Itinerary

Bermalam di Tebing Keraton, Bandung

Sudah pernah ke Tebing Keraton, Bandung? Seorang Sobat TelusuRI, Kirana beberapa waktu menceritakan pengalamannya mengunjungi salah satu tempat wisata di Bandung ini. Simak ceritanya!

* * *

4 tahun lamanya saya menetap di Bandung untuk menempuh pendidikan sarjana Ilmu Komunikasi. Bisa dibilang, kota ini memiliki sejuta kenangan bagi saya untuk orang-orang tercinta. Di sini pula saya tumbuh dewasa dan mencoba menghafal setiap sudut kota kembang yang menyisakan cerita selama masa tinggal disana, saya menjadi lebih mengenal lingkungan dan semakin paham akan seluk-beluk tempat-tempat wisata yang wajib dikunjungi oleh siapapun yang tinggal di Bandung.

Kota kembang ini memang selalu ramai pengunjung entah di awal tahun atau di sela-sela liburan panjang karena di setiap sudutnya terdapat ruang untuk berwisata dan menikmati indahnya alam hijau dengan hamparan gunung-gunung, bukit, dan embun pagi yang selalu menyelimuti.

Bagi saya, Bandung adalah kota yang akan saya tinggali untuk 20 tahun mendatang. Walaupun, saat ini saya sedang melanglangbuana agar segera memiliki passive income di usia muda. Oh iya, selama saya di Bandung terdapat satu tempat yang menurut saya paling indah dan kala itu. Tempat ini selalu saya jadikan tempat kala ingin berpergian sendirian, menikmati libur semester akhir tahun, atau sekedar jalan-jalan biasanya.

Kunjungan ke Tebing Keraton

Tebing Keraton

Wisatawan menyusuri jalur jalan menuju Tebing Keraton/Prima Mulia (TEMPO)

Tempat tersebut bernama Tebing Keraton, yang berada di dalam kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Tebing ini berada di Kampung Ciharegem Puncak, Desa Ciburial, Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Lokasinya cukup familia karena punya pamor di media sosial.

Bukan tanpa alasan, kalau sudah berada di tempat ini kita akan mempunyai pikiran yang lebih positif, semakin energik, dan semangat menjalani hidup. Di sini kita juga disuguhi pemandangan alam dan udara yang sejuk! 

Saya pergi ke sana dengan menggunakan kendaraan pribadi yaitu mobil, kebetulan saya berangkat dari Dago Atas. Jadi hanya perlu waktu sekitar 30 menit saja untuk sampai ke lokasi jika perjalanan lancar. 

Sebaiknya kalian menghindari mengunjungi lokasi ini saat libur panjang seperti libur natal atau tahun baru. Mengingat tempat ini merupakan salah satu tempat wisata favorit, ditambah jalanan menuju ke sana lumayan menanjak, bagi yang tidak terbiasa untuk bermain gas dan persneling mobil, pasti akan terkejut menghadapi jalan yang ada. Walau demikian jalan menuju Tebing Keraton sudah cukup baik untuk dilewati kendaraan beroda empat. 

Trekking di Tebing Keraton

Tebing Keraton

Wisatawan menuju Tebing Keraton/Prima Mulia (TEMPO)

Hal yang paling menantang saat mengunjungi Tebing Keraton adalah ketika harus trekking dari tempat parkir kendaraan yang membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Nah, karena harus trekking, rekomendasi saya kenakan sepatu trekking yang nyaman.

Tapi bagi kamu yang ingin menggunakan jasa ojek, bisa juga lho dan membayar untuk satu kali perjalanan seharga Rp20.000. Choose your own adventure! Lalu, saya masuk ke wilayah tersebut dan membayar biaya masuk Rp8.000 sebagai wisatawan domestik. 

Di sana terlihat banyak orang-orang yang berlalu-lalang sambil melihat-lihat pemandangan dari ketinggian. Beberapa orang tampak menikmati suasana dan sibuk menghangatkan tubuh mereka. 

Bermalam di Tebing Keraton

Tebing Keraton

Pemandangan hamparan hutan dilihat dari ketinggian Tebing Keraton/Pasha Aditia Febrian (TEMPO)

Sesekali saya sempat berlama-lama di Tebing Keraton sembari menanti matahari tenggelam. Kebetulan, di sana terdapat sebuah camping ground yang menawarkan kegiatan camping atau sekedar membangun flysheet. Jadi, saya bisa bersantai di tanpa takut jauh dari fasilitas lengkap seperti mushola, gazebo hingga toilet.  Pas pagi tiba, suasana tampak begitu menyenangkan karena kawasan ini diselimuti kabut.

Kadang, saya hanya datang pas pagi saja atau pas sore hari saja. Mungkin karena sudah cukup sering ke sini, jadi saya berkunjung tanpa foto-foto berlebihan, tanpa mengumbar di media sosial.  Ketika sudah menyaksikan sunset, saya pun juga lebih sering memilih pulang ke kosan dan memulai kembali segala aktivitas di kampus dan beberapa tugas organisasi yang wajib diselesaikan. 

Pengalaman solo travelling ke Tebing Keraton benar-benar memberi dampak bagi kesehatan tubuh saya. Ya, setidaknya saya berhasil melepas hormone endorphin atau hormone bahagia yang telah memicu perasaan positif dan mengurangi efek buruk dari stres karena baru saja menyelesaikan ujian akhir di kampus.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Mencicipi 8 Jenis Kudapan Berbahan Dasar Serangga

ItineraryPilihan Editor

Kekayaan Nusantara itu Bernama Halili dan Topi Nunu

Itinerary

Camping di Waduk Sermo

Itinerary

Mencicipi Ragam Soto Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *