Itinerary

Wisata di Cilacap, dari Benteng Belanda Sampai Laguna

Jika ada waktu berkunjung ke Cilacap, Jawa Tengah, sempatkanlah melihat berbagai lokasi yang menarik untuk ditelusuri. Mulai dari benteng peninggalan Belanda hingga kawasan laguna.

Ya, Cilacap adalah satu dari sekian banyak cerita yang bisa digali dari sisi selatan Pulau Jawa. Mulai dari alamnya hingga masyarakatnya, selatan Jawa menyimpan banyak sekali kisah.

Tentu ini tak bisa dipisahkan dari laut selatan yang terkenal dengan ombaknya yang besar serta legenda Ratu Kidul. Sobat TelusuRI mungkin sudah sering mendengar kisah Ratu ini, mulai dari obrolan atau di tayangan-tayangan. Tentu tulisan ini bukan mau mengulangi kisah-kisahnya.

Kembali ke soal Cilacap. WIlayah yang masyarakatnya dikenal menggunakan Bahasa Jawa Ngapak ini kadang lebih sering diasosiasikan dengan Pulau Nusakambangan yang menjadi lokasi beberapa Lembaga Permasyarakatan (Lapas) yang terkenal itu.

Tapi, Cilacap punya lebih banyak cerita di luar itu. Yuk, kita lihat satu per satu berdasarkan pengalaman kunjungan seorang Sobat TelusuRI di akhir 2019 lalu.

Benteng Pendem, Cilacap

Crisco 1492, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Peninggalan Belanda

Cilacap, kabupaten yang berada di selatan Jawa Tengah, bersinggungan langsung dengan teluk penyu, yang terkenal dengan arus kuatnya. Tidak jauh dari sini terdapat sebuah destinasi peninggalan masa kolonial di Indonesia.

Cilacap memang salah satu kabupaten yang menjadi daerah eksplorasi Belanda kala menelusuri Tanah Jawa. Di sini terdapat sebuah benteng bernama Benteng Pendem yang menjadi benteng pertahanan sisi selatan yang mengarah langsung ke laut.

Benteng ini menurut catatan sejarah, dibangun selama 18 tahun dari tahun 1861 hingga 1879, untuk menjaga area Cilacap dari masuknya kapal-kapal yang tidak dikenal atau sebagai pertahanan dari serangan laut.

Sebelum ditemukan, lokasi benteng ini sempat tertutup tanah dan tidak terurus, sehingga masyarakat yang menemukannya menyebut markas peninggalan pemerintahan masa kolonial ini sebagai “pendem” yang artinya tenggelam.

Oh ya, supaya jelas, ada beberapa lokasi bekas benteng yang dijuluki Benteng Pendem. Termasuk di antaranya adalah Benteng Van den Bosch di Ngawi, Fort Willem I di Ambarawa dan Benteng Pendem di Purworejo.

Pada tahun 1986, pemerintah Cilacap bersama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, mulai melakukan proyek untuk mengangkat pasir yang menutupi benteng ini. Kegiatan pemugaran secara berkala dilakukan selama 3 tahun hingga akhirnya benteng ini dinyatakan sebagai situs kebudayaan milik pemerintah Cilacap dan dibuka untuk umum.

Di dalam benteng ini kita bisa menemukan ruangan-ruangan khas seperti barak, gudang amunisi, dan ruang-ruang lain yang fungsinya diperuntukkan sebagai benteng pertahanan seperti ruang kesehatan dan ruang rapat.

Namun menurut pemaparan dinas terkait, masih ada beberapa ruangan yang tidak diketahui fungsinya hingga sekarang, karena minimnya catatan sejarah terkait tempat ini akibat sudah terkubur lama. Hmmm, menarik buat dipelajari ya?

Untuk mengunjungi benteng ini, pengelola membuka jam operasional mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 18:00 WIB, dengan harga tiket masuk mulai dari Rp7.500 per orang.

Teluk Penyu

Tidak jauh dari Benteng Pendem yang menjadi pelindung garis pantai, terdapat pantai teluk penyu yang sering menjadi destinasi wajib dikunjungi oleh pelancong saat mereka berada di Cilacap.

Pantai ini sangat dekat dengan pelabuhan penyeberangan teluk penyu, dari sini kita bisa pergi ke pulau nusakambangan dengan kapal kecil yang dikelola oleh nelayan dan bisa berangkat setiap hari.

Lokasi ini sering sangat ramai kala sore, karena orang-orang akan mengambil swafoto sunset, dan juga untuk makan malam dengan suasana, yah sebut saja romantik lah. Di sini banyak rumah makan menyajikan olahan laut yang gurih dan menggugah selera.

Selain rumah makan juga terdapat cafe yang bisa menyajikan makanan selain olahan laut, mulai dari coffee, sandwich, atau makanan olahan barat dengan harga yang terjangkau. Mulai dari Rp7.000 hingga Rp50.000 untuk satu porsinya.

Sembari menikmati seafood, jangan heran jika melihat orang-orang melakukan negosiasi dengan nelayan untuk menyewa sebuah kapal, yang disebut compreng oleh warga sekitar.

Kapal bermotor ini digunakan untuk menyebrang ke pulau Nusakambangan. Kenapa harus ke sana? Ada apa di Nusakambangan selain Lapas yang terkenal itu?

Penjelajahan rawa di Segara Anakan, Cilacap

Fajar onad purnama, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons

Laguna Segara Anakan

Salah satu yang kerap dikunjungi adalah lokasi bernama Laguna Segara Anakan. Sebuah Laguna dengan ekosistem rawa bakau (mangrove) dengan komposisi dan struktur hutan terlengkap di Pulau Jawa.

Kawasan Laguna Segara Anakan menjadi tempat bertemu 3 (tiga) sungai besar di Cilacap, yaitu Sungai Citanduy, Sungai Cibereum dan Sungai Cikonde. Sungai-sungai ini merupakan perpaduan sungai-sungai kecil sepanjang jalurnya.

Ada catatan kecil untuk menuju ke sini, selain melalui Cilacap, Laguna ini bisa dijangkau melalui pelabuhan dari Ciamis, Jawa Barat. Waktu tempuh rata-rata 90 menit menggunakan compreng, baik dari Ciamis maupun Cilacap.

Semua pengunjung akan di arahkan ke perkampungan nelayan, Kampung Laut, di pulau Nusakambangan, sebelum akhirnya bisa menuju ke Laguna ini. Kepulangan dari dermaga di Kampung Laut biasanya dilakukan sebelum hari terlalu sore, kurang lebih sebelum jam 16, ini karena semakin sore, arus di wilayah itu akan semakin kuat.

Oh ya, pernah dengar nama Segara Anakan sebelumnya? Ya, itu karena di wilayah Malang, Jawa Timur, juga terdapat lokasi dengan nama serupa. Tak lupa ada Segara Anak di Rinjani, yang namanya memang terdengar mirip. Jadi jangan sampai tertukar ya!

Hal paling khas dan selalu jadi percakapan soal Segara Anakan di Cilacap ini adalah hutan bakaunya. Segara Anakan bisa jadi lokasi wisata berperahu sambil mempelajari keanekaragaman hayati hutan bakau.

Lokasi ini juga kadang dijadikan tempat berenang, walaupun harus ekstra hati-hati.

Laguna yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Nusakambangan ini merupakan lokasi ekowisata yang, sayangnya, kerap terancam oleh proses sedimentasi yang berakibat pada menyusutnya area tersebut.

Padahal, banyak sekali cerita seru dari wilayah Segara Anakan, mulai dari penampakan monyet dan burung warna-warni hingga soal adanya hewan laut seperti lumba-lumba atau pesut yang mengunjungi area ini. Kisah dari warga setempat itu sekarang terasa seperti legenda saja.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Mencicipi 8 Jenis Kudapan Berbahan Dasar Serangga

ItineraryPilihan Editor

Kekayaan Nusantara itu Bernama Halili dan Topi Nunu

Itinerary

Camping di Waduk Sermo

Itinerary

Mencicipi Ragam Soto Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *