TRAVELOG

Perjumpaan dengan Pendaki Everest ’97 dan “Seven Summiter”

Perlu 22 tahun, buku Di Puncak Himalaya Merah-Putih Kukibarkan milik saya, ditandatangani para pendakinya. Sebuah mimpi yang jadi kenyataan.

Buku langka yang mengisahkan ekspedisi gabungan Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Wanadri, Mapala UI, dan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) ke Pegunungan Himalaya itu, saya peroleh tahun 2004. Pemberian uwak, saat saya menginap di rumahnya di Bandung.

Girang bukan kepalang, ketika saya bisa membawa buku itu ke Cirebon. Apalagi saya baru dilantik menjadi anggota Mapala UMY. Kisah pendakian Mount Everest bakal menambah wawasan dan motivasi berkegiatan di alam terbuka. 

Perjumpaan dengan Pendaki Everest 1997 dan “Seven Summiter”
Penulis (kiri) bersama Ripto Mulyono, Letjen Iwan Setiawan, dan Galih Donikara/Achmad Zaeni (W 1346 HR)

Tahun 2005, Mapala UI mengirimkan pula buku Jejak Kampus di Jalan Alam, 40 Tahun Mapala UI ke sekretariat Mapala UMY di kampus terpadu, Bantul, Yogyakarta. Saya khatam membacanya, bahkan memfotokopi. Petualangan Wahyu Sardono (Dono), Kasino Hadiwibowo, Soe Hok Gie, Herman Onesimus Lantang, Karina Arifin hingga Norman Edwin, tergoret apik.

Pada Ekspedisi Indonesia Everest ’97, sohib Norman: Ripto Mulyono dan Rudi Nurcahyo, turut berpartisipasi. Ripto di tim Selatan, bareng Lettu Iwan Setiawan, Sertu Misirin, Pratu Asmujiono, Galih Donikara (Wanadri), dan Iwan Irawan “Kwecheng” (Wanadri). Sedangkan Rudi “Becak” di tim Utara, bersama Gunawan Achmad alias Ogun (Wanadri), dan pendaki Kopassus lainnya.

Norman tidak menyertai kedua karibnya, karena lebih dulu berpulang saat mendaki Gunung Aconcagua di Argentina tahun 1992. Kala itu Mapala UI tengah berambisi mengejar pendakian tujuh puncak dunia (seven summits). Kepergian Norman dan Didiek Samsu menginspirasi generasi belakangan untuk mengibarkan Dwi Warna di tujuh titik tertinggi bumi. Tim Mahitala Unpar dan Wanadri berhasil mewujudkannya!

Perjumpaan dengan Pendaki Everest 1997 dan “Seven Summiter”
Lettu Iwan, Sertu Misirin, dan Pratu Asmujiono di Camp IV Everest (7.980 mdpl), sehari usai muncak difoto oleh Boukreev/Mochamad Rona Anggie

Indonesia Berjaya

Atas pelbagai pertimbangan, pelatih tim Selatan memutuskan hanya Iwan Setiawan, Misirin, dan Asmujiono, yang akan naik ke puncak Everest (summit attack). Para pendaki sipil menerima keputusan itu demi kejayaan bangsa dan negara.

Sejarah pun tertoreh. Pada 26 April 1997, ketiga pendaki Kopassus berhasil mencapai puncak Everest (8.848 mdpl). Mereka didampingi pelatih kawakan asal Rusia: Anatoly Boukreev, Vladimier Bashkirov, dan Dr. Evgenie Vinogrodsky.

Perjalanan 29 tahun lalu menuju pucuk bumi, masih membekas dalam memori Iwan Setiawan. Jika dulu dia seorang perwira muda dengan pangkat Letnan Satu (Lettu), kini menjelma perwira tinggi bintang tiga (Letnan Jenderal). Menjabat Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif), dan sebelumnya sebagai Danjen Kopassus.

Perjumpaan dengan Pendaki Everest 1997 dan “Seven Summiter”
Kang Darmanto mendampingi Letjen Iwan Setiawan tiba di lokasi upacara penutupan PDW 2025/Mochamad Rona Anggie

Menghadiri Penutupan Pendidikan Dasar Wanadri

Saya berangkat dari Cirebon ke lokasi upacara penutupan Pendidikan Dasar Wanadri (PDW) di Desa Bukanagara, Kabupaten Subang, Minggu (25/1/2026), bareng Mustofa, anggota Wanadri angkatan Elang Rawa (1996). Gilang Arifianto dan istrinya yang memberi kami tumpangan kendaraan. 

Undangan penutupan PDW saya peroleh dari senior saya di Mapala UMY, Achmad Zaeni Arifianto, anggota Wanadri angkatan Hujan Rimba (2005). Okelah, sekalian meliput, niat saya datang ke sana. Apalagi sebelumnya saya sudah siap mendaftar ikut PDW 2025, cuma terkendala syarat batas umur (30 tahun). Saya pun berbesar hati, dan mengulasnya dalam tulisan Cerita Menuju Pendidikan Dasar Wanadri 2025.    

Ari menyetir mobil dengan tangkas. Melewati jalanan menanjak yang bersisian jurang dan hutan lebat. Kami sampai Bukanagara pukul 09.30 WIB. Santai sejenak di halaman vila milik mantan Dankormar dan Kepala Basarnas RI, Letjen (Purn. Mar) Alfan Baharudin. Di situ berserak mobil Land Rover klasik, kendaraan khas para petualang. Anggota Wanadri muda-tua tumplek di kawasan yang dikelilingi perbukitan kebun teh itu. 

Saya penasaran siapa inspektur upacara penutupan PDW kali ini. Kang Mustofa sempat memprediksi Letjen Kunto Arief Wibowo (anak Try Sutrisno). “Pak Iwan kan sudah di penutupan PDW sebelumnya, waktu beliau Danjen Kopassus,” katanya.

Saya membawa buku pendakian Everest 1997 dan Merah-Putih di Atap Dunia. Ingin mengabadikan kedua buku itu bersama para pendakinya. Sejurus kemudian di teras vila, saya melihat sosok tentara dengan baret hijau bersyal oranye. Hah, Pak Iwan Setiawan! Rupanya beliau yang akan memimpin upacara penutupan.

Dari vila Pak Alfan, tamu undangan diangkut kendaraan taktis ke Danau Sukasari, tempat upacara berlangsung. Saya menyapa Ketua Dewan Pengurus Wanadri XXI, Kang Darmanto, yang langsung menyilakan duduk di mobil double cabin

Sebelum rombongan berangkat, sempat pula saya menyalami pendiri Wanadri, Harrie Hardiman Soebari (W-001 PEN), Ardeshir Yaftebbi (Ketua Tim Pendaki Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Wanadri), dan salah satu world seven summiter, Iwan Irawan “Kwecheng”. 

Perjumpaan dengan Pendaki Everest 1997 dan “Seven Summiter”
Summiter Everest ’97, Letjen Iwan Setiawan menandatangani buku yang saya bawa/Achmad Zaeni (W 1346 HR)

Bertemu Ripto, Galih, dan Iwan Setiawan

Pukul 11.00 WIB, mestinya mentari digdaya. Namun, kalah oleh kabut yang melingkupi lereng utara Gunung Tangkuban Perahu. Suasana syahdu berpadu dengan langit yang redup. Letjen Iwan Setiawan naik podium.

Tak lama berselang, ledakan dinamit menggelegar, rentetan AK-47 mengudara, dari balik bom asap warna-warni, muncul siswa PDW berlari menuju lapangan upacara. Teriakan “Wanadri! Wanadri!” menggetarkan sanubari.

Ke-87 peserta PDW 2025 dari 15 provinsi, berbaris tegap di hadapan undangan. Iwan Setiawan memuji ketangguhan mereka, dan berpesan untuk terus mengembara sebagaimana motto Wanadri: “Tak ada gunung yang tinggi, rimba belantara, jurang curam dan lautan serta angkasa yang tak dapat dijelajahi oleh Wanadri.” 

Iwan pun terkenang pendakian Everest tahun 1997. Bersama sahabat dari Wanadri dan Mapala UI, sehidup-semati berjuang menggenggam Merah-Putih ke atap dunia. “Ada Galih (Donikara) yang jago masak. Dulu kami sama-sama menapaki medan Everest,” katanya.

“Ada Abah Iwan Abdulrachman, yang piawai bikin lagu tentang alam dan petualangan. Juga Kang Teddy Kardin, yang pernah ikut tugas operasi bareng Kopassus, dan sempat mengalami kontak tembak,” cerita Iwan mengingat momen dengan para sesepuh Wanadri.

Pelantikan peserta PDW menjadi anggota muda ditandai penyematan syal oranye dan emblem Wanadri. Letjen Iwan didampingi Komandan Latihan (Danlat) PDW 2025, Rudi “Kurdul” Mulyadi, kemudian menghampiri para siswa untuk mengucapkan selamat. Tangis haru tak terbendung.

Kiri ke kanan: Nurhuda, Iwan Irawan “Kwecheng”, dan Ardeshir Yaftebbi/Achmad Zaeni (W 1346 HR)

Setelahnya, saya lekas mendekati Letjen Iwan dan bilang bawa buku pendakian Everest 1997. Lelaki asli Bandung itu langsung mengiyakan, saat saya minta tanda tangan. Tak lupa saya tanya kabar Arya Everest Setiawan. “Sekarang jadi anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Gerindra,” ucapnya.

Arya masih dalam kandungan, ketika Iwan bertaruh nyawa menapaki puncak Everest. Nama sang anak merupakan pemberian Danjen Kopassus masa itu, Mayjen Prabowo Subianto, yang kini Presiden RI.

Kejutan lainnya datang. Tiba-tiba saja Ripto Mulyono (Mapala UI) menghampiri Iwan dan minta foto bareng. Saya tak menyiakan kesempatan dan Bang Zaeni mendokumentasikan kami berempat.

Perburuan menyasar pendaki tujuh puncak dunia (The Seven Summits) dari Wanadri, berlanjut. Terlihat Kang Kwecheng di pinggir lapangan. Segera saya samperin, dan dia senang dimintai tanda tangan untuk buku Merah-Putih di Atap Dunia.

Pas saya bilang bawa buku pendakian Everest 97, Kwecheng antusias lalu meneken pula. “Kok, bisa punya bukunya?” Saya tersenyum. Bang Zaeni memotret kami berdua.

Bahagia bisa mendapatkan tanda tangan pendaki gunung kebanggaan Indonesia/Mochamad Rona Anggie

Suasana ramai. Mata saya menyelidik, tampak seven summiter lainnya: Nurhuda! Kwecheng dan Nurhuda berhasil menjejak puncak Everest dari sisi utara (Tibet), 19 Mei 2012. Tidak ketinggalan Ardeshir yang asli Aceh, memberi kenangan tanda tangannya pula. Wah, riangnya saya!

Kegembiraan yang sama juga pasti dirasakan Fajri Al Luthfi, pendaki tujuh puncak dunia dari Wanadri yang sukses menziarahi titik 8.848 mdpl, saat berjumpa idolanya Reinhold Messner di Everest Base Camp, Mei 2013. Messner si “Dewa Gunung” mencoretkan tanda tangannya di topi Fajri.   

Ekspedisi Indonesia Everest 1997 adalah babak baru dunia pendakian di tanah air. Bertahun-tahun setelahnya, kawula muda dari Mahitala Unpar dan Wanadri sukses pula mengharumkan nama bangsa di kancah pendakian internasional dengan menyandang seven summiter.

Hatur nuhun, Pak Iwan Setiawan!


Foto sampul: Danpussenif TNI AD, Letjen Iwan Setiawan, menyalami peserta lulus PDW 2025 selepas upacara penutupan di Desa Bukanagara, Subang, Minggu, 25 Januari 2026 (Mochamad Rona Anggie)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Kisah Kawan yang Mendaki Carstensz Pyramid