Bukit kecil ini dulunya milik Tuan Schalk. Si Belanda menjualnya ke Achmad Soebari tahun 1949. Pemilik baru menanaminya aneka tumbuhan, termasuk cengkih. Bekal untuk hari tua.
Soebari membangun dua rumah kecil di situ. Berbahan kayu, khas perdesaan. Belakangan, hunian tersebut dibangun ulang oleh Argha Darma Tubagus (53), cucu Soebari.
“Sudah mau ambruk. Saya izin ke Om Harrie untuk memugarnya,” kata Argha yang kini tinggal di Sukmajaya, Depok. Argha adalah putra Kettie Soebari, kakak kandung Harrie Hardiman Soebari; salah satu pendiri perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung tertua di Indonesia, Wanadri.


Di atas lahan seluas 4,5 hektare itu, sekarang berdiri pendopo sebagai monumen cikal bakal Wanadri. Di dekatnya ada vila Ardanta yang disewakan untuk umum.
“Pendopo itu dulunya rumah kayu punya kakek. Satu rumah lainnya, saya bikin vila,” ujar Argha.
Sebuah prasasti berisi Mukadimah Anggaran Dasar Wanadri dan simbol mata angin berlatar oranye, terpatri depan pendopo. Siap menyambut tamu yang datang.
Argha menegaskan kediaman sang kakek yang dikenal sebagai Pasir Bungkirit, bukan semata perekat kenangan keluarga besarnya, melainkan jejak sejarah Wanadri sebagai organisasi pencinta alam dan petualangan kenamaan negeri ini.
Semasa hidupnya, Soebari memiliki sembilan anak. Kini tersisa Harrie (85) dan Etin (bungsu). “Ibu saya nomor tujuh, Om Harrie kedelapan,” tutur Argha.


Mengunjungi Pasir Bungkirit
“Jalan masuknya depan Hotel Purnama Mulia,” kata perempuan di ujung telepon. Posisi saya di seberang Hutan Kota Bungkirit, Jalan Raya Cigugur, Kabupaten Kuningan.
Saya putar balik. Ternyata tidak jauh. Tembok batu buatan jadi patokan. Persis depan hotel. Setapak berkerikil dilalui. Persawahan dan pepohonan rindang memanjakan mata. Selamat datang di Pasir Bungkirit!
Selepas subuh saya geber motor ke sana, Sabtu (28/3/2026). Satu jam perjalanan dari kediaman saya di Kompleks Permata, Harjamukti, Kota Cirebon.
Untung istri Mang Dani mengangkat ponsel suaminya. Saya pun tiba di tujuan. Titik Pasir Bungkirit belum ada di peta digital. Kang Mustofa (W 1270 ERA) memberi acuan pertigaan Cigugur ke timur sekitar setengah kilometer.
Sejak 2016, Dani yang asli Garut menunggui Pasir Bungkirit. Dia menempati rumah di antara pendopo dan vila. Bersisian dengan kolam ikan. “Sekarang lagi pembuatan taman,” katanya menyebut aktivitas pengembangan lahan di sana.
Vila sendiri baru disewakan dua bulan terakhir. Pelancong domestik dari Jawa Barat cepat merespons. Posisinya strategis ke arah objek wisata Waduk Darma dan Palutungan. “Mau ke Ciremai dekat,” ujar Dani.
Secangkir kopi dan dodol Garut disuguhkan. Saya lesehan di pendopo. Menghirup udara pagi. Oksigen segar bertebaran. Pasir Bungkirit beririsan dengan hutan kota. Sejuk sekali.


Kepanduan Bubar
Agar cerita Pasir Bungkirit tak lenyap dilumat zaman, Argha bersama personel Wanadri menghimpunnya. Kepada penulis, ayah tiga anak itu mengirim empat lembar tulisan berjudul Narasi Kisah Pasir Bungkirit (3 Maret 2026).
“Itu hasil wawancara Kang Galih dan Echo dengan Om Harrie. Saya melengkapi sedikit, final editing,” terangnya.
Terungkap usai kemerdekaan, wilayah Kuningan masih diliputi kengerian perang. Belanda belum mau mengakui kedaulatan Indonesia. Agresi militer dilancarkan (1947 dan 1948). Gerombolan DI/TII juga tak kalah ganas.
Oleh Soebari, Harrie sempat diungsikan ke Cirebon. Setelah situasi dirasa aman, tahun 1949 mereka mulai menetap di Pasir Bungkirit. “Tanah itu dibeli kakek seharga 1.500 gulden,” beber Argha.
Harrie kecil belajar di Sekolah Rakyat (SR) Cigugur. Dia aktif dalam Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI). Masa SMP dilewatinya di Cirebon. Lanjut SMA di Bandung. Seiring waktu minatnya pada aktivitas petualangan menguat.


Apalagi pas di Bandung, Harrie bertemu keponakannya: Ronny Nurzaman, Eddy Achmad Fadillah, dan Achmad Hidayat (Yayat). Nama terakhir pernah diulas dalam 75 Tahun Kang Yayat, Pendiri Wanadri yang tinggal di “Bromo”.
Ketika gerakan Pandu dibubarkan tahun 1961, dan semua kelompok kepanduan dilebur dalam Pramuka, keempat saudara sedarah itu memutuskan tidak bergabung.1
Memasuki 1962, datang saudara lainnya, Bambang Pramono. Dia anak Soenardjo Atmodipoerwo, pencipta lambang Pramuka: kitri (tunas kelapa).
Harrie lantas kuliah di Fakultas Ekonomi Unpad, Ronny ke Planologi ITB, dan Bambang lulusan Teknik Sipil Unpar. Di kampus, Harrie bersahabat dengan Satria Widjaja Soemantri. Bareng Eddy dan Yayat, mereka kerap menjelajah Lembang, Tangkuban Parahu, Maribaya, Ciwidey, hingga Gunung Guntur dan Papandayan di Garut.2
Argha menuturkan, di rumah kayu yang sekarang jadi pendopo, Mama Soebari—mama adalah panggilan penghormatan kepada ayah dalam budaya Sunda—suka memberi wejangan kehidupan dan semangat kepecintaalaman kepada Harrie dan sahabatnya.
“Perenungan Om Harrie tentang sebuah organisasi petualangan bermula di Pasir Bungkirit,” katanya. Mama Soebari kerap pula mengisahkan pendakian ke Ciremai semasa mudanya. “Bikin penasaran anak-anaknya, terutama Om Harrie.”




Warisan Mama Soebari (kiri) dan jalur Palutungan Ciremai, tempat petualangan Harrie remaja/Mochamad Rona Anggie
Awalnya Tjiremai, Ganti Wanadri
Pada 17 Januari 1964, “Tjiremai” dipilih sebagai nama awal kelompok Harrie dan kelima sohibnya. Mereka berkelana ke hutan Pananjung dekat Goa Rengganis, hingga kemudian mencetuskan Ikrar Pangandaran; janji enam sahabat untuk membentuk sebuah perhimpunan.3
Mengapa “Tjiremai”? Demi mengenang Pasir Bungkirit dan Gunung Ciremai. Pulang ke Bandung, Harrie dkk mematangkan konsep serta mencari personel untuk melengkapi anggota perhimpunan.
Tak berselang lama, Harrie mendapati buku berjudul Padalangan di Pasoendan milik Mama Soebari, karangan Mas Atje Salmoen. Di halaman 196, Harrie yang saat itu berusia 23 tahun, menemukan sebuah kata: Wanadri, yang berarti “gunung di tengah hutan”.
Dalam laman kareumbi.wordpress.com disebutkan, 17 Januari 1964 ditetapkan sebagai de facto pendirian Wanadri. Harrie dan lima sahabatnya menjadi angkatan PENDIRI. Harrie Hardiman Soebari (W 001 PEN), Ronny Nurzaman (W 002 PEN), Bambang Pramono (W 003 PEN), Satria Widjaja Soemantri (W 004 PEN), Eddy Achmad Fadillah (W 005 PEN), dan Achmad Hidayat (W 006 PEN).


Roda Organisasi Melaju
Selanjutnya, guna memenuhi syarat pendirian organisasi, Harrie merekrut 31 orang angkatan PELOPOR. Gedung Front Nasional saksi penyerahan rancangan awal dan daftar nama anggota kepada Wali Kota Bandung.
Tercatat 16 Mei 1964, pemerintah mengesahkan Wanadri sebagai perkumpulan resmi. Setiap tahunnya, tanggal ini diperingati sebagai hari lahir Wanadri.
Terbentuklah Dewan Pengurus Wanadri I (Mei 1964–Oktober 1964), yang terdiri dari Harrie Hardiman Soebari (ketua), Ronny “Kebo” Nurzaman (wakil ketua), serta dua orang sekretaris, Satria Widjaja Soemantri dan Bambang Pramono. Berikutnya Ketua Suku dijabat Ronny Nurzaman sampai tahun 1966, karena Harrie melanjutkan sekolah.


Argha menegaskan, pembangunan pendopo Wanadri di Pasir Bungkirit merupakan penghormatan kepada Mama Soebari. Sang Abah telah mewariskan tekad dan doa, yang tergoret dalam Mukadimah Anggaran Dasar Wanadri.
Sebagai penghargaan, Achmad Soebari dikukuhkan menjadi W 001 PENASIHAT. Pada 12 November 1976, di usia 75, Soebari menunaikan haji ke Tanah Suci dan wafat di sana 10 Desember 1976. Jasadnya dikuburkan di pemakaman umum Ma’la, Makkah al-Mukarramah. Semoga Allah azza wa jalla mengampuni dan merahmatinya.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.


