Itinerary

Wisata Budaya ke Beragam Desa Adat Indonesia

Indonesia terdiri dari banyak pulau, dari Sabang hingga Merauke. Di pulau-pulau ini juga terdapat banyak suku dan komunitas masyarakat yang memiliki budaya dan tradisi yang berbeda-beda. Ada banyak keunikan dari masing-masing suku tersebut, mulai dari upacara adat yang dilakukan sampai tradisi turun temurun peninggalan nenek moyangnya.

Nah, untuk melihat lebih dekat aktivitas dari suku tersebut, kamu bisa berkunjung ke desa adatnya. Masing-masing suku memiliki kawasan desa adat yang masih menjaga nilai tradisi dan budayanya. 

Berikut ini adalah daftar desa adat yang ada di Indonesia, simak ya!

wae rebo
Desa Wae Rebo via TEMPO/Evy Mangunsong

Desa Adat Wae Rebo

Desa adat pertama adalah Wae Rebo yang berada di Manggarai, Nusa Tenggara. Desa adat ini dikenal dengan arsitektur rumah adat yang berbentuk unik yaitu mengerucut dan terbuat dari daun lontar. 

Desa ini memang sudah terkenal sampai ke mancanegara, bahkan juga terdaftar sebagai salah satu situs kekayaan dunia oleh UNESCO.

Untuk mencapai ke desa ini memang tidak mudah karena lokasinya berada di atas gunung. Namun ketika sampai ke lokasi, tentu semuanya akan terbayar dengan pemandangan dan pengalaman yang mengesankan. 

Keramahan masyarakatnya sampai keindahan alam yang ditawarkan di Wae Rebo sungguh layak untuk dikunjungi! 

Desa Dayak Pampang

Dari sekian banyak desa adat yang ada di Kalimantan, rekomendasi untuk berkunjung ke desa adatnya adalah Desa Dayak Pampang yang terletak di Sungai Siring, Samarinda, Kalimantan Timur. 

Di desa adat ini kamu bisa menikmati tarian tradisional di rumah adatnya yang disebut sebagai Lamin Adat Pemung Tawai. 

Rumah adatnya, punya keunikan tersendiri yakni dihiasi oleh corak dan ukiran khas suku Dayak. Tak ada salahnya jika kamu mampir ke desa adat ini ketika berkunjung ke Kalimantan Timur, ya!

Desa Dayak Pampang
Desa Dayak Pampang via Flickr/Arif Udin

Desa Adat Suku Kajang Ammatoa

Desa adat ini berada di Kabupaten Bulukumba, Kecamatan Kajang, Sulawesi Selatan. Di desa adat ini masih menjunjung tinggi dan memegang erat budaya turun temurun dari nenek moyangnya. 

Saat berkunjung ke tempat ini, kamu akan melihat keharmonisan dan keselarasan kehidupan masyarakatnya dengan alam. Uniknya, pengunjung diwajibkan untuk berpakaian serba hitam mulai dari atasan sampai bawahan sebagai identitas masyarakat Suku Ammatoa Kajang. 

Kampung Naga

Disebut sebagai kampung naga namun desa ini tidak memiliki hubungan atau terdapat mitos naga melainkan hanya sebutan saja. Lokasinya ada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Tasikmalaya, Jawa Barat. 

Kampung ini berada di lembah yang masih mempertahankan kearifan lokal dan budaya secara turun temurun. Jika ingin berkunjung ke desa adat ini kamu harus melapor terlebih dahulu karena tidak ada plang yang menunjukkan bahwa kawasan ini sebagai desa wisata.

Di dalam kampungnya terlihat lembah yang subur dibatasi oleh hutan keramat yang terdapat makam leluhur kampung tersebut. 

Keunikan lain juga terlihat dari rumahnya yang terbuat dari bambu dan kayu. Atap rumahnya harus dibuat dari nipah, alang-alang, dan ijuk serta harus menghadap ke utara atau ke selatan. 

Dinding-dinding rumahnya terbuat dari bambu yang dianyam sasag. Tidak boleh dicat atau ditembok walau penghuninya mampu untuk membuat rumah tembok.

Desa Adat Baduy
Warga Baduy di Gajeboh, Lebak via TEMPO/Aditia Noviansyah

Desa Adat Baduy

Desa adat satu ini paling populer dan bahkan sampai sekarang ini masih sering dikunjungi oleh wisatawan terutama dari Jakarta dan sekitarnya. Desa adat Baduy terbagi menjadi dua yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam.

Baduy Luar mengenakan pakaian berwarna hitam dan ikat kepala biru tua, sedangkan baduy dalam mengenakan pakaian berwarna putih bersih dengan ikat kepala putih.

Baduy Dalam lebih menjaga tradisinya dengan tidak memperbolehkan penggunaan alat elektronik ataupun deterjen ketika memasuki kawasan desa adatnya. 

Selain itu ada tradisi yang unik dari Baduy dalam yaitu tidak boleh menggunakan kendaraan atau mengenakan alas kaki.

Desa Baduy Dalam hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 3-5 jam perjalanan. Sesampainya di desa, terlihat rumah-rumah tradisional dengan atap dari daun kelapa dengan bentuk panggung yang tidak terlalu tinggi.

Sehari-hari, masyarakatnya bergantung dari alam sekitar dan bercocok tanam dengan metode sederhana. 

Kamu bisa mencicipi nasi dari padi yang ditanam di ladang, bukan di sawah. Cita rasa yang lebih kenyal dan harum akan lebih terasa dari padi yang ditanam dari ladang mereka.

Desa Adat Trunyan

Desa adat selanjutnya berada di dekat dengan Danau Batur, Bali. Desa yang sangat menawan dan masih terlihat asri dari tahun ke tahunnya. 

Sebetulnya, desa adat ini tidak lebih dari desa adat yang ada di Bali pada umumnya. Namun ada tradisi unik dari desa adat ini yaitu tata cara pemakaman orang yang meninggal.

Sesuai tradisi di Bali, biasanya jenazah akan dikubur atau dibakar. Namun di Desa Trunyan, jenazah hanya diletakkan di bawah pohon dan dipagari dengan bambu saja.

Uniknya, tidak ada bau menyengat yang keluar dari jenazah ketika terjadi pembusukan. Hal ini bisa terjadi karena terdapat pohon Teru Menyan yang tumbuh banyak di sana. 

Pengunjung bisa langsung melihat proses pembusukan jenazah tersebut bahkan melihat ada banyak tulang-belulang di sana. 

Desa Adat Praijing 

Desa ini berada di Nusa Tenggara Timur atau lebih tepatnya di Pulau Sumba. Desa adat Praijing terkenal dengan arsitektur rumah adatnya berbentuk unik dengan nama Uma Bokulu. Di dalam rumah adatnya terdapat bebatuan peninggalan zaman megalitik. 

Rumahnya terbagi menjadi tiga bagian yaitu Lei Bangun (kolong rumah) untuk tempat memelihara hewan, Rongu Uma (tingkat dua) sebagai tempat tinggal, dan Uma Daluku (loteng) untuk tempat menyimpan pusaka atau bahan makanan. 

Selain rumahnya, gaya hidup masyarakatnya juga masih memegang teguh keyakinan dari nenek moyangnya. 

Kampung Adat Todo

Kampung Todo merupakan kampung tertua di Manggarai, Flores, NTT. Kampung adat yang berada di dataran tinggi berbatasan langsung dengan lembah di sekitarnya. Aksesnya berupa jalan berbatu yang tersusun rapi mengelilingi halaman kampung. Kampung Todo dipercaya sebagai tempat berasalnya Raja Manggarai pertama.

Sebelum memasuki kampung, kamu akan melihat lima meriam yang berjejer di bagian depan kampungnya. Diperkirakan meriam ini merupakan peninggalan Belanda saat masa penjajahan dahulu. 

Saat memasuki kampungnya akan terlihat seperti tempat persembahan atau compang yang berbentuk persegi empat yang terdapat delapan makam tokoh pendahulu mereka. 

Bentuk yang unik dari rumah adatnya menjadi ciri khas kampung adat Todo bernama Niang Todo. Sebuah rumah berbentuk panggung dengan atap kerucut, rumah adat ini diketahui sebagai istana raja todo terdahulu.

Ada juga empat bangunan rumah adat lain yang bentuknya sama dengan bangunan induknya, hanya saja berukuran lebih kecil.

Kampung Adat Ciptagelar

Desa adat terakhir berada di Sukabumi, Jawa Barat. Lokasinya ada di dekat Kawasan Hutan Lindung Gunung Halimun Salak. 

Kampung Adat Ciptagelar memiliki keunikan tersendiri dari tradisi sampai adat istiadat yang dipegang oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah tidak diperbolehkan untuk memperjualbelikan beras yang mereka tanam keluar Kampung Ciptagelar.

Beras dianggap sebagai sumber kehidupan maka mereka yang menjualnya seperti menjual kehidupan mereka sendiri. Selain itu dari rumah adatnya yang masih menggunakan atap ijuk dan daun kelapa juga sangat unik. 

Berbeda dengan desa adat lainya, di Kampung Ciptagelar mereka masih mau menerima perkembangan teknologi yang ada. Namun tetap memilah mana yang akan mereka pakai dan mana yang tidak. 

Setiap tahunnya, banyak pengunjung yang datang ke desa adat ini untuk mendalami aktivitas masyarakatnya, belajar tradisinya, atau melihat upacara adatnya.

Itulah beberapa daftar desa adat yang ada di Indonesia. Tentunya masing-masing memiliki keunikan tradisi dan budayanya. Kamu tertarik berkunjung ke mana?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Temui Irene Komala, si “Pink” yang Suka Jalan-Jalan

Itinerary

Cerita di Balik Desa Wisata Sumberbulu, Karanganyar

Itinerary

Nuansa Khas Pedesaan Surabaya di Kayoene

Itinerary

Barn Event Hire, Kafe dengan Konsep Taman Terbuka di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Tana Toraja: Budaya, Alam, dan Manusia