Interval

Slow Travel: Untuk Apa Buru-buru?

Seorang teman pernah bercerita. Begini: Pada suatu akhir pekan, ia pergi ke Lisbon bersama kawannya. Mereka cuma punya dua hari, jadi keduanya mengejar banyak atraksi yang ingin dilihat. Waktu singkat, mereka harus mendatangi banyak tempat. Di ujung hari, si teman mengaku, mereka kelelahan karena terlalu banyak berjalan, akibat terlalu banyak yang ingin “dikonsumsi.” Ujung-ujungnya, ia tak begitu menikmati akhir pekan itu. Dan, tak banyak hal yang diingatnya dari Lisbon kecuali kelelahan menyelesaikan itinerary.

Kisah seperti itu familiar? Mungkin banyak yang pernah mengalami sendiri. Kita jalan-jalan dalam waktu yang pendek, tapi dengan itinerary yang super padat. Terlalu banyak titik atraksi yang ingin disambangi, terlalu banyak lanskap yang ingin diinstagramkan. Akibatnya kita jadi tak menikmati tempat-tempat yang dilalui. Kita memotret banyak foto dan melihat banyak hal, tapi seperti tak mendapat apa-apa. Familiar?

Dari pengalaman (buruk?) di Lisbon itu, teman saya terinspirasi menulis tesis soal slow tourism. Kisah yang ia ceritakan itu adalah pengantar presentasinya. Lalu, apa itu slow tourism atau slow travel? Apakah ia sekadar perjalanan yang selo dan tak terburu-buru? Apa yang ditawarkan oleh jalan-jalan yang slow? Dan, apa yang salah dengan fast travel?

Secara garis besar, ada tiga aspek yang kerap dibicarakan dalam bahasan tentang slow travel: slowness, pengalaman traveling, dan kesadaran lingkungan (Lumsdon & McGrath, 2011). Tiga hal itu membuat slow travel lebih merupakan kumpulan ide atau pola pikir tentang jalan-jalan, bukan definisi yang tegas atau produk wisata yang tangible.

“Slow” sebagai antitesis

Narasi soal slow travel tak bisa dilepaskan dari gerakan slow living yang mendunia dalam beberapa dekade terakhir. Semuanya bermula dari slow food, inisiatif yang berawal di Italia untuk menentang kemunculan gerai fast food McDonald’s di Roma. Setelah itu, muncul slow city, slow money, slow parenting, slow fashion, slow work, slow university, slow media, dan slow-slow lainnya. Slow travel adalah salah satunya.

Secara umum, berbagai gerakan slow itu menentang kehidupan serbacepat yang menghantui banyak orang, terutama di konteks urban. Honore (2004) meletakkan slowness sebagai antitesis atau perspektif budaya tanding yang melawan struktur masyarakat yang tergila-gila pada segala yang instan, berlebihan, dan homogen. Dalam hal ini, slow travel pun harus dilihat sebagai respon terhadap gejala yang meresahkan di tren perjalanan kita. Apa itu? Bisa jadi wisata massal, atau jalan-jalan yang didasari pola pikir konsumerisme, atau traveling yang tak peka pada dampak sosial, kultural, dan lingkungan yang mungkin dihasilkannya.

slow travel
Melewatkan waktu di pantai via pexels.com/Artem Bali

Aspek “slow” pada slow travel begitu penting. Di dalamnya terkandung kegelisahan soal waktu. Slow travel didasari kebutuhan filosofis untuk memikirkan ulang konsep waktu dalam perjalanan. Idenya adalah: kita harus menikmati waktu, bukan malah menghitungnya. Di titik ini, cerita teman saya di awal artikel menjadi relevan. Ia mengaku tak menikmati waktunya (yang singkat) di Lisbon gara-gara obsesi konsumtif untuk melahap banyak tempat dan terburu-buru dalam proses konsumsi yang berlebihan itu.

Lalu, apakah salah liburan di waktu yang pendek? Tentu saja tak ada yang salah dengan waktu. Yang mungkin saja keliru, setidaknya dalam perspektif slow travel, adalah cara kita mengisinya. Mengutip Honore: “Ini bukan tentang melakukan semuanya seperti siput, tapi berusaha melakukan semuanya dengan langkah yang pas.” Pola pikir slow travel ini seperti memberi kita jeda dari perjalanan-perjalanan yang riuh, ambisius, dan obsesif. Kita mungkin jadi bertanya lagi: ngapain sih sebenarnya gue jalan-jalan?

Pengalaman sebagai praxis

Bagi saya, slow travel sebenarnya lebih produktif dilihat sebagai cara bertanya (mode of questioning) tentang aktivitas traveling yang kita lakoni. Ia bukan jawaban langsung dari persoalan-persoalan kita hari ini. Misalnya: apa sih yang kita cari di perjalanan, bagaimana kita melakukan perjalanan, apa dampaknya buat lokalitas dan lingkungan sekitar, atau apakah kita cuma terjebak tren gaya hidup semata? Dari situ, mungkin kita bisa jadi lebih memahami makna di balik semua perjalanan (yang fana) ini.

Setelah slowness, aspek penting kedua adalah pengalaman (travel experience). Di dalamnya terkandung beberapa hal yang saling terkait, seperti aktivitas, lokalitas, dan pilihan transportasi. Ide utamanya adalah: travel with meaning rather than travel just because you have to (jalan-jalan dengan makna, bukan jalan-jalan hanya karena kita harus jalan-jalan). Idenya begitu eksistensial, tapi bagaimana menerjemahkannya dalam praktik/praxis?

Dalam konteks slow travel, mencelupkan (immersion) dan menambatkan (attachment) diri pada suatu tempat dan lokalitas sangatlah krusial. Dan, untuk melakukan keduanya kita perlu waktu yang tak diburu-buru. Slow down and take time, comrades! Maka, tinggal lebih lama di suatu tempat sering disebut sebagai bentuk konkret dari slow travel, di luar hal-hal lain seperti memahami budaya dan nilai/norma setempat, menjalin relasi akrab dengan warga sekitar, mencicipi panganan lokal, pergi ke pasar tradisional, dan sebagainya.

Pilihan transportasi juga sering dibahas dalam wacana soal slow travel. “The faster you move, the more detached you become from your surrounding (semakin cepat kau bergerak, semakin tercerabut kau dari sekelilingmu),” ujar salah satu informan dalam studi Lumsdon dan McGrath (2011). Informan lain menyebut perjalanan udara dalam slow travel sama dengan McDonald’s dalam slow food. Jadi, pilihan transportasi yang lebih “lambat” biasanya lebih dihargai. Dan, pilihan ini terkait pula dengan aspek yang terakhir.

Sadar lingkungan sebagai tanggung jawab

Slow travel amat terkait dengan ceruk wisata yang green, eco, low-carbon, dan sustainable. Bahkan, Lumsdon dan McGrath (2011) menyimpulkan slow travel sebagai bagian dari wacana yang lebih besar tentang sustainable tourism. Hal ini masuk akal karena kesadaran lingkungan adalah salah satu napas pokok slow travel. Penolakan terhadap perjalanan udara, misalnya, adalah bentuk dari komitmen terhadap lingkungan.

slow travel
Suatu siang yang santai di Bohinj, Slovenia/Sarani Pitor

Para penganut mazhab slow travel mengerti bahwa jalan-jalan punya dampak lingkungan, baik secara sosial, kultural, maupun ekologis. Dulu, mungkin orang menganggap pariwisata adalah smokeless industry. Tidak seperti industri lain yang jelas punya dampak lingkungan—lewat asap-asap pabriknya. Namun, anggapan itu sudah kuno. Kita harus paham bahwa pariwisata punya “asap” juga. Ketika pergi ke suatu tempat dengan pesawat, kereta, mobil, atau apa pun, kita mesti sadar bahwa ada jejak karbon yang kita sumbang untuk bumi.

Sadar adalah langkah pertama tiap perubahan. Tak hanya transportasi, tiap aktivitas dalam traveling bisa punya dampak lingkungan, misal soal makanan, air bersih, dan lain-lain. Dalam hal ini, slow travel seperti memberi kita mata baru untuk melihat hal-hal yang sebelumnya tak terlihat. Asumsinya: traveling dengan selo akan meminimalisir dampak lingkungan yang dihasilkan, serta memberi alam jeda sejenak.

Slow travel adalah proses menikmati suatu tempat tanpa membawa dampak yang besar.

Diskusi soal kesadaran lingkungan ini bisa jadi problematik, bahkan ironis. Orang bisa saja bertanya: kalau kita sadar lingkungan, kenapa kita tak sekalian berhenti traveling saja? Pertanyaan semacam ini takkan mudah dijawab. Tapi, kita tak boleh berhenti bertanya. Slow travel telah memberi kita ruang, jeda, dan inspirasi untuk menggugat, merenung, dan bertanya tentang kenikmatan/privilese yang kita miliki melalui traveling. Berhenti bertanya hanya akan membuat kita jadi gerombolan turis yang payah.


Referensi

Lumsdon, L. M., & McGrath, P. (2011). Developing a conceptual framework for slow travel: A grounded theory approach. Journal of Sustainable Tourism, 19(3), 265-279.

Honoré, C. (2004). In praise of slowness: How a worldwide movement is challenging the cult of speed. Harper Collins.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Interval

Womentourism.id: "Women Empower Women"

Interval

Hanifati Radhia dan Pengalamannya Menjadi Pendamping Desa

Interval

Hannif Andy dan Desa Wisata Institute: Gotong Royong Membangun Desa Wisata

Interval

Ranar Pradipto: Mempromosikan pariwisata Indonesia lewat Fotografi

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *