INTERVAL

Jejak Survivor Bukit Mongkrang Berakhir di Sungai

Saya terus memantau upaya pencarian lanjutan yang dilakukan tim Wanadri atas pendaki hilang di Bukit Mongkrang sejak 18 Januari 2026, Yasid Ahmad Firdaus (26).

Selasa pagi (10/2/2026), saya coba menghubungi Arie Afandi “Otex”, yang di tulisan sebelumnya “Pilu Pendaki Hilang di Mongkrang, Wanadri Teruskan Pencarian” menceritakan ikhtiar kelompoknya dalam misi kemanusiaan pencarian Yasid. “Saya lagi di Bandung, coba ke Kang Badawi,” katanya.

Seakan bertelepati, anggota Wanadri Achmad Zaeni Arifianto (W-1346 HR) mengirim video komunikasi antara koordinator tim search and rescue (SAR) Wanadri, Kusnandar Badawi (W-648 BARA) dengan personel di lapangan, yang mengabarkan penemuan “botol kosong”—sandi operasi SAR khas Wanadri terkait meninggalnya survivor.

Saya tertegun dan terharu. Bersyukur kepada Allah azza wa jalla, sekaligus salut atas dedikasi tim Wanadri yang pantang pulang sebelum berhasil. “Saya hanya eksekutor di lapangan,” ujar Badawi di ujung telepon.

Banyak anggota Wanadri lainnya membantu menganalisis ke mana arah pergerakan survivor. “Kami diskusi di grup, lalu meneruskan ke tim pencari. Flying camp pun berganti tempat, mendeteksi posisi survivor,” tutur anggota Wanadri angkatan Bayu Rawa (1990) itu.

Kiranya “Tuhan bersama para pemberani”. Angin kencang dan hujan badai tak menciutkan tujuh personel Wanadri serta dua anggota SAR Surabaya, melacak keberadaan Yasid. Kegigihan mereka membuahkan hasil. Setelah 22 hari lenyap, Yasid ditemukan tak bernyawa di aliran sungai kawasan Tapak Nogo di barat laut puncak Mongkrang (2.194 mdpl).

Dari kiri: Kang Badawi mendapat info penemuan survivor dari rescuer, Selasa pagi (10/2/2026). Tim SAR menuruni tebing hingga menyusuri hutan lebat menuju sungai untuk mencari survivor/Dokumentasi Wanadri

Flying Camp Jitu

“Botol kosong” ditemukan pukul 08.54 WIB. Koordinat 070, 41, 00 (07 derajat, 41 menit, 00 detik) Lintang Selatan (LS) – 1110, 10, 30 Bujur Timur (BT). 

“Lain-lain plotting jalur terdekat untuk evakuasi. Demikian, ganti…” kata rescuer di dekat jenazah Yasid.

“Ter-copy flying camp relay radio. Posisi jalur Mitis. Informasi saya ulang, koordinat seperti tercatat, selanjutnya menganalisis-membuat jalur evakuasi, betul?”

“Betul! Ganti…”

“Baik, bila demikian. Wanadri…”

“Wanadri!!!”

Percakapan via handy talkie (HT) itu dilakukan Badawi di posko lapangan pinggir jalan arah hutan wisata Bukit Mitis (1.862 mdpl). “Saya stand by di titik ini, karena sinyal bagus,” sahutnya.

Baru tadi malam, lanjut dia, tim SAR mandiri flying camp di lereng dekat aliran sungai yang mengarah ke objek wisata Beruk Sejuk, Jatiyoso, Karanganyar. “Mereka sepertinya tidur menggantung. Posisi flying camp ada di kemiringan,” bebernya. 

Badawi mengungkapkan sembilan orang tim pencari tak punya banyak waktu. Apalagi mereka hanya diberi kesempatan melakukan eksplorasi SAR (ESAR) dari pengelola hutan wisata Bukit Mitis dan warga lokal, tiga hari saja, 7–9 Februari 2026. “Sudah ditanya kemarin, kapan keluar? Eh, alhamdulillah, hari ini (10/2/2026) survivor ditemukan,” ucapnya lega.

Jeda Sepekan, Lobi Penduduk

Tak hanya vegetasi ilalang rapat dan belantara sekeliling Bukit Mongkrang yang ditembus Wanadri dalam upaya mencari Yasid, tetapi juga restu masyarakat setempat. “Tidak mudah mengambil hati warga. Terlebih operasi SAR resmi sudah ditutup (31/1/2026). Tapi kami terus berusaha meyakinkan,” tutur Badawi. 

Penduduk desa, sambung dia, khawatir hutan rusak dan binatang liar keluar dari sarangnya, kalau tim pencari berjumlah banyak merangsek jauh ke tengah rimba. Atas alasan ini, Wanadri melakukan SAR mandiri dengan personel terbatas.

Tim pencari dibagi tiga regu oleh Badawi: penyusur sungai, pemantau (back up), dan petugas komunikasi radio. Mereka mengandalkan sistem relay guna memudahkan komunikasi di lapangan.  

Pada saat operasi SAR Basarnas ditutup, Wanadri masih berada di sekitar Mongkrang. Mereka mendirikan flying camp induk di Bukit Candi 1 (2.065 mdpl). Sambil menanti izin warga untuk melanjutkan pencarian, yang memerlukan waktu sepekan lamanya, tim melakukan rekonstruksi awal hilangnya Yasid.

Dari kiri: Laporan terkini disampaikan petugas di lapangan. Tak kenal lelah, relawan mandiri menyisir sudut hutan. Tim bersiap dari puncak Bukit Candi 1/Dokumentasi Wanadri

Tersangkut Pohon Pisang

Ke mana arah Yasid berlari—saat lomba turun dari puncak Bukit Mongkrang, Minggu (18/1/2026)—bisa digali dari Riyan yang berada di belakangnya. “Mereka masih saling melihat ketika menerobos kerumunan pendaki yang akan ke puncak,” sebut Badawi.

Benar saja, ada setapak di sebelah barat jalur pendakian yang mengarah ke sungai, dan ternyata dilalui survivor. Kondisi medan yang dikitari ilalang lebat, membuat pergerakan survivor tidak mudah, lalu kian menjauh ke arah yang tidak diketahuinya. 

Survivor berharap setapak ke sungai itu bisa memotong jalan lebih cepat. Ternyata tergiring jauh ke aliran sungai yang medannya semakin curam. Dia tidak bisa naik kembali ke puncak, karena terlampau jauh dan akhirnya kemalaman,” papar Badawi.

Pagi itu, tim SAR mandiri bersiap menyisir sungai ke hilir. Tim bergerak pukul 08.00 WIB. Tidak lama menyusuri sungai berbatu dan berair deras selebar tiga meter, di dekat pepohonan pisang tampak sesuatu tersangkut. “Ternyata jasad manusia! Berdasarkan ciri-cirinya, benar survivor Mongkrang,” kata Badawi.

“Medannya sulit dijangkau. Posisi sungai diapit dua tebing curam yang sempit. Nanti warga yang evakuasi, tugas kami mencari dan menemukan,” tegas lelaki 55 tahun itu.

Jejak Survivor Bukit Mongkrang Berakhir di Sungai
Lereng Gunung Lawu dan Bukit Mongkrang dilintasi banyak anak sungai, di antaranya terkoneksi dengan Air Terjun Jumog, Karanganyar/Disparpora Kabupaten Karanganyar via pesonakaranganyar.karanganyarkab.go.id

Terperosok dan Hipotermia     

Menurut Badawi, tim Wanadri bersikeras menyisir aliran sungai jauh ke hilir, karena arah pergerakan survivor terlacak ke sana. Apa yang menyebabkan Yasid wafat? Dia menduga karena terperosok, lantas terserang hipotermia.

Proses evakuasi jenazah diperkirakan memakan waktu tiga jam. Tergantung personel dan situasi di lapangan. Jalur turun jenazah paling dekat lewat Tlogodringo, Desa Gondosuli, Tawangmangu.

“Aksesnya lebih mudah,” tutup Badawi. 


Foto sampul: Lembahan di sekitar lereng Gunung Lawu yang beririsan dengan Bukit Mongkrang banyak membentuk air terjun mengarah ke sungai sekitaran Kabupaten Karanganyar, yang di salah satu alirannya tim SAR menemukan jasad Yasid Ahmad Firdaus (Foto hanya sebagai ilustrasi, dipotret oleh Curated Lifestyle via Unsplash).


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Cerita Penemuan Jasad Syafiq Ali di Gunung Slamet