ItineraryNusantarasa

Sepiring Hidangan yang Tak Biasa

“Jadi kemana lagi wisata kuliner kita selanjutnya?” Kata Dean. Raut wajah kami berubah menjadi lebih antusias. Saling melemparkan pendapat, tentang tujuan pertama yang akan kami datangi di tahun ini.

Singkat saja, kami berlima berasal dari komunitas pecinta kuliner kampus. Dulunya kami sering menghabiskan waktu untuk menikmati makanan khas di berbagai daerah. Bahkan agenda berkumpulnya sengaja dibuat setiap akhir pekan. Mengingat inilah waktu yang tepat untuk berkumpul tanpa mengganggu kesibukan masing-masing.

Sayang sekali kedatangan pandemi telah menghancurkan banyak rencana kami. Banyak rencana untuk menyantap makanan luar daerah yang harus ditunda demi kebaikan kami semua. Hingga akhirnya tepat setahun setelah pandemi (dan tepat di hari perayaan 4 tahun komunitas ini didirikan), kami berkumpul lagi.

Kembali ke topik pembicaraan awal, beberapa saat kemudian, lokasi sudah kami putuskan. Untuk memulai perayaan makan bersama kembali, kami memilih tempat kuliner yang tak biasa. Sejam kemudian, sampailah kami di lokasi yang dimaksud.

“Selamat datang di Kawasan Pasar Lama,” aku mengeja tulisan di gapura satu persatu. Tak terasa, perut semakin keroncongan bersamaan dengan harum dari berbagai makanan yang disajikan disana. Inilah Kawasan Pasar Lama, di kota Tangerang. Lokasinya dekat dengan stasiun Tangerang, sehingga mudah dijangkau dengan kendaraan umum. Kami menikmati lampu-lampu dan juga harum makanan dari pedagang kuliner bergerobak dan warung tenda di sepanjang jalan.

“Sini mampir!” Mereka memanggil-manggil.

Meski banyak makanan yang menggiur, tapi kami berusaha bertahan. Ya, tujuan kami bukanlah makanan ini. Tetapi menu di Tenda Dua Cobra. Dari namanya pun kalian pasti bisa membayangkan, seekstrim apa menu yang ditawarkan. Tenda ini menyajikan masakan olahan dari ular dan biawak.

Kami melihat daftar menu dengan seksama. Benar saja, semua makanan  tercipta dari olahan binatang-binatang yang jarang dikonsumsi. Mulai dari sate ular, sop ular, goreng crispy ular, sate biawak, sop biawak, goreng crispy biawak, dan masih banyak lagi. Sedangkan menu yang paling diminati pelanggan adalah sate biawak dan sate ularnya.

Selain menu tadi, ternyata warung ini memiliki pilihan lainnya untuk khasiat kesehatan. Ada darah, empedu, hingga sumsum ular. Memang sebelumnya, kami sempat mencari tahu di internet tentang apa saja manfaat dari bagian tubuh ular ini. Ternyata banyak sumber yang mengatakan jika hewan mematikan ini memiliki banyak khasiat. Seperti mencegah terjadinya serangan jantung dan stroke, menurunkan demam, mengobati asma dan diabetes, dan masih banyak khasiat lain. Semua khasiat ini bisa didapatkan, namun dengan satu ketentuan. Asal digunakan pada dosis yang sesuai, karena jika tidak justru bisa menyerang sistem saraf dan otot tubuh hingga menjadi lemah.

Setelah menunggu beberapa saat, menu yang kami pesan sudah terhidang di atas meja. Jika dilihat sekilas, tak ada bedanya makanan ini dengan makanan yang kami konsumsi sehari-hari. Kami semakin penasaran untuk mencoba menu satu persatu.

Sate biawak

Menu pertama kali ini adalah daging biawak. Sejujurnya, sebelum makanan tersaji di meja tadi, kami sudah membayangkan bentuk dari hewan reptil ini yang mirip dengan buaya. Namun seketika pikiran ini buyar ketika melihat sate biawak yang mirip dengan sate daging lainnya.

Menuju ke gigitan pertama. Sesuai ekspektasi, daging biawak terasa sangat gurih. Teksturnya hampir menyerupai daging ayam, lembut dan halus. Apalagi dengan kecap dan sambal kacang yang membuat cita rasanya semakin memanjakan lidah.

Sate ular

Beralih ke menu kedua. Hampir sama dengan sate biawak, sate ular memiliki tampilan yang hampir sama dengan sate daging lainnya. Tentu saja, karena dagingnya sudah berwarna matang kecoklatan berbalut siraman saus kacang, tomat, dan cabai rawit. Kami mulai penasaran dengan rasa dari makanan ekstrem ini.

Gigitan pertama, rasanya hampir sama dengan daging ayam. Tekstur yang lembut dan agak kenyal. Bahkan salah satu teman kami mengatakan jika rasanya mirip dengan daging Keong.

Empedu ular

Setelah asyik menyantap sate yang terasa layaknya bukan daging hewan ekstrim, mulailah kami ke menu-menu yang cukup mencengangkan.

Dibuka dengan empedu ular, kami berpandangan satu sama lain. Memberi kode seperti “siapa yang mau coba duluan?”. Empedu kobra tersaji di meja dengan tampilan warna hitam dan lembek jika dipegang.

Sebelumnya, pemilik warung sudah bilang jika empedu ini harus langsung ditelan dan tidak boleh sampai digigit. Bukan tanpa alasan, karena jika pecah akan keluar rasa pahit yang luar biasa. Satu persatu dari kami langsung menyantap secara cepat dan bahkan tanpa sadar menahan nafas hingga beberapa detik. Ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Kami berhasil menelannya tanpa pecah sehingga tidak ada rasa pahit yang kami rasakan.

Darah kobra

Kami mengakhiri menu ekstrim malam ini dengan darah kobra. Rasa ragu dan penasaran menjadi satu. Akhirnya kami memutuskan untuk menenggaknya sekaligus. Ternyata tak seperti yang dibayangkan, darah kobra tidak terasa pahit bahkan amis karena sudah dicampur dengan arak dan madu. Mungkin karena darah masih segar yang diambil dari ular yang baru saja dipotong kepalanya. Darah yang mengalir ini langsung dimasukkan ke dalam wadah. Namun ternyata, reaksinya tak sampai disitu.

Dalam setengah jam kemudian, kami bisa merasakan perut yang mulai memanas. Meski banyak pro dan kontra tentang konsumsi kuliner ekstrem ini, tetap saja selalu ada penggemar yang tetap setia mengkonsumsinya. Buktinya, tempat kuliner ekstrem ini tidak pernah sepi dari pembeli.

Menandakan selalu ada pelanggan yang ingin mencicipi sensasi makanan ini untuk pertama kali atau bahkan sudah beberapa kali datang. Itulah malam yang cukup berkesan bagi kami. Sepiring hidangan yang tak biasa. Kami kembali memikirkan tentang destinasi selanjutnya.

Kira-kira, dimana wisata kuliner lainnya yang perlu kami datangi?

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Pesona Budaya Jawa dalam Baluwarti

Itinerary

Menata Pikiran dan Hati dengan 'Spiritual Traveling' di Bali

Itinerary

Ragam Herbal untuk Memelihara Kesehatan dan Daya Tahan Tubuh

NusantarasaTravelog

Menikmati Segelas Cendol Elizabeth di Hari Minggu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *