Kami memilih bertahan. Petugas loket menawarkan pengembalian karcis jika mau pulang. Sore itu cuaca seketika berubah. Dari temaram langit senja diselingi semilir angin, menjadi gelap dengan kelebat petir.
Pukul 17.00 WIB, kami bergegas ke pendopo yang terletak di bagian paling tinggi area kolam renang Side Land, Desa Kaduela, Kabupaten Kuningan. Tenda ukuran besar dan sedang kami bangun. Pakaian dan perbekalan diamankan. Bersiap andai air langit tumpah.
Anak-anak berenang lagi. Angin bertiup kencang. Hujan deras sejadi-jadinya. Pengunjung lain tersisa satu keluarga. Padahal mereka baru tiba. Sudah disambut cuaca tak bersahabat.


“Sebelum closing, barangkali tidak jadi camping, boleh diambil lagi (uangnya),” kata petugas. Jujur, saya respek pada manajemen Side Land. Tidak mementingkan laba semata, tapi memperhatikan pula keselamatan tamu. Sebuah relasi kekeluargaan yang nyata, antara penyedia layanan wisata dan konsumennya.
Kalau mereka mau, bisa saja langsung tutup loket. Tanpa menghiraukan saya yang membawa anak kecil. Namun, mereka berbaik hati, menyilakan refund jika berubah pikiran.
“Biarlah Pak, lanjut saja! Semoga nanti malam cerah,” jawab saya setengah berteriak, mengimbangi gemuruh hujan dan angin yang menerjang pendopo. Tenda kami terhempas. Tidak terbayang sebelumnya, cuaca berubah menakutkan.
“Masuk ke tenda!” perintah saya ke dua bocil perempuan. Sementara tiga anak lanang, saya panggil untuk menyudahi berenang. Sebentar lagi magrib. Jangan berkeliaran saat azan berkumandang. Mereka segera ke kamar bilas.


Badai Pasti Berlalu
Pengalaman camping di dataran lebih tinggi dari Side Land, jadi pertimbangan saya tidak mengubah rencana. Tentu ada antisipasi, kalau sampai isya cuaca ekstrem, kami akan pulang.
Waktu kemah di lereng Ciremai yang pernah saya ulas dalam Memandang Atap Jawa Tengah dan Jawa Barat dari Ipukan, dua bocil wadon bisa beradaptasi dengan suhu rendah. Tadinya saya khawatir rewel kedinginan. Alhamdulillah, baik-baik saja.
Makanya, sore itu saya yakin Una (6) dan Alma (4) mampu melewati badai di Side Land dalam naungan tenda. Saya siaga memantau keadaan, dan bakal memutuskan pergi jika cuaca memburuk.
Malam pun tiba. Angin mereda. Hujan lebat berangsur gerimis. Selepas salat, kami meneguk teh manis hangat. Dua bocil keluar tenda. Minta makan. Ibunya membuka bekal sayur sup bakso dan ayam suwir kecap. Mereka melahap bareng kakaknya. Saya enggan ketinggalan. Jangan sampai masuk angin.
Ubin perlahan mengering. Kami lesehan di atas matras. Pakaian di badan sedikit basah. Terkena tempias badai. Udara tidak terasa dingin. Mendung memang masih menggelayut, tetapi setidaknya kini lebih menenangkan. Anak-anak kembali ceria, mengusir kucing dengan pistol air.
Ah, syukurlah! Bertujuh, kami merengkuh malam. Lewat isya ada pengunjung mampir. Mau tahu suasana Side Land ketika lampu-lampu menghiasi pepohonan dan jembatan ikonisnya. Cantik sekali! Tak lama mereka pulang. Side Land pun kembali menjadi milik kami. Melepas tawa, melempar canda.


Segarnya Berenang Pagi
Lengkap rasanya rekreasi di Side Land. Bisa camping sekaligus berenang. Mau main ATV juga ada. Atau keliling perbukitan Kaduela pakai jip 4WD. Harga sewanya ramah di kantong.
Suhu udaranya relatif normal. Tidak bikin gerah, tidak juga menggigilkan. Aman, kalau lupa bawa jaket. Hanya saja nyamuknya ganas banget. Sebaiknya bekal losion penghalau serangga. Perbanyak camilan untuk melengkapi keseruan obrolan.
Awalnya abang kembar tidur di luar tenda. Eh, kian larut si nyamuk tambah bernafsu. Sekujur tubuh dinikmati. Kaburlah kedua anak lanang ke dalam tenda. Bentol merah membekas di kulit.
Subuh menjelang. Kami menuju musala di tepi persawahan. Penerangan di Side Land baik. Jangan takut gelap mengurung. Cuma hati-hati permukaan paving blok licin. Kombinasi lumut tipis dan embun. Saya dua kali terpeleset. Tak mengenakkan.
Fajar menyingsing. Menyibak awan yang berjejalan. Tirai langit terbuka, aduhai indahnya. Kokok ayam bersahutan. Deretan kolam berair bening amat menggoda. Memandangnya saja menyegarkan, apalagi menceburkan badan.
Tak perlu aba-aba siapa pun. Saya dan anak-anak lekas ganti pakaian. Serasa kolam renang pribadi. Kami berkejaran riang gembira. Byuurrr…
Semalam aktivitas pengurasan berlangsung. Petugas membersihkan dasar kolam. Hasilnya, air kolam perawan pagi itu, lebih higienis ketimbang pertama kami datang, kemarin siang.
Air murni pegunungan memenuhi lima kolam dengan kedalaman 50 cm, 50–80 cm, 100 cm, 80–120 cm, dan 1–1,5 meter. Tanpa campuran kaporit. Bening alami. Tidak bakal iritasi ke kulit. Wah, tubuh terasa bugar sehabis renang bolak-balik. Anak-anak puas main perosotan.








Sejumlah fasilitas pendukung yang disediakan untuk pengunjung Side Land, seperti pancuran air untuk membilas badan, gazebo untuk bersantai, wahana ketangkasan anak, dan musala di tepi persawahan/Mochamad Rona Anggie
Destinasi Wisata Ramah Anak
Kunjungan kami ke Side Land, Senin (30/3/2026), masih dalam suasana liburan Idulfitri 1447 H. Sebenarnya sudah masuk pekan awal sekolah. Namun, ada saja yang belum kembali ke daerah asal. Memanfaatkan puncak arus balik beres, ingin tetap di kampung satu-dua hari lagi.
Direktur BUMDes Arya Kamuning, Iim Ibrahim (50) mengungkapkan, sepekan usai lebaran (22–29 Maret 2026), terjadi lonjakan wisatawan ke sana. Peningkatan jumlah pengunjung mencapai 70 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Alhamdulillah, Side land dan Telaga Cicerem ramai. Kalau digabung rerata pelancong masa liburan lebaran kemarin per hari ada seribu lebih,” tuturnya kepada penulis, Minggu (19/4/2026).
Khusus Side Land saja, lanjut dia, dalam sehari didatangi 500 pelancong regional. Ada dari Jakarta, Bandung, Bogor, dan beberapa kota di Jawa Tengah. “Mereka sekalian silaturahmi ke keluarga di Cirebon dan Kuningan, mampir ke Side Land,” katanya semringah.
Terkait kemunculan objek wisata sejenis di desa tetangga, Iim menyambut positif. Menurutnya, pilihan tamasya warga kota makin beragam ke daerah Kuningan. Membuat pengelola berlomba menyuguhkan yang terbaik.


Iim menyebutkan Telaga Cicerem masih favorit karena kekhasannya. Sementara Side Land jadi rujukan kumpul keluarga besar, sebab memfasilitasi camping dan renang sekaligus. “Kemarin ada arisan keluarga, 70 orang bermalam. Anak-anak paling antusias,” ucapnya bangga.
Pengalaman camping di Side Land memberi pelajaran penting. Destinasi wisata ramah anak mesti jadi perhatian. Kolam renangnya harus aman, baik kedalaman maupun wahana penunjang. Jika ada perosotan, orang tua wajib mendampingi buah hatinya. Pengelola harus pula menyiagakan petugas pengawas untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.
Jangan khawatir tempat beristirahat. Ada banyak gazebo gratis. Pengunjung akan nyaman. Anak-anak bisa menikmati bekal jika lelah bermain. Kalau mau jajanan tradisional tinggal ke warung.
Akses ke Side Land juga memadai. Kontur jalannya tidak menanjak curam. Aspalnya mulus melintasi perkampungan, termasuk dekat Balai Desa Kaduela, Polsek Pasawahan, dan puskesmas setempat.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.


