Tidak banyak lokasi bumi perkemahan (buper) tepi sungai. Salah satu yang terkenal di Jawa Barat adalah Curug Leles. Ada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Majalengka.
Akhir pekan dan musim liburan, tempat camping di perbukitan hutan pinus itu kerap dikunjungi penikmat alam dari Cirebon, Bandung, dan Jakarta. Kesejukan plus gemercik air sungai yang mengalir, jadi obat penenang kalbu. Turis yang datang berkata, “Kami mau healing.”
Rute ke sana dari Cirebon lewat jalur Rajagaluh. Belok di gapura Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Sindangwangi. Lanjut menuju Desa Padaherang di lereng Ciremai. Waktu tempuh satu jam. Saya dan rombongan santri menumpang tiga mikrobus Isuzu Elf. Kami tiba pukul 09.00 WIB.
Tenda dome kapasitas empat orang telah terpasang. Ada 20 tenda warna hijau toska. Kami sewa ke pengelola buper. Sudah termasuk alas tenda (palet) dan matras. Pemasangan palet menghindari becek kala hujan. Tamu tenang karena bagian bawah tenda tetap kering. Nyaman ditiduri.

Keseruan Lomba
Luas camping ground Curug Leles sekitar satu hektare. Mampu menampung ratusan tenda. Spot terbaik pinggiran sungai berbatu ada di bagian bawah. Sebelah atasnya untuk acara pramuka.
Kegiatan pertama pagi itu adalah lomba cerdas tangkas; santri adu cepat menjawab pertanyaan yang disampaikan, lalu berlari mengambil secarik kertas dalam kotak di ujung lapangan. Pemenang lomba adalah yang jawabannya tepat dan lekas menyerahkan ke juri.
Fasilitas buper relatif lengkap. Tersedia toilet, musala, dan gazebo dengan air bersih melimpah/Mochamad Rona Anggie
Keseruan makin menjadi begitu lomba tarik tambang digelar. Antartim sekuat tenaga tarik-menarik tambang. Berusaha menyeret lawan ke batas yang sudah ditentukan. Sorak-sorai membahana dari kelompok yang unggul.
Lomba balap karung juga semarak. Peserta berlari menuju goni yang tergeletak, memakainya hingga seluruh badan, lalu melompat-lompat bak kanguru. Tawa penonton pecah ketika ada peserta terpeleset dan terguling karena kesusahan bergerak dalam balutan karung. Juara satu dan dua berhak atas hadiah, dari lima kontestan di final.
Azan Zuhur berkumandang. Kami istirahat untuk ibadah dan makan siang. Gazebo kayu menjadi titik pembagian nasi bungkus serta air minum. Santri duduk santai di bebatuan sungai. Menikmati hidangan sambil bercanda.


Tanah lapang di area camping dimanfaatkan untuk perlombaan dan senam/Mochamad Rona Anggie
Menjelajah ke Hulu
Pertandingan bola dimulai pukul 14.00. Tidak terlalu terik. Santri antusias menggocek dan membobol gawang lawan. Terlebih lagi perut sudah terisi. Energi menghambur di setiap tendangan dan kelincahan menggiring bola.
Memanfaatkan waktu, saya dan beberapa panitia menyusuri kelebatan pinus menuju hulu sungai. Ingin memetakan jalur jalan pagi (hiking) untuk besok. Arahan pengelola buper, setapak yang dilalui akan terhenti pada sebuah air terjun setinggi sepuluh meter.
Sekitar lima belas menit melangkah, melewati jalur sempit dan curam, gemuruh air terjun kami temukan. Bagian bawahnya menjadi kolam alami sedalam tiga meter. Pengelola berpesan agar waspada ketika main air di situ. Hindari jatuhan air dari atas yang sangat deras.
Untungnya banyak bebatuan. Kami leluasa berendam di kesegaran air terjun, tanpa perlu ke titik deburnya. Letak bebatuan terpencar, membentuk kolam-kolam yang sayang kalau dilewatkan. Begitu menceburkan diri, terasa sejuk air pegunungan.
Tanpa diskusi panjang, kami putuskan tak memilih rute ke air terjun untuk hiking. Terbayang santri jalan bergerombol, belum lagi saling bergurau, berbahaya. Area air terjun juga terkurung tebing, tak bakal cukup menampung santri yang ingin jeburan.

Keceriaan Menyambut Malam
Dasar anak-anak, semakin sore tambah semangat. Enggak ada capeknya. Beres main bola, jadwal yang dinantikan tiba: berenang. Tanpa dikomando, 70 santri berlarian ke tiga kolam di bawah curug kecil tepian hutan. Masih di kawasan buper. Sebelah warung warga setempat.
Kami bersyukur tidak turun hujan. Padahal sudah siap mental, kalau air langit tumpah. Lha wong, acara kemahnya di musim hujan. Guntur sempat terdengar. Gerimis menerpa. Tapi hanya sebentar. Mentari kembali digdaya. Semua menikmati cuaca nan bersahabat.
Remang senja pun datang. Dugaan hujan akan turun, ketika mentari pulang ke barat, meleset. Cahaya petang berbinar di ufuk. Santri-santri dihasung segera membersihkan badan. Mereka keluar dari kolam dengan penuh kegembiraan. Antre menuju kamar bilas.

Suasana semakin semarak ketika lampu dinyalakan. Deretan bohlam kuning menyinari sekeliling hutan pinus. Menyuguhkan pemandangan eksentrik: cahaya lampu berpendar di atas tenda hijau toska, menyelinap di antara rindang pepohonan. Komposisi yang cantik sekali!
Magrib tiba. Gelap menyergap. Namun, sekitar tak gulita. Tak mendatangkan ketakutan bagi anak-anak. Mereka kagum, memandang jembatan yang membelah sungai mandi cahaya. Melambai minta diseberangi. Aliran air di bawahnya menyejukan telinga. Menenteramkan jiwa.
Kami berkumpul mendekap malam sambil melangitkan doa-doa. Selepas salat jamak-qasar Magrib dan Isya, ada tausiah dari kepala sekolah. Beralaskan terpal, semua mendengarkan dengan saksama. Santri diingatkan untuk terus semangat belajar. Menebar salam kepada rekan. Tak lupa menjalin silaturahmi, walau kelak sudah lulus.
Makan malam datang. Seharian beraktivitas di alam terbuka, perut berdendang. Tubuh perlu “disetrum” ulang. Pembagian jatah dimulai. Masing-masing menggenggam bungkusan terikat karet. “Bismillah,” nasi hangat plus rendang ayam lekas disantap. Persediaan melimpah. Siapa saja boleh tambah. Sungguh nikmat kebersamaan.
Lomba sambung ayat hafalan Al-Qur’an jadi penutup malam. Perwakilan santri unjuk kebolehan meneruskan potongan ayat yang dilantunkan. Sejak belia terlatih menghafal kitab suci, para santri riang berkompetisi. Menampilkan bacaan merdu serta pelafalan huruf hijaiyah yang benar.


Kala malam, temaram bohlam mempercantik jembatan ikonis Curug Leles dan area perkemahan kami/Mochamad Rona Anggie
Jalan Pagi Keliling Desa
Santri bangun pukul 04.00 WIB lalu salat Subuh berjemaah. Lanjut ngemil snack plus susu dan cokelat hangat. Agenda pagi itu senam peregangan otot, persiapan hiking. Rute: keliling Desa Padaherang, rehat di Telaga Herang, melintasi buper Telaga Pancar.
Pukul 05.30 santri berduyun menyeberangi sungai lewat jembatan. Riuh suara mereka menyaingi kicau burung. Kami menyusuri jalan kampung yang sudah diaspal. Belok ke perumahan warga. Berlari kecil di turunan, hingga mendaki tanjakan berkelok.
Pepohonan lebat di kanan-kiri jalan. Buah durian menggoda di ketinggian. Bergerombol memamerkan duri hijau di sela dahan. Kolam ikan air tawar berserak di pekarangan rumah penduduk. Lahan luas dan air melimpah, menunjang budidaya nila, mas, bawal, dan gurame.
Setengah jam berlalu. Kami istirahat 15 menit di Telaga Herang. Menikmati panorama telaga berair bening yang dihuni ratusan ikan mas jumbo aneka warna. Ikan-ikan itu antusias berkerumun, minta dilempari pakan (pelet). Pengunjung bisa membelinya di warung sekitar.
Perjalanan kembali ke lokasi kemah perlu perjuangan ekstra. Jalan menanjak menguji kekuatan dan kesabaran. Acara hiking bertujuan membangun kepercayaan diri santri agar tak mudah menyerah. Hadapi setiap tantangan dengan ikhtiar optimal. Yakin sampai tujuan.
Apalagi panitia sudah mengumumkan: begitu tiba di lokasi camping, boleh langsung masuk kolam atau main air di sungai. Anak-anak mengerahkan segala upaya ingin cepat berendam di curug kaki Gunung Ciremai. Yo, semangat!!
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.






