Aku tiba di kaki Gunung Karang pada 1 Januari 2026, tepat ketika kalender baru saja berganti halaman. Hujan masih menyisakan jejaknya di tanah, udara terasa lembap, dan awan menggantung rendah di punggung gunung.
Hari pertama tahun baru itu menghadirkan perasaan yang kuat. Sebuah keinginan untuk mendaki dan perjalanan yang ingin kugunakan sebagai cara menutup 2025 dengan lebih tenang.

Penundaan sebagai Awal
Namun, sesampainya di gerbang pendakian via Kaduengang, Desa Pasirpeuteuy, Kabupaten Pandeglang, Banten, sebuah pengumuman terpampang jelas: pendakian ditutup sementara. Alasannya sederhana dan masuk akal—demi keamanan, ketertiban, serta penghormatan pada momen pergantian tahun. Rasa kecewa sempat muncul, bukan karena gagal mendaki, melainkan karena rencana yang sudah kususun harus berhenti begitu saja.
Di titik itu aku kembali diingatkan bahwa bagaimanapun juga aku hanyalah tamu. Seperti pepatah lama, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Barangkali penundaan ini justru bentuk perlindungan, pengingat bahwa alam tidak pernah sepenuhnya tunduk pada jadwal manusia.
Seorang ketua linmas setempat menghampiri dengan sikap ramah dan nada menenangkan. Tidak ada kesan mengusir atau menghakimi. Dengan senyum sederhana, ia mempersilakan aku agar beristirahat dan sebaiknya bermalam saja di pos. Pos ini menjadi tempat kami berteduh, menghangatkan badan, dan tempat ngopi bersama (kopi dan air panas telah disediakan). Tak ada transaksi yang serba finansial di sini, hanya keramahan yang tulus. Kami duduk di kursi bambu sederhana, kopi hitam mengepul pelan, bercampur aroma tanah basah dan dedaunan.
Obrolan mengalir ringan tentang cuaca, tentang gunung, tentang peziarah di Petilasan Ki Jaga Raksa yang datang tanpa mengenal waktu—bahkan hingga dini hari. Aku lebih banyak diam, mendengarkan. Di hari pertama 2026 itu, aku tidak sedang mendaki gunung, melainkan sedang belajar menunggu. Malam berlalu bersama hujan deras khas Januari, sunyi, dan perasaan diterima di tempat yang bahkan belum sempat kutapaki. Aku tidur dengan pikiran yang lebih jernih. Barangkali perjalanan ini memang tidak dimaksudkan untuk dimulai dengan langkah, tetapi dengan kesabaran.
Pendakian baru benar-benar dimulai pada 2 Januari 2026 setelah membayar SIMAKSI lima belas ribu rupiah. Langit pagi masih berat oleh awan, tidak cerah, tidak pula sepenuhnya muram. Dari kawasan permukiman, aku melangkah perlahan menuju jalur. Warung kecil, kabel listrik yang melintang rendah, motor warga yang lewat, hingga mobil pikap pembawa sayuran menuju Pasar Pandeglang, semuanya terasa biasa. Namun, justru di sanalah aku mulai merasa membumi.
Pintu pendakian Gunung Karang di Desa Pasirpeuteuy menjadi batas. Dari sinilah, dunia sehari-hari mulai tertinggal. Jalur tanah yang lembap, akar-akar pohon yang mencuat, dan tanjakan yang tidak tergesa memaksaku menata ulang napas. Bukan hanya fisik, melainkan juga batin. Mendaki sendirian membuat setiap langkah terasa jujur. Tidak ada percakapan untuk mengalihkan lelah, tidak ada siapa pun untuk disalahkan selain diri sendiri.


Hutan yang Mengingat Luka
Hutan Gunung Karang hidup tanpa perlu bersuara keras. Berdasarkan riset kehutanan di tahun 2010, vegetasi kayu-kayuan mendominasi kawasan ini, terutama dari famili Lauraceae, yang menjadi kelompok tumbuhan paling menonjol di hutan lindung Gunung Karang. Jenis-jenis seperti huru, saninten, puspa, hingga berbagai ficus membentuk kanopi yang rapat. Di antara pepohonan itu, beberapa spesies tergolong mulai langka seperti tongtolok, kimanggu, kacapi, teureup, dan sintok telah menjadi penanda bahwa hutan ini bukan sekadar jalur pendakian, melainkan juga ruang hidup yang rapuh dan perlu dijaga.
Di sela jalur, semak-semak pionir seperti harendong (Melastoma), kirinyuh (Chromolaena odorata), babadotan (Ageratum conyzoides), hingga putri malu (Mimosa pudica) tumbuh subur di area terbuka, tanda bagaimana hutan merespons luka dan gangguan. Penelitian yang sama mencatat bahwa perubahan fungsi hutan lindung menjadi hutan produksi di Gunung Karang berdampak langsung pada penurunan keanekaragaman hayati, tidak hanya tumbuhan, tetapi juga fauna. Berkurangnya keragaman vegetasi berimplikasi pada menurunnya populasi burung dan serangga hutan, yang bergantung pada struktur ekosistem yang stabil.
Pos demi pos kulewati dengan ritme pelan. Dalam obrolanku dengan ketua linmas kemarin, setidaknya ada lima pos sebelum menuju area puncak Sumur Tujuh. Namun, kenyataan di lapangan, Pos 3 dan 4 tidak ditemukan, sebuah catatan penting bagi pendaki lain. Aku sempat bertemu dua pendaki tektok yang ragu melanjutkan langkah karena kebingungan arah. Di sinilah Gunung Karang menuntut kewaspadaan, bukan kecepatan.


Berhenti untuk Melanjutkan
Setelah kurang lebih empat jam perjalanan di salah satu saung bambu di Pos 5, aku berhenti cukup lama. Carrier kubongkar, makan siang kusiapkan, air kupanaskan untuk secangkir kopi, dan sebatang rokok kunyalakan. Tidak ada pemandangan istimewa, hanya rimbun pepohonan dan suara serangga yang samar. Namun, di sanalah pikiranku melayang ke banyak hal yang tak sempat kupikirkan selama setahun terakhir. Tentang bagaimana aku sering memaksa diri untuk terus bergerak, terus produktif, seolah berhenti berarti kalah. Gunung Karang mengajarkanku sebaliknya: bahwa berhenti juga bagian dari bergerak, selama kita sadar mengapa melakukannya.
Menjelang puncak, kabut menutup pandangan. Area puncak menghadirkan musala kecil, makam Nyai Katel, dan Sumur Tujuh yang melegenda—mata air yang konon muncul dari tongkat Syekh Maulana Hasanuddin. Aku tidak datang untuk membuktikan mitos. Aku datang untuk belajar menghormati. Bahwa ada ruang di alam yang sebaiknya tidak ditaklukkan, hanya dilalui dengan rendah hati.
Tidak ada panorama luas yang bisa difoto dengan bangga. Namun, justru di situlah ketenangan itu utuh. Aku tidak datang untuk melihat jauh ke luar, tetapi untuk melihat ke dalam. Di puncak Gunung Karang, aku tidak membuat resolusi besar. Aku hanya berjanji untuk hidup lebih sadar dengan menerima penundaan, menghargai jeda, dan tidak memaksakan segalanya berjalan sesuai rencana.
Perjalanan turun terasa berbeda. Jalur yang sama, carrier yang sama, tetapi isi kepalaku lebih ringan. Gunung Karang tidak memberiku jawaban, tetapi memberiku ruang untuk berdamai dengan pertanyaan. Ia mengajarkanku bahwa menunggu pun bagian dari perjalanan, dan bahwa awal yang baik tidak selalu dimulai dengan langkah cepat.
Mungkin, dengan segala kesederhanaan dan kesabarannya, itulah cara paling jujur untuk memulai 2026.
Referensi:
Hidayat, Y. (2010). Indeks Keanekaragaman Jenis Pohon di Hutan Gunung Karang Banten. Wana Mukti: Forestry Research Journal, Vol. 11 No. 1, Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti, https://sith.itb.ac.id/wp-content/uploads/sites/56/2018/01/indeks-keanekaragaman-jenis-pohon-di-hutan-gunung-karang-banten.pdf.
Sari, I. N. (2023, 8 September). Sejarah Gunung Karang dan Asal-usul Sumur Tujuh di Pandeglang yang Melegenda. iNews Cilegon, https://cilegon.inews.id/read/343175/sejarah-gunung-karang-dan-asal-usul-sumur-tujuh-di-pandeglang-yang-melegenda.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.



