TRAVELOG

Tradisi Mengantar Jemaah Haji di Lombok

Kebiasaan masyarakat Lombok mengantar keluarganya menunaikan ibadah haji sampai ke penampungan sementara di embarkasi haji menjadi fenomena unik yang perlu diceritakan. Ribuan warga berdatangan dengan membawa bekal bahkan menginap di trotoar jalanan.


Mendung menyelimuti kota saat saya melintasi kemacetan jalan Sudjono Lingkar Selatan, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram pada Rabu siang (29/4/2026). Sepanjang sekitar 400 meter, kawasan Asrama Haji Lombok yang berada di jalan itu dipadati ratusan para pedagang dadakan yang membangun lapak jualan di sisi kiri dan kanan trotoar. Dari penjual es tebu hingga pakaian serba 35 ribu menghiasi jalan tersebut.

Tampak ratusan pejalan kaki mengambil sebagian bahu jalan karena trotoar sudah dibangun lapak dadakan. Kondisi ini membuat arus lalu lintas di jalan tersebut tersendat. Terlihat kendaraan roda dua maupun mobil memperlambat kecepatan.

Bukan tanpa alasan, ratusan para pedagang ini mengais rezeki musiman saat perayaan ibadah haji di Lombok. Mereka memanfaatkan antusiasme warga yang datang untuk mengantarkan keluarganya menunaikan ibadah haji yang singgah sementara di Asrama Haji Embarkasi Lombok.

Warga Desa Ungga, Lombok Tengah saat mengantar jemaah haji (Idham Khalid)
Warga Desa Ungga, Lombok Tengah saat mengantar jemaah haji/Idham Khalid

Fenomena mengantar jemaah haji ini menjadi sebuah tradisi tahunan yang sangat khas di masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Setiap tahun, warga Lombok berbondong-bondong mengantar anggota keluarga mereka yang akan berangkat menunaikan ibadah haji, salah satu dari lima rukun Islam. Sebelum calon jemaah haji diberangkatkan ke tanah suci, mereka akan singgah terlebih dahulu di Asrama Haji Embarkasi Lombok.

Satu per satu kendaraan yang didominasi kendaraan bak terbuka atau pikap berhenti menurunkan penumpangnya tidak jauh dari pintu gerbang Asrama Haji Lombok. Mereka adalah pengantar jemaah haji dari kampung yang berbeda-beda.

Tak sedikit ibu-ibu yang membawa bekal lauk-pauk yang telah disiapkan dari rumah mereka. Mereka juga membawa tikar untuk alas duduk, menyantap hidangan di pinggir-pinggir jalan yang sudah ramai oleh pengunjung.

Rantang berisi makanan tradisonal dan termos seolah menjadi ciri khas kehangatan bagi keluarga jemaah pengantar calon haji. Mereka tampak lepas menyantap hidangan makanan di pinggir jalan meski sesekali klakson kendaraan berbunyi nyaring di hadapan mereka.

Saya mencoba menuju pintu masuk gerbang Asrama Haji Lombok. Di samping gerbang, saya melihat sejumlah warga tertidur pulas meski siang hari. Mereka tertidur dengan alas seadanya, tampak kondisi rantang makanannya masih berserakan. Mereka dikabarkan menginap karena menunggu keberangkatan haji yang dijadwalkan penerbangan pada Subuh.

Dua orang pengantar tampak tertidur di samping gerbang Asrama Haji Lombok (Idham Khalid)
Dua orang pengantar tampak tertidur di samping gerbang Asrama Haji Lombok/Idham Khalid

Bertemu Pengantar Jemaah Haji

Di depan pintu gerbang Asrama Haji Lombok yang dibatasi jalan raya, saya bertemu dengan salah satu rombongan pengantar jemaah haji asal Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah. Mereka dengan setia menanti keluarga mereka keluar dari asrama untuk bersalaman.

Di bawah pohon ketapang yang rindang, rombongan pengantar jemaah haji ini duduk menggelar tikar sambil membawa makanan yang mereka bawa dari rumah. Sesekali, mereka didekati oleh para pengamen dan penjual obat-obatan yang menawarkan jasa dan dagangannya.

Saya berkesempatan berbincang dengan Miar (65), salah satu anggota keluarga pengantar jemaah haji asal Desa Ungga. Miar mengungkapkan bahwa mengantar jemaah haji adalah suatu kebanggaan dan bentuk dukungan serta doa dari dirinya dan keluarga.

Untuk perjalanan dari Kabupaten Lombok Tengah menuju Kota Mataram, ibu kota Provinsi NTB, Miar dan keluarga dan tetangganya patungan membayar pikap dengan biaya 20.000 rupiah per orang.  Total anggota rombongannya berjumlah 13 orang.

“Jadi kita tadi borong pikap, ongkosnya sama-sama 20 ribu untuk sampai ke sini, jadi 230 ribu,” ungkap Miar.

Pikap yang mengangkut warga pengantar jemaah haji tiba di depan Asrama Haji Lombok (Idham Khalid)
Pikap yang mengangkut warga pengantar jemaah haji tiba di depan Asrama Haji Lombok/Idham Khalid

Makna Mengantar Jemaah Haji Bagi Warga

Bagi Miar dan keluarganya, mengantar jemaah haji bukan sekadar sebuah kewajiban, melainkan juga sebuah kebanggaan. Ia menjelaskan, tradisi ini sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Lombok, ketika  pengantar jemaah haji selalu memberikan doa dan dukungan, meskipun mereka tidak bisa bertemu langsung dengan keluarga yang akan berangkat haji.

“Kami di sini mau salaman, memberikan doa kepada mereka yang akan berangkat ke tanah suci Makkah,” kata Miar dengan penuh harapan.

Meski tidak bisa bertemu secara langsung karena adanya penjagaan ketat dari petugas haji, Miar merasa bahagia dan lega melihat keluarganya berada dalam detik-detik keberangkatan, meskipun hanya dari kejauhan.

“Kami belum merasa lega kalau belum mengantar jemaah haji sampai di sini (Asrama Haji), padahal kami juga di rumah sudah bersalaman, ini memang kebiasaan kami,” kata Miar. Miar mengaku, sudah lima tahun tidak pernah absen mengantar jemaah haji ke asrama haji, mengingat, selalu ada keluarganya yang berangkat haji sejak 2021. 

Sujumlah warga menunggu di depan gerbang Asrama Haji Lombok (Idham Khalid)
Sujumlah warga menunggu di depan gerbang Asrama Haji Lombok/Idham Khalid

Ia menyebut, selama perjalanan jemaah haji ke tanah suci, keluarga di kampung biasanya akan mengadakan syukuran dengan mengadakan serakalan atau pembacaan barzanji selama tujuh hari. Hal ini dilakukan untuk mendoakan keselamatan para calon haji biar diberikan kesehatan dan kekuatan.

Setelah berbincang dengan Miar, saya melanjutkan perjalanan menuju salah satu lapak kopi yang tidak jauh dari Asrama Haji. Di tempat ini, saya bertemu dengan Burhan, seorang pengantar jemaah haji asal Desa Bodak, Lombok Tengah. Sama seperti Miar, Burhan merasa sangat bangga dapat mengantar ibunya, Nikmah, yang akan berangkat haji pada tahun 2026.

“Iya ini memang tradisi kami, kami mengantar dari rumah, kemudian pelepasan di Kabupaten dan sekarang di Asrama Haji, kami mengantar sampai di mana kami mampu, dan di sinilah batas kemampuan kami mengantar tamu Allah,” kata Burhan yang juga datang dengan rombongan keluarga.

Burhan mengaku bahagia, setelah 15 tahun menabung, ibunya akhirnya mampu menunaikan rukun Islam yang tidak banyak orang bisa mencapainya.

Syarifah, penjual bakso bakar di Jalan Asrama Haji Lombok, NTB (Idham Khalid)
Syarifah, penjual bakso bakar di Jalan Asrama Haji Lombok, NTB/Idham Khalid

UMKM Raup Untung Musiman

Syarifah (47), pedagang musiman di asrama haji, mengaku mendapat untung lebih saat musim haji tiba di Lombok. Selama berjualan minuman dan makanan ringan, ia mengaku mendapatkan omzet hingga ratusan ribu rupiah per harinya. “Alhamdulillah kalau musim haji ini kita jualan sosis bakar, terus minuman dan nasi bungkus, dapat (omzet) kita jualan itu sekitar 500 ribu,” kata Syarifah.

Meski penghasilannya sedikit turun dari tahun sebelumnya, karena bersaing dengan banyak pedagang keliling, tetapi ia tetap merasa bersyukur.

“Kalau sekarang memang agak turun pendapatannya, gak kayak tahun sebelumnya capaian kita 600 sampai 700 ribu,” ungkap Syarifah.

Syarifah menuturkan, ia sangat senang saat rombongan pengantar jemaah haji asal Lombok Timur dan Lombok Tengah. Menurutnya, dua daerah ini sangat antusias mengantar keluarganya, bahkan rela menginap membawa tenda sendiri. Tidak hanya itu, para pengantar juga membawa beras dan masak di pinggir jalan.

“Kalau jemaah Lombok Timur dan Lombok Tengah itu pasti ramai, mereka sampai bawa beras, nginep di sini bawa tenda,” tuturnya.

Tempat salat warga pengantar jemaah haji (Idham Khalid)
Tempat salat warga pengantar jemaah haji/Idham Khalid

Untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus), warga pengantar biasanya memanfaatkan fasilitas MCK seadanya yang disediakan warga setempat.  Fasilitas MCK ini sangat sederhana, warga membuatnya dari bahan dinding triplek dan terpal dengan tinggi kurang lebih dua meter.

Pengunjung membayar 2.000 rupiah untuk sekali penggunaan MCK. Sementara untuk fasilitas salat juga diterapkan dengan tarif serupa dan fasilitas seadanya di tepian sawah tidak jauh dari asrama haji.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Idham Khalid

Tinggal di Lombok. Menyukai isu sosial budaya, lingkungan dan pariwisata.

Idham Khalid

Tinggal di Lombok. Menyukai isu sosial budaya, lingkungan dan pariwisata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melangkah Bersama Mendukung Rinjani Nol Sampah 2025