IntervalPilihan Editor

Turisme, Cahaya, dan Pencarian yang (Tak) Sederhana

Tulisan ini adalah sekelumit ide yang tersempal, dan kemudian terefleksi, dari dua riset yang sedang saya lakukan secara paralel. Riset pertama tentang agen perjalanan di Yogyakarta; yang kedua tentang senja dalam perspektif more-than-human anthropology.

Pada suatu proses transkripsi, saya mendapati soal Borobudur sunrise tour yang konon lumayan populer di kawasan Candi Borobudur. Saya tak pernah mengalaminya, tapi saya ingat, pada 2018, suatu konferensi ilmiah pariwisata internasional melengkapi susunan acaranya dengan tur ke Borobudur untuk melihat matahari terbit.

Dari situ saya teringat “tur” serupa yang mengharuskan wisatawan bangun di pagi buta untuk mencari, melihat, dan memotret sunrise. Bromo, misalnya. Juga Lolai di Toraja Utara, yang dipromosikan sebagai “negeri di atas awan.”

Selain matahari terbit, matahari terbenam juga jadi “objek” turisme yang tak jarang muncul dalam itinerary. Menikmati senja di bibir pantai, atau di atas bukit, adalah semacam ritus turistik yang penting bagi sebagian orang.

Di Sumba Barat, dekat kota Waikabubak, ada tempat bernama Lapale Hills di mana turis mengonsumsi senja dengan latar padang Sumba yang syahdu. Di situ, orang duduk-duduk menunggu sunset dan berkontemplasi tentang entah apa.

Cahaya dalam konteks pariwisata

Bagaimana ceritanya peristiwa rutin seperti matahari terbit bisa dikomodifikasi menjadi produk wisata? Kenapa orang suka menunggu matahari terbenam ketika berwisata dan rela bangun pagi untuk melihat sinar matahari pertama muncul di langit?

Mungkin yang kita cari saat berwisata adalah hal-hal sederhana semacam itu. Tak semua tempat dianugerahi sunrise dan sunset yang memesona. Faktor polusi memengaruhi warna langit ketika matahari terbit dan tenggelam. Maka, masuk akal apabila orang-orang lari dari kota-kota besar yang padat polutan untuk sekadar menikmat jingga.

Selain itu, bisa jadi ada pengalaman indriawi yang spesial ketika kita melumat pendar jingga senja dan atmosfer ketika matahari terbit. Pengalaman itu memancing refleksi, imajinasi, atau memori. Dan, seperti dalam rumus pemasaran pariwisata kontemporer, pengalaman adalah kunci yang menghubungkan ekspektasi dan kepuasan wisatawan.

Lebih jauh lagi, cahaya sebenarnya membentuk tempat dan pengalaman akan tempat itu. Istilah kerennya “placemaking.” Cahaya dan ketiadaan cahaya, tanpa disadari, memengaruhi proses kita menikmati suatu tempat, atraksi, objek wisata, dan sebagainya.

Jadi, selain menjadi “objek” turisme, cahaya adalah medium yang memungkinkan persepsi dan prosesi (non-)visual dalam berwisata. Untuk memahaminya, kita bisa mengingat-ingat pengalaman kita saat berjalan-jalan di siang dan malam hari. Berbeda, ‘kan? Yang membedakan adalah seberapa banyak cahaya yang masuk ke retina kita.

Festivalisasi terang (dan gelap)

Saya teringat Tim Edensor, geografer yang kerap menulis soal terang, gelap, dan cahaya, termasuk dalam konteks turisme. Ia pertama kali tertarik meneliti hal itu saat mengamati cahaya lampu-lampu Natal di permukiman kelas pekerja di Manchester. Lampu-lampu itu, katanya, seperti memberikan semacam perayaan pada lanskap dan atmosfer.

Relasi turisme dan cahaya bukanlah hal baru. Light festival mungkin contoh paling sahih. Sejak dimulai di Lyon lewat Fête des Lumières-nya, acara semacam ini perlahan mencakup ratusan kota di dunia. Di Indonesia, contoh yang terpikir adalah festival lampion tahunan yang diadakan di Candi Borobudur setiap Hari Raya Waisak.

Kendati begitu, tanpa festival pun banyak lokasi (urban dan bukan urban) sering memakai cahaya sebagai bagian dari arsitekturnya; yang kemudian berperan membentuk lanskap dan pengalaman orang-orang yang ada di sana, entah itu warga atau turis. Tengoklah taman-taman kota atau teknik pencahayaan di gedung-gedung yang ikonis.

Yang tak kalah penting, ketika membahas cahaya sebenarnya kita juga membahas gelap. Mengutip Edensor, “[H]al pertama yang perlu dikatakan adalah: kita lupa betapa gelapnya malam dulu sebelum ada penerangan elektrik […] Relasi antara terang dan gelap saat ini terlalu jauh memihak terang, kita telah kehilangan gelap (darkness) yang dahulu familiar.”

Mitos dan keajaiban langit

Mungkin tak ada cahaya tanpa gelap. Keduanya seperti kawan yang karib. Sunrise ada setelah gelap; gelap ada setelah sunset. Sedang, di kota-kota, lampu-lampu seperti membentuk paradenya sendiri kala kita berjalan di gelap malam.

Salah satu fenomena menarik soal gelap dan turisme adalah dark sky park di Eropa dan Amerika Utara. Darkness tourism atau wisata astronomis semacam itu didorong kesadaran bahwa terlalu banyak cahaya yang kini dihasilkan oleh kota-kota, sehingga kita sulit melihat bintang dewasa ini. Dark sky park adalah taman bermain untuk melihat bintang.

Saya ingat pernah melihat brosur wisata digital tentang kegiatan melihat bintang (stargazing) di Wakatobi. Fenomena astronomis lain yang saya tahu pernah dikomodifikasi menjadi paket wisata adalah gerhana matahari cincin di Belitung.

Bicara soal hubungan pariwisata dengan cahaya, gelap, langit, dan astronomi, maka aurora adalah mitos tersendiri. Berapa banyak orang yang salah satu bucket list-nya adalah melihat aurora borealis atau northern lights?

Di negeri-negeri Skandinavia, di mana fenomena aurora muncul, tur northern lights akan jamak ditemukan di panduan wisata. Bente Heimtun, dalam artikel “Emotions and Affects at Work on Northern Lights Tours,” menyebut bahwa tur aurora sebenarnya adalah soal kelindan (entanglement) antara manusia dan bukan-manusia.

Di dalam tur aurora—atau mungkin tur-tur “wisata langit” lain—ada emosi yang ditampilkan (emotional performance) baik itu oleh pemandu wisata atau wisatawan, yang sama-sama terkesan oleh lanskap dan atmosfer yang ditawarkan ketika “langit meledak oleh mahkota hijau, merah muda, ungu dan putih—seperti kembang api.”

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Artikel Terkait
Interval

Demam "Gowes" dan Pengembangan Pariwisata

Interval

Di Balik Tawaran Menginap Hampir Gratis

Interval

Geliat Bertahan Hidup di Alor

Interval

Dari Mereka yang Turun ke Jalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *