Butuh 36 jam terombang-ambing di laut, satu malam transit di Pontianak, dan perjalanan darat berjam-jam melewati jalan berlubang sebelum akhirnya kami tiba di Desa Kenanga, pedalaman Kabupaten Ketapang. Namun, perjalanan panjang itu terasa kecil dibanding makna yang kami bawa: persahabatan.
Pada pertengahan Desember 2025, setelah direncanakan sejak awal tahun, aku dan lima sahabatku—Adi, Paul, Panji, Jato, dan Tantra—berangkat dari Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Tujuan kami sederhana, mengunjungi rumah Panji, sahabat sekampus kami yang selama ini merantau dan belajar di Jogja. Selama kuliah di Jogja, ia sudah lebih dulu berkunjung dan mengenal keluarga kami. Kini giliran kami mengenal tanah kelahirannya.

Laut yang Tidak Seromantis Media Sosial
Tujuan pertama kami adalah Pontianak. Ini adalah pengalaman pertamaku naik kapal laut. Dalam bayanganku, perjalanan akan dipenuhi angin segar, matahari terbit di cakrawala, dan obrolan panjang di geladak.
Kenyataannya berbeda.
Ombak yang tak terlihat dari dalam kabin justru terasa mengguncang di perut. Selama hampir satu setengah hari, aku dilanda mual dan pusing. Berbekal dua tablet Antimo dan sebungkus Tolak Angin yang kubawa dari Jogja, aku mencoba berdamai dengan gelombang yang tak berhenti bergoyang. Di sela rasa tak nyaman itu, teman-temanku menggoda sekaligus menyemangati.
Di tengah rasa tidak enak badan itu, aku belajar satu hal kecil: perjalanan tidak selalu seindah foto-foto yang kita unggah di media sosial. Namun, kebersamaan membuat ketidaknyamanan itu sepadan untuk dijalani.


Transit di Kota Khatulistiwa
Setelah sekitar satu setengah hari terombang-ambing di laut, akhirnya kami menginjakkan kaki di daratan Pontianak. Kami tiba di Pelabuhan Dwikora dengan tubuh lelah, tetapi hati lega, akhirnya kami sampai dengan selamat. Sehari kami gunakan untuk memulihkan tenaga dan berjalan santai di kota.
Hari itu kami habiskan dengan berjalan santai di sekitaran kota, berkunjung ke Tugu Khatulistiwa, Gereja Katedral yang begitu megah, mencicipi makanan lokal, dan tentu saja berfoto ria sebagai bukti, bahwa rencana yang lama hanya menjadi wacana di grup WhatsApp kini benar-benar terlaksana.
Indonesia yang selama ini terasa jauh di peta perlahan menjadi nyata di depan mata.

Jalan Panjang menuju Desa Kenanga
Dari Pontianak, perjalanan berlanjut via darat menuju Desa Kenanga, Kecamatan Simpang Hulu. Jalan berkelok dan berlubang memaksa kami duduk diam berjam-jam di dalam travel. Di kiri-kanan, hamparan hijau hutan dan kebun sawit membentang tanpa putus. Sesekali kami melewati jembatan kayu, sungai kecil, dan rumah-rumah sederhana yang berdiri berjauhan.
Ketika akhirnya kami tiba, hari sudah malam. Keluarga Panji menyambut kami dengan kehangatan yang membuat rasa lelah perlahan menguap.
Namun kejutan belum selesai.

Butir Padi dan Segelas Tuak
“Habis ini ada upacara penyambutan,” kata Panji.
Tak lama setelah kami meluruskan kaki dan makan malam, beberapa warga sudah berkumpul di ruang tengah. Di antara mereka tampak seorang lelaki sepuh yang diperkenalkan sebagai ketua adat. Wajahnya tenang, sorot matanya teduh, dan gerak-geriknya penuh wibawa. Beberapa tetangga duduk melingkar. Malam itu terasa berbeda, hening, tetapi bukan sunyi. Kami menyadari bahwa kami sedang memasuki ruang budaya yang bukan milik kami.
Upacara tersebut dimaksudkan sebagai penyambutan sekaligus tolak bala bagi tamu dari luar Kalimantan. Kami bukan sekadar teman Panji. Malam itu, kami diterima secara simbolis sebagai bagian dari komunitas mereka.
Setelah doa-doa dilantunkan dalam bahasa yang sama sekali tak kupahami, ketua adat mengambil beberapa butir beras. Satu per satu, ia menempelkannya di dahi kami. Sentuhan itu sederhana, tetapi sarat makna, seperti tanda berkat yang hening. Padi, sumber kehidupan, seolah menjadi simbol harapan: semoga kami diterima dengan baik, dilindungi dari mara bahaya, dan membawa niat yang bersih.
Ritual berlanjut dengan segelas tuak, minuman adat dari fermentasi beras ketan. Gelas kecil itu berpindah dari tangan ke tangan. Rasanya asam-manis, hangat di tenggorokan. Dalam tegukan kecil itu, ada keberanian untuk membuka diri, untuk menghormati tradisi yang bukan milik kami, tetapi malam itu kami hidupi bersama.
Tak ada tepuk tangan, tak ada sorak-sorai. Hanya percakapan hangat yang mengalir hingga larut malam. Kami duduk bercampur dengan warga, bertukar cerita tentang Jogja, tentang kampus, tentang kehidupan di desa. Tawa pecah beberapa kali, menembus batas bahasa dan logat.

Nyandau dan Manisnya Rambutan
Pagi hari, udara Desa Kenanga terasa segar dan lembap. Panji mengajak kami berkeliling desa dan menunjukkan sekolah lamanya. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, warga menyapa dengan ramah, seolah kami bukan tamu semalam, melainkan bagian dari keluarga mereka.
Kami juga diajak “nyandau”. Dalam tradisi masyarakat Dayak, nyandau biasanya dilakukan pada musim durian, sekitar bulan Desember hingga Januari. Tradisi ini berupa kegiatan bermalam di hutan atau kebun untuk menunggu durian yang jatuh secara alami. Warga mendirikan pondok sederhana di dekat pohon durian, terutama di kawasan perbukitan, lalu mengumpulkan buah yang jatuh untuk dikonsumsi sendiri atau dijual kepada pengepul.
Kegiatan ini umumnya dilakukan bersama keluarga atau dalam kelompok, sehingga selain menjadi aktivitas ekonomi, nyandau juga mempererat kebersamaan. Namun, karena waktu kami terbatas, kami hanya memetik rambutan yang tumbuh di sekitar desa, tanpa bermalam di hutan sebagaimana lazimnya tradisi tersebut dijalankan.
Panji memanjat pohon dengan lincah, sementara kami menunggu di bawah menangkap buah yang dilempar. Rambutan itu terasa lebih manis dari yang biasa kami beli di pasar. Mungkin karena kami memetiknya sendiri. Mungkin juga karena manisnya bercampur dengan pengalaman kebersamaan.
Hari-hari di Desa Kenanga berlalu cepat. Setelah beberapa waktu bersama keluarga Panji, kami melanjutkan perjalanan ke kota Ketapang untuk transit sehari, sebelum akhirnya bersiap pulang menuju Semarang.

Indonesia Lebih Luas dari yang Kita Kenal
Sering kali kita mengenal Indonesia hanya dari kota-kota besar dan layar gawai. Namun, perjalanan ini mengajarkanku bahwa Indonesia juga hidup dalam ritual sederhana, dalam sapaan warga desa, dalam segelas tuak yang dibagikan dengan tulus.
Ketika meninggalkan Desa Kenanga, aku merasa tidak sekadar pulang dari perjalanan. Aku membawa pulang pengalaman tentang penerimaan dan tentang persahabatan yang berani melintasi laut, hutan, dan perbedaan budaya.
Butir padi di dahi kami menjadi tanda bahwa kami tidak hanya datang sebagai tamu, tetapi diterima sebagai keluarga. Meskipun kami pulang dengan tubuh lelah, tetapi hati terasa penuh dengan sukacita. Bukan sekadar membawa foto dan cerita, melainkan kesadaran bahwa Indonesia yang terasa luas, bisa menjadi dekat ketika dijalani bersama.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Mahasiswa asal Ungaran yang merantau di Yogyakarta. Hobi berkelana, mendaki, dan menarasikan isi pikiran melalui tulisan.

