TRAVELOG

Menekuri Kapal di atas Rumah Lampulo, Situs Peninggalan Tsunami Aceh 2004

Tanggal 9 Juni 2025 adalah hari ketiga aku menapakkan kaki di Bumi Rencong, Aceh. Setelah mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman dan Tugu Kilometer Nol di Sabang, hari itu aku meniatkan diri untuk mengunjungi sejumlah situs yang terkait bencana tsunami. Salah satunya adalah sebuah kapal yang tersangkut di atas rumah, akibat terbawa arus tsunami.

Pikiranku terbetot kembali ke masa tatkala gelombang tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Kala itu, aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Pulang dari sekolah, aku memelototi siaran Metro TV, yang waktu itu cukup intens memberitakan bencana gempa bumi yang disusul tsunami mahadahsyat tersebut.

Aliran Sungai Krueng Aceh di dekat lokasi situs kapal Lampulo (Johar Dwiaji Putra)
Aliran Sungai Krueng Aceh di dekat lokasi situs kapal Lampulo/Johar Dwiaji Putra

Kapal di atas Rumah Lampulo

Beberapa hari setelah tsunami, aku melihat liputan televisi dan berita di koran, terdapat sebuah kapal kayu yang tersangkut di atap sebuah rumah. Saat melihatnya, aku meyakini betapa kuatnya arus gelombang tsunami yang terjadi pada waktu itu. Dan sekarang, aku sudah berada di Banda Aceh. Akan kusambangi situs kapal yang tersangkut di atap rumah itu.

Setelah menyelesaikan sarapan di penginapan, aku bersiap menelusuri beberapa situs peninggalan bencana tsunami. Pagi itu, cuaca Banda Aceh tak cukup cerah. Mendung menggelayut. Aku melihat di peta Google. Situs kapal di atas rumah itu berada di daerah Lampulo. Dari penginapan, jaraknya tak sampai tiga kilometer. Dengan cuaca yang teduh, kuputuskan untuk berjalan kaki ke sana, sekalian olahraga.

Aku berjalan, seraya mengamati geliat pagi warga Banda Aceh. Aku menemui satu-dua masjid, yang fasad luarnya mirip seperti ornamen yang kulihat di Masjid Raya Baiturrahman. Barangkali itu merupakan ciri khas masjid yang ada di Bumi Serambi Makkah ini. Sungguh menarik.

Aku terus menelusuri jalan yang ditunjukkan peta. Semakin mendekati situs kapal Lampulo, jalan yang kulalui bersebelahan dengan aliran sebuah sungai. Kuamati sekilas, lebar sungai ini cukup besar. Sepertinya aliran sungai ini mengarah ke muara yang berada di bibir pantai. Di sepanjang aliran sungai tersebut, berjajar banyak kapal kayu. Kurasa kapal-kapal ini adalah kapal nelayan yang sedang bersandar.

Dari Jalan Sisingamangaraja, aku harus berbelok ke Jalan Matahari. Aku masuk ke kawasan perumahan penduduk. Tak sampai lima menit, aku sudah menemukan sebuah kapal kayu yang bersemayam di atas sebuah rumah. Ini dia situs kapal Lampulo. Aku mendekat ke rumah itu, seraya disambut sapaan hangat dua orang ibu-ibu yang menggelar lapak. Mereka menawarkan aneka suvenir khas Aceh.

Situs kapal di atas rumah Lampulo dan anjungan pandang di sisi kanan (Johar Dwiaji Putra)
Situs kapal di atas rumah Lampulo dan anjungan pandang di sisi kanan/Johar Dwiaji Putra

Dari Tragedi menjadi Objek Wisata

Pagi itu, cuma aku yang sedang mengunjungi rumah kapal Lampulo. Aku jadi punya kesempatan untuk mengeksplorasi situs ini sepuasnya. Menekuri sebuah monumen yang ada di depan mataku. Monumen bukan sembarang monumen. Bagiku, situs kapal Lampulo adalah sebuah artefak yang tak akan tergerus zaman. Monumen ini adalah bukti autentik, bagaimana kekuatan gelombang tsunami yang mampu memorak-porandakan apa pun yang dilaluinya.

Cuaca Banda Aceh yang agak mendung, membuat suasana terasa sendu. Sejenak, aku terpaku di depan monumen kapal Lampulo ini. Kembali mengingat beritanya yang dimuat di koran yang kubaca 20 tahun yang lalu. Sekarang, kapal tersebut terpampang nyata di hadapanku. Ada rasa takjub yang perlahan muncul. Sebuah kapal yang harusnya berada di perairan, tiba-tiba bisa tersangkut di atap sebuah rumah. Jika Tuhan sudah berkehendak, apa pun bisa terjadi.

Aku menemukan sebuah prasasti. Di situ tertulis andil Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam upaya penataan situs kapal rumah Lampulo ini. Pelataran rumah juga sudah dipaving. Selain itu, dibangun sebuah ornamen melengkung dari beton. Kurasa ini adalah semacam tribun mini, yang bisa dimanfaatkan para pengunjung untuk mengamati situs seraya duduk. 

Di belakang tribun tersebut, dibangun pula sebuah jalur menanjak (ramp). Jalur ini sudah memiliki atap, dan menjadi jalan para pengunjung untuk melihat situs kapal dari ketinggian. Masyaallah, sungguh menarik menangkap kapal Lampulo dari ketinggian seperti ini. Dari pengamatanku, kapal ini sudah dicat sedemikian rupa, sehingga fasadnya terlihat bagus dan tidak kusam.

Di samping bangunan rumah, terdapat papan media yang menjelaskan perihal kapal di atap rumah Lampulo ini. Di situ juga ditampilkan, seperti apa penampakan kapal tatkala terdampar di tengah-tengah perumahan penduduk, saat tsunami menghantam Banda Aceh. Dari informasi yang kubaca, rumah yang ketiban kapal tersebut adalah rumah milik keluarga Pak Misbah dan Ibu Abasiah. Rumah ini berlokasi di gampong (desa) Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.

Kapal Lampulo dari ketinggian-Johar Dwiaji Putra
Kapal Lampulo dari ketinggian/Johar Dwiaji Putra

Sebelum musibah tsunami terjadi, kapal kayu ini bersandar di muara Sungai Krueng Aceh, tepatnya di area docking kapal. Kapal ini sempat menjalani perbaikan, dan direncanakan kembali digunakan pada hari Minggu, 26 Desember 2004. Pemilik kapal adalah T. Zulfikar, yang memercayakan operasional kapal kepada Hasri Yulian dan Saiful Bahri. Kapal kayu ini berbobot 20 ton, dengan panjang 25 meter dan lebar 5,5 meter. Rencananya, kapal akan diarahkan ke Lhoknga, Aceh Besar, untuk kembali mencari ikan. 

Namun, bencana tsunami mengubah segalanya. Arus deras tsunami menyeret kapal ini dari area docking, dan membawanya terdampar sejauh satu kilometer dari titiknya semula. Pada saat kejadian, kapal ini telah menyelamatkan 59 warga di sekitar area tersebut. Aku membayangkan mereka yang selamat, menjadikan kapal tersebut sebagai tempat untuk berpijak di antara terjangan arus deras tsunami.

Tak bisa dipungkiri, keberadaan situs kapal Lampulo telah menjadi objek wisata tersendiri. Kapal yang sengaja tidak dipindah dari atas rumah, tentu bertujuan menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan gelombang tsunami yang melanda daratan Aceh pada 26 Desember 2004 lalu. Siapa pun yang melihat situs ini dapat merenung. Jika alam sudah bergerak, kerap manusia tidak sanggup berbuat apa-apa.

Bagiku, kapal di atas rumah Lampulo menjadi salah satu peninggalan tsunami yang wajib untuk disinggahi. Mengunjungi situs kapal ini tidak dipungut biaya. Situs juga bisa didatangi setiap hari, dari pukul 8 pagi hingga 6 sore. Kapal di atas rumah Lampulo ini, akan terus mampu berbicara soal tsunami. Bahwa pernah ada gelombang tsunami besar, yang telah meluluhlantakkan Banda Aceh dan sekitarnya. Bahwa di antara pedihnya bencana alam, terdapat sebuah keajaiban yang sungguh patut untuk dikenang. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Johar Dwiaji Putra

PNS yang suka bertualang.

Johar Dwiaji Putra

PNS yang suka bertualang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menapaki Rumah Inggit Garnasih di Bandung