IntervalSampah Kita

Siapkah Hidup Berdampingan dengan Sampah?

Tempat pembuangan akhir terbesar di Indonesia dengan luas 110,3 hektar masih belum bisa menampung limbah sampah di sekitar Jakarta dan Bekasi. Dalam satu area, sampah yang ditimbun bisa mencapai 20 hingga 40 meter dengan berat 39 juta ton, Bantargebang tidak mampu menampung limbah lagi pada 2021 karena penampungan yang tersisa saat ini kurang dari 10 juta ton lagi.

TPST Bantar Gebang

Kiky pernah mendapatkan project saat kuliah yaitu membuat video dokumenter yang mengangkat tentang kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar TPST Bantargebang, Kota Bekasi. Dimulai dari harus mencari narasumber utama, Kiky bersama tim berangkat menuju lokasi untuk survey lokasi dan bertemu narasumber. Dari jarak 300 meter sudah nampak gunung sampah dan baunya langsung tercium oleh hidung. Tim harus cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.

Kiky turun dari mobil dan bertanya kepada karyawan yang sedang membersihkan mobil pengangkut sampah, dimana kami bisa meminta izin untuk mengambil video di atas gunung sampah. Kami langsung diarahkan menuju ke pos penjaga dan langsung dikirimkan kontak bagian UPST DLH Provinsi DKI Jakarta.

Aku memandang sekelilingku, terpaku kaget dengan sampah yang menggunung. Banyak pertanyaan yang terbesit ketika ku lihat limbah organik dan anorganik seperti bungkus makanan ringan, kantong plastik, kain, bungkus detergen, popok bayi dan masih banyak lagi menumpuk jadi satu. Air yang berwarna hijau menandakan bahwa air itu tidak layak digunakan.

TPST Bantar Gebang

Setelah mendapatkan izin berada di lokasi TPST, kami langsung bergegas mencari salah satu narasumber yang bernama Pak Denin. Sepanjang jalan menuju Pak Denin, kami disambut senyum hangat pemulung sekitar Bantargebang sambil menyortir sampah yang didapatkan. Saat Kiky bertemu dengan salah satu pemulung, aku melihat banyak mainan anak yang dikumpulkan menjadi satu. Lumayan juga jika banyak mainan yang masih bisa digunakan namun harus dibuang.

Pertanyaan yang terbesit di pikiranku adalah “Bagaimana rasanya tinggal disekitar gunung sampah dengan lingkungan yang seperti ini?” Sedangkan yang ku tahu adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengurai sampah anorganik sangat lama hingga ratusan tahun atau bahkan tidak bisa terurai. Aku salut dengan masyarakat yang bisa tinggal didaerah tersebut. Mungkin hanya ini mata pencaharian yang mampu mereka kerjakan untuk tetap bertahan hidup demi anak istri keluarga di rumah.

Hidup dengan sampah

Kedatangan kami disambut hangat oleh Pak Denin dan keluarga. Kami berbincang-bincang tentang pelaksanaan project yang menjadikan beliau sebagai narasumber utama dan beliau mengiyakan. Kami berjalan di sekitar kawasan rumah Pak Denin. Ternyata, limbah sampah anorganik yang sudah disortir dan siap untuk dijual ditumpuk disekitar rumah.

Walaupun sudah diambil oleh pemulung sekitar Bantargebang, masih banyak sampah anorganik yang harus dihilangkan di gunung sampah. Sangat disayangkan jika limbah sampah anorganik dibiarkan menumpuk tanpa pengolahan yang baik. Nantinya, masyarakat di sekitar TPST akan merasakan dampak negatif yang muncul, seperti:

Gangguan kesehatan

Sampah anorganik menjadi sumber awal munculnya penyebab penyakit seperti bakteri, virus, jamur maupun parasit lainnya. Penyakit juga dengan gampangnya timbul di tubuh penghuni sekitar seperti diare, kolera, demam berdarah, infeksi jamur kulit, infeksi cacing pita (taeniasis), dan lainnya.

Penurunan kualitas lingkungan

Limbah anorganik ini berbentuk cairan yang bisa meresap ke saluran air sehingga bisa langsung mencemari berbagai sumber air yang ada mulai dari air tanah, sungai, atau laut. Kondisi ini berbahaya bagi masyarakat yang berada di daerah sekitar, termasuk akan merugikan ekosistem perairan yang ada. Limbah anorganik yang dibuang ke air akan berubah menjadi asam dan gas cair organik dan berbau pada konsentrasi tinggi bisa meledak.

Merugikan aspek sosial dan ekonomi

Buruknya kualitas lingkungan akan memperburuk kesehatan masyarakat. Lingkungan yang kurang bersih akan memunculkan penyakit sehingga masyarakat harus mengeluarkan biaya pengobatan. Lingkungan yang kurang bersih juga akan mengurangi rasa nyaman penduduk sekitar.

Sepulang dari Bantargebang, satu hal yang aku sadari untuk mendaur ulang sampah anorganik adalah mendaur ulang kembali menjadi barang yang bisa digunakan. Aku langsung memisahkan sampah organik dan anorganik. Ada beberapa jenis sampah yang dikelompokkan dan dapat dimanfaatkan ulang, yaitu:

  1. Sampah kertas
    Ada banyak kertas yang ku simpan di kosan seperti bekas revisian makalah, print tugas, kertas corat-coret, kertas hasil ujian, dan masih banyak lagi. Buku-buku dan kertas bekas yang sudah tidak terpakai ku satukan, esok harinya aku berikan ke bank sampah atau kalau tidak ada di sekitarmu bisa ke pengepul kertas bekas di tempat-tempat daur ulang.
  2. Sampah kaleng
    Aku membongkar sekitar ruang tamu kosan, banyak bekas minuman teman-teman saat mengunjungiku. Perlu kamu ketahui, kalen adalah salah satu jenis limbah yang tidak akan terurai meski ratusan hingga ribuan tahun lamanya. Aku memanfaatkan kaleng bekas minuman sebagai pot bunga.
  3. Sampah botol
    Teman satu kosku sering membeli sirup yang menggunakan botol kaca. Botol kaca tersebut aku satukan dan esoknya aku berikan ke bank sampah.
  4. Sampah plastik
    Karena aku risi dengan sampah plastik bekas makanan dan minuman, akhirnya aku kumpulkan menjadi satu. Esoknya, sampah tersebut aku sumbangkan ke bank sampah.
  5. Sampah kain
    Aku juga menyortir pakaian yang sekiranya masih dan tidak terpakai. Risihrasanya melihat banyak pakaian yang sudah tidak terpakai menumpuk begitu saja di lemari. Baju yang tidak terpakai dan sudah ada yang robek ku jadikan lap dapur dan kain pel, sedangkan pakaian yang masih layak untuk digunakan ku kumpulkan dan berikan kepada yang membutuhkan.

Selesai menyortir sampah, aku merasa lebih lega dan senang. Setidaknya aku tidak memupuk sampah di kamar sendiri mengingat segala aktivitasku berlangsung dikamar ini. Aku harus sadar akan dampaknya yang tidak baik bagi kesehatan. Jangan sampai ada limbah yang menumpuk dan tidak tertangani dengan baik. Kalau sampah menumpuk di rumah sendiri, apakah kamu siap dengan segala resikonya?

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Sampah KitaTravelog

Peduli dengan Lingkungan, Mulai dari Keluarga

Sampah Kita

Menata Ulang Isi Kantong Sampah, Menata Ulang Bumi Menjadi Lebih Baik

IntervalPilihan Editor

Energi Terbarukan untuk Listrik Daerah Wisata Terpencil

IntervalSampah Kita

Alam Bebas Sampah sebagai Esensi Kawasan Wisata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *