TRAVELOG

Bisik-Bisik dari Candi Mendut 

Hari itu saya terdorong untuk mampir ke Candi Mendut di Magelang. Saya betul-betul ingin melihat secara langsung arca Buddha yang saya dengar cukup besar. 

Saya berangkat terlalu siang sehingga panas cukup menyengat. Saya menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Purworejo menuju Candi Mendut. Saat itu adalah musim liburan. Jalan Raya Borobudur menuju Candi Mendut dipenuhi oleh kendaraan dari luar kota.

Itu pertama kalinya saya berkunjung ke Candi Mendut. Candi ini selalu luput dari perhatian saya, padahal saya sudah puluhan kali melewati candi itu tanpa terpikir untuk mampir masuk. Lucunya, orang yang “tidak memperhatikan” candi ini tidak hanya saya, tetapi juga Raffles. Ya, Thomas Stamford Raffles yang terkenal itu. 

Saya segera mendekat ke loket untuk membeli karcis. Harganya Rp10.500 per orang. Setelah membayar, saya masuk ke kompleks candi.

Relief pada sisi belakang candi (Muhammad Nur Azza)
Relief pada sisi belakang candi/Muhammad Nur Azza

Cerita Bergambar

Tentu, sebelum saya melihat ke dalam bilik utama candi, saya ingin melihat-lihat relief apa saja yang terpahat di sekeliling candi. Sulit membayangkan bahwa bangunan sebesar ini pernah dianggap hanya sebagai gundukan tanah yang berisi makam. Namun, memang demikian.

Sebelum ditemukan kembali oleh Residen Hartman pada tahun 1834, reruntuhan Candi Mendut sempat diabaikan, termasuk oleh Raffles. Saya jadi membayangkan, bagaimana jika gundukan itu sampai hari ini tidak pernah diperhatikan? Segera membuyarkan lamunan, saya pun berjalan mendekati candi.

Saat pertama kali berhadapan dengan candi, saya disambut oleh dua Kala Makara yang cukup besar dan megah. Yang menarik, di bawah kedua Kala Makara itu, ada Gana yang memiliki pose yang unik. Lazimnya Gana yang sering saya temui, dipahat dengan pose yang terlihat berdiri menyangga bagian atasnya. Sedangkan Gana di Candi Mendut justru terlihat duduk bersila dan dengan tangan yang tak terlihat sedang menyangga.

Pada bagian dinding pipi tangga candi, tersaji banyak sekali relief yang menurut saya unik. Masing-masing relief itu berasal dari kisah Pancatantra yang berisi cerita-cerita fabel dan Jataka tentang kehidupan masa lalu dari Buddha. Relief-relief ini bagi saya, di samping menyimbolkan pesan moral ajaran Buddha, juga menambah kaya hiasan dekoratif candi. Saya tertegun mengamati panel-panel itu.

Kala Makara pada pipi tangga (Muhammad Nur Azza)
Kala Makara pada pipi tangga/Muhammad Nur Azza

Salah satu panel relief yang menarik adalah cerita soal bangau dan kura-kura. Panel ini menampilkan dua ekor bangau yang sedang terbang sambil membawa ranting. Di tengahnya, ikut serta seekor kura-kura yang bergelantungan menggigit ranting itu. Di bawahnya ada segerombolan anak yang sedang menggembala terlihat meneriaki mereka. 

Relief ini mengisahkan bangau dan kura-kura yang berteman baik. Suatu masa, karena kekeringan yang panjang, telaga tempat mereka tinggal mengalami kekeringan. Maka mereka sepakat untuk pindah mencari telaga yang baru. Kura-kura dibawanya dengan cara seperti yang terlihat di relief. Untuk mencegah kecelakaan, bangau mengingatkan kura-kura untuk tidak membuka mulutnya selama terbang. Di tengah perjalanan, anak-anak gembala yang melihat mereka meneriaki dan mengejek kura-kura. Nahas, kura-kura yang sudah marah membuka mulutnya, ia pun terjatuh hingga berakhir menjadi santapan anak-anak gembala itu.

Setelah puas membaca “cerita bergambar” itu, saya kemudian berjalan perlahan mengelilingi candi. Menikmati indahnya ornamen-ornamen di sisi-sisi candi, termasuk relief-relief megah yang terukir pada masing-masing dinding badan candi. 

Pada dinding-dinding candi, banyak terukir tokoh-tokoh surgawi. Mulai dari dewa-dewi hingga Bodhisattva. Semuanya terpahat cantik. Baru kali ini saya melihat “lukisan” pada candi yang sebesar itu.

Saya kemudian beralih untuk menaiki candi, guna melihat bilik utama.

Salah satu panel kisah Buddha (Muhammad Nur Azza)
Salah satu panel kisah Buddha/Muhammad Nur Azza

Buddha yang Anggun

Rasanya, menapaki satu per satu tangga candi, seperti sedang menaiki sebuah istana. Bagi saya, tangga Candi Mendut begitu besar dan mewah. Sesekali saya melihat ke bawah untuk menengok seberapa tinggi posisi saya berdiri. 

Saat berada di tangga ini pula, saya baru tersadar. Candi ini ternyata tidak memiliki bagian atap. Pantas saja Candi Mendut terlihat tambun. Karena biasanya, atap candi bisa membuat candinya terlihat lebih tinggi dan sedikit jangkung proporsional.

Ketika sampai di bawah gawang pintu, saya bertemu dua orang turis asing—seorang pria dan wanita paruh baya—sedang asyik berfoto di dalam bilik utama candi. Saya menunggu sambil melihat-lihat gawang pintu. Tak ingin mengganggu mereka. 

Sorry for bothering you,” pria paruh baya itu tampaknya melihat saya yang menunggu merasa tak enak. “No problem, take your time,” saya tersenyum dan mempersilakan mereka untuk tak perlu merasa sungkan kepada saya. Lagipula saya juga sedang asyik memperhatikan relief lainnya pada lorong menuju bilik utama. 

Relief Dewi Hariti (kiri) dan Dewa Kubera/Muhammad Nur Azza

Di lorong itu, saya melihat dua panel yang mengundang decak kagum. Pertama, terlihat seorang perempuan seperti ibu yang sedang menggendong bayi. Ia dikelilingi banyak anak. Dia adalah Hariti, seorang raksasa yang suka memakan anak-anak, lalu mengalami pertobatan yang luar biasa dan menjadi Dewi Kesuburan. Kemudian, relief di seberangnya, terpahat seorang laki-laki yang duduk dikelilingi banyak anak-anak. Di bawahnya terlihat guci-guci yang penuh dengan uang. Ia adalah Kubera atau Kuvera, Sang Dewa Kekayaan.

Thank you.” Tak sadar saya terpaku lama mengamati relief, kedua turis tadi mengucapkan terima kasih dan pamit beranjak pergi. Saya tersenyum, kemudian saya berjalan perlahan masuk ke dalam bilik utama yang gelap.

Walau terdapat sedikit penerangan, mata saya tetap harus menyesuaikan perlahan. Ketika penglihatan sudah membaik, saya begitu takjub, terpaku cukup lama. Saya melihat tiga arca yang sangat besar duduk di dalam bilik yang gelap itu. Arca di tengah dan paling besar, sudah jelas ia adalah Sang Buddha. 

Sungguh, lama sekali saya mengamati detail dari arca itu. Ukurannya yang menurut saya fantastis cukup membuat saya tertegun lama. Walau dalam posisi duduk pun, arca itu masih besar.

Kedua arca di sampingnya adalah Bodhisattva. Walau berukuran lebih kecil, mereka tetap dipahat dengan raya dan anggun. Mereka adalah Padmapani (Avalokiteshvara) dan Vajrapani. Menariknya lagi, kedua arca ini sempat dikira tokoh lain oleh para arkeolog abad 19 karena terbatasnya informasi.

Tiga arca besar di dalam bilik utama (Muhammad Nur Azza)
Tiga arca besar di dalam bilik utama/Muhammad Nur Azza

Berpamitan

Ketika menuruni tangga candi, matahari sudah mulai condong ke barat. Namun, justru ada beberapa pertanyaan yang terus muncul di kepala saya. Seberapa megah Candi Mendut jika atapnya masih utuh? Bagaimana para pemahat dahulu membuat arca sebesar itu? Dan yang paling membuat saya penasaran, bagaimana mereka membawa arca-arca tersebut ke tempatnya?

Untuk pertama kalinya, saya akhirnya benar-benar melihat apa yang selama ini hanya saya lewati dan abaikan dari jalan raya.

Barangkali, di lain kesempatan saya akan kembali. Bukan lagi sekadar untuk melihat Sang Buddha, tetapi untuk mencari tahu lebih banyak tentang candi yang selama ini luput dari perhatian saya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Muhammad Nur Azza

Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

Muhammad Nur Azza

Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Jejak yang Tertinggal di Sengi