TRAVELOG

Harmoni Alam dan Tradisi Kalitanjung melalui Ekosentrisme Leluhur

Sungai Serayu mengalir deras nan lembut. Alirannya memberi detak kehidupan masyarakat Banyumas. Tak jauh dari Sungai Serayu, terdapat sebuah dusun yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai leluhurnya. Dusun Kalitanjung, Desa Tambaknegara, merayakan berbagai ritual dengan penuh makna. Kemajemukan warga tidak menjadi penghalang untuk mengembuskan tradisi dalam kehidupan sehari-hari. 

Kemajemukan warga terlihat dari warna-warni rutinitas setiap harinya. Ketika matahari muncul, beberapa orang sudah bersiap menuju perkebunan yang terletak di perbukitan, sambil memanggul keranjang rotan. Sementara itu, warga lain tak kalah sibuk dengan membuat olahan singkong menjadi kerupuk karag dan manggleng. Oleh karena itu, tak jarang melihat rumah warga yang dipenuhi dengan singkong. Beberapa rumah juga memproduksi tempe kedelai yang dijual ke pasar.  

Kemajemukan bukan hanya ada pada pekerjaan yang dimiliki warga, melainkan juga agama dan kepercayaannya. Di dusun tersebut terdapat komunitas adat Kasepuhan Kalitanjung, komunitas yang menganut kepercayaan Islam Kejawen. Anggota komunitas berisi lebih dari 200 orang. Komunitas adat menjadi pemimpin untuk setiap tradisi yang dilaksanakan di Dusun Kalitanjung.

Kehidupan warga yang erat dengan warisan leluhur juga berdampingan erat dengan alam sekitar. Kesejukan alam juga terasa saat memasuki Dusun Kalitanjung. Seperti halnya masyarakat Jawa yang memiliki prinsip memayu hayuning bawana, suatu upaya manusia untuk tetap memelihara keharmonisan dengan alam semesta. Warga memiliki kesadaran bahwa kehidupannya tak bisa terlepas dari alam di sekitarnya. Bahkan sumber pekerjaan mereka bergantung pada alam. 

Harmoni Alam dan Tradisi Kalitanjung melalui Ekosentrisme Leluhur
Warga yang mengikuti upacara sedekah bumi di Kalitanjung/Aprilia Rizki Arifah

Ekosentrisme yang Diwariskan Leluhur

Warga sudah menyadari bahwa dirinya menjadi bagian dari alam. Secara turun-temurun mereka sudah menerapkan sikap-sikap ekosentrisme. Salah satunya, setiap bulan Sura warga mengadakan upacara merti desa atau sedekah bumi.

Upacara dilaksanakan hari Kamis Wage sampai Jumat Kliwon pada bulan Sura. Apabila pada bulan tersebut tidak ada Kamis Wage, maka diubah ke hari Senin Wage. Tidak ada yang tahu pasti asal usul upacara sedekah bumi. Warga hanya meyakininya sebagai salah satu bentuk cinta untuk alam hingga saat ini tetap lestari. 

Upacara sedekah bumi di Kalitanjung dilaksanakan selama tiga hari. Pelaksanaan upacara ini berhasil membuat saya tertarik untuk mengikuti setiap rangkaiannya. Sehingga, saya memutuskan untuk menginap di rumah warga untuk melihat detail setiap prosesinya. Keramahan warga membuat saya ingin lebih lama untuk berada di sana.

  • Harmoni Alam dan Tradisi Kalitanjung melalui Ekosentrisme Leluhur
  • Harmoni Alam dan Tradisi Kalitanjung melalui Ekosentrisme Leluhur

Bersih Desa dan Tradisi Ruwat Bumi

Pada hari Rabu Pon dan Kamis Wage—sebelum acara dimulai— warga sudah bergotong-royong untuk membersihkan lingkungan. Bersih desa dilakukan di kuburan pendiri Dusun Kalitanjung, sementara yang lain menyiapkan dekorasi untuk sedekah bumi.

Tentu saya berkeliling ke tiap RT untuk menyaksikan warga yang membuat hiasan stan dari janur. Setelah bersih-bersih selesai, para kasepuhan melantunkan doa di Bale Malang, tak jauh dari makam. Hidangan khas selamatan juga disajikan saat prosesi. Selamatan di Bale Malang ini hanya diikuti oleh beberapa kasepuhan saja. 

Saya kemudian dipandu menuju rumah kepala desa. Di sana sudah dipenuhi oleh para kasepuhan. Tentu mudah mengenali anggota-anggotanya. Para perempuan memakai kebaya hitam dengan selendang batik, bawahannya memakai kain jarik. Kemudian, untuk laki-laki juga memakai baju dan celana hitam dan blangkon.

  • Harmoni Alam dan Tradisi Kalitanjung melalui Ekosentrisme Leluhur
  • Harmoni Alam dan Tradisi Kalitanjung melalui Ekosentrisme Leluhur

Di Bale Malang sudah terpasang tenda dan panggung dengan jajaran wayang dan gamelan. Bagian pintu masuk berisi hasil bumi. Tak jauh dari panggung terdapat gunungan hasil panen warga. Proses ini dinamakan ruwat bumi yang diisi dengan pertunjukkan wayang dan doa bersama. Keunikan dusun ini ialah tidak boleh ada sinden dan penari perempuan. Oleh karena itu, selama pertunjukkan wayang, hanya ada sinden laki-laki atau wiraswara

Saya ikut larut bersama para kasepuhan. Mereka menjelaskan upacara ruwat bumi dengan ramah. Tak lama, dilantunkan doa oleh perwakilan kasepuhan dilanjutkan dengan makan bersama. Setiap meja sudah diisi oleh beberapa tumpeng di atas daun pisang. Makan bersama di atas daun pisang menjadi simbol kesederhanaan hidup. Penggunaan daun pisang sebagai alas menunjukkan penghormatan warga terhadap sumber daya alam yang tersedia tanpa meninggalkan sampah yang sulit terurai. Acara pagelaran wayang kemudian dilanjutkan kembali. 

Pagelaran wayang pada ruwat bumi ditutup dengan sebuah doa yang dipimpin oleh dalang. Doa tersebut biasa disebut “umbul doa”. Masyarakat mengakui bahwa mereka bergantung pada alam untuk kelangsungan hidup mereka. Doa tersebut dilantunkan dengan penuh khidmat sebagai wujud keterkaitan manusia dengan alam, serta keyakinan bahwa kesejahteraan mereka bergantung pada keberlangsungan dan keseimbangan alam.

Kemudian, di bawah panggung sudah tersedia seember air leri yang sengaja disediakan oleh panitia. Setelah didoakan oleh dalang, air dibagikan kepada warga. Masyarakat percaya bahwa air leri yang disiramkan ke tanaman mereka akan menjadikan tanaman tersebut subur.

Rendaman air leri (kiri) dan prosesi penguburan kepala kambing saat acara ruwat bumi Dusun Kalitanjung/Aprilia Rizki Arifah

Ungkapan Syukur melalui Sedekah Bumi

Dari sore hingga malam hari saya kembali melanjutkan berkeliling. Ada yang menyembelih kambing, karena setiap RT harus menyediakan kambing sebagai lauk saat upacara sedekah bumi. Ada juga yang mendekor stan untuk acara puncak sedekah bumi. 

Keesokan paginya, semua warga sudah berkumpul di perempatan Dusun Kalitanjung untuk mengikuti upacara sedekah bumi. Warga datang dari berbagai arah jalan dengan membawa sajian makanan yang siap untuk disantap bersama.

Acara intinya adalah penguburan kepala kambing. Penanaman kepala kambing memiliki simbol untuk mengubur hal-hal negatif, seperti melihat, mendengar, berbicara, dan merespons dengan pikiran untuk mencegah pengaruhnya terhadap perilaku dan tindakan manusia. Acara dilanjutkan dengan pembacaan ujudan dari kasepuhan dan pembacaan doa dari kayim desa.

Sesudah acara doa, saya berkeliling untuk menikmati makanan bersama warga. Mereka menyapa dengan penuh hangat dan sangat senang jika saya ikut menyantap makanan yang dibawa oleh mereka. Kegiatan yang dilaksanakan hari Jumat ini sudah selesai sebelum Jumatan tiba. Beginilah mereka menjalani hidup, selaras dan saling menghormati.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Aprilia Rizki Arifah

Senang berkelana untuk menemukan perjalanan penuh warna.

Aprilia Rizki Arifah

Senang berkelana untuk menemukan perjalanan penuh warna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Jalan-jalan di Solo dan Tawangmangu dalam Tiga Hari