Ketika lalu lintas satu arah mulai diberlakukan di Jalan Arif Rahman Hakim, saya merasa asing. Kota seperti berbicara dengan bahasa yang tak lagi saya pahami. Juga gedung-gedung tinggi di Margonda. Kota selalu berubah, dan kita sering kali gugup/gagap menerimanya. “Saat anda merapikan kota, anda menghancurkannya,” kata Charles Bukowski.

Dulu, saat berangkat kuliah lewat Margonda, saya membayangkan dengan ngeri bagaimana gedung-gedung raksasa (yang saat itu sedang dibangun) akan mengubah lanskap kota. Masalah saya sebenarnya simpel: gedung-gedung tinggi sialan itu menghalangi pemandangan langit di kaca depan. Yang ada cuma beton, beton, beton.

“Kota tumbuh kian asing….”

Silampukau, dalam “Balada Harian”

Dan hal-hal lain. Kemacetan makin menjadi, terlebih pada jam-jam sibuk saat para penglaju pergi/pulang ke/dari Jakarta Raya. Kemudian, mungkin untuk mengurai kemacetan, mal baru diposisikan di Jalan Juanda. Voila! Selamat datang di Kota Depok. Kemacetan telah menjadi terlalu sehari-hari. Kita tak akan tidur dengan mimpi buruk lagi, karena realitas urban sudah memberikannya dengan cuma-cuma.

pangkas rambut nusantara depok
Pangkas Rambut Nusantara yang bersisian dengan Optik Piramid/Sarani Pitor

Di tengah kota yang tumbuh kian asing, saya menemukan yang akrab dan familiar lewat tempat-tempat yang sederhana dan yang nostalgik. Di kota ini, nostalgia seperti warung kecil yang bertahan di tengah kepungan gedung-gedung pencakar langit. Ia ada dan tidak-ada secara sekaligus. Di tengah ke-(tidak)-ada-an itulah saya mendapati Depok yang tak asing. Rasanya seperti pulang ke rumah, setelah lama berkelana.

Pertama, Pangkas Rambut Nusantara di Jalan Nusantara. Sejak kecil, saya selalu potong rambut di sana. Pada Oktober 2017, saat pertama kali pulang ke Depok setelah lebih dari setahun di utara sana, tempat pertama yang saya datangi (selain rumah) adalah barbershop itu. Saya masuk ke dalam dan nostalgia menguar tanpa permisi.

Tiba-tiba saya membayangkan bapak saya duduk di kursi pelanggan dan membiarkan rambutnya dipangkas tukang cukur yang dikenalnya akrab. Saat kecil dulu, bapak selalu membawa saya ke sana jika waktu potong rambut tiba. Hari-hari ini, saya masih rutin ke sana untuk memendekkan rambut. Instruksi saya selalu sama: “Rapihin aja, Pak.” Setelahnya mesin cukur dinyalakan, gunting gemerincing, dan saya mendapati model rambut yang sama. Di Nusantara, saya tak ingin jadi siapa-siapa selain anak kecil yang duduk manis di depan cermin.

Tentu saja ada yang bertahan dan berubah secara bersamaan. Secara jumlah, tukang cukur di Nusantara tak sebanyak dulu. Namun, wajah-wajah familiar selalu saya temui ketika masuk ke dalam. Sofa yang sama masih ada. Dan masih bolong-bolong. Namun, belakangan saya jarang duduk di sofa itu, karena saya tak perlu menunggu giliran cukur tiba. Entahlah, sama seperti pencukurnya, para pelanggan pun rasanya tak seramai dulu.

batagor nusantara depok
Batagor langganan di kompleks ruko Jalan Nusantara/Sarani Pitor

Kedua, tukang batagor di kompleks ruko Jalan Nusantara. Lokasinya tak jauh dari Pangkas Rambut Nusantara. Kira-kira kurang dari seratus langkah kaki. Gerobak batagor baru mulai mangkal kala gelap menjelang. Ia mengambil petak kecil di depan Toko Cat ACC yang beroperasi dari pagi hingga magrib. Jadi, saat siang, kita tak akan menemukan batagor. Kalau mau beli cat, ya silakan. Tapi, batagor ‘kan tiba di malam hari.

Suatu waktu, setelah lama melanglang buana mencari selembar ijazah, saya kembali ke sana. Si akang tukang batagor mengernyitkan dahi begitu melihat saya berjalan ke arah gerobaknya. “Udah lama ya nggak ke sini? Ke mana aja?” tanyanya. Dari situ obrolan mengalir, sembari saya menyantap pesanan yang selalu sama sejak SMA: batagor pakai siomay (kecapnya dikit), minumnya S-Tee. Lengkap sudah ritus “pulang” ini.

Sampai sekarang saya tak hafal nama si akang tukang batagor. Ia pun tak tahu siapa nama saya. Tapi, dia mengingat wajah. Itu yang membuat dahinya mengernyit ketika melihat saya kembali ke tempat mangkalnya. Rasanya menyenangkan kembali ke tempat di mana orang mengingat kita, walau cuma muka. Setidaknya, kita—saya, dalam hal ini—tak merasa asing lagi. Kota yang telah jadi asing itu perlahan terasa familiar lagi.

Terakhir, tempat penitipan motor langganan di dekat Stasiun Depok Baru. Saat bekerja di Jakarta, beberapa tahun silam, saya sering pergi ke kantor atau liputan naik kereta. Dan, oleh karenanya, saya selalu menitipkan motor di tempat yang sama. Di sebelah rel arah Jakarta-Bogor, tempat penitipan itu bertahan dari kota yang tak berhenti membangun. Dua orang akang yang sama masih ada untuk menjaga dan merapikan motor-motor di sana.

stasiun depok baru
Malam hari di Stasiun Depok Baru/Sarani Pitor

Persis seperti abang batagor, keduanya masih mengingat muka saya meski dua tahun lamanya saya tak mampir ke sana. “Ke mane aje lu?” ujar salah seorang di antara mereka, yang kerap terpaku di depan televisi menonton sinetron malam. “Ga ke mane-mane,” balas saya sekenanya. Setelahnya kami bertukar kabar sejenak, di sela-sela bising kereta yang baru saja lewat atau raung motor yang keluar/masuk tempat penitipan itu.

“Kau menyukai sebuah kota bukan karena 7 atau 77 keajaibannya, tapi karena ia menyimpan jawaban dari pertanyaan pentingmu,” ujar Italo Calvino. Mungkin, karena itulah kita bertahan. Demikian pula tempat-tempat di atas. Di kota, manusia mengisi dan saling berbagi spasi. Dan, di spasi itu—yang kian hari kian sempit—kita berbagi cerita yang sehari-hari. Bukan narasi-narasi asing tentang perencanaan/pembangunan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Travelog

Belajar Memilah Sampah "Iso Bosok" dan "Ora Iso Bosok" di Kongres Sampah

Pilihan EditorTravelog

Sederhananya Pulau Meosmanggara di Raja Ampat

Travelog

Angkringan Kedaulatan Rakyat

Travelog

Sarapan Sego Wiwit di Puncak Sosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *