TRAVELOG

Seporsi Makanan Raja Sebelum Menuju Nirwana

Makan dulu baru bermain, itulah SOP perjalanan hari ini yang saya dan istri sepakati. Kami sedang di Kota Padang. Rencananya adalah pergi ke tempat makan dengan menu ayam penyet dan es durian ketan hitam yang sedang viral, lalu ke pantai.

Tapi memang sebuah kesalahan pergi ke tempat yang sedang populer di media sosial. Sesampainya di lokasi, jangankan masuk, sekadar mencari tempat parkir saja sangat sulit, belum lagi antrean yang mengular. Kalaupun saya berhasil masuk, rasanya juga tidak akan nyaman. Makan seperti diburu-buru oleh orang yang mengantre dengan tatapan tajam. Seolah memaksa kita agar segera menghabiskan makanan lalu pergi.

Akhirnya kami putuskan bergeser ke opsi selanjutnya, rumah makan.

Seporsi Makanan Raja Sebelum Menuju Nirwana
Tungku besar yang menyambut kedatangan pengunjung di Randang Rajo Rajo/Adzkia Arif

Warung Makan Randang Rajo Rajo

Baru turun dari mobil, saya disambut hawa panas serta asap dari kobaran api hasil pembakaran kayu bakar di tungku besar. Warung Makan Randang Rajo Rajo ini merupakan salah satu rumah makan yang cukup terkenal di sudut Kota Padang, tepatnya Simpang Jondul, Padang Selatan.

Seorang juru masak laki-laki terus mengaduk kuali besar di atas tungku berisi rendang, atau randang dalam bahasa Minang. Makanan khas Sumatra Barat ini dikenal sebagai salah satu masakan daging terenak di dunia. Menurut saya yang lahir dan besar di Minangkabau, rendang memiliki kelasnya tersendiri di antara barisan kuliner lokal lainnya. Klaim itu juga diperkuat lewat cerita di randangrajorajo.com, yang menyebut randang sebagai makanan para raja zaman dulu.

Randang menjadi menu berbahan dasar daging kerbau yang hadir pada momen sakral, seperti acara adat atau baralek (pesta pernikahan). Kini, randang dapat kamu temui hampir di setiap rumah makan khas Minangkabau dan menggunakan daging sapi. 

Tentu saja, saya akan mencoba menu randang di sini. Namun, sebelum itu saya melakukan wawancara dadakan dengan para juru masak dahulu. Anak dan istri langsung meluncur masuk karena tak tahan dengan asap dan hawa panas dari tungku.

Seporsi Makanan Raja Sebelum Menuju Nirwana
Kuali berisi santan yang baru dimasukkan (kiri) dan kuali berisi randang yang sudah hampir matang/Adzkia Arif

Tujuh Jam Memasak Randang Tanpa Henti

Jujur saja, mengajak bicara orang yang sedang mengaduk masakan dalam kuali besar di atas tungku api panas bukanlah tindakan yang tepat. Rasa penasaran membuat saya nekat, dan ternyata, mereka sangat ramah menjawab apa pun pertanyaan saya bahkan membolehkan mengambil gambar. Mungkin karena mereka sudah terbiasa menyambut tamu yang datang.

Dari hasil wawancara, ternyata randang di sini dimasak selama tujuh jam tanpa henti agar matang sempurna sebelum disajikan. Mulai dari menuangkan santan hingga mengaduknya bersama bumbu dan daging. Jika diukur dari tingkat kematangan saat memasak daging, ada medium rare, ada well done, dan di atas itu ada randang yang menjadi puncaknya.

Selesai wawancara, saya segera masuk untuk menuntaskan rasa penasaran akan randang di tempat ini. Selain itu saya juga sudah lapar. Inilah momen pembuktian apakah rasa randang di sini sesuai dengan popularitasnya. Sebab, menurut saya tak semua rumah makan menyajikan menu randang yang rasanya khas. Beberapa sudah disesuaikan dengan lidah wisatawan yang tak terlalu suka pedas, bahkan rasanya cenderung manis. 

Seporsi nasi, sepiring randang dan menu lainnya tersaji, setelah berdoa saya langsung eksekusi. Ternyata randang di sini memang beda. Adukan tujuh jam tadi terbukti menghadirkan rasa yang spesial. Dagingnya lembut dan bumbunya meresap, ditambah sensasi smoky karena dimasak dengan kayu bakar. Tersaji dalam keadaan hangat ditemani kerupuk jengkol balado, rasanya benar-benar nendang. Randang Rajo Rajo menjadi salah satu makanan paling berkesan yang pernah saya makan. “Tambuah ciek da!

Bersiap Menuju Nirwana

Seporsi makanan raja sedang dicerna di dalam perut, rasanya puas dan kenyang. Masalah harga, seporsi randang beserta kondimennya terasa murah dan terjangkau jika dibandingkan dengan rumah makan Minang populer lainnya. Meninggalkan warung viral demi rumah makan ini jelas bukan keputusan yang salah.

Usai membayar, saya sempatkan lagi untuk mengambil beberapa gambar yang menarik. Sebuah papan besar tergantung di dinding menarik perhatian saya. Memberi informasi yang belum pernah saya ketahui tentang sakralnya randang di Minangkabau.

“Randang memiliki unsur penting yaitu sapi, kelapa, dan cabai. Sapi disimbolkan niniak mamak, kelapa disimbolkan cadiak pandai dan cabai disimbolkan alim ulama di Minangkabau yang tegas. Tiga unsur randang beririsan dengan tiga tokoh penting di Adat Minangkabau yang akrab disebut tigo tungku sajarangan”.

Tigo tungku sajarangan adalah unsur kepemimpinan tradisional Minang yang terdiri dari niniak mamak, alim ulama, dan cadiak pandai. Ketiganya melambangkan harmonisasi adat, agama, dan ilmu pengetahuan di tengah-tengah masyarakat Minangkabau.

Dengan perut kenyang dan baju yang sedikit bau asap, saya siap menempuh perjalanan selanjutnya. Dari ramainya lalu lintas di Simpang Jondul, tujuan selanjutnya adalah tempat bernama Nirwana.

Seporsi Makanan Raja Sebelum Menuju Nirwana
Filosofi randang oleh Randang Rajo Rajo/Adzkia Arif

Pantai Taman Nirwana

Nirwana, atau dikenal juga dengan Pantai Taman Nirwana, terletak di kawasan Teluk Bayur. Jaraknya kurang dari lima belas menit dari Simpang Jondul jika lalu lintas sedang bersahabat.

Sekali injak pedal gas, kami sudah sampai di pantai yang dikelola swasta ini. Harganya terjangkau. Untuk dua orang dewasa dan satu anak (gratis karena masih dalam batas umur), uang yang habis tak sampai lima puluh ribu rupiah.

Begitu masuk, kesan pertama yang muncul adalah pantai ini bersih dan terawat. Parkiran tertata, bungalonya tidak dipenuhi sampah cup mi instan, tempat ibadah nyaman, kamar mandi untuk bilas banyak dan berfungsi. Lokasi hiburan yang dikelola swasta umumnya memang seperti ini, karena tujuannya mengejar minat wisatawan agar ada pemasukan.

Seporsi Makanan Raja Sebelum Menuju Nirwana
Pantai Taman Nirwana dengan area yang bersih dan tertata, salah satu tempat wisata favorit di selatan Kota Padang/Adzkia Arif

Panjang kawasan Taman Nirwana sekitar satu kilometer. Tak terlalu ramai, tapi tak sepi juga. Banyak ruang terbuka untuk bermain bebas. Mungkin karena “bayar”, jadi tak begitu padat, atau mungkin karena tidak sedang high season.

Setelah memarkir mobil dan berganti pakaian, saya dan keluarga berlari ke pantai. Tanpa alas kaki, rasanya geli ketika kulit bersentuhan langsung dengan pasir pantai yang halus dan dingin. Garis pantainya relatif pendek, tapi saya rasa jika datang di pagi hari, garis pantainya mungkin lebih panjang daripada waktu sore seperti saya datang. Sebab, begitu saya susuri kira-kira sepuluh meter ke depan, dalamnya air hanya sepinggang orang dewasa. Ombaknya juga kecil, kondisi yang aman untuk berenang.

Anak saya sudah siap dengan truk pasir, eskavator, dan sekop mainannya. Tentu saja yang paling semangat menggali pasir dengan sekop adalah saya, membuat lubang dan menunggunya terisi dengan air laut. Biar jadi kolam renang begitu. Selain itu, saya juga sibuk mencari terumbu karang yang terdampar, membantu mengambilkan yang berukuran sedang dan bentuknya lucu untuk anak.

Setelah lelah bermain, duduk menghadap laut jadi momen melepas penat. Sambil rebahan juga rasanya enak, dipeluk pasir dan dibelai ombak. Di kejauhan terlihat Pelabuhan Teluk Bayur dengan kapal-kapal besar bersandar. Di ujung pantai ini juga banyak kapal nelayan, atau mungkin kapal wisata yang bisa disewa di waktu-waktu tertentu.

Seporsi Makanan Raja Sebelum Menuju Nirwana
Kapal-kapal kecil nelayan bersandar di tepi Pantai Nirwana/Adzkia Arif

Momen Senja Menutup Perjalanan

Matahari mulai turun. Tentu saja, saya berharap bisa melihat sunset yang jadi momen pemungkas saat liburan ke pantai.

Dihiasi rona merah langit, saya bercengkerama dengan istri sambil melihat anak kami yang masih berlari riang. Kami membicarakan hal ringan, seperti Randang Rajo Rajo yang kami makan tadi, hingga yang berat; apakah kami akan membeli rumah yang tadi diiklankan oleh Instagram. Niat yang kemudian kami kubur dan hanyutkan bersama ombak. Harganya 2,5 miliar, tabungan kami baru cukup untuk mencicil cicilannya.

Waktu matahari terbenam semakin dekat. Kami ingin lihat pemandangan matahari saat setengah lingkarannya ditelan laut. Tapi tiba-tiba angin berembus cukup kencang. Matahari yang tadi terlihat jelas perlahan ditutupi awan, rencana kami melihat sunset gagal. 

Seporsi Makanan Raja Sebelum Menuju Nirwana
Suasana sore dengan merah rona langit di Pantai Taman Nirwana/Adzkia Arif

Sangat antiklimaks, akhir yang tak sesuai harapan. Setelah makan enak, tertawa riang di pantai, seharusnya ditutup dengan menikmati matahari terbenam ditemani lagu Aku Tenang dari Fourtwnty. Tapi “ya, sudahlah,” kata Bondan Prakoso.

Azan berkumandang, kami segera bersih-bersih agar bisa salat Magrib. Selesai salat, saya menyempatkan kembali ke pantai untuk melihat pemandangan malam, yang ternyata tak kalah indahnya dari momen sunset. Saya abadikan momen tersebut, siapa tahu bisa jadi foto headline artikel.

Saya masuk ke mobil, duduk di kursi kemudi, menginjak kopling, memasukkan gigi, melepas rem tangan, lalu menginjak pedal gas. Mobil berjalan perlahan, meninggalkan Taman Nirwana. Kami pulang dengan hati senang dan perut kenyang.


Penafian: Perjalanan ini dilakukan sebelum banjir dan longsor menimpa Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Jika dilakukan hari ini, suasananya tentu tak akan sama. Semoga situasi lekas membaik, dan cerita ini bisa dibaca kembali dengan konteks yang lebih utuh.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Adzkia Arif

Seorang penulis honorer yang bercita-cita punya perusahaan media sendiri. Tukang jalan-jalan dan suka bercerita.

Adzkia Arif

Seorang penulis honorer yang bercita-cita punya perusahaan media sendiri. Tukang jalan-jalan dan suka bercerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Lapau, Ruang Demokrasi dengan Cita Rasa Lokal Minangkabau