Pilihan EditorTravelog

Sumba dan Luka yang Indah

Dua tahun lalu, kami sama-sama mencatat pertemuan pertama dengan Sumba. Kami sepakat telah dibuat terpana oleh lekuk-lekuk perbukitan, bentangan padang rumput yang menguning, dan jernihnya air terjun atau sungai yang mengisi satu pulau ini. Namun, selain kesan itu, isi catatan kami berbeda.


Agustus 2018. Saya melakukan perjalanan tanpa arah di Sumba Timur. Dengan sepeda motor pinjaman, saya menyusuri jalanan yang didominasi pasir dan rumput kering, menuju berbagai kampung dan berhenti di bukit-bukit tanpa nama yang saya lewati. Kemudian, duduk di atas rerumputan sambil memandangi seekor kuda yang gagah atau kawanan kambing kecil yang patuh pada gembalanya. Gaya perjalanan yang sangat saya sukai.

Meski tanpa arah, saya tetap mengunjungi titik yang ramai diperbincangkan orang kala itu. Bukit Wairinding. Cantik memang. Pantas saja beberapa orang melakukan pose “ala-ala”—menggunakan kain tenun khas Sumba dengan latar belakang bukit dan senja—seperti yang banyak diunggah di media sosial. Ternyata begitu cara kerjanya: media sosial mempromosikan, pengunjung menduplikasikan. Persis, tidak ada yang berbeda.

Sambil memerhatikan mereka, saya membandingkan Bukit Wairinding dengan bukit-bukit yang sebelumnya saya datangi. Bukankah semua bukit di Sumba Timur punya bentuk yang mirip? pikir saya dalam hati. Namun, saya tidak memperpanjang kerumitan pikiran itu. Angin sepoi-sepoi membuat saya sesekali tertidur, meski tidak lelap.

Bukit Wairinding/Andrea Lidwina

Usai perjalanan sendiri, kali ini saya ditemani oleh kedua teman saya—mereka sedang bertugas sebagai dokter di RSUD Waingapu. Kami juga terus-menerus berhenti di sepanjang perjalanan. Kadang sekadar duduk santai dan bersenda gurau menikmati matahari, kadang bertukar cerita dengan beberapa warga. Nikmat rasanya. Saya pun jadi banyak belajar.

Namun, pelajaran tidak selesai sampai di situ. Sepeda motor yang saya kendarai tiba-tiba oleng dan kami terjatuh. Kemampuan berkendara yang masih amatir dan sulitnya medan perjalanan di Sumba—berpasir dan banyak lubang—menjadi sebabnya. Kaki dan tangan sebelah kanan saya berdarah, sementara teman saya mengalami sedikit lecet. Sesampai di Waingapu, saya diobati di UGD oleh teman saya, yang memang dokter. Lucu juga mengenangnya. Saya yang jauh-jauh ke Sumba untuk mengunjungi seorang dokter ujung-ujungnya harus dirawat oleh si dokter itu sendiri.

Esok harinya, saya jatuh lagi dari sepeda motor karena terpeleset di gundukan pasir. Kali ini kaki dan tangan sebelah kiri yang berdarah, meski tidak terlalu parah. Sudah bisa dipastikan, saya akan pulang ke Jakarta dalam kondisi “babak belur.” Perban berdarah menempel hampir di seluruh badan. Semoga saja kelak tidak terulang kembali.

Malam terakhir di Sumba pun saya habiskan dengan dua teman saya itu di atas bukit di tengah kota Waingapu. Ditemani minuman lokal bernama peci, kami membicarakan apa saja—cara hidup masyarakat di pulau itu, suka-duka sebagai pendatang, kisah-kisah lucu semasa SMA, hingga urusan masa depan—tanpa henti. Tanpa sadar pula, kami tertidur di bukit itu, lupa akan sakitnya jatuh dari sepeda motor.


November 2018. Aku terbangun. Laju mobil yang menemani tidurku tiba-tiba berhenti. Aku segera mengintip ke arah depan dari jendela, mencari tahu apa yang menyetop perjalanan ini. Ternyata, ada kawanan sapi di depan mobil kami yang tengah berjalan iring-iringan. Karena itu, kami berhenti dan mengantre untuk menggunakan jalan. “Hewan di Sumba juga ikut bayar pajak jalan,” canda pemandu kami.

Ah, tidak biasanya aku melakukan perjalanan dengan pemandu. Namun, aku datang ke Sumba karena memenangkan sebuah lomba di Instagram—bersama lima orang lainnya. Jadi, banyak sekali kemudahan dalam perjalanan ini, termasuk menggunakan mobil dan jasa pemandu. Aku pun tidak perlu pusing dengan itinerary dan budget.

Cuaca akhir tahunlah yang justru jadi masalah. Awan terus menggelap, kemudian hujan turun dan membasahi jendela di sampingku. Akibatnya, jadwal ke Bukit Wairinding untuk melihat matahari terbenam sore itu ditunda. Mobil kembali melaju, menuju tempat istirahat.

Esok paginya, kami tiba di bukit ternama itu. Aku terpesona melihat hamparan bukit yang luas seolah tak habis-habis: ada bukit di balik bukit, lalu di baliknya lagi, dan begitu seterusnya. Gumpalan awan putih dan rumput yang menguning merias Bukit Wairinding jadi kian cantik.

Sayangnya, bukannya duduk-duduk santai sambil menikmati kecantikan itu, aku harus ikut berfoto untuk kebutuhan pihak penyelenggara lomba. Kami memilih kain tenun khas Sumba untuk disampirkan pada pundak, lalu mengatur posisi berdiri agar latar belakang bukit tetap terlihat. Klik! Klik! Klik! Setelah sesi foto selesai, kami pun bergegas pergi agar tidak keburu hujan di tempat berikutnya.

Pantai Walakiri/Andrea Lidwina

Selama di Sumba, aku mengunjungi tempat ternama lainnya. Sabana Purukambera, Air Terjun Waimarang, dan Pantai Walakiri di Sumba Timur. Air Terjun Lapopu dan Danau Weekuri di Sumba Barat. Tapi, banyak sekali titik yang memikat hati sepanjang perjalanan menuju tempat-tempat itu. Asyik sekali kalau bisa berhenti sejenak di sini atau di situ, pikirku seraya memandangi dari jendela mobil.

Hujan kemudian kembali membasahi jendela di sampingku. Gagal lagi keinginanku melihat matahari terbenam. Kesempatan pun semakin tipis karena aku hanya beberapa hari berada di Sumba. Namun, apa gunanya aku bersendu? Pasti tetap ada yang bisa dinikmati dari perjalanan ini, tetap ada yang bisa dikenang dengan manis, meski belum sesuai harapan. Diikhlaskan saja.

Tak berapa lama, aku melihat pasukan kambing berjalan buru-buru—karena kambing takut air hujan—di belakang gembalanya menuju tempat berteduh. Sementara, kuda dan sapi di dekat mereka bisa tetap makan rumput dengan tenang. Aku pun tersenyum geli.

Luka-luka itu masih membekas, bahkan sesekali jadi bahan “ejekan” di antara kami. Tidak ada yang perlu disesali, biar saja menjadi bagian dari ingatan kami soal Sumba. Jika nanti mulai hilang, semoga ada waktu menyambangi pulau ini kembali.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Senang menonton serial televisi, membaca novel, jalan-jalan keliling kota, dan mendaki gunung. Ingin selalu berbagi cerita dan menuliskannya.

Senang bertukar pikiran dan plesir ke berbagai tempat. Jatuh cinta pada Indonesia Timur.

Related posts
Travelog

Sisi Utara Pulau Seribu Pura

Travelog

Mencuri Waktu ke Kawah Kelimutu

Travelog

Jalan-jalan ke Dieng

Travelog

Ziarah Sejarah ke Pulau Kelor, Cipir, dan Onrust

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *