INTERVAL

Cerita Penemuan Jasad Syafiq Ali di Gunung Slamet

Misi kemanusiaan tak mengenal batas waktu. Ini mendasari niat relawan melakukan operasi search and rescue (SAR) tahap kedua, demi menemukan Syafiq Ridhan Ali Razan, pendaki yang hilang di Gunung Slamet sejak 28 Desember 2025.

Saya beruntung bisa mewawancarai Abdul Kholiq Zainal Muttaqin—anggota Unit Pandu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (UPL Unsoed)—salah seorang anggota tim pencari yang berhasil menemukan jasad Ali, Rabu (14/1/2026). 

Kontak Kholiq saya dapat dari Mbak Mila, seniornya di UPL Unsoed yang bersuamikan anggota Wanadri. Ketika saya menulis kisah kepergian Abdul Kadir Usman di TelusuRI, Mbak Mila termasuk yang saya kabari sebagai wujud duka cita untuk keluarga besar UPL Unsoed.

Kholiq mengungkapkan, misi pencarian tahap kedua melibatkan personel Wanadri, Wikupala, Mapala Kompas, Mapala Batik, Mayapada, dan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI). Perangkat komunikasi lapangan didukung oleh Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI).

Anggota Wanadri angkatan Hujan Rimba (2005), Arie Afandi “Otex”, didaulat menjadi SAR Mission Coordinator (SMC). Lelaki gondrong itu mengomando pergerakan relawan dari Base Camp (BC) Gunung Slamet Dipajaya, Kabupaten Pemalang. Tempat Syafiq Ali dan rekannya Himawan Haidar Bahran mendaftar naik ke puncak Slamet pada Sabtu–Ahad, 27–28 Desember 2025.

Tim SAR dari komunitas pencinta alam usai penemuan jasad Ali, tak jauh dari puncak Gunung Malang (kiri) dan markas OSC di Pos 7 Gunung Malang/Dokumentasi SAR Syafiq Ali

Menganalisis Keterangan Himawan

Tim SAR tahap kedua berjumlah 23 orang. Mereka menembus medan terjal Gunung Malang, Senin (12/1/2026). Rute ini ada di sebelah kiri BC Gunung Slamet via Bambangan, Kabupaten Purbalingga. 

Menurut Kholiq, pihaknya menyisir Gunung Malang berdasarkan keterangan Himawan. “Posisi terakhir mereka terpisah, kami perkirakan ada di jalur Gunung Malang arah puncak Slamet. Kami tidak ke lokasi yang sudah disisir sebelumnya,” terangnya.

Selama tujuh jam mengarungi belantara Gunung Malang, tim SAR tiba di Pos 7 (pos terakhir) menjelang gelap. Mereka berkemah dan membuat perapian. “Biasanya pendakian ke puncak Slamet via Gunung Malang itu 12 jam. Kami bergerak lebih cepat, demi mengoptimalkan waktu,” kata Kholiq.

Tim mulai mencari keberadaan Ali dari Pos 7 Gunung Malang, Selasa pagi (13/1/2026). Koordinator SAR di lapangan atau OSC (On Scene Coordinator) bermarkas di sini. OSC berwenang mengabari SMC di posko induk Dipajaya, terkait perkembangan pencarian yang dilakukan SRU (Search And Rescue Unit) alias para relawan. 

Gerimis dan kabut mengiringi langkah tim SAR menuju puncak Gunung Malang di ketinggian 2.815 mdpl. Memasuki area Plawangan atau batas vegetasi, angin bertiup menggigilkan tubuh. “Kami kitari medan pasir-berbatu mahaluas di lereng puncak Slamet. Mata menyelidik, mencari tanda-tanda survivor,” cerita Kholiq. 

Harapan itu muncul! Pukul 09.00 WIB, tim menemukan sebuah dompet dan senter yang diduga punya Ali. Benar saja, di dalamnya ada STNK atas nama Naufal Hisyam Rusman. Ali menuju BC Dipajaya dari rumahnya di Magelang memakai motor milik sang kakak, Naufal.

“Kami bersyukur mendapat titik terang. Kendala cuaca membuat pencarian dilanjutkan esok,” kata Kholiq.

Tim SAR mendapatkan ceceran barang milik Ali, Selasa (13/1/2026). Ada sarung tangan, senter, dan dompet berisi STNK/Dokumentasi SAR Syafiq Ali

Akhirnya, Ali Ditemukan

Rabu (14/1/2026), ditemani remang kabut, tim kembali bergerak dari Pos 7 ke titik ditemukannya barang milik Ali, kemarin. Tidak jauh dari puncak Gunung Malang, sekitar 50 meter ke area Plawangan, relawan menemukan sebuah sepatu. Mereka semakin yakin keberadaan survivor di sekitar situ.

Temuan itu langsung dikabarkan ke OSC, lantas meneruskannya ke SMC. Kabut mengurung makin tebal, jarak pandang personel terbatas. Namun, mereka tak menyerah. Terus menyusuri jalur seputar Plawangan, hingga melihat ke bawah sebuah cerukan, ada sesuatu mencurigakan.

Pukul 10.00 WIB, tim menuruni cerukan curam sedalam lima meter. Mereka tertegun ketika menginjak tepian berpasir, melihat jasad manusia tertelungkup. Kaget, sedih, dan terharu. Komunikasi radio memecah keheningan: “Survivor ditemukan! MD!”

“MD” adalah sandi dalam operasi SAR untuk mengabarkan jika survivor telah wafat. Dalam keadaan darurat lainnya, warna merah, hijau, dan kuning, juga biasa dipakai sebagai kode.

Ali memakai jaket hitam dan celana pendek. “Survivor terindikasi kena hipotermia. Dia sempat melepas celana (panjang), karena sudah tingkat empat (hipotermia),” kata SMC Arie dalam video yang saya peroleh dari Ahmad Zaeni, rekan seangkatannya di Wanadri. “Bukan di jurang, tapi masih di lerengnya, ya,” imbuh Arie mendetailkan posisi jasad Ali.

Hipotermia level empat adalah kondisi suhu tubuh anjlok di bawah 35 derajat Celcius. Menyebabkan halusinasi, hilang kesadaran, henti jantung, hingga berakhir kematian.  

“Selain sepatu, didapati pula trekking pole-nya. Tercecer di beberapa titik,” tambah Kholiq.

Di tengah langit yang bergemuruh dan mendadak gelap, selepas mendokumentasikan penemuan survivor, tim segera membungkus jasad Ali, lalu kembali ke Pos 7 Gunung Malang. Angin berembus kencang, kabut menyelimuti jenazah Ali di lautan pasir-berbatu puncak Slamet.

Proses evakuasi jenazah tak bisa langsung hari itu. Baru Kamis (15/1/2026), relawan bahu-membahu menggotong jasad remaja 18 tahun itu menuju BC Dipajaya.

“Tidak bisa diperkirakan kapan jenazah tiba, tergantung pergerakan tim dan cuaca di lapangan. Kami bersyukur survivor bisa ditemukan dan kembali kepada keluarga untuk dimakamkan,” tutur Kholiq yang segera berlari turun ke Dipajaya, begitu survivor terdeteksi. “Sampai Base Camp Gunung Malang langsung motoran ke Dipajaya. Jaraknya sekitar 3,3 kilometer.”

Cerita Penemuan Jasad Syafiq Ali di Gunung Slamet
Lokasi jasad Ali tergeletak saat dijumpai tim SAR/Dokumentasi SAR Syafiq Ali

Kenapa Tersasar ke Gunung Malang?

Ini yang membuat saya penasaran. Bukankah Ali dan Himawan naik via Dipajaya, yang beda jalur dengan Gunung Malang? Mengapa jasad Ali malah terlacak di kawasan Plawangan puncak Gunung Malang?

Kholiq menjelaskan dengan gamblang, berdasarkan cerita Himawan. Kedua siswa SMAN 5 Magelang itu merupakan pendaki yang terakhir turun dari puncak Slamet, Ahad (28/12/2025). 

“Pukul tiga sore, mereka paling terakhir turun,” kata Kholiq. “Karena perdana ke Slamet, ketika turun membelah lautan pasir-berbatu, mereka disorientasi. Tidak masuk ke jalur yang sama saat naik, tapi menjauh ke titik lain.”

Hingga Senin pagi (29/12/2025), lanjut Kholiq, mereka masih bersama. Melewati malam yang menyedihkan tanpa perlengkapan kemah dan logistik memadai, karena sedari awal berniat mendaki tektok (tidak bermalam). 

“Senin pagi itu Himawan tertidur. Pas bangun, Ali sudah tidak ada. Dia sempat mendengar ada yang teriak ‘tolong, tolong…’. Tapi apa daya, kakinya cedera,” Kholiq mengisahkan pengalaman Himawan.

Beranjak siang, Himawan bangkit dengan menahan sakit di kaki. Dia berjalan ke puncak lagi, dan bertemu pendaki dari jalur Baturraden yang segera memberinya makanan. 

Pendaki yang baik itu mengantar Himawan turun ke jalur Dipajaya, hingga dijumpai tim SAR di Pos 9, yang lanjut membawanya ke BC Dipajaya. Himawan pun selamat dari cengkeraman maut, sedangkan Ali entah di mana. Operasi SAR resmi ditutup sepekan kemudian, karena Ali tak jua terdeteksi.

Kholiq mengungkapkan pencarian mandiri oleh relawan, mengawali dibukanya kembali operasi SAR tahap kedua oleh beberapa kelompok pencinta alam. Merujuk paparan Himawan, tim SAR tahap kedua memperkirakan Ali melipir jauh ke jalur Gunung Malang dan tak menemukan jalan pulang. 

“Tim fokus ke sana. Kami bertekad menginap di gunung sampai sepekan, demi melacak survivor,” tegas Kholiq.

Cerita Penemuan Jasad Syafiq Ali di Gunung Slamet
SMC Arie Afandi “Otex”dari Wanadri (tengah), mengkoordinasikan relawan dalam misi pencarian Syafiq Ali tahap kedua/Dokumentasi SAR Syafiq Ali

Relawan Mandiri Gigih Berjuang

Sebelum operasi SAR tahap kedua dimulai, sejumlah relawan juga berinisiatif melacak keberadaan Ali secara mandiri. Di antaranya Airul (38), seorang pemandu pendakian Gunung Slamet dari BC Permadi Guci.

Bareng dua rekannya, Airul mencari Ali di sekitar puncak Slamet rute Dipajaya. Berhari-hari, usaha kerasnya belum membuahkan hasil. Padahal sudah turun ke jurang, merambah semak belukar, dan lorong cantigi yang bisa membuat tersesat. Tapi nihil! Namun, Airul tak ragu, dan terus mencari.

Tercatat, lelaki yang sudah beberapa kali mengelilingi antarpuncak Gunung Slamet dari semua sisi itu, telah empat kali bolak-balik menjalankan misi SAR mandiri demi menemukan Ali.

“Tahap pertama bareng Basarnas, saya ikut. Selanjutnya bergerak mandiri, hingga ada kabar penemuan jasad Ali, saya bergabung membantu proses penurunan jenazah,” ujarnya.

Airul menegaskan, setiap tahun ada saja korban hilang dan meninggal dunia di jalur pendakian Gunung Slamet. Peristiwa demi peristiwa, kata dia, hendaknya jadi pelajaran untuk mereka yang ingin menziarahi atap Jawa Tengah.

“Berkegiatan di alam terbuka itu penuh risiko. Jangan sepelekan kesiapan diri. Apalagi tektok di Slamet, tidak bisa sembarangan. Medan pendakian berat, dan cuaca sulit ditebak,” paparnya mewanti-wanti.


Foto sampul: Kerucut pasir-berbatu jelang puncak Gunung Slamet merupakan medan terbuka yang rentan empasan badai. Saya dan tiga anak lanang menjajalnya pada 8 Januari 2023 (Mochamad Rona Anggie)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menapaki Akar Cinta di Gunung Prau via Dwarawati