Monumen 45 Banjarsari di kampung lawas Villa Park Banjarsari, Kota Surakarta, menjadi tujuan utama penjelajahan kali ini. Jajaran pohon trembesi di sepanjang jalan utama menuju monumen, senantiasa menaungi siapa pun yang berkunjung. Suasana semakin berwarna ketika berjumpa warga setempat saling bercengkerama di angkringan bawah pohon.
Taman sekitar monumen tampak ramai aktivitas warga dan rombongan anak sekolah melakukan kegiatan belajar di luar kelas. Jauh dari keramaian kota menjadikan kawasan tersebut layak dan strategis untuk dijadikan hunian elite, yang dibangun mewah dengan gaya arsitektur berbeda, tergantung keinginan pemilik.
Siapa sangka, di balik kemewahan Villa Park Banjarsari tersimpan kisah kampung joki kuda pacuan di Surakarta. Segelas es kopi hitam di angkringan Juang di Jalan Enggano jadi pembuka perjalanan kali ini. Di sini saya bertemu Heri Priyatmoko untuk penjelajahan bersama.

Kampung Joki Kuda Pacuan di Praja Mangkunegaran
Langkah kaki membawa kami semakin jauh menikmati rindangnya pohon trembesi. Seakan mengajak kembali bernostalgia kehidupan warga Villa Park Banjarsari di abad ke-XIX.
“Kawasan Villa Park Banjarsari, sudah eksis setidaknya sejak abad ke-XVIII sebagai kampung joki kuda pacuan milik Praja Mangkunegara,” ungkap Heri.
Merujuk informasi Heri, terdapat fakta jika kawasan Villa Park Banjarsari awalnya adalah kampung joki kuda pacuan serta rumah dinas prajurit legiun kavaleri dan artileri yang berdinas di Pura Mangkunegaran. Kampung joki kuda pacuan eksis setidaknya sejak tahun 1896, ketika Praja Mangkunegaran dipimpin Mangkunegara VI. Prajurit tersebut sudah eksis sejak Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa, bertakhta di Pura Mangkunegaran.
Pembentukan prajurit terinspirasi dari Grande Armee pimpinan Raja Prancis, yakni Napoleon Bonaparte I. Mereka bekerja di Gedung Kavallerie-Artillerie di timur pamedan Mangkunegaran, tinggalnya di kampung joki kuda pacuan (Villa Park Banjarsari kini) di Kelurahan Setabelan, Banjarsari.
“Setabelan berasal dari suku kata dalam bahasa Belanda, yakni istal, yang artinya kandang kuda pacuan. Kawasan inilah (Villa Park Banjarsari) dahulu tempatnya,” ungkap Heri.
Berstatus sebagai kampung joki kuda pacuan, tempat ini tidak hanya sebagai huniannya para joki maupun prajurit legiun kavaleri dan artileri, tetapi juga dilengkapi arena pacuan kuda. Sebelum dipindahkan ke racetterein (Stasiun Solo Balapan kini), diduga arena pacuan kuda berada di Monumen 45 Banjarsari. Di sisi selatan terdapat pasar dan kolam air Tambak Segaran. Kedua prasarana masih bertahan ketika proyek penataan kampung joki dilakukan.
“Pemukiman, prajurit kavaleri-artileri, joki, kuda pacuan, dan arena pacuan kuda ada semua di sini (kampung joki kuda pacuan). Tapi semua berubah sejak dimulainya perbaikan kampung joki kuda pacuan oleh Praja Mangkunegaran dan dibangun menjadi Villa Park Banjarsari,” tegasnya.


Salah satu model vila taman di Villa Park Banjarsari (kiri) dan tampak selatan Villa Gretha/Ibnu Rustamadji
Hilangnya Kampung Joki Kuda Pacuan
Buruknya sistem dan tata ruang kampung joki kuda pacuan menjadi salah satu alasan Mangkunegara VI berinisiatif melakukan perbaikan kampung tersebut. Puncak proyek perbaikan kampung di tenggara alun-alun Stasiun Balapan ini terjadi di masa kepemimpinan Mangkunegara VII, bekerja sama dengan Sunan Pakubuwana X dan kepala Stasiun Balapan.
Setelah diskusi alot dengan warga kampung joki kuda pacuan, akhirnya rencana penataan kampung pun disetujui dan dimulai setelahnya. Ketiga pemangku wilayah lantas menggandeng Insinyur (Ir) Herman Thomas Karsten yang notabene arsitek sekaligus perencana kota untuk mendesain tata ruang kampung sekaligus pengawas proyek. Seiring pembersihan kampung, Thomas Karsten merancang kampung vila dengan taman publik di bagian tengah.
Setiap vila didesain beragam, menyesuaikan selera pemilik hunian yang notabene warga elite dan pengusaha perkebunan di Praja Mangkunegaran dan Karesidenan Kota Surakarta. Semua vila menghadap taman publik dengan bukaan jalan lebar. Sisa lahan kosong dipersiapkan untuk akses jalan dari dan menuju kampung. Selain itu juga didirikan sekolah, hotel, gereja, dan kolam air.
Penataan jalan dari Stasiun Balapan menuju pusat kota dan Kantor Kepatihan di Widuran hingga berakhir di Schouwburg, seberang kantor Residen—kini Balai Kota Surakarta—pun dilakukan. Tidak lama, sekolah untuk anak Belanda, Tionghoa, Jawa, dan hotel mulai dibangun di sekitar Villa Park. Kawasan tersebut berubah total dari kampung joki kuda pacuan menjadi kawasan hunian elite.
Pelan tapi pasti, proyek perbaikan kampung terus dilakukan. Taman terbuka di tengah dengan jajaran pohon trembesi di sepanjang jalan pun akhirnya menjadi landmark baru kawasan tersebut. Upacara peresmian kawasan turut dihadiri Thomas Karsten guna menyematkan nama Van Der Wijck-laan sebagai nama kawasan Villa Park Banjarsari hasil rancangannya.
Meski asri dan sejuk, nyatanya warga bumiputera kampung joki kuda pacuan tidak bisa menikmati hal tersebut. “Vorbiden voor honder en inlander. Terlarang untuk anjing dan pribumi, Bro,” kata Heri.
Mereka yang diperbolehkan masuk ke Kawasan Villa Park atau loji hanya gundik (perempuan simpanan), jongos (pelayan), waasbaboe (tukang cuci), kokkie (juru masak), tukang kebun, dan mereka yang mendapat utusan khusus. “Meneer Lóndó (Pria Belanda) kala itu datang ke Indonesia dan tinggal di Villa Park sendirian tanpa mevrouw Lóndóne (istri Belanda), jadi membutuhkan bantuan perempuan sebagai jongos yang pintar mengurus rumah dan memuaskan nafsu ndóróne sebagai gundik. Inilah pemicu munculnya gundik di Villa Park Banjarsari,” ungkap Heri.
Singkatnya, perempuan gundik bukanlah wanita tuna sosial. Gundik sejatinya perempuan desa yang mencoba mengadu nasib di kota, dengan tujuan mendapat kehidupan layak dan dapat meningkatkan derajat keluarganya di desa. Sesampainya di kota, mereka bekerja sebagai jongos untuk mendapat sedikit uang hidup dari warga Belanda atau tuan tanah. Villa Park Banjarsari merupakan salah satu kampung dengan cukup banyak gundik di Kota Surakarta.
Keluguan dan kepiawaian gundik mengurus rumah, menjadikan mereka banyak dilirik untuk dijadikan perempuan simpanan atau istri siri sang tuan tanah. Apabila mereka menerima pinangan sebagai istri siri, status sosial gundik naik menjadi nyai. Istri sah tuan tanah, tetap bergelar nyonya atau mevrouw. Salah satu gundik yang cukup tersohor di Villa Park Banjarsari kala itu adalah Nyai Moeinah.1

Villa Park Banjarsari Kini
Kampung lawas Villa Park Banjarsari kini banyak berubah seiring perkembangan zaman. Meski begitu, tata ruang hasil rancangan Ir. Thomas Karsten masih dipertahankan oleh pemerintah kota sebagai identitas vila taman di Kota Surakarta.
Perbaikan kampung yang terjadi kala itu turut mengakibatkan hilangnya kampung joki kuda pacuan, digantikan kampung Villa Park. Namun, jika proyek urung dilakukan, tentu akan memperburuk kondisi kampung joki kuda pacuan—Tidak layak huni dan tidak sehat. Sehingga, satu-satunya pilihan terbaik sebelum kondisi kian memburuk adalah harus dilakukan perbaikan kampung.
Seiring dengan selesainya proyek tersebut, masyarakat asli kampung joki kuda pacuan lantas dipindahkan ke sekitar racetterein atau pacuan kuda di Kestalan—kini Stasiun Solo Balapan. Kedua wilayah ini saling berseberangan. Hal tersebut semakin menegaskan jika kedua kampung memiliki keterikatan.
Dibangunnya racetterein atau pacuan kuda, tentu tidak dapat dilepaskan dari wilayah sekitarnya yang memiliki kuda pacuan atau joki kuda pacuan. Ibarat peradaban, tanpa kehadiran manusia, maka akan hilang. Begitu juga manusia tanpa adanya peradaban, tentu akan hilang juga.
Besar harapan kami, kampung lawas Villa Park Banjarsari tetap dipertahankan dengan segala kondisi dan peninggalan Belanda yang tersisa. Paling tidak, ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya meski kini wilayahnya sudah melebur menjadi satu dengan Kota Surakarta, tidak lagi merupakan hak milik Mangkunegaran secara total. Tujuannya tidak lain menjaga eksistensi Villa Park Banjarsari dan memori eksistensi kampung joki kuda pacuan di Surakarta.
- Toespraak Reggie Bay, Het besef uit Indié te komen/Het besef in Indië geworteld te zijn.(Amsterdam: Athenaeum-Polak & Van Gennep, 2010). ↩︎
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.




