Ada satu sumber mata air yang begitu berkesan buat saya. Namanya Kali Udal Gumuk, berada di Dusun Gumuk, Desa Treko, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Masih segar dalam ingatan saya betapa jernih dan teduhnya kali tersebut. Lokasi yang tidak jauh dari pusat kota juga memudahkan siapa pun yang ingin berkunjung.
Perjalanan menuju sumber air kami awali dengan menyantap mangut beong. Saya baru mengetahui jenis ikan tersebut ketika mendapat rekomendasi dari teman. Tentunya, saya tertarik untuk menikmati sajian mangut beong yang dipadukan dengan nasi putih hangat. Berdasarkan hasil pencarian, ikan beong (Hemibagrus nemurus) merupakan ikan yang banyak ditemukan di Kali Progo1. Dagingnya empuk dan gurih, apalagi dipadukan dengan bumbu yang kaya rempah. Pedasnya mampu membuat saya ketagihan.
Setelah menikmati pedasnya mangut beong dan hangatnya teh, kami mencari tempat yang teduh dan segar untuk melepas penat. Dari sekian banyak wisata air di Magelang, kami memutuskan pergi ke Kali Udal Gumuk. Belum ada satu pun di antara kami yang pernah mengunjungi tempat tersebut.


Perjalanan Menuju Kali Udal Gumuk
Perjalanan dipandu oleh Google Maps. Ternyata letaknya tak jauh dari pusat kota sehingga tidak ada adegan kesasar dalam proses perjalanan. Hal yang paling penting juga terpenuhi, yaitu akses jalan yang aman. Ketika sudah hampir sampai, kami memastikan kembali letak kali tersebut. Salah satu di antara kami turun untuk menanyakan lokasi kepada warga sekitar. Benar saja, letak Kali Udal tak jauh dari tempat kami bertanya.
Menariknya, untuk masuk ke kawasan ini tidak dipungut biaya. Kami hanya perlu membayar biaya parkir mobil saja. Sesudah memarkirkan mobil, kami melihat rombongan keluarga kecil yang sepertinya baru selesai bermain air di kali. Kami pun langsung turun dan menanyakan jalan masuk menuju sungai tersebut. Berbekal jawaban dari pengunjung lain yang menyatakan bahwa jalan tidak jauh, kami pun semakin bersemangat menuju lokasi.


Pengunjung perlu berjalan beberapa ratus meter dari tempat parkir ke arah sungai. Akan tetapi, tidak perlu khawatir karena jalannya tidak terjal. Sudah ada undak-undakan yang memudahkan akses pengunjung. Di samping kanan-kirinya juga diisi oleh rimbunnya pepohonan serta rerumputan hijau.
Suara orang yang sedang bermain air terdengar, begitu juga aliran air sungai. Tandanya sebentar lagi akan sampai di tempat tujuan. Benar saja, jernihnya air sungai sudah terlihat. Air bening tersebut berwarna kehijauan karena memantulkan cahaya dari langit, bebatuan, dan pepohonan di sekitar sungai.


Menyusuri Sumber Mata Air
Meskipun saya pergi ke sana bukan saat hari libur, sungai ini cukup ramai pengunjung. Ada beberapa remaja yang sedang menyusuri sungai menggunakan ban. Ban tersebut disewakan warga agar pengunjung dapat merasakan keseruan menyusuri aliran air dengan santai dan aman.
Salah satu teman saya kemudian mengajak untuk melihat bagian atas sungai. Meskipun begitu, jalur menuju bagian atas tidak begitu menanjak. Cukup berjalan beberapa langkah untuk menuju hulu sungai tersebut. Di situlah letak mata air sungai.


Mata air sebening kaca tersebut memperlihatkan tanaman yang tumbuh subur di dalam air. Bebatuan kecil dan dasar mata air juga terlihat jelas. Tentunya pengunjung tidak boleh mandi dan bermain air di area mata air tersebut.
Kedua kalinya kami semua terdiam menikmati suasana alam yang begitu syahdu. Beberapa saat kemudian saling menunjuk ke dasar mata air. Terdapat gerakan dari bawah dasar mata air yang menghasilkan gelembung-gelembung halus ke permukaan. Gerakannya tanpa henti, seperti jantung di dalam tubuh manusia. Itulah sumber keluarnya air yang begitu halus, seperti tidak membutuhkan tenaga ekstra untuk memunculkan air di balik pasir.


Suasana Sekitar Kali dan Pesan untuk Pengunjung
Kami kembali berjalan mendekati sungai, lalu duduk di bawah rindangnya pohon. Di sekitar sungai terdapat warung milik warga yang menjual aneka makanan dan minuman. Sayangnya, kami tidak membeli apa pun karena perut masih kenyang oleh mangut beong.
Selain warung, tersedia juga gazebo beralaskan tikar untuk pengunjung. Jadi, pengunjung tidak perlu risau meskipun tidak dipungut biaya masuk. Fasilitas yang tersedia di area ini sudah cukup lengkap untuk pengunjung.
Sesekali saya memasukkan kaki ke dalam aliran air. Dinginnya meresap ke dalam pori-pori kulit. Sambil menikmati jernihnya air, saya juga berbincang dengan penjual yang ada di sana. Bapak penjual menjelaskan, dahulu sungai tersebut digunakan untuk kehidupan sehari-hari warga, termasuk untuk memandikan kerbau.
Kali Udal Gumuk telah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi masyarakat sekitar. Sehingga, menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaganya. Papan bertuliskan larangan untuk meracuni, menyetrum, dan mengebom ikan juga menjadi pengingat bagi siapa pun untuk terus merawat ekosistem di sana. Kali ini bukan hanya menjadi tempat untuk menepi sementara, melainkan juga sumber daya alam yang terus tumbuh dan menghidupi warga.
- Siti Maziyah, Sri Indrahti, dan Alamsyah, “Inventarisasi Kuliner Khas Jawa Tengah sebagai Upaya Pelestarian Warisan Budaya Takbenda Ikon Jawa Tengah”, Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, vol. 7, no. 1, pp. 44-49, Juni 2023. https://doi.org/10.14710/hm.7.1.44-49 ↩︎
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Senang berkelana untuk menemukan perjalanan penuh warna.

