Interval

Yang (Ter)Asing di Jakarta Raya

Saya seorang turis di gerbong Commuter Line, menengok ke sana kemari seperti baru kemarin tiba di Jakarta Raya. Rasanya seperti berdiri di tengah-tengah “kita” dan “mereka.” Seperti ada yang cerai antara saya dan ibu kota, tapi tak seutuhnya putus. Seperti turis versi Zygmunt Bauman dalam bab “From Pilgrim to Tourist—or a Short History of Identity,” Questions of Cultural Identity (2011): “He is everywhere he goes in, but nowhere of the place he is in.”

Mungkin karena itulah, karena saya menempatkan diri di-antara, saya menangkap hal-hal yang sebenarnya biasa-biasa saja. (Atau, mungkin sebenarnya saya hanya bosan berdiri di dalam kereta, jadi saya berlagak jadi seorang pengamat yang payah.) Ada dua hal yang hingga kini terbenam di kepala tiap kali saya berada di dalam gerbong Commuter Line (dan di tempat-tempat lain di Jakarta Raya).

Yang pertama adalah earphone, atau headset, atau headphone, atau apa pun itu namanya. Pikiran soal earphone ini muncul pertama kali Desember 2017 saat saya baru kembali dari Mentawai. Di gerbong, saya duduk dan melihat ke sekeliling. Lalu saya teringat ombak-ombak di Mentawai, nonhuman agency yang bersama manusia membentuk kehidupan di Ebay, Siberut. Saya melihat ke sekeliling lagi: orang-orang duduk dan berdiri dengan earphone/headset di lubang telinganya. Mereka mendengarkan entah-apa. Lalu saya bertanya, lebih ke diri sendiri: apakah earphone telah membentuk kehidupan di Jakarta (atau setidaknya di dalam gerbong-gerbong Commuter Line)?

Sejak itu, setiap kali berada di kereta dan melihat orang memakai earphone, pertanyaan yang sama selalu muncul. Kereta di mana saja: di Intercity Belanda, di Trenitalia Assisi-Perugia, di S-Bahn Hamburg-Stade, di Taksaka Tugu-Gambir, dan lain-lain. Lalu, ketika kembali ke berbagai perjalanan Commuter Line Jakarta sejak Oktober lalu, earphone dan manusia telah menjadi tema bengong saya di dalam gerbong.

Ilustrasi dalam gerbong kereta komuter via pexels.com/Snapwire

Yang kedua adalah masker. Saya tak tahu sejak kapan masker menjadi semacam tren fashion di Commuter Line. Awalnya, pengamatan ini terasa menggelikan. Lambat laun, saya memahami alasan-alasannya. Kemudian saya lebih sering merasa sedih. Masker mungkin mencegah debu, atau bau ketiak penumpang lain, atau partikel dan bau lain yang tak diinginkan. Tapi, masker juga menutup ekspresi. Saya jadi tak tahu apakah seseorang tersenyum atau bersendu di balik maskernya.

Bersama earphone, masker seperti membentuk karakter yang “Commuter Line banget.” Masker di muka dan earphone di telinga, maka perjalanan kereta terasa lengkap. Kita jadi tak perlu bercengkerama, atau bersosialisasi, atau bahkan tersenyum kepada orang-orang lain di sekitar kita.

Persetan. Masinis, bawa daku ke Tanah Abang!

Turis yang kesepian

“I have nothing to offer anybody except my own confusion,” kata Jack Kerouac. Ombak-ombak di Mentawai telah memberi saya banyak inspirasi dan kegelisahan. Karena itulah, saya melihat masker dan earphone sebagai nonhuman agency yang bersama manusia membentuk (co-creating) pengalaman sosiokultural di Jakarta Raya. Apa yang telah diberikan keduanya untuk kita hari ini?

Pertama-tama, kita akan melupakan menit-menit yang berlalu di Commuter Line dengan adanya musik di telinga. Segalanya terasa cepat, dan tiba-tiba stasiun tujuan sudah di depan mata. Terima kasih untuk siapa pun yang menciptakan earphone. Kemudian, masker memberi kita alasan untuk terhindar dari influenza atau bakteri-bakteri jahat lain yang siap menyandera kesehatan kita. Kita tak boleh sakit karena mesin pekerjaan harus terus berjalan. Dan, tanpa kita, siapa yang akan bekerja?

Atau, adakah logika-logika lain di balik tren earphone dan masker? Saya serius bertanya, karena kemungkinan besar saya gagal menangkap banyak narasi lain di banyak kepala orang. Yang saya rasakan, gabungan masker-earphone-handphone telah membentuk pagar imajiner yang memisahkan kita dan orang lain. Seperti ada tulisan di jidat: “Don’t disturb me!” Di titik itu, interaksi (offline) takkan lahir. Kita akan selamanya kesepian bersama musik masing-masing, bersama hembus nafas masing-masing.

Saya tak akan tergoda melompat melantur tentang individualisme dan kegetiran-kegetiran urban lainnya. Atau tentang alienasi, modernitas, dan konsep-konsep lain yang mengawang-awang. Dari awal ini hanya soal earphone dan masker. Tak lebih. Dan, lagipula, saya cuma seorang turis. Saya hanya sementara berada di sini, di tengah-tengah “kita” dan “mereka.” Besok mungkin saya akan ke kota lain, dan mendapati gejala yang lain. Atau ke negara lain dan mendapati sensasi yang sama. Seperti turis versi Bauman, saya cuma “mencari berbagai pengalaman sosial yang fana.”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (2)

Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (1)

Interval

Mengaca pada Sri Lanka, Menilik Pariwisata Indonesia

Interval

Mojok di Diên Biên Phu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *