Saya tiba di Semarang beberapa hari sebelum Tahun Baru Imlek. Di antara lampion berwarna merah dan wangi dupa yang mulai menerpa udara, ritmenya terasa berbeda dari hari biasa. Banyak orang menuju kelenteng dengan langkah yang santai, membawa sesuatu yang tidak selalu tampak—harapan, doa, atau sekadar keinginan untuk memulai sesuatu yang baru. Di Kelenteng Tay Kak Sie dan Vihara Kebun Jeruk Low Lie Bio, saya berusaha menangkap momen-momen kecil yang mungkin terlewat: cahaya yang menyala lembut, tangan yang terlipat, dan keheningan di tengah acara perayaan.
Oleh: Anggi Dwi Alfianto
Menuju Malam Imlek

Beberapa jam sebelum tahun baru, halaman Kelenteng Tay Kak Sie mulai dipenuhi banyak orang. Beberapa datang bersama keluarga, sementara yang lain tampak sendirian membawa kantung plastik berisi dupa dan lilin. Lampion merah digantung di sepanjang jalan masuk, memberikan cahaya yang cukup tanpa terasa berlebihan. Suara percakapan terdengar pelan, bercampur dengan bunyi kendaraan dari jalan di luar kawasan pecinan. Tidak ada yang terburu-buru. Orang-orang sepertinya tahu tempat berdiri mereka dan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Saya berdiri di pinggir halaman, melihat bagaimana orang-orang datang dengan stabil dari menit ke menit. Sebelum doa dimulai dan lilin dinyalakan, momen seperti ini terasa sangat penting: ketika orang-orang datang dengan pikiran masing-masing, membawa harapan yang belum diungkapkan, tetapi sudah siap untuk ditinggalkan di dalam tempat ibadah.
Menitipkan Harapan

Di tengah keramaian yang semakin meningkat, suasana di tempat ibadah terasa lebih damai. Orang-orang berjejer di depan altar, menyalakan dupa, kemudian menundukkan kepala sejenak. Asap yang tipis naik perlahan, membentuk lapisan halus di udara sebelum akhirnya lenyap. Suasana sangat tenang, tanpa suara keras. Beberapa orang menutup mata, sementara yang lain menatap ke depan dengan tangan terlipat. Saya melihat seorang ibu memegang tangan anaknya sebelum mereka berdoa bersama. Ia menggenggam tangan anaknya sebelum mereka berdoa bersama. Di tempat seperti ini, merayakan tidak selalu identik dengan keramaian. Justru dalam keheningan itulah harapan-harapan berkumpul. Setiap individu memiliki tujuan yang berbeda, tetapi meletakkannya di tempat yang sama—di antara abu dupa dan cahaya altar yang terus menyala sepanjang malam.
Cahaya yang Dipanjatkan

Di ujung ruangan, lilin-lilin berwarna merah tersusun rapi dengan nyala yang konsisten. Cairan lilin mengeras di bagian bawah, membentuk lapisan yang tidak rata, menunjukkan waktu yang terus berlalu. Sinarnya tidak terlalu menyilaukan, tetapi cukup untuk menerangi altar serta wajah orang-orang yang ada di depannya. Beberapa orang yang berkunjung berhenti sejenak untuk memastikan bahwa lilin yang mereka nyalakan benar-benar menyala sebelum pergi. Api kecil itu bergoyang pelan ketika pintu dibuka dan angin malam masuk ke dalam ruangan. Saya mendekat untuk mengambil gambar detailnya—warna merah yang mencolok dengan abu dupa dan dinding yang dihiasi emas. Dalam kebiasaan, lilin biasanya dianggap sebagai penerang jalan. Namun, malam itu saya melihatnya sebagai simbol keberadaan: bahwa seseorang pernah berada di sana, menyalakan cahaya kecil dengan harapan yang dibawanya sendiri.
Jejak Sang Kuda Api

Simbol shio tahun ini terlihat sangat mencolok di antara dekorasi berwarna merah dan emas. Beberapa orang berhenti untuk melihatnya lebih dekat, sementara yang lain mengambil foto dengan ponsel sebelum melanjutkan berdoa. Dalam kalender Tionghoa, shio bukan hanya simbol tahun, melainkan juga bagian dari sistem yang berulang setiap dua belas tahun. Tahun ini dilambangkan oleh simbol yang merepresentasikan energi dan gerakan. Di tengah ruangan yang dipenuhi dengan asap dupa dan cahaya lilin, ornamen itu tampak tetap, sedangkan orang-orang bergerak di sekelilingnya. Saya berusaha mengambil gambar dari sudut rendah agar simbol tersebut terlihat tegak di tengah keramaian. Perubahan tahun bukan hanya tentang angka di kalender, melainkan juga saat di mana banyak orang mulai merencanakan dan berharap untuk masa depan.
Identitas dari yang Tak Tersorot

Di satu sisi dari tempat ibadah, terdapat sebuah ukiran harimau yang dipahat dengan sangat jelas. Garis-garis di wajah dan tubuhnya terlihat jelas ketika terkena cahaya dari lampu dan lilin di sekitarnya. Banyak pengunjung yang lewat tanpa berhenti lama, tetapi beberapa di antara mereka melambatkan langkah untuk melihat lebih dekat. Dalam kebudayaan Tionghoa, harimau sering kali dihubungkan dengan keberanian dan perlindungan. Namun, di ruang ini, ia ada sebagai bagian dari elemen dekoratif yang menambah suasana perayaan. Saya mencoba memotret dari posisi sedikit rendah agar tekstur ukiran dan ekspresi wajahnya terlihat lebih mencolok. Di tengah kerumunan orang yang datang dan pergi, patung itu tetap tenang. Ia tidak menjadi sorotan utama, tetapi memberikan lapisan visual yang menegaskan identitas tempat ibadah tersebut.
Ketika Perayaan Usai

Beberapa saat setelah doa bersama selesai, keadaan di dalam vihara mulai berubah. Pengunjung yang datang semakin sedikit, dan tempat yang sebelumnya ramai terasa lebih luas. Lilin masih menyala, tetapi tidak dikelilingi oleh banyak orang lagi. Abu hio menumpuk di berbagai wadah, menunjukkan betapa banyaknya doa yang telah dipanjatkan malam itu. Saya berdiri beberapa menit untuk melihat perubahan suasana tempat tersebut. Tidak ada antrean di depan altar lagi. Suara obrolan terdengar semakin jarang. Petugas tampak mulai merapikan area sekitar dan memastikan semuanya tetap teratur. Perayaan memang sudah melewati puncaknya, tetapi jejak aktivitasnya masih tampak jelas di setiap sudut. Dalam suasana yang lebih tenang ini, ruang ibadah terasa berbeda—tidak lagi sebagai tempat berkumpul, tetapi sebagai ruang yang perlahan kembali ke ritmenya sendiri.

Pagi tiba dengan suasana yang berbeda dari beberapa jam yang lalu. Sinar matahari masuk melalui celah-celah atap dan mengenai lantai yang semalam dipenuhi langkah-langkah para pengunjung. Beberapa lilin masih menyala dengan redup, sementara yang lainnya sudah tidak ada, menyisakan lelehan di bawahnya. Halaman kelenteng terlihat lebih luas. Tidak ada antrean, tidak ada kerumunan. Hanya ada beberapa orang yang datang lebih awal untuk berdoa kembali atau sekadar melihat-lihat. Petugas tampak sedang merapikan area altar dan membersihkan abu hio yang menumpuk. Bau dupa masih terasa samar di udara, bercampur dengan udara pagi yang lebih segar. Perayaan tahun baru telah berlalu, tapi aktivitas masih terus berlangsung. Di pagi seperti ini, tempat ibadah terasa lebih damai—seakan memberi waktu istirahat setelah malam yang panjang.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Anggi Dwi Alfianto adalah mahasiswa Program Studi Fotografi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan fokus pada fotografi dokumenter dan penceritaan visual. Karyanya menyoroti dinamika ruang, keseharian, serta hubungan manusia dengan lingkungannya. Melalui pendekatan observatif dan sensitif terhadap detail, Anggi berupaya menghasilkan narasi visual yang autentik dan merekam esensi peristiwa secara jujur.

