INTERVAL

Pilu Pendaki Hilang di Mongkrang, Wanadri Teruskan Pencarian

Harapan tak surut. Pencarian pendaki hilang di Bukit Mongkrang berlanjut. Survivor Yasid Ahmad Firdaus (26), hingga hari ke-13 operasi search and rescue (SAR), belum ditemukan. Misi pencarian oleh Basarnas pun resmi ditutup, Sabtu (31/1/2026).

Namun, atas dasar kemanusiaan, enam orang personel Wanadri dari Bandung masih berupaya mencari Yasid. “Kami teruskan operasi SAR secara mandiri. Harapannya survivor bisa ditemukan,” kata salah satu relawan Wanadri, Arie Afandi “Otex” didampingi koordinator tim, Badawi, Ahad (1/2/2026).

Mereka berada di Bukit Mongkrang, Kabupaten Karanganyar, sejak 27 Januari 2026. Bahu-membahu bersama elemen SAR lainnya menyisir vegetasi ilalang rapat yang mengitari jalur pendakian.

Menurut Otex, jalan setapak ke puncak Mongkrang relatif aman selebar dua meter. Hanya saja, sisi-sisi jalur pendakian adalah hamparan punggungan dengan banyak patahan (rekahan) sedalam tiga meter bahkan lebih. 

“Patahan tersebut tertutup ilalang tinggi, siapa saja melewatinya rentan jatuh,” kata anggota Wanadri angkatan Hujan Rimba (2005) itu.

Otex menerangkan, hasil operasi SAR sebelumnya telah menyisir semua titik potensial yang diperkirakan terdapat survivor, tetapi nihil. Analisis tim pencari, survivor sempat bergerak ke luar jalur pendakian, kemudian terpeleset ke salah satu patahan. 

Banyak asumsi berkembang, setelah terjatuh survivor tak sadarkan diri, yang membuatnya hilang seketika. Munculnya bau menyengat sempat memberi petunjuk bagi tim SAR, yang ternyata bangkai kepala kambing di bawah Pos 3. 

“Sudah bau dan dikerubuti lalat. Itu (kepala kambing) pelengkap sedekah bumi warga setempat,” tutur Otex.

Keterangan video: Tim SAR Wanadri menerabas sabana ilalang mencari survivor Mongkrang, Jumat (30/1/26). Hingga sekarang pencarian mandiri masih mereka lakukan/Dokumentasi Wanadri

Petaka Lomba Turun 

Terungkap dari Salman dan Cahya, mereka bareng Yasid tiba di puncak Mongkrang (2.194 mdpl) pukul 08.30 WIB. Yasid paling dulu mencapai puncak, disusul keduanya. “Karena Riyan belum muncak juga, Yasid inisiatif menjemput ke bawah dan tiba bersama di puncak,” ujar Otex berdasarkan cerita Salman.

Rupanya—ini yang belum terekspos—keempat sekawan itu sepakat adu cepat turun lewat jalur baru. “Jadi ada jalur lama dan baru di Bukit Mongkrang,” beber Otex. Mereka menyetel stopwatch, dan hitungan ketiga segera berlari. 

Belum jauh dari puncak, Yasid yang unggul di depan berhenti memungut jaket yang terlepas, Salman dan Cahya pun menyalipnya. Sementara Riyan paling belakang. Tak lama kemudian, rombongan pendaki naik ke puncak menghambat Salman dan Cahya. Keduanya masih sempat melihat Yasid membelah kerumunan pendaki. 

Salman dan Cahya sampai di base camp sekitar pukul sepuluh. Riyan menyusul datang. Ketiganya heran Yasid belum tiba. Lewat tengah hari, mereka mulai cemas. Apalagi cuaca yang tadinya cerah, berubah hujan deras.    

“Ya, namanya kompetisi, bisa jadi survivor mencari setapak alternatif agar lekas sampai. Tetapi malah lenyap seketika. Ini masih berusaha kita pecahkan,” kata Otex yang sukses mengomando relawan mandiri menemukan jasad Syafiq Ridhan Ali Razan (18) di Gunung Slamet.

Kiri: Jalur turun dari puncak Mongkrang, dipotret @bangjad_ via getlost.id. Kanan: Arie Afandi “Otex” dari Wanadri (keempat dari kanan) menghadiri penutupan operasi SAR Mongkrang, Sabtu (31/1/2026), dipotret Suara Merdeka Solo.

Terapkan Flying Camp

Apa saja kendala pencarian survivor Mongkrang? Otex menjelaskan area seputaran jalur pendakian Bukit Mongkrang telah disapu tim SAR sejak 19–31 Januari 2026. Bahkan sampai ke titik tebing, menuruni air terjun di kawasan Tapak Nogo, di barat laut puncak, tetapi nihil.

“Tentu saja masih ada kemungkinan lain, ini terus kami upayakan. Misal menyusuri aliran sungai lebih jauh lagi,” ucapnya.

Tim Wanadri berbekal tali karmantel dinamis sepanjang 200 meter, statis 200 meter, dan 100 meter. Termasuk perlengkapan vertical rescue. Namun, kata Otex, setelah sepekan berjibaku di lapangan, peralatan itu belum akan digunakan lebih lanjut. 

Mereka memaksimalkan jangkauan penyisiran intensif dengan metode flying camp—bukan play camp seperti ditulis beberapa media online. Yakni bermalam di hutan, berpindah tempat mendeteksi arah pergerakan survivor.

Proses SAR mandiri kali ini memakai teknik tahap tiga (close grid search). Lazim digunakan dalam operasi Explore SAR. Antar-rescuer berjarak satu sampai tiga meter. Personel bergerak bersama dengan daya jelajah tiga kilometer. “Jarak segitu idealnya dilakukan dalam dua hari. Pindah camp lagi, lanjut menyisir lagi. Terus begitu,” terang Otex.

Sementara operasi SAR sebelumnya menerapkan pencarian tipe satu, menyusuri jalan setapak yang diperkirakan dilintasi survivor. Sedangkan tim pencari Ali di Gunung Slamet, memakai teknik tahap dua (open grid). Tiap search and rescue unit (SRU) terdiri dari lima orang, rentang kanan-kiri dua meter. 

Saat diwawancarai untuk tulisan ini, posisi flying camp tim Wanadri ada di Bukit Candi 1. Mereka menganalisis medan dengan membaca peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1:25.000 keluaran Badan Informasi Geospasial (BIG)—sebelumnya bernama Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).   

Cuaca selama pencarian Yasid, tambah Otex, kerap berubah. Ketika hari penutupan operasi SAR, cerah dan angin sepoi bertiup. Esoknya berganti hujan lebat, angin kencang, dan badai. “Kabut tebal menjadi tantangan pula,” kata lelaki gondrong itu. 

Pilu Pendaki Hilang di Mongkrang, Wanadri Teruskan Pencarian
Galih Donikara (kanan) di acara penutupan Pendidikan Dasar Wanadri 2025 (25/1/2026)/Mochamad Rona Anggie

Pesan Pendaki Kawakan     

Awal tahun yang memilukan. Kasus Yasid hilang di Mongkrang, hanya tiga hari pascapenemuan jasad Ali di Slamet, 14 Januari 2026. Membuat prihatin banyak pihak, tak terkecuali pendaki kawakan Galih Donikara (59).

Dihubungi Ahad (1/2/2026), Kang Galih kembali mengingatkan sesama pegiat alam terbuka. Baik pendaki pemula maupun berpengalaman, wajib melakukan persiapan optimal saat mau bertualang di alam bebas.

“Alam itu mengandung dan mengundang bahaya. Ya, medannya, ketinggiannya, serta cuacanya. Jangan sepelekan,” kata anggota Wanadri angkatan Topan Rawa (1989) itu.

Kang Galih menekankan setiap pegiat alam terbuka sudah semestinya memiliki kemampuan fundamental. Meliputi physical skill (kesadaran diri), knowledge skill (sadar pengetahuan), environmental skill (sadar kawasan), dan human skill (dukungan sekitar).

Contohnya seorang pendaki, kata Galih, dia harus paham kemampuan fisiknya sendiri. Apalagi gunung di Indonesia, kini sudah diberi grade (tingkatan) 1–5. Jangan sampai belum pernah naik gunung grade 3, mencoba yang grade 4. 

“Tes dulu fisik kita, mampu tidak. Lakukan evaluasi berkala. Jangan asal naik saja,” pesannya.

Lalu sadar pengetahuan, ketika hendak berkegiatan di sebuah gunung, sudah sesuaikah keterampilan yang kita punya dalam menjelajahinya. Sebab berbeda, misal persiapan ke Slamet dan Mongkrang. Pendaki harus punya pengetahuan perlengkapan apa saja yang mesti dibawa.

Kemudian sadar kawasan, para petualang jangan menganggap enteng soal cuaca di lokasi yang akan dituju. Cari informasi cuaca terkini, apakah sudah masuk kemarau—lama tidak hujan—atau jika musim hujan seperti sekarang, curahnya sedang atau tinggi. 

“Kalau lagi sering hujan deras, ya, tunda keberangkatan,” tegas Galih.

Pilu Pendaki Hilang di Mongkrang, Wanadri Teruskan Pencarian
Jangan remehkan perbekalan pendakian ketika mau ke puncak gunung/Mochamad Rona Anggie

Dia pun memberi tips jika sebuah aktivitas petualangan tertunda, pendaki bisa memanfaatkan waktu untuk merawat sepatu, carrier, dan uji coba formulasi bekal. Biar makan di gunung tidak membosankan. “Coba buat menu baru. Bikin kreasi yang mengundang selera,” ucapnya.

Karena urusan makan pendaki, kata Galih, tidak semata saat mau ke puncak, melainkan pula saat turun gunung. Banyak pendaki lupa, asupan energi ketika naik dan turun gunung itu idealnya sama.

Dia mengingatkan kasus kecelakaan di gunung, di antaranya banyak terjadi saat turun dari puncak. Terbawa euforia keberhasilan muncak, lantas begitu saja turun tanpa makan dan minum. Imbasnya fokus berkurang, konsentrasi hilang. “Akhirnya keliru pilih jalur turun, tersasarlah. Tidak fokus, akibat tenaga terkuras,” ujar pendaki ekspedisi Indonesia Everest 1997 itu.

Terakhir, human skill berupa dukungan keluarga dan rekan terdekat. Acapkali pendaki yang sudah berpengalaman merasa fisik prima, lantas pergi seorang diri ke gunung. Tidak ngabarin keluarga atau orang tua, tidak pula kawan di perhimpunannya. “Muncul sifat sombong, merasa kuat dan mampu. Ini tidak baik,” ujar Galih.

Sebab, sebuah pendakian gunung, akan lebih aman dilakukan beberapa orang. Ada buddy system di dalamnya. Saling menjaga dan memperhatikan kawan seperjalanan. Respek tumbuh, kekompakan terjalin. 

Galih pun teringat filosofi para petualang high altitude di Nepal, bahwa gunung sejatinya memilih siapa yang boleh menjamah dan mencapai puncaknya. Karena itu di sana olahraga mendaki gunung familiar dengan sebutan aktivitas “berziarah”. “Tidak sembrono asal naik saja,” kenangnya.  

Tidak lupa, pendaki yang pada 1990 telah menapaki puncak-puncak Pegunungan Sudirman, Papua, itu mengingatkan pengelola base camp pendakian. Mesti tegas dan konsisten menerapkan aturan pendakian standar seperti cek kesehatan (denyut nadi dan saturasi oksigen), juga perlengkapan dan perbekalan pendaki.

Kuota pendakian, kata Galih, harus konsisten pula. Termasuk tegas soal batas waktu muncak. Biar pendaki memperhatikan manajemen waktunya. “Jangan sampai pendaki turun kemalaman, bahaya!” pesan tim ahli Eiger Adventure Service Team (EAST) itu.        


Foto sampul: Gunung Lawu menjulang dari jalur pendakian Bukit Mongkrang, yang dikelilingi savana ilalang (Getlost.id)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Kisah Kawan yang Mendaki Carstensz Pyramid