Raut wajah Pak Sutopo terlihat penuh rasa syukur setelah menyelesaikan rangkaian doa untuk tradisi nyebar sajen. Dua orang warga dusun bergegas membantu Pak Sutopo menata sesajen di atas tujuh tampah yang beralaskan daun pisang. Jumlah tampah sesuai dengan jumlah mata air yang ada di Dusun Gogik. Nyebar sajen menjadi salah satu rangkaian acara dalam Saparan Gogik.
Saparan Gogik dilaksanakan di Dusun Gogik, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang pada Minggu, 2 Agustus 2026. Sesuai dengan namanya, tradisi ini dilaksanakan pada bulan Sapar atau bulan kedua—setelah bulan Suro—dalam penanggalan kalender Jawa. Tahun ini Saparan Gogik mengusung tema “Nandur Tradisi, Ngunduh Pakarti”. Maknanya, menanam nilai-nilai luhur warisan leluhur untuk memanen budi pekerti yang mulia.
Tradisi Saparan Gogik sudah dimulai sejak Kamis sebelumnya dengan mengadakan tirakatan. Kegiatan ini diisi dengan berdoa bersama agar Saparan Gogik bisa berjalan dengan baik dan lancar. Keesokan harinya dilanjutkan dengan membersihkan sarean (makam) leluhur Dusun Gogik. Tradisi nyebar sajen mengawali puncak perayaan Saparan Gogik pada Minggunya.


Tradisi Nyebar Sajen
Tujuh tampah yang berisi sajen telah siap untuk dibawa ke tujuh tuk atau mata air yang ada di Dusun Gogik. Sajen terdiri dari makanan, jajanan tradisional, hasil bumi, dan beberapa benda yang menjadi simbol pengharapan dan doa untuk keselamatan, keberkahan, kesuburan tanah dan air, serta kesejahteraan warga dusun.
Pak Sutopo selaku tokoh di Dusun Gogik menjelaskan bahwa ini bukanlah bentuk pemujaan atau praktik kemusyrikan. Namun, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas anugerah alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Dusun Gogik.
Kami berjalan mengikuti seorang warga yang membawa sesajen. Tuk yang kami datangi merupakan yang terjauh dibandingkan enam tuk lainnya. Pagi itu suhu udara menunjukkan angka 16 derajat Celcius. Terasa dingin bagi aku yang terbiasa hidup di daerah pesisir. Embusan angin dari puncak Gunung Andong menambah dinginnya udara.
Setelah melewati jalan desa, kami kemudian menuju jalan setapak menuju area perkebunan warga. Di jalan desa tadi beberapa warga menyapa dan mempersilakan kami untuk singgah di rumah mereka. Kawasan di sekitar tuk masih asri dengan tumbuhnya berbagai pohon. Salah satunya adalah pohon bambu. Tampah yang berisi sajen diletakkan di dekat tuk.
Bagi warga Dusun Gogik, tuk atau mata air tidak hanya sekadar sumber air, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga kelestariannya. Melestarikan sebuah tuk berarti menjaga kelestarian ekosistem dan lingkungan demi keberlanjutan kehidupan sehari-hari.


Kirab Budaya
Setelah dari tuk, kami kembali menuju rumah Kepala Dusun (Kadus) Gogik, Rangga Permana untuk mengikuti kirab budaya. Di sana sudah terlihat ratusan warga yang sudah bersiap untuk mengikuti kirab budaya. Kirab akan dimulai dari rumah kepala dusun, kemudian berjalan keliling dusun, dan berakhir di lapangan depan Kantor Desa Girirejo.
Kirab budaya akan dibagi menjadi tujuh kelompok yang menggambarkan masing-masing nilai kehidupan masyarakat desa. Seperti kelompok Pewetu yang menampilkan gunungan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas hasil alam yang diperoleh. Kemudian ada kelompok Pangon yang menggambarkan kehidupan peternakan.
Kelompok Sunggen yang menggambarkan tradisi menyunggi hasil alam yang biasa dilakukan oleh masyarakat desa. Selanjutnya ada kelompok Pawon yang bercerita tentang dapur tradisional yang juga berfungsi sebagai pusat kehidupan sebuah keluarga. Kelompok Dolanan terlihat paling meriah karena kelompok ini menampilkan berbagai permainan tradisional.
Kelompok Kesenian Budaya tampil lengkap dengan riasan wajah dan kostum yang digunakan untuk pentas. Saparan Gogik menampilkan kesenian soreng yang diikuti oleh pemuda dan warok oleh anak-anak. Kelompok ini menggambarkan kesenian sebagai hiburan dan sekaligus membentuk karakter masyarakat.




Kesenian soreng (kiri) dan warok saat puncak Saparan Gogik/Rivai Hidayat
Di barisan akhir kirab terdapat kelompok Meto’an Saparan. Kelompok ini membawa makanan yang berisi tumpeng, ingkung, dan komponen lainnya. Makanan ini akan digunakan dalam umbul donga—memanjatkan doa—sebagai bentuk rasa syukur, silaturahmi, gotong royong, dan persaudaraan.
Lapangan di depan Kantor Desa Girirejo menjadi titik akhir dalam kirab budaya. Acara dilanjutkan dengan umbul donga yang dipimpin seorang tokoh dusun dan diikuti oleh warga. Selesai berdoa, para warga melakukan tradisi kembul bujana atau makan bersama hidangan tumpeng dan ingkung sebagai wujud keharmonisan dan kerukunan warga dusun.
Di lapangan terlihat warga sedang berebut isi gunungan yang dibawa selama kirab. Menurut informasi, ini pertama kalinya warga berebut isi gunungan. Tahun-tahun sebelumnya tidak pernah ada yang berebut gunungan. Aku ikut berebut isi gunungan dengan mengambil beberapa buah tomat untuk aku makan secara langsung. Tomat yang aku makan ukurannya sedang, rasanya manis dan sedikit masam.


Tradisi kirab budaya ditutup dengan penampilan kesenian soreng. Kesenian ini tidak hanya diikuti oleh orang tua dan pemuda, tetapi juga anak-anak. Ini patut diapresiasi karena orang dewasa dan anak-anak bisa berkesenian secara bersama-sama dalam satu panggung kesenian. Ini adalah cara yang tepat untuk mewariskan kesenian soreng kepada anak-anak atau generasi selanjutnya.
Penampilan anak-anak dalam kesenian warok membuat acara semakin meriah. Penonton antusias melihat tingkah laku dan gerak yang anak-anak. Tidak lupa penonton memberikan tepuk tangan dan semangat untuk para penari cilik ini. Pementasan kesenian Warok menjadi penutup dari acara tradisi Saparan Gogik pagi ini.
Tradisi Saparan Gogik ditutup dengan acara ringgit purwo atau pertunjukan wayang kulit dengan dalang Ki Yusuf Anshor Ganendra beserta empat orang sinden, dan pemain niyaga. Pertunjukan ini digelar dari siang hingga tengah malam. Aku melihat pertunjukkan wayang kulit saat sore. Saat itu tidak banyak warga yang menonton. Mungkin sekitar belasan orang, termasuk dua orang anak yang sedang duduk di dekat pemain saron.


Semangat Merawat Tradisi
Ini merupakan ketiga kalinya aku datang ke tradisi Saparan Gogik. Pada dua kunjungan sebelumnya, aku tidak mengikuti rangkaian acara tradisi yang disiapkan oleh warga dusun. Saat itu, temanku yang merupakan warga Gogik menawarkan untuk ikut dalam rangkaian tradisi Saparan Gogik. Tanpa pikir panjang aku pun mengiyakan ajakan itu.
Keberhasilan perayaan Saparan Gogik tahun ini tidak bisa lepas dari kontribusi para pemuda yang tergabung dalam Kompag Sigra Jumangkah. Kelompok pemuda ini berkomitmen untuk menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali warisan budaya leluhur. Mereka bersama perangkat dusun, sesepuh, tokoh masyarakat, dan warga dusun berusaha untuk menghidupkan tradisi dan budaya yang ada di Dusun Gogik.
Kompag Sigra Jumangkah menyelenggarakan tradisi Saparan Gogik sebagai upaya melestarikan budaya melalui pertunjukkan dan ritual tradisi. Selain itu, ini adalah upaya mereka untuk merekam pengetahun, praktik budaya, nilai-nilai luhur, serta kearifan lokal yang hidup di masyarakat Dusun Gogik.
Kelompok Kompag Sigra Jumangkah dan warga Gogik percaya, tradisi yang ditanam dan dirawat dengan baik akan menghasilkan karakter luhur dalam masyarakat, serta akan menjadi warisan berharga bagi generasi selanjutnya.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Rivai Hidayat tinggal di Semarang. Memiliki hobi traveling, fotografi dan, menulis. Berusaha mendokumentasikan setiap perjalanan yang dilakukan


