf Tionghoa berukuran besar yang menghiasi pintu masuk utamanya. Aku mendekat ke teras dan menghampiri loket yang dijaga seorang petugas. Untuk memasuki area dalam rumah, pengunjung membayar tiket seharga 35 ribu rupiah. Tjong A Fie Mansion buka setiap hari dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Objek ini hanya tutup saat Tahun Baru Imlek.

Tampak depan bangunan utama Tjong A Fie Mansion (Johar Dwiaji Putra)
Tampak depan bangunan utama Tjong A Fie Mansion/Johar Dwiaji Putra

Setelah membayar tiket, aku dipersilakan petugas untuk masuk. Petugas memberiku peringatan untuk tidak mengambil foto di area yang dilarang. Saat melewati pintu utama, aku membaca sertifikat yang menunjukkan Tjong A Fie Mansion adalah aset cagar budaya yang ditetapkan Wali Kota Medan pada 28 Oktober 2021. Begitu masuk, aku langsung disuguhi aneka perabotan yang menghiasi sudut-sudut ruangan. Ada meja, kursi, hingga lemari dengan warna khas yang masih terjaga.

Kuamati seisi ruangan. Selain perabotan, berbagai pajangan juga tertata rapi. Salah satu yang menonjol adalah vas berbahan keramik. Vas dengan aneka bentuk dan ukuran ini jumlahnya cukup banyak. Bagiku, vas keramik ini semakin menegaskan kultur yang diusung sang pemilik rumah. Tidak hanya vas keramik khas Tiongkok. Aku mendapati sebuah piano. Ada pula lampu-lampu bergaya klasik yang menggantung.

Aku bergumam, ini adalah rumah orang berada. Ya, dari perabotan dan segala pernak-pernik yang terpampang, pemilik Tjong A Fie Mansion menurutku adalah orang kaya pada zamannya. Aku mulai menelisik, siapa pemilik rumah yang bisa dibilang mewah ini.

Potret Tjong A Fie di lantai satu (Johar Dwiaji Putra)
Potret Tjong A Fie di lantai satu/Johar Dwiaji Putra

Tjong A Fie, Saudagar Masyhur dari Medan  

Selain aneka pajangan dan perabot, di dalam Tjong A Fie Mansion juga terpajang banyak foto. Foto-foto yang memperlihatkan siapa pemilik rumah bersejarah yang sedang kupijak ini. Rumah yang sekarang berubah fungsi menjadi museum ini adalah tempat tinggal seorang saudagar yang bernama Tjong A Fie. Ada sebuah foto berukuran besar, yang menunjukkan Tjong A Fie. Di foto tersebut, beliau mengenakan pakaian khas Tiongkok.

Aku menemukan sebuah kutipan dari Tjong A Fie: “Success and glory consist not in what I’ve gotten but in what I’ve given (Kesuksesan dan kemuliaan bukanlah terletak pada apa yang telah kudapatkan, melainkan pada apa yang telah kuberikan).” Sebenarnya siapa itu Tjong A Fie? Apakah beliau hanya sekadar seorang taipan?

Aku membaca sebuah media. Pada akhir abad ke-19, di tanah Deli yang sekarang adalah kawasan Kota Medan, muncul seseorang bernama Tjong A Fie. Ia lahir pada 1860 di Distrik Meixian, Guangdong, Cina daratan. Saat berusia 17 tahun, ia meninggalkan Guangdong dan merantau ke Deli, yang kala itu berada dalam pemerintahan Hindia Belanda.

Kedatangan Tjong A Fie ke Deli bersamaan dengan sektor perkebunan yang sedang berkembang sangat pesat. Tjong A Fie memulainya dengan bekerja di toko milik kakaknya, Tjong Yong Hian. Mereka berdua bekerja keras sampai akhirnya menguasai banyak sektor bisnis di tanah Deli. Mulai dari real estate, pertambangan, perbankan, kereta api, hingga sektor perkebunan kelapa, tembakau, teh, karet, kelapa sawit, dan gula.

Sebuah piano di Tjong A Fie Mansion (Johar Dwiaji Putra)
Sebuah piano di Tjong A Fie Mansion/Johar Dwiaji Putra

Eksistensi Tjong A Fie tidak lepas dari bangkitnya perkebunan Deli pada pertengahan abad ke-19. Pengusaha Belanda bernama Jacobus Nienhuys memperoleh konsesi tanah dari Sultan Mahmud Perkasa Alam untuk menanam tembakau dan ternyata tembakau Deli sangat berhasil. Nienhuys kemudian membawa aktivitas perusahaannya semakin dekat ke kawasan Medan Putri. Pada 1869, kantor Deli Maatschappij dipindahkan dari Labuhan ke Medan.

Menariknya, perjalanan Tjong A Fie menunjukkan bahwa kemunculan pengusaha besar di Medan pada masa itu tidak berdiri sendiri. Ada sebuah ekosistem ekonomi yang sedang tumbuh. Di antaranya perkebunan, perdagangan, pembangunan kota, arus pendatang, jaringan transportasi, dan hubungan antara berbagai kelompok masyarakat.

Tjong A Fie, seorang pendatang dari Guangdong yang kemudian menjelma menjadi salah satu tokoh bisnis paling dikenal dalam sejarah Medan. Pada 1911, Tjong A Fie didapuk menjadi pemimpin komunitas peranakan Tionghoa di Medan. Pemerintah Kerajaan Belanda memberinya penghargaan Orde van de Oranje-Nassau atas kontribusinya kepada komunitas.

Tjong A Fie adalah seorang filantropis. Ia tidak hanya memperhatikan komunitas peranakan Tionghoa yang dipimpinnya. Tjong A Fie tidak memedulikan suku dan agama dalam memberikan kontribusi. Beliau membangun sekolah, rumah sakit, masjid, gereja, kuil, dan fasilitas lainnya untuk segenap warga Kota Medan. Sang taipan wafat pada 4 Februari 1921.

Salah satu sudut ruangan (kiri) dan jendela-jendela terbuka lantai dua Tjong A Fie Mansion/Johar Dwiaji Putra

Upaya Preservasi Tjong A Fie Mansion

Aku tidak hanya mengeksplorasi lantai satu. Aku naik ke lantai dua dan menemukan ruangan-ruangan yang tak kalah memukau. Menelusuri Tjong A Fie Mansion, seolah memasuki labirin waktu. Mencoba merasakan, seperti apa kehidupan warga peranakan di tanah Deli. Ya, tak salah jika menjadikan rumah ini sebagai cagar budaya. Supaya setiap generasi mengetahui, pernah ada seorang Tjong A Fie yang amat berperan dalam perkembangan Kota Medan.

Saat tadi aku melewati pintu utama, aku menemukan plakat dari pemerintah Amerika Serikat. Rupanya, Tjong A Fie Mansion memperoleh bantuan dari pemerintah AS untuk memugar bangunannya pada 2013. Bantuan ini adalah dana hibah melalui program The Ambassador’s Fund for Cultural Preservation (AFCP). Pada upaya preservasi ini, yang utama dilakukan adalah restorasi atap dan pengecatan ulang.

Pada Oktober 2016, Tjong A Fie Mansion mendapatkan Anugerah Purwakalagrha Museum Awards dalam kategori museum cantik (engaging museum). Bagiku, Tjong A Fie Mansion adalah objek wisata menarik yang wajib dikunjungi kala ke Medan. Museum ini menjadi salah satu bukti, bahwa para pendatang bisa memiliki kontribusi dan berdampak terhadap lingkungan dan komunitas. Para warga peranakan Tionghoa bisa hidup berdampingan dengan warga etnis lainnya yang ada di Medan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Johar Dwiaji Putra

PNS yang suka bertualang.

Johar Dwiaji Putra

PNS yang suka bertualang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Mengenal Riau melalui Museum Sang Nila Utama di Pekanbaru