TRAVELOG

Umbul Kroman, Mata Air yang Menenangkan di Klaten

Kabupaten Klaten terkenal dengan kekayaan sumber airnya yang berupa umbul. Beberapa umbul sudah pernah saya selami, tetapi Umbul Kroman, tujuan kali ini berbeda. Sebab, informasi mengenai Umbul Kroman tidak sebanyak umbul lainnya. Dalam perjalanan ini saya ditemani oleh sahabat saya yang juga baru pertama kali ke Umbul Kroman. Kami memulai perjalanan dari Solo menuju Klaten dengan jarak tempuh sekitar satu jam.

Perjalanan dilakukan dengan mengandalkan aplikasi peta serta bertanya kepada warga setempat. Peta menunjukkan bahwa arah menuju Umbul Kroman semakin dekat, mobil juga sudah memasuki gang yang cukup sempit. Tak jauh dari situ, terlihat papan petunjuk menuju Umbul Kroman, mengarahkan ke jalan menurun yang terlihat curam dan sulit untuk dilewati.

Kami memutuskan untuk memarkir mobil di depan warung soto sembari bertanya arah menuju Umbul Kroman. Ibu penjual soto kemudian menjelaskan kalau jalan yang kami lalui sudah benar, selanjutnya hanya perlu turun dan berjalan melewati sisi Embung Mranggen.

Umbul Kroman, Mata Air yang Menenangkan di Klaten
Pintu masuk menuju Umbul Kroman/Aprilia Rizki Arifah

Perjalanan Menuju Umbul

Kami mengikuti arahan beliau dengan berjalan melewati jalan menurun yang mengarah ke tempat parkir. Setelah dilalui, ternyata tidak semenakutkan yang dibayangkan. Di area parkiran ini tidak ada loket untuk membayar tiket masuk ke Umbul Kroman, yang berarti gratis. Tak jauh di depan kami, sudah ada dua remaja yang ternyata memiliki tujuan yang sama. Kami berjalan di belakang mereka.

Setelah melewati parkiran, kami berjalan menuju Embung Mranggen. Mentari cukup terik, tetapi tidak menyurutkan semangat orang-orang yang memancing di area embung. Perjalanan kami lalui dengan menyapa mereka sambil bertanya arah ke Umbul Kroman. Mereka membalas sapaan kami dengan hangat serta menunjukkan arah jalan. Sesudah berhasil melewati embung, kami melihat jembatan kecil dengan sungai dangkal yang mengalir di bawahnya. Airnya begitu jernih. 

Tak jauh dari jembatan, terlihat anak-anak sedang memancing di area sungai. Mereka duduk di atas batu sambil memainkan alat pancingnya. Kemudian, kami diarahkan menuju umbul yang berada di belakang sungai itu.

Kami berjalan melewati batu-batuan di sungai. Kaki kami mencari batu yang stabil sebagai pijakan untuk melewati sungai yang sebenarnya tidak terlalu deras, hingga tibalah pada jalan setapak yang kanan-kirinya dipenuhi oleh rerumputan hijau. Tak jauh, sudah terdengar tawa orang yang sedang ciblon.   

Umbul Kroman, Mata Air yang Menenangkan di Klaten
Seorang anak memancing di Umbul Kroman/Aprilia Rizki Arifah

Suasana di Sekitar Umbul

Akhirnya kami tiba di Umbul Kroman. Papan sederhana bertuliskan ucapan selamat datang seolah menyambut kedatangan dengan tangan terbuka. Papan tersebut cukup sederhana, disangga oleh bambu. Di depannya sudah ada pohon yang tumbang, tetapi tidak mencapai permukaan tanah karena bersandar pada tebing di seberangnya.

Saat masuk, pengunjung akan langsung dihadapkan pada umbul dan gazebo. Di belakang gazebo juga terdapat aliran air sungai kecil yang bening. Suara cipratan air, remaja yang melompat ke umbul, dan anak-anak menyusun batu membuat kami tersenyum. Lelahnya perjalanan terbayar dengan jernihnya umbul.  

Gazebo sudah dipenuhi oleh sejumlah pengunjung bersama barang bawaannya. Beberapa dari mereka sedang menunggu anaknya bermain air. Ada juga para remaja yang asyik menikmati suasana di gazebo dengan bercanda dan berbincang.

Saya juga melihat pengunjung yang memilih untuk tidak berenang, mereka hanya duduk menikmati jernihnya air dan keriuhan orang berenang. Bagi mereka itu sudah cukup menenteramkan pikiran. Mereka seolah ikut larut dalam dinginnya air umbul. Beberapa kali saya terkena cipratan air dari anak-anak yang sedang berenang sehingga membuat saya ingin segera menceburkan diri. Perlahan saya memasukkan kaki ke dalam air yang dinginnya menjalar ke seluruh tubuh. 

Air di Umbul Kroman berwarna hijau toska karena terkena paparan sinar matahari. Cahaya surya turut menampakkan dasar umbul yang memiliki kedalaman 75–100 sentimeter. Air yang begitu jernih tak bisa menyembunyikan batuan dan ikan di dasar. Kawanan ikan yang bergerombol seolah mengajak pengunjung untuk menikmati air bersamanya. Cuaca memang terik, tetapi pepohonan yang mengelilingi area umbul memberikan kesejukan. Selain itu, adanya tebing pada sisi lain umbul juga memberikan keteduhan. 

Pengunjung di umbul ini tidak seramai wisatawan di umbul lain. Saya pikir karena belum terlalu banyak orang yang tahu mengenai umbul ini. Akan tetapi, ini juga menjadi nilai tambah bagi kami karena serasa menjadi pemilik dari Umbul Kroman.

Beberapa menit setelah kedatangan saya, anak-anak yang berenang pergi ke arah sungai. Mungkin mereka sudah cukup lama berenang di umbul. Hingga tinggal kami saja yang berada di area umbul. Ketenangan dan kesejukan umbul ini membuat betah siapa pun yang datang. Gemerisik daun bersahutan dengan gemericik air. Keduanya menghadirkan harmoni indah yang melenakan.

Umbul Kroman, Mata Air yang Menenangkan di Klaten
Ikan-ikan, batuan, dan dasar umbul terlihat jelas saking jernihnya air/Aprilia Rizki Arifah

Cerita Lokal, Larangan, dan Imbauan di Umbul Kroman

Masyarakat menamai sumber air tersebut dengan nama Umbul Kroman karena sebuah alasan. Umbul artinya mata air, sementara Kroman mengarah pada letak mata air yang berada di Dukuh Kroman, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Klaten. Umbul ini sudah sejak lama dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai sumber air bersih. Saat pagi hari banyak warga yang datang ke sini untuk mandi, mencuci, dan aktivitas lainnya. 

Berdasarkan hasil perbincangan dengan warga setempat, ada kepercayaan yang diyakini secara turun-temurun. Konon, perempuan yang datang untuk berenang di Umbul Kroman akan memancarkan aura kecantikan—segar, bersih, dan ceria. Oleh karena itu, banyak pengunjung yang tertarik untuk datang ke sana agar aura kecantikannya terpancar.

Meskipun umbul tersebut dihuni oleh cukup banyak ikan, tetapi tidak ada yang boleh memancing di area umbul. Warga biasanya memancing di area sungai sekitaran umbul. Selain itu, jika perempuan sedang haid tidak diperkenankan untuk mandi di umbul. Pengunjung juga harus menjaga fasilitas yang ada di area umbul dengan bijak, yaitu menjaga kebersihan dan kenyamanan. Tentunya ini juga berkaitan erat dengan kelangsungan ekosistem umbul. Kebersihan berkaitan erat dengan kenyamanan pengunjung. Oleh karena itu, pengunjung harus bertanggung jawab untuk menjaganya. Di sana sudah disediakan tempat sampah agar tidak ada sampah yang mengotori sungai dan umbul. Keindahan alam tersebut harus senantiasa dijaga dengan kebijakan sikap saat berlibur.

Lalu, kapan saat terbaik untuk menikmati Umbul Kroman? Umbul ini buka setiap hari dari pukul 6 pagi hingga 5 sore. Jadi, silakan memilih waktu yang sesuai. Saya sarankan untuk pergi ke sana saat pagi atau sore hari. Perjalanan akan terasa nyaman karena suasana tidak terlalu seterik siang hari. Selain itu, saat pagi suasana asri sehingga dapat membangkitkan semangat untuk memulai hari. Sementara itu, ketika sore hari, cahaya matahari perlahan tenggelam, menciptakan pemandangan yang menakjubkan. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Aprilia Rizki Arifah

Senang berkelana untuk menemukan perjalanan penuh warna.

Aprilia Rizki Arifah

Senang berkelana untuk menemukan perjalanan penuh warna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Sampai Kapan “Emas Biru” dari Klaten akan Bersinar?