Sudah lama mau ke Sadarehe lagi. Baru ada kesempatan, Sabtu (4/7/2026). Dari rumah di Kota Cirebon, saya berangkat pukul 06.00 WIB. Sengaja tidak dini hari, biar lebih jelas mengingat rute saat ke sana pertama kali, 5 November 2022.
Info terakhir saya dapat, base camp (BC) pendakian Gunung Ciremai via Sadarehe tidak lagi di blok Kebon Raja, tetapi pindah ke dekat Balai Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka. Empat tahun lalu saat saya dan tiga anak lanang menjajal rute Sadarehe, mobil yang kami tumpangi susah-payah melintasi jalan berbatu untuk mencapai Kebon Raja, titik awal pendakian. Cerita petualangannya saya ulas dalam dua bagian tulisan Mengunjungi Tebing Kawah Burung, Lokasi Jatuh Dua Pesawat Cessna.
Tapi kemarin, selepas melewati Balai Desa Payung, saya mendapati rambu penunjuk lurus jika mau ke BC Sadarehe. Padahal jalur sebelumnya, dari pertigaan ke kanan, membelah hutan dan hamparan ladang sayur-mayur. Kondisi jalan waktu itu rusak parah. Kami terguncang-guncang selama 45 menit dalam mobil Xenia.
“Ke base camp terus saja. Jalan utama sedang di-hotmix,” kata seorang bapak menguatkan keterangan spanduk larangan melintas ke arah selatan.


Sampai di BC Sadarehe
Saya lanjut mengaspal di jalan desa yang menanjak. Kira-kira seratus meter dari persimpangan, di sebuah tikungan sehabis jembatan, terlihat keramaian. Ternyata para pendaki di halaman BC Sadarehe. Saya menuju sisi depan homestay Kang Dian untuk parkir.
Kedatangan saya membuat mata sebagian pendaki menyelidik. Mungkin pikir mereka, saya kesiangan. Padahal baru pukul 07.15. Soalnya giat pagi itu tampak serius: seorang lelaki tengah memberi pengarahan lewat pengeras suara. Para pendaki memperhatikan sambil berdiri dan duduk.
“Lagi apa ini, Teh?” tanya saya ke perempuan berkacamata.
“Briefing, Pak.”
Saya lekas memotret si pembicara dan suasana kerumunan pendaki. Khawatir acaranya selesai, lalu bubar, dan saya kehilangan momen. Tidak! Saya berkeliling membidikkan kamera ponsel dari tiap sudut.
“Kami akan tegas. Jika hasil cek medis, kesehatan pendaki bermasalah, maka dilarang naik,” tutur si pembicara. “Pastikan perlengkapan pendakian komplet, logistik aman. Jangan sampai kondisi drop. Bahaya!”
Dia mengabarkan suhu di transit camp Kawah Burung (Pos 8), menurut laporan ranger di sana, minus tiga derajat celcius. “Masuk musim kemarau, udara lebih dingin. Bunga es muncul di permukaan tenda,” katanya.


Bertemu Ranger Pendakian 2022
Info dari petugas berompi hijau dengan label nama “M Ali Bawazier”, yang sedang memberi pengarahan adalah Ketua BC Trisakti Sadarehe, Sutari.
“Mau naik? Sudah registrasi?” cecar Ali sambil mengembuskan asap nikotin.
“Saya tidak mendaki, hanya main saja. Tahun 2022 saya pernah naik lewat sini,” jawab saya.
Mendengar penjelasan saya, ekspresi wajah Ali menjadi lebih akrab. “Dulu saya nanjak didampingi ranger Arif dan Ade.”
“Itu Arif lagi duduk,” Ali menunjuk sosok gondrong berjaket biru.
“Oke, nanti saya samperin. Ini mau lihat proses registrasi dulu. Nuhun!” saya menuju teras depan BC. Melepas sepatu dan masuk ruangan. Perwakilan tiap kelompok pendaki mengantre, menunggu pencocokan data booking online. Setelahnya ke bagian cek kesehatan.
Arif asyik memelototi ponsel. Sekelilingnya pengurus BC menikmati kopi pagi. Saya dekati Arif, memberinya kejutan: menyorongkan foto kami di Kawah Burung, 6 November 2022. Lajang 23 tahun itu terperanjat. “Loh, Pak! Sama siapa?”
“Sendiri.”


“Ini ranger waktu saya dan anak-anak naik via Sadarehe empat tahun lalu,” ucap saya ke orang yang kumpul, termasuk Sutari. Mereka senang mendengarnya. Saya lantas duduk di sebelah Arif dan mengobrol.
“Ade mana? Masih aktif (mendaki) kan?”
“Biasa, (Ade) ada. Tapi, belum kelihatan. Masih, Pak. Kemarin, saya baru turun.”
Saya bilang ingin ke Kebon Raja. Arif mengarahkan lewat Bukit Cidewata. Jalan masuknya di perkampungan sebelah BC. “Sampai puncak ada jalan aspal, ikuti terus hingga ke Kebon Raja.”
Saran Arif saya turuti.


Deru Truk dan Pikap
Beres registrasi dan lolos tes kesehatan, Sutari mengabsen pendaki untuk segera menaiki truk dan pikap menuju Kebon Raja. Di antara yang disebut adalah pasangan suami istri beserta kedua anaknya.
“Waduh, bawa anak kecil. Aturannya tidak boleh bawa anak kecil, loh!” semprot Sutari, tetapi si ayah tak bergeming.
Saya mengikuti pendaki keluarga itu. Di atas pikap, lelaki bernama Sunaryo (36), berkenan diajak ngobrol. Dia asli Indramayu, istrinya asal Majalengka. Mereka kini menetap di Cikarang, Bekasi.
“Umur berapa anaknya, Kang?”
Sunaryo menyuruh anak lelakinya menjawab. “Lima tahun,” jawab si bocah. Adik perempuannya 2,5 tahun.
“Sebelum Ciremai, kami pernah ke Gunung Lembu di Purwakarta dan Prau di Wonosobo,” beber Sunaryo.
“Oke, hati-hati, Kang. Nanti kita berkontak, ya!” saya melambai ke mereka.




Para pendaki menaikkan barang bawaan ke atas truk (kiri). Tren olahraga petualangan mendongkrak pendapatan masyarakat, termasuk warga Desa Payung yang tinggal dekat BC Sadarehe/Mochamad Rona Anggie
Larangan Tektok dan Pemberdayaan Ekonomi Warga
Sebelum berangkat ke kaki Cidewata Hill, saya berpapasan dengan Ali. Kata dia, setahun terakhir pengelola BC Sadarehe melarang pendakian tektok. “Banyak yang fomo, kan ngeri! Disangka mudah nanjak Ciremai sekali jalan.”
Sehingga, hanya BC Palutungan (Kuningan) dan Apuy (Majalengka) yang sekarang masih membolehkan tektok.
Siangnya, turun dari Cidewata Hill, situasi BC lengang. Saya menanyakan kontak Sutari ke Kang Iman yang sedang leyeh-leyeh, lalu meneleponnya. Kami berbincang hangat.
Sutari mengiyakan seiring waktu jumlah pendaki jalur Sadarehe meningkat sejak dibuka resmi, 25 Agustus 2022. Pihaknya selaku mitra Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), mendapat alokasi maksimal 450 pendaki per hari. “Dipotong sepuluh persen untuk giat kedinasan TNI, Polri, rekan pers, dan penelitian,” katanya.
Sabtu lalu (4/7/2026), terdata 114 pendaki. Rincian tarifnya: SIMAKSI termasuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp90.000, booking online Rp50.000, dan ongkos pikap antarjemput Rp60.000. Jadi, total per pendaki dikenakan Rp200.000.
“Alhamdulillah, minat wisatawan ke BC Sadarehe cukup tinggi. Berimbas pada perekonomian warga. Pemilik mobil bak, ketika tidak sedang mengangkut sayur-mayur, ya, bawa pendaki,” tutur Sutari semringah.
Ada pula warga yang membuka warung makan, dan menyediakan penginapan. Tercatat, kini 10 homestay siap menerima tamu luar kota.
Kapan kuota pendakian penuh? Sutari menyebut momen vakansi Idulfitri, Agustusan, dan perayaan tahun baru. “Kalau libur pelajar sekolah seperti sekarang, (kuota) setengahnya. Karena mungkin terbagi ke gunung lainnya.”


Sutari menyarankan jika para pengelana mau melihat edelweis (Anaphalis javanica) bermekaran, mendakilah di pertengahan Agustus hingga akhir September. Harum bunga abadi bakal mengiringi perjalanan dari Pos 7 Tanjakan Cita-Cita ke Pos 8 Kawah Burung. “Akan jadi kenangan tak terlupakan. Padang edelweis rute Sadarehe memang memesona,” ujarnya.
Sebelum pamit pulang, saya tanya Kang Iman, kapan perbaikan jalan utama ke Kebon Raja rampung?
“Baru dua bulan, targetnya enam bulan beres. Pengaspalan jalan sepanjang tujuh kilometer,” jelasnya. “Semoga pas pendakian Agustusan, separuh jalan boleh dilewati. Biar memudahkan akses ke Kebon Raja.”
“Amin. Semoga, Kang!”
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.


