Interval

Solilokui Jalan Tol

I

Saya suka lari sore di jalan tol yang belum beroperasi. Itu terjadi beberapa bulan lalu. Sekarang, ruas jalan tol Cimanggis-Kukusan (atau sebaliknya) itu sudah diisi mobil-mobil yang melintas kencang dari/ke Jakarta atau Bogor. Saya jadi tak bisa berlari di sana, juga orang-orang lain yang suka menghabiskan sore akhir pekan di atasnya, entah itu jogging, naik sepeda, main bola, atau sekadar bersantai menunggu magrib.

Di jalan tol itu, sebelum ia beroperasi, saya suka berlari sambil memikirkan kota yang terus membangun. Kenapa kita harus membangun jalan tol? Supaya mobil-mobil Jepang terus diimpor dan memberi kita alasan untuk kesenjangan? Apakah kemakmuran itu? Apakah ia harus berupa mobil-mobil yang terjebak macet di pintu keluar tol?

Saya berlari sambil membayangkan jalan tol sebagai spasi yang dimaknai secara beragam. Saat berlari, saya memaknainya sebagai leisure space, tempat saya mengambil jeda dari rutinitas barang sebentar. Demikian pula orang-orang lain yang melakukan aktivitas waktu luang di sana. Pada titik itu, secara kolektif kita sebenarnya sedang mengklaim leisure space yang selama ini gagal diberikan negara. Jalan tol adalah solusi (temporer) dari keterbatasan spasi sosial-kultural-material untuk berwaktu luang di luar ruangan (outdoor).

Beberapa hari lalu, saya melintasi jalan tol itu lagi. Tapi tidak dengan dua kaki yang berlari, melainkan dua kaki yang menginjak pedal gas dan kopling (serta sesekali rem). Saya melintas lebih cepat bersama Avanza, tapi saya jadi kehilangan jarak ontologis dengan tanah. Saya kehilangan detail-detail yang biasanya saya perhatikan ketika berlari: pohon x, bangunan y, tiang listrik z, dan hal-hal subtil lain yang luput ketika kita bergerak terlalu lekas.

Pembangunan Tol Cinere-Jagorawi (Cijago) di kawasan Beji, Depok, Jawa Barat, Selasa, 10 Oktober 2017 via TEMPO/Tony Hartawan

Sebagai pengendara mobil, jalan tol itu tak lagi menjadi leisure space tempat saya berolahraga dan menikmati sore yang menua di kota yang saya tinggali sejak kecil. Saat menyetir, jalan tol itu seketika berubah fungsi: ia memangkas jarak, memangkas waktu, dan memberi saya kalkulasi kuantitatif untuk tiba di rumah lebih cepat, daripada harus melewati Margonda yang jahanam atau Brigif yang nauzubillah di kala macet.

Tapi, apakah kita benar-benar butuh jalan tol?


II

Jalan tol tidak serupa slogan Pegadaian. Ia menyelesaikan masalah lama dengan masalah baru. Gara-gara jalan tol, jalan-jalan kecil di sekitarnya (entah sebelum pintu masuk atau setelah pintu keluar) menjadi lebih padat dari sebelumnya. Para penglaju mungkin terbantu dengan jalan tol, tapi beban berat justru diemban jalan-jalan kecil di dekatnya, dan orang-orang yang bertempat tinggal atau beraktivitas di ruas-ruas jalan kecil itu.

Saya membayangkan sebuah fragmen. Saya tinggal di salah satu ruas jalan kecil itu, yang terletak setelah pintu keluar jalan tol. Dulu, rumah saya asyik-asyik saja. Relatif lebih sepi, tidak ada kemacetan, dan saya bisa keluar pagar dengan tenteram. Tapi, tidak lagi. Jalan tol sebenarnya hanya memindah kemacetan ke titik-titik lain. Atau, tepatnya ke depan pagar rumah saya. Sekarang, ketika membuka pagar, mobil-mobil itu sudah memblokade.

Pesepeda Waskita Cycling Club mencoba Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) di kawasan Kalimalang, Bekasi, Jawa Barat, 17 Agustus 2017 via TEMPO/Rully Kesuma

Di titik itu, sebenarnya saya sedang berusaha memahami pembangunan dari kacamata yang lain, yang selama ini absen di kolom-kolom akademisi di media massa atau cuap-cuap tenaga ahli di FGD-FGD megah di hotel bintang 5 di Jakarta Pusat. Saya membaca pembangunan (jalan tol) dari sudut pandang yang sehari-hari, tanpa konsep-konsep yang wah atau analisis-analisis njlimet seperti SWOT, TOWS, ABCGM, XYZ, dsb., dkk., dll., etc.

Mungkin sebenarnya kita harus lebih sering melihat pembangunan dari bawah (from below) supaya kita lebih menyadari betapa keruhnya wajah dan watak pembangunan itu sendiri, baik pembangunan infrastruktur, pembangunan ekonomi, atau pembangunan manusia. Pada setiap usaha untuk membangun, jalan tol misalnya, ada bahan baku material yang harus dicabut dari tanah dan ada rumah-rumah warga yang harus dilindas mesin-mesin baja milik Trakindo. Penggusuran dan pembangunan adalah dua sisi koin mata uang yang sama.

Beberapa hari lalu, saya melewati jalan kecil di sebelah ruas jalan tol Kukusan-Cimanggis yang baru beroperasi. Saya naik motor dari lingkungan kampus UI. Pada suatu sudut, sebuah spanduk terbentang. Isinya mengabarkan bahwa hak ganti rugi tanah/rumah mereka belum lunas. Spanduk itu seperti kabar dukacita di koran pagi. Matahari baru saja terbit, sepertinya ada harapan baru. Tapi, rupanya luka dunia urung berhenti. Habis terang terbitlah gelap.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Interval

Hanifati Radhia dan Pengalamannya Menjadi Pendamping Desa

Interval

Hannif Andy dan Desa Wisata Institute: Gotong Royong Membangun Desa Wisata

Interval

Ranar Pradipto: Mempromosikan pariwisata Indonesia lewat Fotografi

Interval

Ben dan LindungiHutan: Mengumpulkan Relawan untuk Melestarikan Hutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *