Kalau dunia punya konsep 7 (seven) summits di tujuh benua, Indonesia dengan seven summits di tujuh pulau, maka di Jawa Timur juga punya tujuh puncak gunung tertinggi. Sebagian pendaki bilang gunung-gunung di Jawa Timur memiliki tingkat kesulitan yang cukup ekstrem, jika dibandingkan dengan gunung-gunung Jawa Tengah atau Jawa Barat. Salah satu indikatornya adalah durasi pendakian yang bisa lebih dari 2–3 hari untuk beberapa jalur pendakian.
Beberapa gunung mungkin tidak hanya jalurnya saja yang menantang, tetapi juga lokasi base camp yang untuk mencapainya perlu perjuangan. Misalnya, Ranu Pani (jalur Semeru) dan Baderan–Bermi (jalur Argopuro) yang terletak sangat jauh dan terpencil dari jalan utama kabupaten setempat.
Sebelum mencoba mendaki gunung-gunung di daftar ini, pastikan menghubungi pihak base camp terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi pembukaan atau penutupan jalur, serta peraturan dan keterangan cuaca terkini.
1. Gunung Semeru (3.676 mdpl)


Inilah atap Pulau Jawa. Puncak tertingginya, Mahameru, kerap jadi wujud pencapaian bagi banyak pendaki atau mahasiswa pencinta alam. Walau sebenarnya, pihak Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) dan atas rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), melarang pendaki beraktivitas atau mendekati puncak dalam radius 5 kilometer karena masih berstatus Level III (Siaga), setelah sempat naik status Level IV (Awas) pada akhir 2025 lalu.
Dulu, sebelum lama tutup karena pandemi dan erupsi, idealnya butuh 4 hari 3 malam untuk mendaki Semeru. Dari Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Lumajang, satu-satunya jalur pendakian resmi Gunung Semeru, pendaki biasanya akan menginap semalam di Ranu Kumbolo di hari pertama, semalam di Kalimati sebelum ke puncak, lalu semalam di Ranu Kumbolo lagi di hari ketiga sebelum turun gunung keesokan harinya.
Sejak dibuka untuk kali pertama tahun 2024 setelah tutup hampir lima tahun, saat ini batas pendakian maksimal hanya sampai Ranu Kumbolo. Ditambah kewajiban menyewa Pemandu Pendakian Gunung Semeru Terdaftar (PPGST) sebagai pendamping tim selama pendakian. Selain alasan perlindungan kawasan, juga mencegah para pendaki melanjutkan perjalanan ke arah Kalimati atau puncak. Namun, kebijakan ini tetap tidak menyurutkan minat para pendaki yang sudah rindu alam Semeru, meski hanya bisa mencapai Mahameru dari jauh. Silakan pantau terus akun Instagram resmi BB TNBTS untuk info pembukaan jalur, kuota, dan peraturan pendakian.
2. Gunung Raung (3.344 mdpl)


Gunung tertinggi kedua di Jawa Timur setelah Gunung Semeru, yang dikenal sebagai gunung dengan jalur pendakian paling ekstrem di Pulau Jawa. Label ini tersemat jika pendaki melewati jalur Kalibaru, Banyuwangi, yang dirintis oleh Mapala Pataga (Untag Surabaya) pada 2003.
Selain tidak ada satu pun sumber air, jalur Kalibaru yang panjang dan terjal juga jadi tantangan. Selepas area terbuka Puncak Bendera (sekitar 3.150 mdpl), pendaki wajib didampingi pemandu, menggunakan perlengkapan khusus panjat dan tali-temali agar bisa aman menyusuri jalur sempit di tepi jurang dalam dengan medan pasir dan batu-batuan yang tidak stabil. Di Puncak Sejati (3.344 mdpl), pendaki bisa melihat kaldera Gunung Raung yang cukup aktif dengan kepulan asap belerang di dasar kawah. Kaldera Raung memiliki diameter sekitar 2 kilometer dan kedalaman mencapai 500 meter, paling besar di Jawa dan terbesar kedua setelah Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Durasi pendakian normal setidaknya 3 hari 2 malam. Opsi lain, kamu bisa mencoba jalur Sumberwringin, Bondowoso. Jalur klasik ini akan mengantar pendaki hingga ke puncak kawah di ketinggian sekitar 3.332 mdpl, tanpa harus menggunakan peralatan panjat seperti di Kalibaru. Selain Kalibaru dan Sumberwringin, ada juga jalur Glenmore yang tidak kalah ekstrem dan perlu peralatan lengkap seperti Kalibaru, serta jalur Jambewangi yang sedikit bersahabat meski kurang populer. Kedua jalur alternatif ini sama-sama berada di Kabupaten Banyuwangi.
3. Gunung Arjuno (3.339 mdpl)


Gunung tertinggi di Jawa Timur yang juga jadi favorit banyak pendaki. Selain karena keasrian alam, juga fenomena mistis yang selalu digaungkan sejumlah orang. Gunung ini berada satu rangkaian dengan Gunung Welirang (3.156 mdpl) di dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, di bawah pengelolaan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur. Kedua puncak gunung dihubungkan oleh Gunung Kembar I (3.058 mdpl) dan Gunung Kembar II (3.126 mdpl).
Untuk menuju puncak Gunung Arjuno, terdapat empat jalur resmi yang bisa dipilih, yakni Lawang (Malang), Purwosari atau Tambaksari (Pasuruan), Sumberbrantas (Batu), dan Tretes (Pasuruan). Jika ingin mengejar dua atau empat puncak sekaligus, kamu sangat direkomendasikan untuk mencoba jalur Tretes. Meski panjang dan terjal, jalur ini memiliki sumber air yang melimpah di setiap posnya dan sabana Lembah Kidang (2.588 mdpl) yang bikin betah buat camping. Adapun jalur Sumberbrantas juga digemari pendaki karena lebih cepat dan pendek, meskipun tidak ada sumber air.
Sama seperti Semeru, pendakian ke Gunung Arjuno-Welirang wajib melalui reservasi daring. Silakan pantau terus akun Instagram atau situs web resmi Tahura Raden Soerjo untuk info pembukaan jalur, kuota, dan peraturan pendakian.
4. Gunung Lawu (3.265 mdpl)


Bagian kaki, lereng, hingga puncak tertinggi gunung ini (Hargo Dumilah) tertancap di perbatasan dua provinsi, yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung Lawu terkenal bukan hanya di kalangan pendaki, melainkan juga bagi para peziarah atau pelaku spiritual.
Sejumlah jalur pendakian yang tersedia bahkan menyimpan beberapa situs cagar budaya peninggalan kerajaan masa lampau. Di wilayah Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kamu bisa mencoba mendaki gunung ini melalui jalur Singolangu (dekat Telaga Sarangan) atau jalur Cemorosewu (dekat perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur). Kedua jalur ini akan bertemu satu titik di area Sendang Drajat, sekitar 40–45 menit sebelum puncak.
Menurut kebanyakan pendaki, temperatur udara di Gunung Lawu kabarnya lebih dingin dibandingkan gunung-gunung lain. Untuk itu, persiapkan fisik dan perlengkapan yang memadai agar pendakianmu berjalan lancar.
5. Gunung Welirang (3.156 mdpl)


Gunung Welirang ini bertetangga dengan Gunung Arjuno, meski memiliki bentang alam yang sangat kontras di area puncak. Sama-sama didominasi batuan, tetapi Welirang memiliki kawah-kawah aktif yang memproduksi belerang tanpa henti. Oleh karena itu, khususnya di jalur Tretes, para penambang lokal akan naik-turun gunung untuk menambang belerang. Dalam seminggu, mereka akan bekerja 3-4 hari di gunung dan menempati gubuk-gubuk sederhana di Pos 3 Pondokan (2.389 mdpl).
Dari Pos 3 Pondokan, kamu memerlukan waktu sedikitnya 2-3 jam pendakian santai menuju puncak Welirang. Waktu tempuh ini masih lebih singkat dibanding ke puncak Arjuno yang bisa mencapai dua kali lipatnya. Di sebuah area sadel bernama Taman Edelweis (2.952 mdpl), titik pertemuan jalur ke Welirang dan Lembah Lengkehan (area pelana di antara Gunung Kembar I dan II), kamu bisa istirahat lebih lama untuk menikmati hamparan bunga edelweis dan cantigi. Sebagai antisipasi bau dan asap belerang yang menyengat, kamu disarankan membawa buff dan kacamata untuk melindungi area wajah. Bawa juga bekal air yang cukup karena paparan belerang bisa membuat mata panas dan tenggorokan kering.
Sama seperti Semeru, pendakian ke Gunung Arjuno-Welirang wajib melalui reservasi daring. Silakan pantau terus akun Instagram atau situs web resmi Tahura Raden Soerjo untuk info pembukaan jalur, kuota, dan peraturan pendakian.
6. Gunung Argopuro (3.088 mdpl)


Inilah gunung dengan jalur pendakian terpanjang di Pulau Jawa. Berada di kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Iyang, jalur ini dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Timur. Terdapat tiga puncak tertinggi yang terletak berdekatan dan biasa digapai pendaki, yaitu Argopuro (3.088 mdpl), Hyang/Arca (3.075 mdpl), dan Rengganis (3.008 mdpl). Di kawasan ini, tersimpan banyak peninggalan bersejarah mulai dari era megalitikum, kerajaan, hingga kolonial Belanda.
Jika mendaki lintas jalur, start dari Baderan, Kabupaten Situbondo (784 mdpl) dan finis di Bermi, Kabupaten Probolinggo (1.023 mdpl), dengan menempuh total jarak mencapai 50 kilometer—10 kilometer di antaranya bisa dipangkas dengan jasa ojek). Agar lebih menikmati perjalanan, kami merekomendasikan kamu merancang program pendakian 7 hari 6 malam, dengan titik camp di Mata Air 2 (2.165 mdpl), Cikasur (2.216 mdpl), Cisentor (2.461 mdpl), Sabana Lonceng (2.973 mdpl), dan Danau Taman Hidup (1.965 mdpl).
Sama seperti Semeru dan Arjuno-Welirang, pendakian ke Argopuro wajib melalui reservasi daring. Silakan pantau terus akun Instagram atau situs web resmi BBKSDA Jawa Timur untuk info pembukaan jalur, kuota, dan peraturan pendakian.
7. Gunung Buthak (2.868 mdpl)


Saat cuaca cerah, area puncak gunung ini biasanya terlihat jelas dari wilayah Malang dan Kota Batu. Orang lokal menyebutnya gugusan Pegunungan Putri Tidur, karena dari kejauhan menyerupai seorang perempuan yang sedang berbaring. Gunung Buthak berdekatan dengan Gunung Kawi (sekitar 2.550-2.650 mdpl), tetapi memiliki titik puncak lebih tinggi. Warga lokal di area Pesarean Gunung Kawi menyebut puncak Buthak sebagai Siti Inggil.
Dari sekian jalur yang tersedia, mulai dari Sirah Kencong (Blitar), Kucur atau Princi (Malang), Dusun Toyomerto di Desa Pesanggrahan, Kota Batu merupakan rute paling populer. Dari dusun ini, pendaki tidak hanya bisa ke Gunung Buthak, tetapi juga ke Gunung Panderman (2.000 mdpl) meski berbeda arah jalur. Kamu akan melewati beberapa pos dengan jarak yang cukup panjang (biasanya memakan waktu 7–8 jam perjalanan dengan beban carrier normal), hingga tiba di sabana Sendang (2.674 mdpl). Sendang merupakan area ideal untuk berkemah karena terdapat sumber air yang melimpah dan hanya berjarak 30–45 menit lagi ke puncak.
Bagi pendaki Gunung Buthak via Panderman, wajib melakukan reservasi daring terlebih dahulu melalui aplikasi Tiket Pendakian. Simak info lebih lanjut mengenai kuota, peraturan, dan informasi jalur di akun Instagram resmi pengelola pendakian Buthak dan Panderman.
Menjadi Pendaki Bijak
Sah-sah saja jika kamu berambisi mengkhatamkan tujuh puncak gunung tertinggi di Jawa Timur. Namun, pastikan kamu menjadi pendaki yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk ikut menjaga gunung itu sendiri. TelusuRI punya sejumlah tips agar kamu bisa menjadi pendaki yang bijak:
- Menghormati adat istiadat di dusun setempat
- Mematuhi peraturan yang berlaku di kawasan pendakian
- Melengkapi diri dengan peralatan pendakian standar dan menyiapkan logistik yang cukup selama pendakian, serta tetap waspada dan hati-hati dengan barang-barang bawaan pribadi dari potensi pencurian oleh sejumlah oknum di area berkemah
- Jangan mengikuti ego dan memaksakan diri, terutama ketika cuaca buruk atau kondisi tim tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendakian
- Meminimalisasi penggunaan plastik sekali pakai
- Gunakan botol minum yang bukan sekali pakai dan membawa jeriken portabel untuk isi ulang air
- Gunakan kotak makan untuk menyimpan bahan-bahan makanan kamu
- Memilih menu-menu makanan organik, seperti sayur, buah, dan bahan lainnya yang mengurangi sampah kemasan anorganik
- Membawa pulang sampah anorganik yang mungkin kamu hasilkan
- Membawa kantung sampah secukupnya
Jadi, mau mulai dari mana buat mendaki seven summits Jawa Timur? Lekas kemasi ranselmu dan berangkat sekarang juga!
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.


